Aku menemukannya lagi. Sebuah botol bekas parfum berisi surat yang dimasukan ke balon yang belum ditiup. Ini sudah yang keempat kalinya. Isi suratnya selalu sama. Tetapi, aroma parfum dan warna balon yang digunakan si pengirim berganti. Dan selalu serasi. Hari pertama, dia mengirimkan botol parfum beraroma lavender, dengan balon berwarna ungu. Selanjutnya, parfum bunga sakura dengan balon pink. Yang ketiga, aroma melati dan balon putih. Sekarang, aroma jeruk dan balon oranye. Aku benar-benar penasaran siapa pelaku iseng ini. Dikiranya laci mejaku semacam tempat penampungan sampah atau apa?
Menarik keluar balon dari mulut botol bukan perkara mudah. Karetnya sering menempel di dinding botol yang masih basah sehingga jariku kesulitan meraihnya. Si pelaku ini benar-benar menyusahkanku. Juga mengganggu, pada awalnya. Sekarang, aku malah selalu menantikan keisengannya ini, meskipun sampai sekarang aku tidak tau apa artinya.
Begitu berhasil mengeluarkan balon sial itu, aku kembali berjuang mengeluarkan surat di dalamnya. Meskipun tahu kalau isinya akan sama, tetap saja aku ingin membukanya untuk membuktikan langsung.
Dahiku berkerut saat membaca suratnya. Isinya kali ini berbeda.
"Jam bermain selesai."
Saat itu aku menyadari. Selain isi surat, aroma dari botol parfum yang digunakannya juga berubah. Biasanya dia menggunakan botol parfum beraroma bunga, kali ini jeruk.
"Lavy? Kenapa kamu? Kok bengong?"
Aku tersentak, lalu menoleh ke arah Bagas, teman sebangkuku. "Kenapa kamu panggil aku Lavy?"
Dahi bagas mengernyit. "Dulu, kan, aku pernah bilang. Arona kamu kayak Lavender. Bisa buat ngusir nyamuk."
"Lavender. Pengin lihat sakura asli. Lebih suka melati daripada mawar. Pecinta jeruk." Aku menatap Bagas tajam.
Bagas terdiam sesaat. Aku mengacungkan botol parfum di tanganku. Dia tersenyum kecil, namun tidak berkata apa-apa.
Aku juga tidak berkata apa-apa lagi. Hanya mengingat surat pertamanya.
"Kenapa selalu melihat kejauhan?"
tempat pelampiasan terbaik di kala kepala terlampau penuh, namun mulut terlalu malas/lelah untuk berucap.
Wednesday, February 20, 2013
Welcome to the Hell (#6)
Hal pertama yang kutangkap saat memasuki kelas baru
adalah suasana bar mengerikan yang sering kulihat di film-film koboi.
Sekelompok siswa bergerombol di sudut kelas, beberapa di antara mereka tampak
menjepit rokok di sela jari telunjuk dan jari tengah. Kalau ketahuan guru,
mereka pasti habis. Aku sudah sering mendengar betapa buruknya kelas ‘terbuang’
ini. Tetapi, tidak pernah terlalu memedulikan mereka. Tentu saja aku juga tidak
pernah sekali pun berpikir akan menjadi bagian dari kelas terkutuk ini. Jika suasana
di kelas plus kemarin sudah kuanggap
neraka, kelas ini menimbulkan kesan beratuskali lipat lebih buruk.
Ya Tuhan! Betapa aku berharap bisa memutar ulang semuanya
dan meletakkan otakku di tempat yang benar!
Sara dan Anita berbaik hati menemaniku masuk ke kelas ini
untuk kali pertama. Mereka juga membantuku memilih tempat duduk. Bukan hal
sulit. Bangku kosong hanya ada di bagian depan, sementara bangku-bangku di
belakang sudah terisi penuh. Aku memilih bangku yang berada tepat di depan meja
guru. Bukan apa-apa, orang-orang di sini benar-benar membuatku takut. Aku
seperti masuk ke kandang srigala gunung yang dipaksa puasa setahun penuh lalu
tiba-tiba mendapat daging domba segar. Bisa dibayangkan bagaimana ganasnya
mereka?
Aku baru meletakkan tas, ketika Anita mulai bergerak
tidak nyaman. Dia menarik-narik tangan Sara, lalu membisikkan sesuatu. Sara
melihat ke arah sudut, tempat para siswa bergerombol, lalu ikut cemas.
“Fik, kamu yakin mau di sini?” Sara berbisik padaku.
Aku menatapnya nelangsa. Apa aku punya pilihan di sini?
Tidak pernah ada dalam sejarah SMA-ku, murid bisa pindah dari kelas yang sudah
ditetapkan. Apalagi yang sudah diputuskan masuk ke kelas mengerikan ini.
“Kamu kok bisa di sini sih, Fik?” sambung Anita, seakan
kami tidak pernah membahasnya.
Selama liburan kemarin, aku sudah menghabiskan banyak
waktu dengan mereka untuk menceritakan mengapa aku bisa masuk kelas ini. Tentu
saja aku tidak menyebut nama Saka sedikit pun. Bukan karena tidak percaya pada
mereka. Aku hanya tidak enak karena Sara berteman baik dengan Tasya. Dan Tasya
adalah pacar Saka. Aku tidak yakin bagaimana Sara akan menanggapi ceritaku
kalau aku mengatakan yang sebenarnya. Lagi pula, mengaku kalau aku sudah
melakukan hal konyol karena Saka akan sangat memalukan. Aku tidak akan mau
melakukannya.
“Aku nggak apa-apa, kok,” kataku. “Kalian balik ke kelas
aja.”
Kedua sahabatku itu masih tampak tidak yakin. Tetapi, bel
yang kemudian berbunyi memberi mereka pilihan untuk segera meninggalkanku.
“Kalau ada apa-apa, langsung teriak ya, Fik,” bisik
Anita, sebelum menarik Sara keluar.
Aku mendesah pelan sambil menatap punggung mereka yang
menjauh. Kemudian, aku mengeluarkan buku, siap memulai pelajaran, ketika
menyadari sesuatu.
Para siswa masih berada di sudut kelas, tampak tidak
menyadari, atau tidak peduli, dengan bel yang sudah berbunyi. Selain aku, hanya
ada tiga murid perempuan. Mereka membentuk kelompok sendiri di barisan bangku
dekat jendela. Tidak seorang pun memedulikan kehadiranku. Tanpa sadar, aku
mengingat hari pertamaku saat masuk di kelas plus. Saka adalah orang pertama yang menyapaku, lengkap dengan
senyum manisnya. Setidaknya, senyum yang kuanggap manis sampai aku mengetahui
kalau dia sudah punya pacar. Bukan berarti senyumnya berubah. Hanya saja,
jangan harap aku mau menyebutnya manis lagi.
Sembari menunggu guru masuk, aku mulai membuat
coretan-coretan tidak jelas di buku tulis. Kemudian aku menyadari kalau buku
yang sedang kucoret adalah catatan matematika-ku. Ada tulisan Saka di sana,
saat dia mengajariku mengerjakan soal. Aku melingkari tulisan-tulisan itu dan
membuat lambang hati di sekelilingnya.
Yang lebih menyedihkan dari cinta bertepuk sebelah tangan
adalah jatuh cinta dengan pacar orang lain.
Yah, selama libur kemarin, selain meratapi nasib sialku,
aku juga memikirkan alasan logis mengapa aku sampai berjuang keras menghindari
Saka hanya karena dia sudah punya pacar. Orang bodoh pun tau apa yang terjadi. Rasa
kesal yang mendadak muncul saat kali pertama mengetahui hal itu. rasa sedih
ketika melihat dia dan pacarnya bedua. Sikap ketusku karena hal itu. meskipun
awalnya sempat membantah, hati tidak pernah bisa berbohong. Hanya dalam tiga
bulan kedekatan kami, dia berhasil membuatku jatuh cinta.
Sejujurnya, aku tidak terlalu suka menggunakan istilah
itu. Menggelikan. Tetapi, aku tidak bisa menemukan istilah lain. Tertarik? Jelas
lebih dari itu. suka? Sedikit kurang pas. Kagum? Yang benar saja. memangnya
siapa dia? Andrew Garfield?
Jadi kuputuskan saja menggunakan istilah itu meskipun aku
tidak mengerti apa maksudnya. Bukan berarti aku tidak pernah pacaran. Fase cinta
monyet jelas sudah kulalui selama masa SMP kemarin. Tetapi, selama SMA, minatku
pada hal semacam itu sudah berkurang. Tidak ada gunanya menurutku. Apalagi kalau
sampai mendapatkan cowok yang salah. Seperti cowok bodoh, jorok, dan
semacamnya. Benar-benar … eww!
Aku belum pernah mendapatkan cowok pintar. Selama ini,
pacarku adalah cowok-cowok yang hanya memiliki otak setengah. Bukan bermaksud
kasar. Tapi, mereka memang seperti itu. Atau sebenarnya aku yang dungu karena
mau pacaran dengan mereka. Mungkin karena itu aku tidak tertarik pacaran dulu
selama SMA. Jadi, kalian tentu paham, kan, kenapa aku bisa naksir Saka?
Oh, naksir sepertinya lebih enak diucapkan daripada jatuh
cinta. Kalau begitu, aku ganti saja istilahnya.
Setengah jam sudah berlalu. Gambar hati sudah bertebaran
di buku tulisku, melingkari semua tulisan Saka yang ada. Tidak ada tanda-tanda
akan ada guru yang masuk kelas. Para berandal di belakang sudah mulai
bernyanyi-nyanyi, entah lagu apa. Ruangan ini lebih pantas disebut arena konser
death metal daripada kelas. Mereka sangat
berisik. Menyanyi dengan volume keras, tertawa lantang, sangat mengganggu.
Aku melirik ke belakang, hanya untuk memastikan apa yang
mereka lakukan. Beberapa mata balas menatapku dengan senyum iblis. Semacam senyum
singa saat menemukan mangsa. Bulu kudukku meremang. Cepat-cepat aku menghadap
ke depan lagi. Aku merasakan mata-mata jahat itu masih menatap punggungku. Dengan
suara berisik kelas ini, kalau sampai terjadi apa-apa dan aku berteriak, tidak
akan ada yang mendengar. Guru-guru sudah lama belajar untuk berhenti mengurusi
kelas ini. Percuma. Saat ditegur, mereka semua diam. Begitu yang menegur pergi,
konser kembali dimulai. Aku sangat tau karena kelas central selalu bersebelahan dengan kelas busuk ini.
Suara gedoran keras di pintu membuatku terlonjak. Kelas mendadak
hening. Mungkin mereka mengira guru yang datang. Aku juga berpikir begitu,
sampai melihatnya berdiri di ambang kelas.
Mulutku sedikit ternganga. Saka berjalan memasuki kelas
dengan wajah santai.
“Pak Tomo nggak masuk,” kata Saka.
“Kamu lagi yang ngajar? Asik dong!” sahut salah satu
berandal.
Dahiku mengernyit. Saka yang mengajar? Bagaimana bisa?
Kulihat, para berandal kembali ke bangku mereka
masing-masing. Aku melongo. Saka bahkan tidak perlu menyuruh mereka. Kemudian,
layaknya guru, Saka mulai berceloteh. Jadwal hari itu Sejarah. Saka memberi
penjelasan tentang Masa Orde Lama layaknya pendongeng handal. Di tengah-tengah penjelasannya, Saka duduk di
salah satu bangku belakang. Semua penghuni kelas, kecuali aku, menggeser kursi
mereka hingga mengelilinginya. Saka terlihat seperti guru TK yang sedang
menceritakan dongeng pada murid-muridnya. Apa-apaan ini?
Saka tengah menjelaskan tentang 28 Kabinet pada Masa Orde
Lama, ketika bel berbunyi. Tanpa terasa, dua jam pelajaran sudah berakhir. Saka
berdiri. “Pe-er buat kalian. Tadi, kan, aku baru jelasin sampe Kabinet Republik
Indonesia Serikat. Masih ada 18 Kabinet lagi yang belum dijelasin. Kalian jelasin
ya? Kalau minggu depan Pak Tomo nggak masuk lagi, kita bahas bareng.”
Mereka semua menyahut setuju. Aku benar-benar terpana. Darimana
Saka bisa mempunyai pengaruh begitu besar pada mereka?
Saat melewati mejaku, dia melirikku sejenak. Itu kali
pertama kami bertatapan semenjak dia masuk kelas. Tidak ada ekspresi kaget
sedikit pun di wajahnya. Aku membuang muka. Dia pasti berpikir kalau hal yang
wajar aku masuk ke kelas ini. Dia pernah menjadi guru privat tidak resmi-ku
kemarin. Tentu dia sedikit banyak menangkap kemampuan otakku. Menyebalkan.
