Showing posts with label review. Show all posts
Showing posts with label review. Show all posts

Saturday, November 30, 2013

Review Buku : “Pssst…!” by Dy Lunaly

Judul Buku : Pssst…!
Penulis : Dy Lunaly
Penerbit : Bentang Belia
Terbit : Oktober 2013
Jumlah Halaman : 199






Novel keempat dari Mbak Dy Lunaly. Dan yang ketiga terbit tahun ini. *simpen irinya*

Novel ini menceritakan tentang perjalanan 5 sahabat keliling Eropa. Tujuannya 5 negara yang jadi impian mereka di Eropa. Dan ternyata, perjalanan itu membongkar satu-persatu rahasia yang mereka simpan dari yang lain.

Pertama, bahas bagian yang menarik dulu. Di novel ini penulis menggunakan sudut pandang orang pertama ganti-gantian. Ada 5 bagian dengan 5 sudut pandang orang pertama yang berbeda. Di bagian pertama, Wira yang jadi tokoh “aku” dengan negara pilihannya Belanda, tempat yang punya kenangan manis masa kecilnya, tapi malah berubah jadi musuhnya. Kenapa bisa begitu? Baca sendiri ye. Di bagian kedua, kita diajak Jiyad sebagai “aku” jalan-jalan ke Belgia, negerinya Tintin, dan dikira Jiyad merupakan tempat paling tepat buat jujur ke para sahabat tentang rahasia yang disimpannya. Bagian ketiga, si manis Noura yang gantian jadi “aku” dan ngajak kita keliling Luksemburg, negara kecil cantik tapi ternyata bikin dia ketiban masalah sama sahabat-sahabatnya. Perancis jadi negara pilihan Adhia, si tokoh “aku” di bagian keempat. Siapa yang gak pengin ke Paris sama orang tercinta? Kota paling romantis sejagat! Tapi, di kota paling romantis itu, hal gak enak pun tetep bisa terjadi. Daaannn … bagian kelima alias terakhir ada Kalyan, ngajak kita main-main air dan get lost di Venesia, salah satu kota yang wajib dikunjungi sebelum tenggelam *pikiran Kalyan sama kayak aku. Kami jodoh*

Hal menarik lainnya, kalau ada lima jempol, aku bakal kasih semuanya buat Mbak Dy atas penggambaran lokasinya. Kereeeennnnnnnn!!! Kita kayak diajak jalan-jalan ke lima negara sekaligus lewat satu buku. Setting tempat di sini bukan sekadar tempelan, tapi jadi bagian penting di cerita. Satu hal yang masih payah banget kalau aku yang ngerjain. Tapi emang, kalau masalah penggambaran lokasi, Mbak Dy top markotop. Dan itu jadi satu nilai plus buat novel ini.

Kedua, bagian yang bisa dibilang jadi kelemahan kecil di novel ini. Kayak yang aku bilang sebelumnya, tentang pov 1 yang ganti-gantian, kalau gagal itu bisa jadi bumerang. Di beberapa tokoh, Mbak Dy sukses bikin kesan si “aku” jadi beda, baik dari tingkah laku maupun pola pikir si tokoh. Tapi, di bagian Wira sama Jiyad, aku gak terlalu ngerasain kalau si “aku”-nya itu orang yang beda. Mungkin karena secara umum karakter kedua orang itu mirip, kecuali bagian Wira yang lebih ramah sama cewek, dibanding Jiyad. Cuma bagian mereka. Begitu masuk ke Noura, Adhia, sama Kalyan, bedanya lebih kerasa di banding pas dua orang pertama. Kekurangan lainnya, karena tiap bagian punya masalah dan klimaks sendiri, ada bagian yang klimaksnya dapet banget, ada juga yang seakan kelar gitu aja dan bikin jadi ngurangin greget.

overall , terlepas dari kekurangannya, aku amat-sangat menikmati waktu baca novel ini. Kayak baca kumpulan cerita pendek, tapi dengan versi yang lebih panjang (cerita panjang ya namanya? Gitu deh), bikin gak kerasa pas udah sampe di halaman terakhir. Apalagi ada adegan yang aku suka-suka-suka banget, sampe bikin senyum lama dan ngerasa sendu di saat bersamaan *karena ngerasa senasib*. Rasa paling menyenangkan pas baca novel itu, begitu ditutup, masih bikin senyum manis. Dan novel ini berhasil bikin aku ngerasa gitu.

Great job, Mbak Dy! Ditunggu terjangan berikutnya!


Ps: I love Kalyan :*





-ep-

Wednesday, July 3, 2013

Review buku : The Chocolate Thief by Laura Florand

Judul : The Chocolate Thief 
Penulis : Laura Florand 
Penerjemah : Veronica Sri Utami 
Penerbit : Bentang Pustaka 
Tahun Terbit : 2013 
Halaman : 410 
Harga : Rp 64.000,-


Konflik utamanya diawali dari niat Cade mengajak Sylvain kerja sama dengan perusahaannya buat buka pasar cokelat premium di Eropa. Cade berniat 'menempelkan' nama Sylvain Marquis di bungkus cokelat yang dibikin oleh perusahaannya. 

Tentu saja dengan ego besar dan merasa cokelatnya terlalu berharga, gak level kalau harus disandingkan sama cokelat yang diproduksi massal milik Corey Inc, Sylvain menolak mentah-mentah tawaran kerja sama si Cade. 

Dari sanalah Cade dan Sylvain jadi banyak interaksi. *lengkapnya, baca sendiri ye B-) 

Secara keseluruhan, efek yang dikasih selama baca novel ini adalah....laper! Dan pengin cokelat! Deskripsinya ngalir, bikin gak pengin nutup bukunya sebelum kelar, tapi juga gak kuat ngadepin berbagai penjelasan tentang cokelat yang bikin air liur netes. *Mon Dieu! Je t'aime, M. Marquis!* 

Percakapan bahasa Perancisnya lumayan buat belajar-belajar. Seenggaknya sekarang aku gak cuma tau 'je t'aime' saja, tapi bisa bales pake 'moi aussi' *info penting*. 

Balik ke alur cerita. Cerita cintanya simpel. Dibungkus dengan cerita tentang cokelat yang berhasil bikin aku meleleh dan ngences. Oh, Mbak Laura ini kalo buka toko cokelat pasti bakal laris! Gimana gak? Deskripsinya tentang cokelat yang dibuat Sylvain bikin gigit-gigit apa pun yang ada di sekitar kita sambil ngebayangin cokelatnya. Dan ini novel pertama yang bikin aku tertarik pengen nyoba cokelat pahit karena deskripsinya itu bener-bener gugah rasa cintaku akan cokelat sampe ke akarnya! *eaaa* 

Sebagus apa pun karya, masih ada kurangnya dikit. Dikit banget kok tapi, gak kerasa sebenernya. Ada salah satu adegan yang menurutku pemotongannya entah kebanyakan atau gimana, yang jelas bikin sempet berkerut pas baca adegan selanjutnya. Itu gak kerasa-kerasa banget sih, cuma yah gitu. Aku nangkep sedikit kejanggalan. Cuma di satu bagian itu. Adegan-adegan selanjutnya, pemotongan atau sensornya lebih halus dan ngalir, jadi gak bikin berkerut lagi. 

Salah satu hal berkesan dari novel ini, selain cokelat, adalah tentang 'kesensian' orang Perancis sama orang Amerika. Banyak kejadian yang bikin ngakak heboh dan pengin ngasih pukpuk ke Cade. Selain itu, poin plus lain yang bisa dipetik dari novel ini adalah duit gak selamanya bisa menari dan bernyanyi *pinjem istilah Vane Kattalaktis, tokoh were-hunter punya Sherrilyn Kenyon*. Nggak selamanya hidup seorang pewaris perusahaan besar bisa lancar di mana pun dia berada cuma karena punya duit yang seakan gak habis-habis.

4 of 5 stars aku kasih buat novel ini. Buat Paris, kisah cinta, cokelat, dan deskripsi kerennya. Oh! Dan buat Sylvain Marquis! Beau-chocolatier! 

Buat kamu pecinta Paris dan cokelat, JANGAN PERNAH NGELEWATIN BACA BUKU INI. Nggak akan nyesel!
Ini salah satu kisah cinta paling manis yang pernah aku baca :)

Gak sabar nunggu serial yang lainnya muncul! 
*FYI, bakal ada 3 seri lagi tentang cokelat dari Mbak Laura* 



-ep-

(sumber gambar: Web Bentang Pustaka)

Thursday, March 7, 2013

Review : Warm Bodies (Antara Buku dan Film)


Judul : Warm Bodies
Genre : Horor, Drama
Pemain : Nicholas Hoult (R), Teresa Palmer (Julie)
Sutradara dan Skenario : Jonathan Levine
Penulis : Isaac Marion

Sejujurnya, aku gak terlalu excited sama film-film yang diangkat dari novel. Setiap denger desas-desus ada novel yang akan dijadiin film, aku lebih milih berburu novelnya. Urusan bakal nonton filmnya apa gak, tergantung cerita novel itu apakah bakal menarik dibikin film, atau cuma bakal maksa. Sama liat siapa yang main (hehe). Sejauh ini, dari beberapa film adaptasi yang aku tonton, sebagian besar aku tetep lebih suka versi novel.

Film Warm Bodies ini salah satu film adaptasi novel yang menurutku cukup sukses. Terlepas dari tokoh cowoknya yang bikin aku jatuh cinta, filmnya gak ngecewain sama sekali. Menurutku, Jonathan Levine lumayan berhasil 'menghidupkan' novel yang ditulis Isaac Marion ini.

Dari beberapa film zombi yang pernah aku lihat, Warm Bodies jadi juara. Biasanya, zombi di film horor/thriller yang pernah aku tonton cuma dijadikan mesin pembunuh, momok mengerikan, yang memburu semua pemain sampai mati. Kehidupan si zombi sendiri gak terlalu diekspos. Ceritanya cuma fokus ke para manusia yang jadi pemeran utama dan cara mereka bertahan hidup dari kejaran si zombi.

Tapi, di sini beda. Diceritakan seorang zombi bernama R, yang tinggal di sebuah lahan bekas bandara bareng zombi-zombi lainnya. Adegan pembuka awal, cukup menarik. Memperlihatkan kegiatan-kegiatan para zombi di tempat tinggal mereka itu. Yang jadi tokoh utama di sini, bisa dibilang, para zombi. Garis besarnya menceritakan tentang R yang jatuh cinta sama manusia, namanya Julie. Mereka pertama ketemu waktu para zombi nyerang manusia buat makan. Si penulis ngatur kalau R kebagian makan pacarnya Julie. Setiap kali seorang zombi makan otak manusia, akan muncul kilasan-kilasan kenangan si manusia itu di pikirannya. Itu juga yang terjadi waktu R makan otak Perry, pacarnya Julie. R jadi tau tentang Julie dari sudut pandang si Perry.

Aku selalu lebih suka cerita cinta yang dikemas dengan gaya cerita gini. Cerita yang di luar nalar kadang ngasih pelajaran lebih tentang perasaan manusia satu itu. Bisa dilihat dari hubungan R dan Julie. R tertarik sama Julie karena waktu kali pertama mereka ketemu, jantungnya yang udah mati tiba-tiba berdetak lagi. Karena itu R selalu berusaha melindungi Julie dari para zombi. Keajaiban cinta yang gitu lebih bikin ngiri. Selalu. Para penulis fantasi atau sci-fi selalu berhasil meyakinkanku kalau cinta itu memang punya kekuatan yang hebat. Terbukti di cerita ini, di mana R berhasil kembali jadi manusia gara-gara cinta.

Sedikit kekurangan filmnya menurutku, ada beberapa adegan di novel yang gak masuk. Hal biasa, sebenernya. Setiap film yang diangkat dari novel, gak semua adegan persis sama. Cuma, kadang, adegan yang 'dibuang' itu justru adegan yang sebenernya ditunggu. Misalnya aja, salah satu adegan novel yang gak ada di filmnya, waktu R ketemu sama istrinya, sesama zombi. Baru pertama ketemu, mereka langsung nikah. Cara nikahnya lucu. Pernikahan ala zombi. Menurutku, itu salah satu adegan menarik. Pas nonton, aku nunggu-nunggu adegan itu, ternyata gak ada. Itu seharusnya jadi adegan sebelum R ketemu Julie. Tapi, di filmnya, R langsung dibikin ketemu Julie.

Over all, I really love this story.
Terlepas dari tokoh utamanya yang emang ganteng, banyak pelajaran yang ada di cerita ini. Salah satu yang bisa aku petik dan paling berkesan buatku, "cinta selalu bisa memanusiakan siapa pun, termasuk seorang zombi". Jadi, jatuh cintalah. Supaya kamu bisa jadi manusia. Yang utuh...




~ Elsa Puspita Hoult ~

Sunday, November 25, 2012

Review Buku : The Timekeeper by Mitch Albom

Judul : The Timekeeper (Sang Penjaga Waktu)
Penulis : Mitch Albom
Halaman : 311
Terbit : Oktober 2012
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Harga :

Tokoh utamanya bernama Dor, Sang Penjaga Waktu. Diceritain, dialah manusia pertama yang ngukur waktu, ciptain jam matahari, jam air, jauh sebelum generasi-generasi selanjutnya. Sejak kecil, Dor sudah tergila-gila menghitung segala sesuatu. Sementara orang-orang sekitarnya ngerjain pekerjaan yang lebih berguna buat ngumpulin harta, Dor malah asik sama hobi itung-itungannya. Karena hobinya itu, Dor harus diasingkan karena dianggap nggak menghargai anugerah Tuhan. Karena ulahnya, manusia-manusia di bumi pada generasi seterusnya, kita sekarang, jadi heboh ngukur-ngukur waktu, sampe kadang gak bisa nikmatin lagi apa yang dikasih Tuhan. Akhirnya Dor dihukum. Dia dikurung dalam sebuah gua, dipaksa denger semua keluhan orang-orang yang minta lebih banyak waktu. Sampe pada waktu tertentu, Dor dibebasin dan dikasih satu misi buat menebus kesalahannya. Dia harus nemuin dua orang yang punya masalah dengan waktu. Victor Delamonte, seorang pengusaha kaya raya yang mengidap penyakit parah yang bisa bikin dia mati, pengen punya lebih banyak waktu buat hidupnya dan cari cara biar bisa hidup abadi, dan Sarah Lemon, remaja pendiam yang sedang jatuh cinta, trus patah hati, dan pengen waktu hidupnya diperpendek karena gak sanggup menghadapi penolakan di sekitarnya. Dor harus menemui mereka dan mengajarkan makna waktu pada mereka.

Kalo diliat dari sinopsisnya, tema buku ini kayaknya berat. Tapi, setelah dibaca, bener-bener gak terasa. Tiba-tiba kita udah masuk ke halaman terakhir. Banyak banget makna yang bisa diambil, terutama tentang betapa pentingnya menghargai waktu. Kenapa Tuhan batesin waktu buat kita? Kenapa kita gak dibikin abadi aja biar bisa capai semua yang kita mau? Jawabannya sederhana. Supaya setiap waktu yang dikasih Tuhan itu berharga. Kalo sampe kita dikasih waktu yang gak terbatas, kita pasti gak akan menghargainya (omongan Dor).

Buat pecinta fiktif ilmiah, novel ini cocok buat koleksi. Buat yang gak terlalu suka bacaan berat, buku ini juga pas dibaca. Ibarat cemilan, ini beneran cemilan sehat. Ringan, tapi berbobot. Gak bakal nyesel bacanya. Selesai baca, kita bakal lebih bisa menghargai tiap detik yang kita buang gitu aja.

Sunday, June 24, 2012

Review buku: Heaven, Texas by Susan Elizabeth Phillips

Judul: Heaven, Texas
Penulis: Susan Elizabeth Phillips
Halaman: 541
Terbit: Mei 2012

Penerbit: Gagas Media
Harga: Rp 58.000,-

Bobby Tom Denton, mantan pemain football Chicago Stars adalah tipe pria idaman masa depan wanita mana pun. Tampan, kaya, dan selalu bersikap menyenangkan. di mata semua orang, Bobby Tom sosok yang sangat menyenangkan. Gracie Snow pun tidak bisa mengelak dari pesona alami yang dimiliki playboy sempurna itu. Gracie diperintahakan perusahaan film tempatnya bekerja sebagai asisten produksi untuk menjemput Bobby Tom sebagai bintang utama agar syuting film bisa segera berjalan. pertemuan pertama mereka tidak berjalan sesuai harapan Gracie, setelah dirinya dikira sebagai seorang penari telanjang.


Bobby Tom tidak pernah menyangka sebelumnya kalau sosok biasa seperti Gracie akan sanggup membuat hidupnya jungkir balik. penampilan lusuh Gracie seharusnya tidak menggugah seleranya yang terbiasa berhadapan dengan wanita-wanita seksi cantik, bukan malah membuatnya tidak ingin berpaling dari gadis kecil manis itu.


Sementara Gracie sendiri terlalu sadar diri atas semua kekurangannya. dia tau tidak mungkin seorang megabintang seperti Bobby Tom akan tertarik padanya. karena itu, saat Bobby Tom berkata pada semua gadis yang mendekatinya kalau Gracie adalah tunangannya, dia kaget. lalu Bobby Tom menjelaskan kalau dia membutuhkan Gracie untuk berpura-pura jadi tunangannya agar hidupnya selama di Telarosa, Texas, tempat mereka menjalankan syuting, bisa berjalan lancar tanpa gangguan dari gadis-gadis yang sibuk melemparkan diri pada Bobby Tom.


seringnya berinteraksi membuat Gracie melihat sisi sebenarnya dari Bobby Tom. lelaki itu sudah membangun tembok yang sangat tebal untuk dirinya, dan semua penampilan ramahnya hanyalah topeng untuk menutupi perasaannya yang sebenarnya. Bobby Tom juga mengakui kalau Gracie adalah teman terbaik yang pernah ditemuinya. sampai sebuah kesalahpahaman membuat Gracie merasa kalau Bobby Tom tidak pernah menghargainya. saat Bobby Tom memintanya menjadi asisten pribadi, Gracie menolak. Bobby Tom gusar mendengar penolakan Gracie dan meminta penjelasan. Gracie lalu berkata kalau dia tidak bisa berada di dekat Bobby Tom lagi karena dia mencintai lelaki itu. Bobby Tom merasa hal itu tidak seharusnya merusak persahabatan mereka. bukan hal baru bagi Bobby Tom menerima pernyataan cinta dan dia sudah terbiasa menghadapinya. tingkah santai Bobby Tom atas pernyataan cinta yang menggetarkan hatinya membuat Gracie makin merasa tidak berharga bagi lelaki itu dan makin meyakinkannya untuk pergi dari hidup Bobby Tom.


Endingnya bener-bener bikin greget. cerita gimana Bobby Tom sadar kalo dia juga sayang sama Gracie, ketidakpercayaan Gracie, sampai usahanya buat dapetin Gracie lagi. penuh adegan berdarah-darah dan air mata. akhirnya, semua orang sekitar Bobby Tom tau kalau si playboy sebrengsek apa pun pada akhirnya bisa benar-benar jatuh cinta, meskipun cewek yang bikin dia jatuh cinta sama sekali nggak terduga. tapi, kayak yang sering Bobby Tom bilang, "Hati manusia siapa yang tau?"


jalan ceritanya yang ringan bikin kita pengen baca-baca-baca-dan terus baca sampe habis. konflik yang ditampilkan juga konflik sehari-hari, tapi nggak basi. karakter tokoh yang kuat makin bikin ceritanya menarik. plus bumbu-bumbu kisah cinta yang bikin ngiri makin melengkapkan buku ini. dan terutama, banyak pelajaran tentang cinta, kejujuran, penerimaan, dan pengorbanan yang bisa dipetik :)

Friday, February 3, 2012

Review buku: Delirium #1 by Lauren Oliver

Judul buku: Delirium
Penulis: Lauren Oliver
Penerbit: Mizan Fantasi
Terbit pada: Desember 2011
Harga: Rp 59.000,-

Pas baca sinopsis novel ini, hal pertama yg terlintas di otakku, 'keren, aku harus beli.'
selama ini nyaris di tiap cerita pasti mengagung-agungkan cinta. Oliver berani bikin tema beda yang bertolak belakang. di novel ini, kita bener-bener dibuat mikir kalo cinta itu semacam penyakit berbahaya yang mematikan. kata-kata 'cinta ini membunuhku' bukan sekedar kiasan, tapi bener-bener dibikin makna harafiahnya.

Lena Haloway, sama kayak penduduk lainnya, awalnya juga berpikiran sama. cinta itu wabah yang harus dihindari. dia gak sabar pengen cepet-cepet 18 tahun biar bs 'disembuhin'. jadi, di kota itu, tiap penduduk yang berusia 18 th lebih, baik cowok atau cewek, wajib jalanin semacam prosedur penyembuhan. mereka bakal dikasih 'penangkal', jenis obat-obatan buat matiin hormon yang bikin orang jatuh cinta, supaya mereka gak terjangkit penyakit itu. penduduk yang belum disembuhkan, gak boleh duaan sama lawan jenis. kalo sampe ada yang melanggar, mereka bakal dapet hukuman berat. gak kayak orang lain yang takut sama prosedur itu, Lena justru lebih takut sama wabah cinta, karena itu dia semangat nunggu waktu sampe giliran prosedur dia tiba.

semuanya berubah waktu dia ketemu Alex Sheates. Alex tuh salah satu kaum invalid yang berhasil nyusup. invalid itu sejenis kaum buangan yang berontak, gak setuju sama cara kerja kota yang melarang adanya hal-hal berbau cinta. mereka bikin komunitas sendiri di luar kota, dibatasi dengan pagar listrik.

sejak deket sama Alex, perlahan, anggapan Lena tentang cinta mulai berubah. bukan cuma tentang cinta, semua hal yang diyakininya selama ini berubah waktu dia ngeliat semuanya dari sudut pandang Alex. dia suka sama puisi yang dibacain Alex buat dia. dia bahkan ngerasa nyaman sama perasaan yang dia punya ke Alex. di deket Alex, Lena merasa jadi cewek paling istimewa, cantik. cinta Alex malah bikin Lena kuat, bukan bunuh dia.


awalnya, hubungan diem-diem mereka berjalan lancar. bahkan Hana, sahabatnya Lena, ikut bantu nyembunyiin hubungan mereka. tapi, yg namanya rahasia gitu, gak akan seru kalo gak sampe ketauan. itulah klimaksnya. pas mau kabur dari kota itu, mereka ketauan, ketangkep. Alex berhasil lolos, sementara Lena ditangkep dan dibawa pulang ke rumah bibinya.


gara-gara kejadian itu, rencana Lena menjalani prosedur penyembuhan dipercepat. Lena panik, dia gak mau cintanya buat Alex dibunuh. dia lebih milih mati asal tetep punya cinta buat Alex, daripada hidup tanpa cinta Alex. setelah dikurung beberapa hari, atas bantuan ponakannya, Grace, Lena berhasil kabur. dihari yang sama, ternyata Alex juga niat nyelametin dia. pake motor yang dibawa Alex, mereka coba kabur ke perbatasan kota. kalo berhasil lewat dari perbatasan itu, mereka aman. kaum invalid pasti akan ngelindungi mereka. sayangnya, cuma Lena yang berhasil lolos. sementara Alex ditangkep oleh para penjaga.


aku sempet kecewa pas baca endingnya. kok ceritanya gini? terkesan gantung gitu. tapi, pas aku tau kalo ini ternyata ada sekuelnya, aku gak jadi kecewa. perjuangan cinta Alex dan Lena belum berakhir. yeeeyyy :D


satu makna penting yang aku ambil dari novel ini, cinta itu penting. sesakit apa pun pas orang yang kita cintai pergi, jauh lebih baik daripada gak ada cinta sama sekali. aku ngebayangin kalo tinggal di kota yang ditempatin Lena dan Alex. bener-bener nyeremin. gak cuma gak boleh jatuh cinta, masalah jodoh pun diatur oleh pemerintah! bayangin! pernikahan gak harus pake cinta. yang penting tiap pasangan bisa menghasilkan keturunan. gak ada ikatan kasih sayang dalam keluarga. nyeremin banget ngebayangin umiku yang super baik tiba-tiba jadi gak pedulian sama aku. ayahku yang sayang anak jadi gak pernah ngelirik anak-anaknya lagi. amit-amit deh...


seenggaknya, dikehidupan normal, pas kita disakitin sama satu orang, kita masih punya kesempatan buat nemuin orang lain yang lebih baik. itu jauh lebih baik daripada segala perasaan direnggut dari kita.


nice novel. I really like it :)

Monday, December 26, 2011

review buku: The Darkest Whisper by Gena Showalter

Seri ke-4 dari cerita Lord of The Underworld (LoTU) karya Gena Showalter. Di buku ini Gena menceritakan tentang Sabin, sang Keraguan. sama kayak cerita sebelum-sebelumnya, kisah Maddox, Lucien, sama Reyes, di sini Sabin juga diceritakan ketemu sama belahan jiwanya, Gwen, sesama makhluk abadi. Jalan ceritanya cukup asik, selayaknya novel lain yang ditulis Gena, lengkap dengan lelucon-leluconnya.

Awalnya Sabin cuma minta Gwen bantuin dia dan ksatria lain buat ngelawan para pemburu yang dipimpin Galen, mantan temen sekaligus musuh terbesar mereka. Sebenernya dari awal mereka udah saling tertarik satu sama lain. Tapi, Sabin berusaha menghindar karena gak mau Gwen kena pengaruh iblisnya. perempuan terakhir yang deket sama Sabin bunuh diri gara-gara depresi. Yah, namanya juga cerita ya, nggak asik kalo tokoh-tokoh utamanya gak dibikin saling cinta. itulah yang akhirnya dialami Sabin dan Gwen. ternyata, Sabin memang belahan jiwa Gwen, begitu juga sebaliknya.

kejutan yang didapet di sini, ternyata Gwen adalah anak dari musuh bebuyutannya. Gwen, yang belom pernah ketemu ayahnya, jadi ragu mau bantu Sabin. dia gak mau bunuh ayahnya. dan inilah yang bikin antiklimaks (menurutku). cerita yang tadinya udah mengalir dengan begitu enaknya, gara-gara klimaks yang gak nyampe, jadi bikin gregetan. rada kecewa, tapi yaahhh.... gitu lah..
karena udah terbiasa sama klimaks Gena yang bikin adrenalin terpacu (eaaa), buku yang ini jadi gak kerasa gregetnya karena klimaksnya yang kurang (menurutku). terlepas dari itu, ceritanya tetep asik. tetep gak rugi jadiin buku ini sebagai salah satu koleksi. apalagi yang melibatkan Paris sama Gideon (gak sabar pengen baca kisah mereka).

semoga buku selanjutnya, sentuhan klimaks Gena kembali biar aku gak kecewa lagi..
selamat membaca :))

Friday, November 25, 2011

review film : the twilight saga -> breaking dawn (part 1)

jujur saja, alasan utama aku mau nonton film ini karena ada si Taylor Lautner. seandainya gak ada dia, mungkin aku gak akan nonton. karena apa? takut kecewa. apalagi waktu denger kabar kalo nih film dibagi 2 bagian. aku bertanya2 sendiri, 'buat apa dibagi dua? sepadet apa isinya sampe gak bisa dibikin satu aja?'
karena menurutku cerita di breaking dawn ini gak terlalu padet. banyak basa-basi. kalo istilah tanteku, serasa baca diary.nya si bella. sedikit membosankan, plus klimaksnya rada antiklimaks gitu deh. setelah sempat dikecewain eclipse, aku sempet gak mau nonton film ini. tapiii.... pas liat trillernya menampilkan sosok si jacob alias Taylor Lautner-ku yang sangat seksi itu, aku langsung berubah fikiran. terserah gimana jalan ceritanya, ngebayangin ngeliat si werewolf seksi di layar lebar udah bikin aku gak sabar pengen nonton.

sebelum nonton, aku tetep ngerasa bakal dikecewain lagi sama filmnya. part 1 ini pasti banyak basa-basi omong kosong gak jelas tentang percintaan si bella sama edward. penuh tetek bengek yang gak penting dan cuma bakal manjangin cerita. aku udah siap menghadapi kekecewaan, yang aku pikir bakal terbalas dengan ngeliat tampangnya Taylor Lautner, namun ternyata aku salah. filmnya gak seburuk dugaanku. yah.... lumayan lah. gak ngecewain.

inti part satu ini nyeritain tentang perubahannya si bella jadi vampir. dibuka dengan adegan jacob nerima undangan pernikahan bella-edward, dia lari nerobos ujan, buka baju *nampilin perut sixpack-nya*, trus berubah jadi srigala.
dilanjutin dengan pesta pernikahan kedua orang itu. aku suka konsep pestanya. di tengah hutan. unik, gak lazim, menarik, dibanding pesta taman atau pesta dalem gedung yang udah sering.
trus mulai deh adegan-adegan yang gak seharusnya diliat oleh anak2 yang belom punya KTP. hingga akhirnya bella hamil.
di sinilah konflik dimulai. kehamilan bella dianggap gak wajar dan dikhawatirkan bakal bunuh bella. edward dan seluruh anggota keluarga cullen, kecuali rosalie, setuju buat buang bayi setengah vampir itu. tapi bella gak mau, gak peduli kondisinya makin hari makin kritis. nurani seorang ibu ya, gak bakal mau ngorbanin anaknya, gak peduli itu bikin dia nyaris mati.
selain bikin konflik di dalam keluarga cullen, kehamilan bella juga mancing konflik sama kawanan werewolf. sam dkk menganggap anak bella itu bakal bawa malapetaka ke umat manusia. karena itu mereka mau bunuh bella atas pilihannya. jacob yang cinta sama bella menentang keputusan sam. akhirnya kelompok werewolf terpencar. jacob, yang ternyata cucu dari kepala suku terdahulu, milih jalan sendiri. dia sebenernya bisa jadi Alfa*, namun dia nyerahin itu ke sam. karena konflik ini, jacob milih pergi buat ngelindungin bella dan menentang kelompok yang mau bunuh cewek itu. awalnya jacob sendirian. tapi, trus dia diikuti seth sama kakaknya, Leah. seth yang udah temenan sama keluarga cullen juga gak mau bella dibunuh. sedangkan leah gak mau ninggalin adeknya. dan dia juga lebih milih jadi bawahannya jacob daripada jadi bawahan sam, mantan pacarnya yang udah ngimprint** cewek lain. meskipun jacob sempet nolak mereka berdua karena dia mau jalan sendiri, akhirnya dia malah nerima mereka.

klimaks di part 1 ini terjadi waktu bella lahiran. disitu keliatan banget badan bella kurus karena hamil. Carlisle udah bilang kalo kekuatan bella gak sebanding sama si bayi. bayi itu nyolong nutrisi dari bella, bikin kondisi bella makin lemah dari hari-ke hari. untunglah jacob punya ide nyoba ngasih darah ke bella. ternyata emang itu yang dibutuhin.
pas lahiran, bella bener-bener pertaruhin nyawa. perutnya dibelek, sampe digigit oleh si edward. jacob udah nyuruh edward ngasih racun vampir ke bella tapi gak bisa karena anaknya masih di dalem. beberapa saat setelah anaknya keluar, bella meninggal. jacob marah sama edward. dia, yang sebelumnya milih bunuh edward, lebih milih biarin edward hidup dengan nanggung penyesalan karena udah bikin bella mati. edward gak mau percaya bella udah mati, mulai masukin racun vampir ke tubuh bella supaya bella bisa jadi vampir.
jacob yang sedih banget karena bella meninggal, marah sama bayi yang sudah dilahirin bella. dia berniat bunuh bayi itu. tapi, pas dia ngeliat di bayi, dia malah ngimprint si bayi. pasangan jacob ternyata anaknya bella *aku beneran kaget waktu baca bagian ini*. hal itu juga yang bikin kawanan werewolf yang dipimpin sam gak bisa bunuh renesmee, anak bella-edward, karena sesuai hukum mereka, pasangan kawanan werewolf gak boleh disakitin. renesmee pun aman dari cengkraman para werewolf.

balik lagi ke bella. racun2nya edward mulai bereaksi. bella sebenernya kesakitan *dijelasin dibukunya*, tapi dia gak mau bikin orang2 panik, karena itu dia diem, gak teriak2 kesakitan *dibukunya ditulis kalo racunnya ngasih efek yang sangat menyakitkan dan panas*.
filmnya berakhir pas bella buka mata waktu dia udah berubah jadi vampir.


trus... ada adegan penutup yang nampilin keluarga volturi, petinggi kaum vampir. inceran mereka sebelumnya bella *nonton/baca new moon*, karena bella manusia yang tau tentang vampir padahal gak ada seorang manusia pun yang boleh tau tentang mereka karena bisa membahayakan. setelah mereka tau kalo bella udah jadi vampir juga, inceran mereka ganti ke renesmee...
kenapa begitu? tunggu aja di part 2.nya ;)

sekian..


*Alfa : pemimpin kawanan werewolf
**imprint : istilah para werewolf, sejenis sama 'nemuin belahan jiwa'

Friday, November 18, 2011

review buku: Dance With The Devil by Sherrilyn Kenyon

Buku keempat serial romance-fantasy Dark Hunter* yang dikarang oleh Sherrilyn Kenyon. Buku ini menceritakan kisahnya Zarek of Moesia. Zarek udah disebut-sebut sekilas di buku ke-2, kisahnya Kyrian, oleh Nick Gautier. Disitu Nick nyebutnya si Sinting Zarek. Dia baru bener-bener muncul pertama kali di buku ke-3, kisahnya Talon. sekilas Zarek digambarkan jahat, kejam, sadis, pokoknya seakan-akan dia itu Dark Hunter paling gak berprike-darkhunter-an. Tapi, ada sesuatu yang bikin aku yakin kalo Zarek itu gak jahat dan feeling aku bilang kalo aku bakal suka sama tokoh ini. dan semuanya terbukti waktu kisahnya Zarek ini terbit.

Kisahnya Zarek bikin penderitaan yang dialami Julian of Macedonia (buku pertama) sama penyaliban Kyrian of Thrace (buku ke-2) gak ada apa-apanya! Zarek lahir dari orangtua yang gak pernah ngarepin kehadirannya. Ibunya si Zarek diperkosa oleh ayahnya. Begitu Zarek lahir ibunya langsung nyuruh orang buat bunuh dia. Tapi orang itu gak tega, dia akhirnya ngasih Zarek ke ayahnya. Dan di sanalah kisah menyedihkan Zarek dimulai. Dia dijadiin budak penerima hukuman oleh ayahnya sendiri. Sementara saudara-saudaranya yang lain bisa makan enak, dia selalu dapet makanan sisa yang bahkan anjing pun gak mau makannya. Segala bentuk penganiayaan fisik udah jadi makanan sehari-hari buat dia. Kondisi tubuhnya udah ancur, babak belur, sampe orang-orang jijik sama dia. Bagian yang bikin aku nyaris nangis, pas waktu flashback ke masa lalu Zarek dan nyeritain adegan dia nemu 3 keping uang logam, trus dia ke pasar buat beli roti. Dia cuma pengen roti segar yang baru keluar dari panggangan. Tapi, pas dia dateng ke toko roti, si pemilik toko langsung ngusir dia karena keadaan dia yang menyedihkan. Dia udah mohon sama si pemilik toko itu buat ngasih dia roti, dia juga udah nunjukin uangnya. Tapi, dia malah dipukul, sampe uangnya jatuh. 3 keping uang itu amat sangat berharga buat budak kayak Zarek yang gak pernah makan enak. Dia pengen, sekali aja dalam hidupnya, makan makanan yang belum dimakan oleh orang lain. Bukan cuma kehilangan uangnya, dia juga ketauan ayahnya keluar dari rumah. Ayahnya marah, trus ngasih dia ke pedagang budak. Kalo biasanya jual budak ke pedagang budak itu dibayar, buat kasus Zarek malah ayahnya yang bayar si pedagang budak biar mau bawa Zarek pergi. Dan harga yang dibayar ayahnya itu jauh lebih murah dari budak paling hina sekalipun.

Kejadian yang bikin Zarek meninggal juga sangat gak adil! Dia difitnah oleh orang yang dia selametin. Sampe akhirnya dia diubah jadi Dark Hunter oleh Dewi Artemis buat bales dendam. Selama masa pelatihan sebagai Dark Hunter sama Acheron, sumbat emosi Zarek keluar. Kemarahan yang selalu dia pendam semasa jadi budak akhirnya terlampiaskan dan gak bisa dipendam lagi. Itulah yang bikin Zarek jadi bertingkah jahat biar orang-orang gak pandang rendah dia lagi.

Yang bikin seneng, akhirnya Zarek dikasih kebahagiaan dari sosok Astrid, anak Dewi Themis. Waktu Zarek mau dijatuhi hukuman mati, Astrid ditugaskan nilai Zarek buat buktiin Zarek pantas mati apa gak. Selama dua minggu Astrid tinggal sama Zarek. Awalnya Astrid anggep Zarek itu pantes dihukum mati karena tingkahnya kasar dan mulutnya kelewat jahat. Tapi, banyak sikap yang dilakuin Zarek bikin Astrid ngerasa kalo Zarek itu gak sejahat yang dia perlihatkan. Lama-kelamaan Astrid mulai mikir kalo ada kemungkinan Zarek gak bersalah dan bisa bebas dari hukumannya. Dari kebersamaan itulah akhirnya mereka saling cinta. Dimata Astrid, Zarek itu sosok Prince Charming baik yang bertingkah jahat cuma buat ngelindungi dirinya, ibarat mawar yang butuh duri. Dan panggilan Princess dari Zarek buat Astrid yang awalnya sebagai hinaan berubah jadi panggilan sayang. Astrid berhasil menjinakan sisi binatang buas di diri Zarek.

Banyak kejutan yang ada dibuku ini. Sherrilyn Kenyon berhasil bikin aku terperangah sambil mengumpat, "sial, ditipu". Tapi kejutan dan penipuan itu gak bikin kecewa kok. Cuma bikin kaget. Kejutan yang paling gak terduga tuh waktu Artemis bilang kalo dia gak pernah jadiin Zarek sebagai Dark Hunter. Zarek bisa hidup abadi dan awet muda karena dia nyuntikin semacam zat yang katanya ngalir di darah para Dewa-Dewi yang bikin mereka abadi. Sedangkan kelebihan dan kekuatan yang dikasih ke Zarek cuma supaya Acheron dan Dark Hunter lain gak sadar kalo Zarek beda. Buat jadiin manusia sebagai Dark Hunter, Artemis harus nyentuh manusia itu buat ngambil jiwanya. Dan karena saat itu penampilan Zarek sangat menjijikan, Artemis gak mau nyentuh dia. Jadi, selama ribuan tahun ini Zarek udah ditipu oleh Artemis. Antara pengen kasian sama Zarek atau ketawa. hehe

Endingnya... Zarek hidup sama Astrid. Setelah menderita ribuan tahun, akhirnya dia dikasih kebahagiaan. Gak cuma itu. Yang bikin makin seneng, Zarek juga dijadiin Dewa. Hal ini diperjelas di buku ke-5, kisahnya Wulf.


Pelajaran penting yang aku tangkep dari cerita ini, setiap penderitaan itu pasti bakal dibales dengan kebahagiaan. Gak peduli selama apa pun penderitaan itu dialami, pasti suatu saat ada kebahagiaan yang dateng. Jangan gampang ngeluh sama cobaan yang dateng, karena bakal ada hikmah menyenangkan di balik tiap cobaan itu..


and finally....

HAPPY READING.... :)


*Dark Hunter: manusia yang menjual jiwanya ke Dewi Artemis demi sebuah pembalasan dendam. Mereka mengabdikan diri untuk melindungi manusia dari daimon yang suka mencuri jiwa manusia