Showing posts with label Wonderfully Stupid. Show all posts
Showing posts with label Wonderfully Stupid. Show all posts

Friday, April 5, 2013

Antara Wonderfully Stupid & Lovhobia

*ngetik postingan ini dengan mata segaris. maap buat segala kekurangan. nanti kalau ada waktu dan mata lebih seger, yang kurang bakal dibenahi*

Mari kita mulai.

Beberapa waktu yang lalu, sepupu yang ada di Jambi ngirim BBM, bilang kalau dia udah baca Lovhobia dan ceritanya bikin dia nangis. Beberapa hari sebelumnya, ada juga temen yang cerita lewat DM bilang hal yang sama, ceritanya bikin nangis. Setelah itu, ada lagi yang mention di twitter dan ngasih tanggapan sama.

Reaksiku atas semua tanggapan itu rata-rata sama. Nanya, bagian mana yang bikin nangis? Dan jawaban mereka pun rata-rata sama (gak mau spoiler. Baca sendiri ya :p)


Sebelum mulai ngoceh panjang lebar, aku mau ngucapin makasih banget banget buat Mbak Ikhdah sama Mbak Dila, editor kece, yang ikut mengurusi anak keduaku itu. Tanpa campur tangan mereka, khususnya Mbak Ikhdah, mungkin air mata yang baca gak sampe keluar. Ya, editor itu pahlawan tanpa tanda jasa buat penulis :')


Lanjut.

Karena cerita Wonderfully Stupid dan Lovhobia ini, bisa dibilang, berhubungan, banding-membandingkan pun gak luput. Dari hasil laporan dan kepo dikit-dikit, ada yang lebih suka Wonderfully Stupid, ada juga yang lebih suka cerita Lovhobia. Karena itu, aku mau coba mengupas sedikit tentang dua novel unyu-ku itu dan apa perbedaan serta kelebihan masing-masing dari mereka. Cekidot!


1. Wonderfully Stupid

Naskah awal novel ini, kayak yang udah pernah aku bilang, kali pertama aku tulis waktu masih kelas 2 SMA. Atau kelas XI. Terserahlah, samimawon. Kala itu, pikiranku masih dipenuhi berbagai hal indah seputar cinta masa remaja, dengan iming-iming masa SMA sebagai masa paling indah, dan semacamnya. Masa SMAku pas kelas itu, biasa aja. Gak kayak cerita di pilem-pilem yang kayaknya huwaw banget.

Flat. Datar. Karena gak bisa dapet kehidupan seru yang nyata, aku milih buat kabur ke dunia lain. Dunia tulis. Saat itulah Wonderfully Stupid lahir.

Konflik yang aku angkat di sini, konflik yang kemungkinan besar pernah di alami abege mana pun. Seorang cewek yang naksir sahabatnya, tapi bertepuk sebelah tangan, sementara ada cowok lain yang naksir dia, tapi diabaikan. Simpel. Terus, apa bedanya sama cerita sejenis yang lain?

Sadar dengan temaku yang biasa, aku harus cari cara biar novel ini menarik dan beda dari cerita yang udah ada. Buat yang baca, pasti kenal dengan sosok Arsen, karakter utama yang, bisa aku bilang, berperan penting di novel ini. Bukan cuma di cerita, tapi juga 'lihai' merebut hati pembaca. Kalian tau, gak ada yang lebih membahagiakan bagi penulis dibanding saat dia tau kalau karyanya dihargai dan disukai. Di sini kayaknya aku wajib, kudu, mesti, berterima kasih sama semua temen-temen pembaca, yang rela meluangkan waktunya buat baca tulisanku. Aku selalu senyum sendiri tiap ada temen-temen yang mention, bilang dia udah baca novelnya dan suka sama Arsen. Banyak juga yang nanya, Arsen itu beneran ada atau gak. Bahkan, pernah ada yang laporan kalau ada yang bikin akun twitter si Arsen itu (lupa akunnya apa. Cari ajalah "Andersen Jade Calvin", kalo berminat :p). Dan itu, bener-bener bikin seneng *selain pas royalti cair* hahaha.

Selain itu, Wonderfully Stupid juga menyuguhkan ending yang mengejutkan dan manis. Apakah itu? Baca dong makanya :D


2. Lovhobia

Beda sama Wonderfully Stupid yang aku tulis waktu, yah anggap saja, masih abege, Lovhobia kali pertama aku tulis di tahun kedua kuliah, sekitar semester 4 atau 5. Di sini, pola pikirnya sudah lebih beda. Aku gak cuma mikirin tentang cinta anak muda *eaaa, bahasamu*, tapi juga tertantang buat mengusung konflik yang sedikit lebih serius.

Yang pertama, cari tema besar. Apa masalah yang mau diambil? Tentang cowok yang takut jatuh cinta. Kenapa dia bisa takut jatuh cinta? Kalau dibikin karena dia pernah patah hati, menurutku jatuhnya gak beda dengan konflik di Wonderfully Stupid, berkisar antara kisah cinta sejoli yang masih muda. Supaya lebih cetar menggelegar badai, aku coba usung masalah yang lebih serius. Apa itu? Masalah keluarga. Gak ada hal traumatis yang lebih ditakutin anak-anak dibanding lihat hubungan orangtuanya yang gak harmonis. Dan inilah yang dialami sosok Gefan, tokoh utama di novel ini.

Terus? Gak ada cinta-cintaannya dong? Tentu ada. Aku spesialis cerita romance (ngasih julukan buat diri sendiri, biarin aje), jadi bakal ngerasa ada yang kurang kalau gak ada cinta-cintanya. Cuma, kisah cintanya gak seunyu Arsen-Lanna. Tapi, maknanya lebih dalam. Tentang gimana caranya seorang cewek meluluhkan hati seorang cowok yang udah terlanjur gak percaya dan takut sama cinta.

Berarti, cerita cinta di Wonderfully Stupid gak bermakna dong? Lovhobia yang lebih bermakna gitu?

Kata siapa? Semuanya bermakna, cuma dengan cara yang beda. Semuanya tentang perjuangan cinta, tapi dengan penyajian yang gak sama.



Di Wonderfully Stupid, aku menyajikan cerita cinta sederhana lewat kegigihan Arsen memperjuangkan apa yang menurutnya layak diperjuangkan. Gak peduli itu bikin dia jadi bodoh, gak peduli apa aja yang harus dia lakuin, yang ada di kepalanya, terus berjuang buat dapetin Lanna. Juga kegigihan Lanna buat setia sama kebodohannya buat nunggu Ega, padahal cowok itu sudah ngasih pertanda jelas kalau dia gak ada rasa apa-apa. Tentang gimana akhirnya mereka luluh dan ngalah sama ego masing-masing, terus bisa jalan di satu jalur, beriringan. Happy Ending....

Di Lovhobia, aku menyajikan cerita cinta sederhana lewat kegigihan Aura narik Gefan supaya keluar dari dunia suramnya, supaya bisa percaya kalau semua manusia berhak jatuh cinta, berhak dicintai, gak peduli apa pun yang terjadi nanti, yang penting apa yang bisa mereka jalani sekarang. Tentang Gefan yang gigih sama prinsip dan pikirannya tentang cinta yang kejam. Tentang gimana akhirnya kekeras-kepalaan mereka mencair dan mau coba buat jalan bergandengan, bersisian. Happy Ending....



Ada satu saran dari aku buat temen-temen pembaca. Sebelum mulai baca Lovhobia, tutup Wonderfully Stupid. Buat sejenak, fokus ke Lovhobia. Karena kedua buku ini punya alur cerita yang cukup kontras. Meskipun berhubungan, mereka beda. Layaknya dua saudara yang punya kelebihan dan ciri khas masing-masing, gak peduli meskipun mereka dikandung oleh orang yang sama. Simpelnya, sebelum mulai baca Lovhobia, move on lah dari Wonderfully Stupid :))




Ps: Kalau ada yang nanya apa Lovhobia lanjutan Wonderfully Stupid, jawabannya iya dan gak. Cerita di Lovhobia emang lanjutan kehidupan para tokoh Wonderfully Stupid, tapi kalian gak harus baca berurutan karena gak bener-bener nyambung. Bukan model sekuel kayak Harry Potter atau Twilight Saga yang mesti dibaca urutan. Kalian bisa baca dari Lovhobia dulu, tapi akan lebih baik kalau baca Wonderfully Stupid yang pertama *teteup promosi*


Selamat Membaca :))


-Elsa Puspita-

Wednesday, December 5, 2012

cuplikan Wonderfully Stupid...

Lagi iseng nih, gak ada kerjaan. Pengen promo lagi ahh...

Buat yang penasaran gimana isi novel Wonderfully Stupid, nih aku bikin cuplikan cerita yang paling sering aku baca (as reader and writer). cekidot mamasnya mbaknya. monggo pinarak. yuk mari ~


Bab 1

..........

Lanna mengangkat kepala dan melihat seorang cowok berwajah manis dengan sedikit sorot jahil di matanya. Rambutnya pendek kaku, berwarna oranye terang. Arsen, anak kelas XI IPA 3. Sejak pertama bertemu, sekitar satu tahun lalu, dia selalu menggoda Lanna dan memproklamirkan diri bahwa dia amat menyukai kakak kelasnya itu. Arsen sudah melakukan ribuan cara untuk menarik perhatian gadis itu agar menerima cintanya. Tetapi, Lanna selalu menolaknya.
“Kali ini oranye,” kata Lola geli. “Temuin gih,” sambungnya.
“Bikin sakit mata,” kata Lanna, kembali pada handycam-nya. Ega cs sudah meninggalkan koridor. Lanna menghentikan rekamannya, lalu menyimpan handycam-nya dengan hati-hati ke dalam tas. “Males banget ngeladenin dia.” Dengan sigap dia mengeluarkan sebuah novel roman-fantasi dari dalam tasnya, mengabaikan Arsen.
“Kasian, Na. Liat tuh, mukanya mupeng banget.”
Lanna melirik sekilas hanya untuk melihat Arsen sudah menempelkan dahi di jendela kelasnya. “Norak,” katanya sambil mengernyit.
“Kak Aza!” panggil Arsen dengan suara keras.
Lanna mengabaikannya. Dia lebih tertarik melanjutkan membaca cerita tentang seorang ksatria Yunani Kuno yang dikutuk daripada meladeni orang yang dianggapnya sinting itu.
“Kak Aza!” Arsen berteriak semangat, menempelkan wajahnya di kaca. Beberapa teman sekelas Lanna mulai terkikik melihatnya.
Lola menahan agar tawanya tidak meledak. “Feeling gue bilang, kalo lo nggak mau ke sana, dia bakal bertingkah lebih konyol lagi.”
Lanna melempar pandang penuh ancaman pada Arsen. Dia tidak meragukan ucapan Lola. Arsen memang sinting. “Nggak bisa ya gue sehari aja bebas dari gangguan dia?”
Arsen mulai menghembuskan napas di kaca jendela, lalu menggambar bentuk hati dengan kata “AZA” di tengahnya.
Lola mulai tertawa. “Apa gue bilang. Temuin gih,” kata Lola.
Lanna mengerang. “Oh, God! Someone must shoot me and take me away from here!” geramnya. “Or, may I kill him?”
Lola tertawa keras, membuat Lanna makin kesal.
“Kak Aza! Kak Aza! Sini, dong!” panggil Arsen lagi, lebih keras dan bersemangat. “Apa aku aja yang ke sana?” tanyanya dengan wajah tanpa dosa.
“Ingetin gue buat ngasih racun arsenik ke mulutnya,” kata Lanna sebal seraya bangkit dari kursinya untuk menghampiri Arsen. “Apa?” semprotnya.
Arsen tersenyum manis, memamerkan lesung pipinya. “Jangan marah-marah terus dong, Kak. Aku cuma mau ngajak pulang bareng. Kali ini mau, kan?” rayu Arsen.
“Pertama, nama panggilan gue LANNA. Bukan AZA. Udah berapa kali gue bilang?” serang Lanna galak.
“Nama lengkap Kakak, Alanza Quianna, kan?”
“Ya. Dan lo nggak punya hak apa pun buat ngasih-ngasih gue panggilan baru,” kata Lanna dongkol. “Kedua, gue nggak mau, dan nggak akan pernah mau, pulang sama lo. Emang nggak ada ya cewek seangkatan lo yang bisa lo gangguin sampe lo gangguin gue terus?”
“Yah … namanya juga cinta. Mana bisa ditolak kalo udah dateng.”
“Cinta?” Lanna mendengus. “Udah ribuan kali gue bilang sama lo, gue nggak tertarik. Lo lebih muda dari gue. Kapan sih lo ngerti?”
“Beda umur kita nggak sampe satu tahun. Kita cuma beda lima bulan.”
“Beda satu hari pun, kalo lo lebih muda dari gue dan berstatus sebagai adik kelas gue, gue nggak tertarik.”
Tepat saat itu, bel masuk berdering.
Tanpa merasa tersinggung sedikit pun pada kata-kata kasar Lanna, Arsen memasukkan kedua tangan di saku celananya dengan santai. “Tunggu aja nanti. Aku pasti bisa bikin Kakak nerima cinta aku.”


..........


Bab 5
..........

Arsen mengulum senyum. Dia bukan cowok bodoh. Juga bukan anak sebelas tahun yang masih polos. Arsen tahu kalau Lanna tidak, atau belum, mempunyai perasaan apa pun padanya. Kenyataan itu masih mengusiknya. Dia bertekad akan membuat Lanna membalas cintanya. Namun, untuk saat ini, menikmati waktu luang bersama gadis yang disayanginya sudah cukup untuk Arsen, meskipun gadis itu belum memberikan hati untuknya. “Siapa, Na?” tanyanya.
“Siapa apa?” tanya Lanna, berusaha tidak peduli.
“Hmm ….” Arsen menatap Lanna. “Aku penasaran sama sosok cowok yang udah seenaknya tebar pesona di depan pacarku.”
“Satu yang perlu lo tahu,” ucap Lanna. “Gue suka sama dia justru karena dia nggak pernah tebar pesona.”
Arsen terdiam. Lanna ikut diam sambil terus berjalan. Tiba-tiba Arsen duduk di pasir, lalu menarik tangan Lanna hingga gadis itu terjatuh di sebelahnya.
“Ngapain sih?” omel Lanna.
Arsen tersenyum sambil menggali-gali pasir. Lanna berdiri sambil membersihkan bagian belakang dress-nya. Saat dia akan berjalan, Arsen kembali menahan tangannya. Lanna menatap Arsen kesal, lalu kembali duduk. Dia hanya diam, merekam kegiatan cowok itu saat bermain dengan pasir. Berkali-kali Arsen bolak-balik ke laut untuk mengambil segala macam benda. Tak lama kemudian, Arsen menyelesaikan pekerjaannya. Sebuah istana pasir yang dikelilingi batu-batu kecil, rumput laut, dan kulit kerang. Lanna melihatnya sebagai istana pasir paling aneh yang pernah ada. Arsen membuat istana itu memanjang dan meliuk-liuk tidak jelas.
“Berdiri,” kata Arsen, menarik Lanna.
“Tadi disuruh duduk. Sekarang berdiri. Ntar nyebur laut. Abis itu gue mutilasi lo,” sungut Lanna geram. Dia berdiri.
Arsen tidak menanggapi. Dia menarik Lanna berdiri di depan salah satu sisi istana pasir itu. Lanna mengamatinya. Istana itu bukan liukan aneh yang tidak jelas. Tetapi, susunan huruf yang membentuk namanya, Alanza, yang sangat cantik jika dilihat dari sudut pandang mereka sekarang. Lanna tidak melewatkan hal indah itu dari bidikan rekamannya.
“Cantik,” puji Lanna.
“Nggak secantik kamu,” balas Arsen. “Makasih udah mau masuk ke hidupku,” ucapnya pelan.
“Udah gue bilang nggak usah ngegombal,” semprot Lanna.
Arsen tertawa kecil, lalu berdiri di depan Lanna, menghadapkan punggungnya ke gadis itu.
“Ngapain?” tanya Lanna.
“Bayar utang. Aku harus gendong kamu bolak-balik.”
Lanna tertawa. Dia langsung loncat ke punggung Arsen, merangkulkan lengannya di bahu cowok itu. “Ayo jalan!” perintahnya.
..........


Bab 14 (Surat Arsen)
..........

..........



Wonderfully Stupid - Elsa Puspita - Bentang Belia


Sunday, November 25, 2012

Cetakan Kedua "Wonderfully Stupid" :D

Pagi-pagi, sekitar pertengahan Oktober kemarin, aku masih di kelas, lagi ikut preparation TOEFL, tentang Reading. Tiba-tiba, hape getar. Ada telepon. Karena masih dikelas dan nomor yang nelepon gak aku kenal, jadi aku abaikan. Mikirnya, paling orang iseng gak ada kerjaan pagi-pagi. Nomor yang sama itu nelepon sampe 3 kali. Akhirnya aku SMS, bilang kalo aku masih di kelas, kalo penting, ntar aja telepon lagi. Gak lama kemudian, ada SMS balesan. Isinya: "Mbak Elsa, ini dari kantor pos pusat Malang, ada kiriman paket dari Jogja, tapi kayaknya nomor rumahnya salah. Bisa dikirim lagi alamatnya?"

Aku mikir. Paket apaan dari Jogja? Siapa kenalanku di Jogja yang ngasih kiriman? Seingetku, gak ada temen-temenku di Jogja yang tau alamatku di Malang. Sempet parno kalo itu penipuan. Jadi gak aku tanggepin.

Begitu selesai kelas, aku ngabur ke perpus, cari bahan tambahan buat proposal skripsi sambil cuci mata, kali aja ada mamas cakep yang juga lagi nyusun skripsi. Nomor misterius itu nelepon lagi. Kali ini aku angkat. Suara bapak-bapak yang kedengerannya baik, nanya nomor rumah karena ada kiriman. Akhirnya nyoba buat percaya, meskipun masih bingung, aku kasih penjelasan tentang alamat rumah, patokan-patokannya, si Bapak kayaknya bingung. Akhirnya aku minta taruh aja paketnya di kantor pos UB, ntar aku ambil sendiri. FYI, kantor pos pusat lokasinya di deket alun-alun kota, kalo ke sana harus naik angkot. Panas. Males. Sedangkan kantor pos UB, lokasinya ya di UB, deket perpus. Ngesot dikit nyampe. Akhirnya kita deal.

Sekitar jam 12 siang, si Bapak nelepon lagi, bilang kalo dia udah di deket bis surat. Aku bisa nemuin apa gak, katanya. Entah efek otak lagi lemot ato karena udah siang dan panas plus belom kenyang sarapan, aku malah ngabur ke kantor pos UB, ngira si Bapak di sana. Dengan manisnya, nanya ke petugas kantor pos tentang kiriman paket buat aku. Si Ibu bilang gak ada paket buat Elsa Puspita. Trus aku tanya, bis surat di mana. Si Ibu makin bingung dan bilang, "Kita udah nggak pake bis surat lagi, Mbak." Makin heranlah diriku yang malang ini. Trus aku SMS Bapaknya, nanya si Bapak di bis surat mana. Trus dibales, "Depan Fakultas Teknik, Mbak." GOSH!! Siang-siang, aku harus bolak-balik dari perpus ke FT balik lagi ke perpus. Mayan bikin ketek berkuah (gak usah dibayangin. Menjijikkan, sumpah).

Begitu di depan FT, aku mencari-cari sosok si bapak dan 'bis' suratnya. Gak ada tanda-tanda keberadaan 'bis' surat. Aku SMS lagi, "Saya sudah di depan FT, Pak. Bapak di mana?" Nih mulai berasa kayak kopdar sama temen ceting yang gak tau bentuk mukanya gimana. Lagi-lagi si Bapak bales, "Di sebelah bis surat, Mbak."

Garuj-garuk kepala, garuk-garuk jidat, garuk-garuk ketek, mana sih 'bis' surat? Segitu butakah mata saya sekarang sampe gak bisa ngeliat 'bis' surat? Trus, seketika, pandanganku tertumpu di seberang, ada bapak-bapak pake motor oranye, khas pak pos, parkir di sebelah bis surat. Ya! Bis surat alias kotak surat! Goblik banget deh nih otak karena dari tadi nyari benda berbentuk mobil, beroda empat, warna oranye dengan tulisan 'Kantor Pos'. Finally, ketemu si Bapak. Paket pun nyampe di tangan.

Abis ngucapin makasih, aku balik ke perpus sambil ngeliatin paket di tangan. Ada logo 'Bentang Pustaka' di samping tulisan alamatku. Oh, dari Bentang. Terjawab sudah. Satu-satunya penduduk Jogja yang tau alamatku emang cuma Bentang. Paketnya aku timang-timang, sambil mikir apa isinya. Aku pencet-pencet, kayaknya buku. Buku apa? Perasaan aku gak pesen buku. Gak menang undian apa-apa juga. Begitu sampe di perpus, aku buka. Dan isinya adalaaaaaahhhhh......



Reaksiku :
- Bengong
- Mematung
- Speechless

Ini serius?

Kasih paketnya ke Iin, temenku yang ikut nangkring, trus nanya, bener gak itu tulisannya "Wonderfully Stupid Cetakan Kedua?"
Dia jawab, "Iya, Mar. Wih.... udah cetakan kedua. Kapan makan-makan??" (Yah, otaknya emang gak lepas dari makan gratis. Saya juga. Maklum, kita masih anak kos dan mahasiswi)

Aku masih diem, memandangi benda itu dengan takjub. Bener-bener gak nyangka. Novel yang aku tulis pertama kali di masa SMA, yang terinspirasi dari kisah cintaku yang tolol, bertepuk sebelah tangan, dan menyedihkan, ternyata dibaca banyak orang sampe bisa cetakan kedua. Sama sekali gak nyangka. Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah.....

Aku cuma bisa ngucapin makasih banyaaaakkkk banget ke semua yang udah mau baca novel ini. Buat kalian yang bacanya hasil minjem, makasih udah mau baca, buat yang minjemin semoga dapet pahala. Buat yang beli dan baca makasih banyak udah bersedia menyisihkan uang saku buat kepercayaannya beli novelku, padahal aku belum punya nama sedikit pun di dunia penerbitan dan tulis-menulis, tapi kalian tetep mau beli, makasih banget. Tanpa kalian, hal ini gak akan terjadi.

Dan terutama, makasih sebanyak dan sebesarnya buat Tim Bentang Belia dan Bentang Pustaka atas kesempatan emas dan kerjasamanya mau nerbitin novelku. Seneng kerja sama bareng semuanya. Semoga lain kali bisa kerja sama lagi :)))

Tahun ini bener-bener penuh berkah. Alhamdulillah, Ya Allah O:)



nb: Wonderfully Stupid - Elsa Puspita
- Cetakan Pertama : Juli 2012
- Cetakan Kedua : Oktober 2012

Wednesday, November 14, 2012

Tentang Arsen

Biografi Singkat....
Nama Lengkap : Andersen Jade Calvin
Panggilan : Arsen / Bunglon Sinting (spesial dari Lanna)
Tanggal Lahir : 11 Juni
Hobi : goda Lanna, tendang bola, eksperimen warna rambut
Cita-cita : nikah sama Lanna

'Little Secret' tentang tokoh Arsen....
First Name
Sebelum perombakan, waktu judulnya masih 'Semanis Brownies', nama 'Arsen' itu Diandra Junyvio. Tokoh Diandra gak segila Arsen. Dia tergila-gila sama tokoh 'Lanna', tapi dengan cara yang lebih kalem. Itu bikin auranya kurang keluar. Kurang memancar. Dan kurang bikin gemes. Sampe akhirnya dirombak.
Asal Nama
Nama 'Andersen' dapet dari iklan di internet waktu lagi asik menyelam di dunia maya. Yang pertama ketemu justru panggilannya, Arsen. Baru nyari nama lengkap. Waktu buka-buka web tentang nama-nama anak, munculah nama 'Jade' dan 'Calvin'. Jadi, buat yang mikir kalo Arsen punya hubungan sama tim bola Arsenal atau racun Arsenik, kalian salah, sodara-sodara!
Kenapa namanya kebule-bulean?
Biar lucu aja. Kemaren pas lagi ngerombak aku lagi girang sama nama-nama yang susah disebut. Walopun kadang aku sendiri gak tau gimana cara nyebutnya (misalnya, nama orang Perancis 'Llywelyn', yang aku pake buat proyek bareng Iin. Biar gak susah, kami sepakat kasih dia panggilan Lyn. Sampe sekarang, aku gak tau pelafadzan 'Llywelyn' yang baik dan benar).
Pengembangan Karakter
Kayak yang dibilang sebelumnya, tokoh 'Diandra' kurang hidup. Buat cari yang cetar menggelegar duarduar membahana badai topan dan sebangsanya, aku pengen kasih unsur yang gak biasa. Muncul deh kebiasaan nyentrik dia yang suka gonta-ganti warna rambut. Kayak yang pernah aku bilang di sini, awalnya itu cuma buat jadi benang merah interaksi pertama dia sama Lanna. Awalnya rambut Arsen cuma mau dibikin satu warna, tapi gak lazim. Trus, muncul pikiran, 'kenapa gak sekalian dijadiin ciri khas dia?'. Sampe akhirnya Arsen jadi gitu. Ditambah lagi dengan sikapnya yang dibuat lebih gila dan gigih buat narik perhatian Lanna. Dari awal, 'Diandra' emang udah dikonsep jadi tokoh idola, tapi gak semenarik 'Arsen'. Ntar deh, kapan-kapan aku posting contoh draf aslinya Wonderfully Stupid (a.k.a Semanis Brownies) yang pertama kali aku tulis waktu SMA kelas 2 buat perbandingan.


yahh... segitu dulu lah ya. Udah malem. Ntar kalo ada yang bisa ditambahin, baru lanjut lagi. Ciao!!

Tuesday, October 2, 2012

#TwitTalk #PenulisBentang @bentangpustaka w/ @elpuspita :)

Sesi 30 menit pertama:
Bentang Pustaka (BP) :
Yukkk udah jam 19.00 teng! Dimulai yuk @elpuspita :) #TwitTalk #PenulisBentang #WonderfullyStupid mungkin bisa dimulai dari proses pembuatannya, dan karakter2 dlm novelnya :)

Elsa Puspita (EP) :
- novel #wonderfullystupid ini pertama kali aku bikin waktu masih SMA.
- inspirasinya, bisa dibilang, dteng dr pengalaman pribadi, tapi critanya beda jauh.
- proses penulisan drafnya sendiri makan waktu sekitar 1-2 bulan karena kepecah sama ide cerita lain.
- selama 4 tahun, naskah mentah itu sama sekali gk tersentuh, gk kluar2 dari folder.
- pas ada lomba 30hari30buku kemarin, aku iseng liat2 naskah lama.
- entah kenapa, jadi tertarik pngen ngerombak yang ini. perombakannya bener2 abis2an.
- mulai dari alur cerita, nama tokoh, sampe judul, aku ngerasa janggal sama yang lama.
- aku berusaha benerin semuanya, terutama karakter para tokoh sebelumnya yang kurang 'nendang'.
- yang paling aku suka selama proses nulis itu, ngebangun karakternya Arsen :)
- awalnya sempet pusing mau dibikin gimana. tipe cowok idola dgn sikap dingin atau playboy tengil yg kurang perhtian.
- smpe tiba2 mncul 'bsikan' buat gbung 2 karakter itu. cowok idola yang tengil, pke topeng tawa buat ntupin ksedihannya.
- hobi ganti wrna rmbut awalnya cm buat jd bnang merah intraksi dy sm Lanna pertama kali, tp mlah jd ciri khas dy jg.
- kalo buat Lanna, sejujurnya aku bingung dy mau dbikin gmana biar imbang sma Arsen.
- smpe akhirny muncul karakter galak, jutek, tp cm sma Arsen. aku mikir, 'cowok ky gini harus punya pawang'.
- bikin Lanna mau ngrlirik Arsen jg gk gampang. gmana cranya spaya dy mau 'noleh' dan berpaling bentar dr Ega.
- trus ku mikir, cewek slalu luluh sma cowok yg mnghargai mimpi dy, apalgi kl co itu bntu mwujudkan mimpinya.
- semua itu gk ada di naskah lama. dlm wktu skitar 3 minggu, aku brusaha kras buat bikin naskah ini jd layak dbaca.
- akhirnya aku krim yg itu buat lomba 30hari30buku. tentu aja abis itu msh byk bgt msukan lain dari mb dila.
- dgn sarana komunikasi yg sdikit brantakan, akhirnya mb dila bntu aku buat bikin novel ini ckup layak dbca :)
- terakhir, stlah byk prgntian jdul, 'Wonderfully Stupid' ini jg slah satu saranny mb dila. *cium tangan* :D


Sesi 30 menit selanjutnya (tanya-jawab):

RaraiSomplak : beri alasan buat saya kenapa saya harus beli buku #WonderfullyStupid.
EP : mskipun temanya cinta, nvel ini gk cma ttg cinta remaja, tapi juga cinta ayah ke anak lwat hbungan Arsen sm ayahnya. selain itu, dsini aku cba ngsih tau gk slah nglakuin hal bodoh buat memperjuangkan apa yg kmu anggep layak dperjuangkan. krakter tkoh utama yg unik dan ckup kuat serta alur yg nyantai bkin nvel ini ckup layak dikonsumsi.

