Sunday, January 13, 2013

Never be Normal (#5)


Aku tidak akan pernah kembali normal. Sejak insiden minuman kaleng itu, dia menjaga jarak dariku. Tidak ada lagi sapaan ramah, tawaran bergabung, atau apa pun darinya. Bahkan, senyum manis yang diam-diam kusukai tidak pernah lagi diperlihatkannya untukku. Setiap hari kami duduk bersebelahan, tetapi dia menganggapku tidak ada. Begitu istirahat, dia langsung bangkit, bergabung dengan Tasya dan yang lain, entah untuk berdiskusi atau sekedar membicarakan hal-hal yang sepertinya seru.

Sementara aku semakin berantakan, Saka tampak baik-baik saja. Dia masih sosok menyenangkan dan baik pada semua orang. Kecuali padaku. Oke, kuakui. Memang aku yang memintanya untuk berhenti bersikap baik. Aku hanya tidak menyangka kalau itu akan semakin memengaruhiku.

Sampai saat ujian semester ganjil, hubunganku dan Saka tidak juga membaik. Aku menjalani ujian dengan lebih hati-hati. Keinginanku untuk keluar dari kelas itu benar-benar besar hingga aku sampai sengaja menuliskan beberapa jawaban yang salah agar nilaiku tidak terlalu tinggi. Aku takut kejadian saat ujian tengah semester kemarin terulang. Aku benar-benar tidak ingin berada di kelas ini lagi.

Tidak seperti saat tengah semester di mana pembagian kelas dilakukan beberapa hari setelah ujian, pembagian kelas setelah ujian akhir semester dilakukan berbarengan dengan pembagian raport. Aku berdiri di depan papan pengumuman bersama Sara dan Anita sambil terus berdoa. Yang kali pertama kulihat adalah daftar kelas XII IPS Plus. Aku tersenyum masam saat melihat nama ‘Saka Abdirga’ berada di urutan pertama. Hal itu sama sekali tidak mengejutkanku. Di urutan kedua ada ‘Tasya Wihelmina’. Mereka benar-benar pasangan serasi. Hingga ke nama terakhir, aku tidak menemukan namaku. Aku mendesah lega, seharusnya. Tetapi, ada sedikit rasa sesak saat menyadari aku tidak akan pernah lagi duduk di sebelahnya. Sudahlah. Yang penting, aku akan kembali ke kelas Central bersama Sara dan Anita. Itu jauh lebih baik.

Setidaknya, aku berpikir sudah kembali ke kelas Central, sampai mendengar kata-kata Sara.

“Yah, Fik. Kamu di plus lagi ya? Katanya mau balik ke central.” Dia menatapku sedikit sedih. “Bosen cuma sama Anita di kelas.”

“Ya udah, sih, Sar. Berarti otaknya si Fika emang beneran berkembang,” timpal Anita.

Tunggu dulu. “Apa sih?” tanyaku. “Aku udah nggak di kelas plus lagi, kok.”

Sara dan Anita saling pandang. Lalu, keduanya menatapku dengan ngeri. “Serius?” tanya keduanya bersamaan.

Aku mengangguk. “Aku di kelas central, kan?”

Sara menelan ludah. “Fik….”

Aku menyuruhnya bergeser supaya bisa melihat deretan nama di kelas XII IPS Central. Wajahku memucat. Namaku tidak ada di sana! Apa-apaan ini? Kalau namaku tidak ada di urutan kelas plus dan kelas central, berarti aku masuk ….

Oh Tuhan! Tidak! Ini tidak mungkin terjadi!

Aku menatap ngeri pada tulisan ‘Rafika Avariella’ yang berada di deret ketiga pada daftar kelas XII IPS Minus. Aku masuk kelas minus! Bagaimana mungkin bisa seperti ini?

Kepalaku tiba-tiba terasa pusing. Apa yang sudah kulakukan dengan hidupku? Hanya untuk menghindari satu lelaki, aku sampai merusaknya. Merusak nilai yang nantinya akan sangat berguna untukku. Aku memang bukan salah satu siswa yang sangat pintar. Tapi, aku juga tidak sebodoh ini sampai harus masuk ke kelas… kelas… buangan? Sepertinya itu kata yang pas.

Atau, sebenarnya aku memang sangat bodoh sampai harus masuk ke sana. Orang yang punya otak, tidak akan membiarkan hal sepele seperti lelaki tidak jelas menganggu hidupnya. Ini benar-benar hukuman atas kebodohanku.

“Fika? Kamu nggak apa-apa, kan?”

Aku menatap Sara dengan linglung. Apa aku baik-baik saja? Tentu tidak. Aku kacau balau. “Nggak apa-apa. Ya udah, Sar. Aku pulang ya. Sampe ketemu lagi abis liburan,” ujarku. Aku melambai tidak jelas dan segera meninggalkan sekolah.

Mimpi burukku yang sebenarnya akan segera dimulai.



-to be continued



#4 - #6

No comments: