Wednesday, January 30, 2013

Pelajaran dari Hamster

Ada penghuni baru di rumah. Salah satu temen serumahku, Dila, pecinta hamster nomor wahid serumah, baru beli hamster lagi, sepasang. Hamster sebelumnya, Nanak, baru mati sekitar sebulan lalu. Eh, belom nyampe sebulan deng. Ini entah hamster keberapa yang dia pelihara. Waktu aku tanya, "Kok gak kapok?". Dia cuma jawab, "Udah kebiasaan ditemenin mereka. Gak enak kalo gak ada".

Gimana ceritanya di rumah kita bisa pelihara hamster, awalnya karena gak sengaja.

Sekitar tiga tahun lalu, pertengahan 2010, pas kita kuliah semester 3, salah satu temen cowok kita, Dimas, beli hamster 4 ekor. Karena dikosan dia sering dimasukin kucing dan berpotensi bahaya bagi kelangsungan hidup para hamster, dia jadi nitip di kontrakan kita. Awalnya yang excited sama kehadiran hamster itu aku sama Beti. Para Hamster itu kita kasih nama Moge (betina), Mimi (jantan), Kemo (jantan), sama Iin (betina). Dan aku jatuh cinta sama Moge. Moge itu hamster paling lincah di antara 3 hamster lain. Warna bulunya cokelat kekuningan, badannya paling kecil. Pas dibeliin roda putar, dia yang paling sering main. Enak gitu liatnya. 3 hamster lain diklaim Mufa, Beti, sama Inung. Waktu hari pertama kemunculan para hamster ini, si Dila lagi pulang ke Blitar. Jadi, dia gak kebagian.

Awalnya, Dila justru biasa aja sama mereka. Dia mulai ikut sibuk waktu udah musim beranak. Iin yang pertama kali hamil. Entah si Mimi apa si Kemo yang berhasil menghamilinya, yang jelas dia hamil. Begitu lahiran, bentuk anaknya kayak anak tikus. Botak, jelek, lumayan geli juga ngeliatnya. Tapi, tetep kita urus dengan baik sampe tumbuh gede. Pas gede ini, warna bulu anak-anaknya cantik banget. Gabungan putih, abu-abu, sama item. Mulai di sinilah Dila ikut jatuh cinta dan jadi ketagihan pelihara hamster sampe sekarang.

Moge hamil beberapa saat kemudian, bersamaan dengan Iin yang hamil keduakalinya. Karena keterbatasan kandang, Iin sama Moge kita taruh di satu wadah akuarium persegi panjang yang dikasih sekat di tengahnya. Salahnya kita, sekat itu terbuat dari kardus. Hamster itu hewan pengerat, dikasih kardus, bisa ditebak apa yang terjadi? Sekatnya digerogoti sampe bolong. Alhasil, terjadi peristiwa na'as. Pas kita lagi meleng, Moge berhasil menerobos sekat buat masuk ke wilayah Iin dan MELAHAP anak-anaknya Iin sampe cuma satu yang selamat. Orang serumah pada menghujat Moge. Sejak itu, Moge, bisa dibilang, dibenci anak-anak lain. Aku juga kasian sih sama Iin yang mendadak depresi, apalagi waktu satu anaknya itu ikut mati juga. Tapi, aku lebih mencintai Moge.

Karena Iin lagi depresi, kita belum berani gabung dia ke kandang para jantan. Jadi, dia tetap satu kandang sama Moge, yang anak-anaknya sehat. Belajar dari pengalaman, kali ini dijaga supaya sekatnya jangan sampe bolong lagi. Kasian anak-anaknya Moge kalo ikut dibantai. Call me Genius! Aku punya ide buat melapisi bagian bawah sekat itu dengan kaleng coca cola yang udah dipotong.

Seenggaknya itu berguna sampe akhirnya Iin mati. Mungkin karena udah terlalu depresi. Itu kematian hamster pertama dan bikin Moge makin dicaci *pukpuk Oge*.

Karma berlaku. Bahkan di dunia binatang. Gak lama setelah Iin mati, Moge ikut sakit. Padahal anak-anaknya masih kecil. Pas akhirnya Moge mati, aku sedih sekaligus bingung. Gimana nasib anak-anaknya? Mereka semua masih kecil banget, belum bisa makan atau minum sendiri. Selama ini masih makan ASI dari Moge. Yah, bisa ditebak apa yang terjadi selanjutnya. Satu-persatu anaknya Moge mati. Sampe akhirnya tersisa satu.

Yang satu ini bener-bener aku jaga. Setiap waktu makan, aku suapin langsung, karena dia belum bisa makan sendiri. Dia juga minum dari air yang ditetesi di tanganku, karena belum bisa pake botol minumnya. Dan dia bertahan. Survive. Itu namanya. Panggilannya, Ipeh.

Ipeh persis sama wujudnya kayak Moge. Aku berhasil rawat Ipeh sampe dia berhasil lahiran 2x. Yang pertama mati semua, yang kedua bertahan dua.

Ipeh dan anak-anaknya :)

Sampe pada waktunya buat pulang ke Palembang, mereka aku titipin di kosan temen, karena anak-anak rumah pada pulang juga. Beberapa minggu kemudian, aku dapet kabar Ipeh mati karena gak dikasih makan. NYESEK, Jendral!!

Rasa sayangku ke Moge sama ke Ipeh sangat beda porsinya. Jauh lebih besar ke Ipeh. Soalnya, aku bener-bener ngerawat dia dari kecil sampe dia punya anak. Sampe sekarang, aku belum pelihara hamster lagi. Males, ntar udah dirawat baik, terlanjur sayang, mati juga. Padahal, kejadian itu udah hampir 2 tahun yang lalu.



Ngeliat dua hamster barunya Dila, aku jadi pengen pelihara hamster lagi. Yah, mungkin sekarang udah saatnya move on dari Ipeh. Bukan buat menemukan penggantinya. Ipeh gak akan terganti. Tapi buat belajar menerima yang baru.

Bukan buat melupakan. Hanya menerima.


-EP-

Sunday, January 13, 2013

Never be Normal (#5)


Aku tidak akan pernah kembali normal. Sejak insiden minuman kaleng itu, dia menjaga jarak dariku. Tidak ada lagi sapaan ramah, tawaran bergabung, atau apa pun darinya. Bahkan, senyum manis yang diam-diam kusukai tidak pernah lagi diperlihatkannya untukku. Setiap hari kami duduk bersebelahan, tetapi dia menganggapku tidak ada. Begitu istirahat, dia langsung bangkit, bergabung dengan Tasya dan yang lain, entah untuk berdiskusi atau sekedar membicarakan hal-hal yang sepertinya seru.

Sementara aku semakin berantakan, Saka tampak baik-baik saja. Dia masih sosok menyenangkan dan baik pada semua orang. Kecuali padaku. Oke, kuakui. Memang aku yang memintanya untuk berhenti bersikap baik. Aku hanya tidak menyangka kalau itu akan semakin memengaruhiku.

Sampai saat ujian semester ganjil, hubunganku dan Saka tidak juga membaik. Aku menjalani ujian dengan lebih hati-hati. Keinginanku untuk keluar dari kelas itu benar-benar besar hingga aku sampai sengaja menuliskan beberapa jawaban yang salah agar nilaiku tidak terlalu tinggi. Aku takut kejadian saat ujian tengah semester kemarin terulang. Aku benar-benar tidak ingin berada di kelas ini lagi.

Tidak seperti saat tengah semester di mana pembagian kelas dilakukan beberapa hari setelah ujian, pembagian kelas setelah ujian akhir semester dilakukan berbarengan dengan pembagian raport. Aku berdiri di depan papan pengumuman bersama Sara dan Anita sambil terus berdoa. Yang kali pertama kulihat adalah daftar kelas XII IPS Plus. Aku tersenyum masam saat melihat nama ‘Saka Abdirga’ berada di urutan pertama. Hal itu sama sekali tidak mengejutkanku. Di urutan kedua ada ‘Tasya Wihelmina’. Mereka benar-benar pasangan serasi. Hingga ke nama terakhir, aku tidak menemukan namaku. Aku mendesah lega, seharusnya. Tetapi, ada sedikit rasa sesak saat menyadari aku tidak akan pernah lagi duduk di sebelahnya. Sudahlah. Yang penting, aku akan kembali ke kelas Central bersama Sara dan Anita. Itu jauh lebih baik.

Setidaknya, aku berpikir sudah kembali ke kelas Central, sampai mendengar kata-kata Sara.

“Yah, Fik. Kamu di plus lagi ya? Katanya mau balik ke central.” Dia menatapku sedikit sedih. “Bosen cuma sama Anita di kelas.”

“Ya udah, sih, Sar. Berarti otaknya si Fika emang beneran berkembang,” timpal Anita.

Tunggu dulu. “Apa sih?” tanyaku. “Aku udah nggak di kelas plus lagi, kok.”

Sara dan Anita saling pandang. Lalu, keduanya menatapku dengan ngeri. “Serius?” tanya keduanya bersamaan.

Aku mengangguk. “Aku di kelas central, kan?”

Sara menelan ludah. “Fik….”

Aku menyuruhnya bergeser supaya bisa melihat deretan nama di kelas XII IPS Central. Wajahku memucat. Namaku tidak ada di sana! Apa-apaan ini? Kalau namaku tidak ada di urutan kelas plus dan kelas central, berarti aku masuk ….

Oh Tuhan! Tidak! Ini tidak mungkin terjadi!

Aku menatap ngeri pada tulisan ‘Rafika Avariella’ yang berada di deret ketiga pada daftar kelas XII IPS Minus. Aku masuk kelas minus! Bagaimana mungkin bisa seperti ini?

Kepalaku tiba-tiba terasa pusing. Apa yang sudah kulakukan dengan hidupku? Hanya untuk menghindari satu lelaki, aku sampai merusaknya. Merusak nilai yang nantinya akan sangat berguna untukku. Aku memang bukan salah satu siswa yang sangat pintar. Tapi, aku juga tidak sebodoh ini sampai harus masuk ke kelas… kelas… buangan? Sepertinya itu kata yang pas.

Atau, sebenarnya aku memang sangat bodoh sampai harus masuk ke sana. Orang yang punya otak, tidak akan membiarkan hal sepele seperti lelaki tidak jelas menganggu hidupnya. Ini benar-benar hukuman atas kebodohanku.

“Fika? Kamu nggak apa-apa, kan?”

Aku menatap Sara dengan linglung. Apa aku baik-baik saja? Tentu tidak. Aku kacau balau. “Nggak apa-apa. Ya udah, Sar. Aku pulang ya. Sampe ketemu lagi abis liburan,” ujarku. Aku melambai tidak jelas dan segera meninggalkan sekolah.

Mimpi burukku yang sebenarnya akan segera dimulai.



-to be continued



#4 - #6

Sunday, December 30, 2012

It’s Just a Feeling (#4)


Ada yang salah dengan diriku. Belakangan ini, aku selalu uring-uringan. Sara dan Anita sudah berkali-kali bertanya ada apa, tapi aku tidak bisa menjelaskannya. Jadi kujawab saja kalau aku makin stres karena kelas itu. Aku selalu meyakinkan diri ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Saka dan Tasya yang terlihat semakin mesra di mataku. Sama sekali tidak ada. Mungkin, aku hanya mengalami pra-menstruasi sindrom atau semacamnya yang menyebabkan semakin banyak hormon bergejolak di tubuhku dan membuatku selalu ingin marah. PMS yang berlangsung sepanjang minggu.

Saka tampaknya juga mulai menyadari ada yang tidak beres denganku. Sesekali aku menangkapnya tengah memandangku dengan alis bertaut. Dahinya berkerut dengan sorot penasaran. Aku hanya mendelik galak padanya tanpa mengucapkan apa-apa. Pernah dia mencoba bertanya dan aku membentaknya. Setelah itu, dia tidak mencoba lagi. Mungkin, bentakkanku terlalu kasar, tapi aku tidak peduli. Sudah seharusnya dia menjauh. Toh, dia juga sudah punya pacar yang pintar dan cantik seperti Tasya.

Karena hubungan kami merenggang, suasana di kelas itu menjadi jauh lebih buruk buatku. Aku benar-benar ingin segera pergi dari sana, kembali ke kelasku yang normal. Meninggalkan segala tekanan menyebalkan ini. Dan menjauh dari Saka.

“Fika?”

Aku mengangkat wajah dari novel yang kubaca. Saka tengah menatapku dari bangkunya dengan tatapan ragu. “Apa?” balasku dengan nada datar.

“Aku bikin salah ya?”

Aku sedikit terkejut dengan pertanyaannya. Mengapa dia berpikir seperti itu? “Nggak,” jawabku. “Kenapa emangnya?”

Saka mengangkat bahu, seraya menyandarkan punggungnya. Jemarinya memutar-mutar pulpen sehingga menimbulkan bunyi ketukan dengan meja.  “Kamu aneh,” gumamnya. “Nggak cuma pendiem, tapi jadi dingin.”

“Aku baik-baik aja,” jawabku tak acuh, kembali pada novelku. Aku merasakan Saka masih menatapku dengan sorot penasaran dan benar-benar berharap lelaki itu tidak mendengar degup jantungku yang berantakan. Aku tidak tau apa yang terjadi. Mengapa tiba-tiba aku merasa gugup berada di sebelah lelaki ini?

“Beneran?”

Belum sempat aku menjawab, terdengar panggilan namanya dari depan kelas. Kami menoleh, dan melihat Tasya melambai pada Saka.

“Ikut ke kantin nggak?” tanya gadis itu.

“Oh,” Saka bangkit dari bangkunya. “Iya,” jawabnya, lalu berpaling padaku. “Kamu nggak pernah ikut kita makan di kantin,” ujarnya.

Aku tau itu bukan pertanyaan. Dia juga tidak mengajakku. Jadi aku hanya berkata, “Terus?”

Sekali lagi, Saka memandangku dengan heran, lalu berjalan menyusul Tasya. Kekasihnya. Aku berusaha memusatkan pikiran pada novel yang tengah kubaca. Tetapi, kali ini kata-kata di sana hanya berlalu, tanpa ada yang masuk ke otakku. Akhirnya aku menutup novel itu sambil mendesah.

Ada apa ini? Mengapa perasaanku jadi sangat kacau? Ada semacam perasaan kehilangan. Aku baru menyadari kalau selama di kelas ini, aku sangat bergantung pada Saka. Selain tingkah santainya yang kadang membuatku makin tertekan, lelaki itu tidak pernah keberatan membantuku memahami pelajaran yang sulit kumengerti. Dia mengajariku dengan sangat sabar. Memaklumi otakku yang kadang sedikit susah menangkap penjelasan atau mengingat sesuatu. Tanpa terasa, aku merasa dekat dengannya. Dan memang dia yang paling dekat denganku di kelas ini.

Sampai aku mengetahui kalau ternyata dia berpacaran dengan Tasya. Seharusnya hal itu sama sekali tidak menggangguku. Untuk apa aku merasa terganggu? Saka memang sangat baik padaku, juga pada orang lain, dan tidak ada apa-apa di antara kami. Awalnya, kupikir aku hanya kecewa karena mendengar berita itu dari orang lain, bukan dari Saka langsung. Tapi, sekarang alasan itu terasa tidak masuk akal. Saka tidak memiliki kewajiban untuk memberitahuku. Mengapa aku harus seperti ini?

Menghela napas, aku membenamkan wajah di meja, bertumpu pada lenganku yang terlipat. Beberapa saat kemudian, terdengar suara tawa-tawa dan langkah-langkah kaki memasuki kelas. Aku tidak mengangkat kepala. Saat menyadari ada yang duduk di sebelahku pun aku tetap bergeming. Aku tau itu Saka. Entah sejak kapan, aku sudah mengenali aroma tubuhnya. Semakin membuatku kacau balau.

Tiba-tiba, aku merasa sesuatu yang dingin menyentuh lenganku. Aku mengangkat kepala dan melihat Saka menyodorkan sekaleng softdrink padaku.

“Aku nggak tau apa yang salah, sebenernya juga aku nggak ngerasa bikin salah apa-apa. Tapi, kayaknya kamu emang lagi marah atau kesel sama aku. Aku pengen minta maaf, tapi nggak tau minta maaf buat apa. Jadi…” dia meletakkan kaleng itu di mejaku. “Anggep aja itu sogokkan supaya kamu nggak marah lagi.”

Aku menatap kaleng minuman di depanku dan sosok Saka bergantian. Mataku tiba-tiba terasa panas. Oh, Tuhan. Ini benar-benar konyol. Aku berdiri, mengembalikan minuman itu pada Saka. “Kamu mau tau apa yang salah?” tanyaku dengan nada sedatar yang kumampu, sementara suaraku sedikit bergetar. “Kamu selalu baik, dan aku nggak bisa nerima kebaikan itu. Jadi, berhenti bersikap baik sama aku.” Lalu aku berjalan meninggalkan kelas, persis adegan sinetron yang sering kutonton.

Ini terasa semakin menyebalkan. Aku membiarkan kakiku melangkah ke mana saja, menjauh dari kelas sialan itu dan lelaki sialan di dalamnya. Aku menoleh ke belakang, entah untuk apa. Mungkin berharap Saka mengejarku dan meminta penjelasan atas sikap konyolku. Bukankah di sinetron biasanya seperti itu?

Tunggu dulu…. Sejak kapan aku ingin hidupku seperti di sinetron? Dan demi Tuhan! Mengapa aku harus sampai seperti ini hanya gara-gara seorang lelaki? Selama ini, aku selalu bangga tidak pernah membiarkan otakku rusak hanya karena memikirkan seorang laki-laki. Aku mengumpat dalam hati, seraya berbalik kembali ke kelas. Aku akan menjalani sisa waktu sebulan ini sebiasa mungkin. Mengontrol nilaiku hingga bisa kembali ke kelas Central. Dan menjauhi Saka.

Ya. Tinggal satu bulan. Setelah itu, aku kembali ke kehidupan normalku lagi.



-to be continued…

 #3 - #5

What the …. (#3)


Aku berhasil melalui bulan pertama di kelas ‘neraka’ itu dengan damai.

Ralat.

Tidak sepenuhnya damai. Aku tertekan! Nyaris gila! Mereka semua seperti bukan manusia. Entah apa yang mereka makan hingga bisa mempunyai otak seperti itu. Dan aku benar-benar tidak tau apa dosa yang telah kuperbuat hingga harus menerima siksaan batin seperti ini. Aku sudah terbiasa mengikuti pelajaran dengan santai, tanpa harus menerima tekanan apa pun.

Sara dan Anita tampak kasihan padaku setelah aku menumpahkan semua keluhan pada mereka. Sara mengusulkan agar aku pindah kelas saja, yang langsung di bantah oleh Anita dengan mengatakan aku tidak boleh menyerah.

“Tinggal dua bulan,” kata Anita, menyemangati.

“Serasa dua tahun,” sungutku.

“Emang anak-anaknya parah banget ya?”

Aku menyeruput pop ice coklatku. “Yah, nggak sih. Mereka baik. Awalnya emang agak kaku, tapi sekarang udah lebih enak. Tapi, yah mereka itu terlalu serius. Tiap belajar, bawaannya tegang terus. Aku jadi stres sendiri. Coba kalo ada yang rileks, satu orang aja, mungkin aku juga bisa sedikit rileks.” Lalu aku terdiam, teringat cowok yang duduk di sebelahku. “Ada sih yang sebenernya yang bisa santai di sana. Tapi,” aku menghela napas. “Sikap santainya malah bikin aku makin stres.”

“Siapa?” tanya Sara dan Anita bersamaan.

“Saka,” jawabku pelan. Lalu aku berbisik. “Gila ya, tuh anak di kelas kelewat santai.”

“Nggak merhatiin guru?” tanya Anita.

“Yah, merhatiin sih. Tapi, gak serius kayak anak-anak lain. Kalo bosen dengerin guru ngomong, dia tiduran, coret-coret meja. Trus, tiap ditanya, pasti bisa jawab. Nyaris sempurna terus pula jawaban dia. Bikin makin tertekan.”

“Bagus dong. Kamu minta satu yang santai, tuh dia santai,” kata Anita.

“Dia santai gitu aja bisa jadi juara umum, gimana kalo dia beneran belajar?”

“Dia belajar kok,” ujar Sara. “Gitu cara dia belajar. Santai, tapi masuk. Kalo dia terlalu serius, jadinya tertekan, malah berantakan.”

Aku dan Anita kompak menatapnya.

“Kok tau?” tanyaku. “Emang kamu kenal sama dia?”

“Dia pacarnya Tasya. Aku, kan, sering ikut mereka jalan kalo lagi iseng. Kencan mereka itu ya nyambi belajar. Kata Tasya, Saka lebih suka belajar di luar ruangan. Pikirannya bisa lebih seger. Nggak sumpek kayak di kelas. Di kelas, dia cuma dengerin aja omongan guru, kalo belajar benerannya ya waktu bareng Tasya itu,” jelas Sara panjang.

“Ih, nyeremin ah. Di mana-mana kencan itu ya buat pacaran, cinta-cintaan gitu. Masa nyambi belajar sih? Nggak normal tuh mereka,” cibir Anita.

“Saka pacaran sama Tasya?” tanyaku, seakan tidak mendengar penjelasan Sara yang lain. “Kok di kelas biasa aja?”

“Kamu maunya gimana?” tanya Sara. “Peluk-pelukan di kelas?”

“Yah, nggak gitu juga,” ujarku. “Tapi, biasanya kan kalo orang pacaran itu keliatan. Mereka kok kayak temenan biasa aja. Saka malah lebih sering jahilin Tasya daripada romantis-romantisan.”

“Iya, emang dua-duanya kurang waras. Tapi, mungkin karena itu mereka awet. Udah jalan tiga tahun lho. Keren ya?” Sara menyeruput minumannya.

Aku ikut menyeruput minumanku tanpa suara. Sibuk bermain dengan pikiranku sendiri. Jadi, Saka sudah mempunyai pacar. Informasi itu cukup mengejutkanku. Di mataku, Saka sosok yang menyenangkan sebagai seorang teman. Aku tidak pernah membayangkannya memiliki pacar. Bukannya hubungan kami dekat atau apa. Hanya saja, yah… begitulah. Aku tidak bisa menjelaskannya.

Selesai memuaskan perut masing-masing, kami kembali ke kelas. Aku menangkap pemandangan kelas yang sudah akrab. Sekelompok murid yang duduk di barisan tengah berkumpul sambil berdiskusi. Aku tidak pernah ikut dalam diskusi mereka. Bukan hanya karena aku merasa bukan bagian kelompok, tapi karena kepiawaianku yang payah dalam bergaul. Mereka beberapa kali mengajakku bergabung, terutama Saka yang sepertinya memahami penderitaanku di kelas itu. Dia seperti berusaha membuatku betah di sana. Benar-benar lelaki yang baik.

Tanpa sadar, aku bertumpu dagu sambil menatap Saka yang tengah duduk di sebelah Tasya sambil menghadap sebuah buku yang terbuka. Mungkin karena informasi yang baru kudapat tadi, kali ini aku bisa melihat perbedaannya. Saka memang dekat dengan semua penghuni kelas. Tetapi, Tasya mendapat perlakuan nerbeda. Caranya menggoda Tasya, tidak sama dengan caranya menggoda penghuni lain. Cara mereka saling melempar ledekan juga berbeda. Memang tidak terlihat mesra atau menggelikan seperti pasangan umumnya. Hanya saja, jika orang sudah mengetahui hubungan mereka, pasti bisa merasakannya. Bagaimana mungkin aku tidak menyadarinya sebelum ini?

Saat bel masuk berbunyi, Saka kembali ke bangkunya, di sebelahku. Dia melempar senyum kecil padaku, seperti biasa. Namun, kali ini aku tidak berminat membalas senyumnya, entah mengapa. Jadi, aku hanya mengangguk kecil, lalu pura-pura sibuk mengeluarkan buku. Saka tampaknya tidak merasakan keanehanku, karena dia juga sudah sibuk dengan bukunya. Aku mendesah, tiba-tiba merasa kesal pada Saka dan pada diriku sendiri.



-to be continued…


#2 - #4

Friday, December 7, 2012

We Meet Again... (#2)


Salah satu sistem di sekolah yang membuatku ketar-ketir adalah peraturan me-rolling siswa secara teratur. Setiap pertengahan dan akhir semester, akan diadakan ujian bagi semua siswa. Para siswa yang prestasinya meningkat, pindah ke kelas atas, sementara yang turun, siap-siap mendapat kelas bawah. Masing-masing tingkatan, ada 3 bagian. Kelas Plus, Kelas Central, dan Kelas Minus. Anak-anak kelas X memiliki masing-masing dua kelas di tiap bagian. Sementara kelas XI dan XII yang sudah penjurusan IPA dan IPS dibagi masing-masing satu kelas. Bisa dibayangkan betapa pusingnya harus berpindah kelas tiga bulan sekali?

Untunglah aku tidak perlu mengalaminya. Sebagai siswa yang memiliki otak rata-rata, aku nyaris tidak pernah pindah kelas. Aku suka kelasku sekarang. Kelas Central. Tidak dipenuhi persaingan ketat tentang nilai, namun tidak juga dipenuhi berandalan yang suka mengacau atau tidak mengerjakan pe-er. Aku tidak berani membayangkan bagaimana nasibku kalau harus masuk ke Kelas Plus yang dipenuhi siswa-siswa jenius. Tidak butuh waktu lama sampai aku didepak keluar lagi. Dan tentu saja aku juga tidak mau masuk ke Kelas Minus yang dipenuhi dengan orang-orang yang… yah, begitulah. Singkatnya, para berandal sekolah. Aku benar-benar sudah senang di kelasku sekarang dan sama sekali tidak ingin pindah.

Sayang, doaku tidak terjawab. Semester selanjutnya, aku dilempar masuk ke Kelas Plus. Aku tidak tau apa yang terjadi. Yah, memang di ujian pertengahan semester kemarin aku sedikit lebih serius, tidak masa bodoh seperti biasa. Tapi, tentunya tidak akan naik sedrastis itu, kan, sampai bisa membuatku masuk ke kelas kaum jenius? Aku tidak mau memercayai tulisan di papan pengumuman. Tapi, namaku benar-benar masuk ke daftar ‘Siswa Kelas XII IPS Plus’. Bagaimana mungkin aku, yang memiliki otak sekadarnya, bisa mendapat peringkat dua puluh lima teratas di ujian tengah semester? Namaku berada di urutan dua puluh besar pula. Aku melirik Sara dan Anita, dua teman dekatku yang sama-sama di Kelas Central. Mereka berdua tampak lega. Aku kembali ke papan pengumuman. Tentu saja. Mereka tetap berada di kelas yang sama. Sial. Benar-benar sialan.

“Yah, Fika pisah deh dari kita,” gumam Anita saat kami berjalan menuju kantin.

Aku diam. Masih terlalu syok atas nasib sial beruntungku.

“Siap-siap aja kamu dibantai para master berotak besar itu,” tambah Sara sambil terkikik. “Otakmu, kan, ukurannya cuma hampir medium,” tambahnya. Sama sekali tidak membantu.

Aku menatapnya sebal. “Bukannya prihatin, malah ngeledek,” gerutuku.

Kami duduk di sebuah meja panjang yang masih ada tempat kosong, bergabung dengan siswa lain. Anita dan Sara memesan mie ayam, sementara aku hanya sanggup menikmati teh botol.

“Nggak usah syok gitu juga kali, Fik. Ambil hikmahnya. Kamu jadi kumpul sama orang-orang pinter. Kali aja ntar ketularan pinter,” Anita mencoba menghibur.

Aku mendengus. “Yah, kalo mereka bukan kumpulan jenius sombong. Gimana kalo aku dikacangin? Mana nggak ada yang aku kenal pula.”