HallaFan : trus knapa dikasih judul #WonderfullyStupid? Any special reason?
EP : krna inti crita ini ttg 'kbodohan'. kebodohan Lanna yg nunggu Ega, kebodohan Arsen yg nguber Lanna. tpi, kbodohan2 itu bisa berakhir bagus kl kmu mau ngsih dkit aja 'tmpat' biar kbodohan itu bs berkembang jd hal pintar.

puput_shine : apa kendala selama membuat novel #WonderfullyStupid?
EP : kndala utama ya tadi, cri cara buat bangun karakter yg mnarik dtengah tema yg ckup biasa. slain itu jg hrus ngendaliin mood yg dtg dan pergi seenakny, smentara deadline mkin mepet. tapi, slama kinginan buat nylesain itu lbih kuat, hal2 tadi bsa diatasi :)

go_Salsha : kak, emang judul sebelumnya apa?
EP : awal bgt jdulnya 'Semanis Brownies', dr kata brondong manis. haha. trus 'A Wonderful Stupid', smpe akhirnya jadi 'Wonderfully Stupid' :)

dylunaly : susah ga sih revisi naskah lama? ngbangun mood dan lainnya? ada tips?
EP : lumayan susah. soalnya udh terpaku sm alur dan smua yg ada di naskah lama. kl yg aku lkuin byk baca, buat perbandingan, bkn nyontek kok. hehe. bku nonfiksi lbh bnyk ngsih msukan. smakin sring dbca, biasanya smkin nemu byk nemu 'cacatnya', akhirnya jd gatel sndiri buat ngrombak.

ev4S_ : berapa kali draft mentah novelnya diperbaiki / diedit sampai jadi laayak cetak?
EP ; yg ini aku 3 kali tulis ulang sbelum dkirim. trus revisi2 lg dkit2 sma editorny sbelum cetak.


Kata Penutup :

BP :
- Waaa ~ gak kerasa udah jam 8 lewat aja. #TwitTalk #PenulisBentang admin tutup ya tweeps! :')
- Terima kasih buat elpuspita penulis buku #WonderfullyStupid yg ltah menjadi narasuber malam ini :) *tepuk tangan*
- Terima kasih juga untuk para followers yang udah menyimak TL bentang & TL elpuspita dari jam 19.00 td :')
- Makasih juga buat follower yg nanya, maaf nggak bs di RT satu-satu karena buanyaak banget! :)

EP:
- makasih bentangpustaka buat ksempatan ngobrol2nya :D lain kali lagi boleh *ngarep* hahaha :p
- Makasih juga buat yg udah ikut partisipasi. maap kalo jawabannya kurang memuaskan. saya juga masih pemula :)
- kita belajar sama2 ya :) saran dan kritik yg membangun selalu ditampung *kecup sayang*





Wonderfully Stupid :))

Tuesday, July 17, 2012

My First: Wonderfully Stupid

Judul : Wonderfully Stupid
Penulis : Elsa Puspita
Penerbit : Bentang Belia
Tanggal Terbit : 9 Juli 2012
Harga : Rp 37.000,-






Sinopsis:
Hidup Lanna nggak tenang sejak naik ke kelas tiga. Bukan karena tuntutan belajar yang makin mencekik, melainkan karena ulah Arsen. Cowok ganteng satu itu supersinting mengejar-ngejar Lanna. Nggak hanya penampilannya yang nyentrik, cara PDKTnya pun tergolong aneh. Sampai-sampai Lanna harus menanggung malu atas kelakuan Arsen.

Meski Arsen ganteng dan jadi salah satu idola sekolah, Lanna tak lantas mau menerima cintanya. Arsen itu adik kelas Lanna, lagipula Lanna masih mengharapkan cowok lain, Aga. Seorang sahabat yang tiba-tiba menjauhinya dua tahun silam, tanpa Lanna tahu alasannya.

Arsen dan Lanna sama-sama gigih di jalannya. Arsen memperjuangkan cintanya untuk Lanna. Sedangkan Lanna tetap  dengan kebodohannya, menunggu Ega kembali, bukan lagi sebagai sahabat, melainkan cintanya.