“Ada temenku kok di sana. Namanya Tasya. Yang sering ngobrol sama aku itu lho. Anaknya baik kok. Kamu duduk sama dia aja. Ntar aku bilangin deh,” kata Sara.

Anita tiba-tiba menoyor kepala Sara. “Bangku mereka, kan, bentuk huruf U. Nggak pake temen sebangku, bego,” dia mengingatkan.

Sara balas menoyor kepala Anita dengan kesal. “Ya nggak usah pake noyor juga,” dumelnya.

Aku tersenyum geli melihat mereka. Lalu, senyumku berubah muram. “Nggak bakal bisa ngobrol di kelas lagi deh.”

“Kasian….” Ucap Anita dan Sara bersamaan dengan nada sungguh-sungguh prihatin.

Aku mengibaskan tangan. “Ya udahlah. Toh cuma tiga bulan ini. Abis ujian semester ntar aku bakal balik ke kelas kita lagi.”

“Asal jangan kebablasan aja, Fik. Ntar saking merosotnya, kamu malah masuk Kelas Minus,” pesan Sara.
“Jangan sampe deh,” cetusku langsung.

Begitu selesai makan, aku dan kedua temanku berpisah menuju kelas baru masing-masing. Hari ini hanya pembagian kelas, belum mulai belajar. Dengan malas, aku menyeret kakiku menuju deretan Kelas Plus yang berada di lantai 2. Mulai dari Kelas X Plus 1, Kelas X Plus 2, Kelas XI IPA Plus, Kelas XI IPS Plus, Kelas XII IPA Plus, dan, akhirnya aku membaca tulisan Kelas XII IPS Plus di bagian atas pintu.

Kegugupanku mulai terasa ketika aku melangkah masuk. Entah hanya perasaanku, atau semua mata tiba-tiba memandangku? Tengkukku merinding. Cepat-cepat aku mengambil kursi belakang paling sudut. 

Kekurangan formasi bentuk U adalah, di mana pun kamu duduk, tidak akan menyenangkan. Di sudut, kamu tetap akan dikelilingi orang-orang. Sementara di bagian ujung, posisinya tepat di depan. Menghela napas, aku mencoba mengabaikan suasana sunyi mencekam itu dan mengeluarkan sebuah novel.

Aku menikmati cerita novelku, setidaknya sampai seseorang melemparkan tas ke bangku sebelahku. Aku mengangkat kepala dan terpaku beberapa saat. Dia, si juara umum, duduk di sebelahku dan melempar senyum ramah.

“Hai, penghuni baru ya?” tanyanya.

Aku mengangguk. Tentu saja itu pertanyaan yang sangat wajar. Aku berani bertaruh, sejak awal masuk dia sudah berada di Kelas Plus. Wajar jika dia merasa sebagai ‘penghuni lama’, dan menganggapku penghuni baru.

“Saka,” dia mengulurkan tangan.

“Fika,” balasku.

“Dari kelas mana? Central?”

Aku kembali mengangguk.

Saka menatapku beberapa saat, mungkin menyadari kecanggunganku, lalu menepuk bahuku pelan dengan sikap bersahabat. “Tenang, Kita semua manusia, kok. Nggak ada yang akan gigit kamu.”

Aku tersenyum kikuk. “Yah, ini pertama kalinya aku masuk di kelas di mana nggak ada orang yang aku kenal deket.”

“Ntar juga biasa,” Saka berdiri. “Ehm, ngomong-ngomong, bangku yang kamu duduki itu biasanya tempatku. Tapi, nggak apa-apa deh aku kasih ke kamu. Selamat menikmati kelas baru,” ucapnya. Kemudian dia bergabung dengan orang-orang yang berkumpul di bangku tengah.

Aku kembali menunduk untuk melanjutkan membaca novel, ketika melihat tulisan yang ada di meja. Inisial ‘S’. Selain itu, ada banyak tulisan-tulisan yang berisi keluhan dan selalu diakhiri dengan tulisan “by: S”. Aku melirik Saka sejenak, mengangkat bahu, lalu kembali membaca.


-to be continue…

#1 - #3