“Istirahat ntar aku mau ngomong,” bisiknya, membuatku tersentak
kaget.
Sebelum aku memastikan kalau Saka benar-benar mengatakan
hal itu, dia sudah berjalan keluar kelas.
To be continued …
Wednesday, January 30, 2013
Pelajaran dari Hamster
Ada penghuni baru di rumah. Salah satu temen serumahku, Dila, pecinta hamster nomor wahid serumah, baru beli hamster lagi, sepasang. Hamster sebelumnya, Nanak, baru mati sekitar sebulan lalu. Eh, belom nyampe sebulan deng. Ini entah hamster keberapa yang dia pelihara. Waktu aku tanya, "Kok gak kapok?". Dia cuma jawab, "Udah kebiasaan ditemenin mereka. Gak enak kalo gak ada".
Gimana ceritanya di rumah kita bisa pelihara hamster, awalnya karena gak sengaja.
Sekitar tiga tahun lalu, pertengahan 2010, pas kita kuliah semester 3, salah satu temen cowok kita, Dimas, beli hamster 4 ekor. Karena dikosan dia sering dimasukin kucing dan berpotensi bahaya bagi kelangsungan hidup para hamster, dia jadi nitip di kontrakan kita. Awalnya yang excited sama kehadiran hamster itu aku sama Beti. Para Hamster itu kita kasih nama Moge (betina), Mimi (jantan), Kemo (jantan), sama Iin (betina). Dan aku jatuh cinta sama Moge. Moge itu hamster paling lincah di antara 3 hamster lain. Warna bulunya cokelat kekuningan, badannya paling kecil. Pas dibeliin roda putar, dia yang paling sering main. Enak gitu liatnya. 3 hamster lain diklaim Mufa, Beti, sama Inung. Waktu hari pertama kemunculan para hamster ini, si Dila lagi pulang ke Blitar. Jadi, dia gak kebagian.
Awalnya, Dila justru biasa aja sama mereka. Dia mulai ikut sibuk waktu udah musim beranak. Iin yang pertama kali hamil. Entah si Mimi apa si Kemo yang berhasil menghamilinya, yang jelas dia hamil. Begitu lahiran, bentuk anaknya kayak anak tikus. Botak, jelek, lumayan geli juga ngeliatnya. Tapi, tetep kita urus dengan baik sampe tumbuh gede. Pas gede ini, warna bulu anak-anaknya cantik banget. Gabungan putih, abu-abu, sama item. Mulai di sinilah Dila ikut jatuh cinta dan jadi ketagihan pelihara hamster sampe sekarang.
Moge hamil beberapa saat kemudian, bersamaan dengan Iin yang hamil keduakalinya. Karena keterbatasan kandang, Iin sama Moge kita taruh di satu wadah akuarium persegi panjang yang dikasih sekat di tengahnya. Salahnya kita, sekat itu terbuat dari kardus. Hamster itu hewan pengerat, dikasih kardus, bisa ditebak apa yang terjadi? Sekatnya digerogoti sampe bolong. Alhasil, terjadi peristiwa na'as. Pas kita lagi meleng, Moge berhasil menerobos sekat buat masuk ke wilayah Iin dan MELAHAP anak-anaknya Iin sampe cuma satu yang selamat. Orang serumah pada menghujat Moge. Sejak itu, Moge, bisa dibilang, dibenci anak-anak lain. Aku juga kasian sih sama Iin yang mendadak depresi, apalagi waktu satu anaknya itu ikut mati juga. Tapi, aku lebih mencintai Moge.
Karena Iin lagi depresi, kita belum berani gabung dia ke kandang para jantan. Jadi, dia tetap satu kandang sama Moge, yang anak-anaknya sehat. Belajar dari pengalaman, kali ini dijaga supaya sekatnya jangan sampe bolong lagi. Kasian anak-anaknya Moge kalo ikut dibantai. Call me Genius! Aku punya ide buat melapisi bagian bawah sekat itu dengan kaleng coca cola yang udah dipotong.
Seenggaknya itu berguna sampe akhirnya Iin mati. Mungkin karena udah terlalu depresi. Itu kematian hamster pertama dan bikin Moge makin dicaci *pukpuk Oge*.
Karma berlaku. Bahkan di dunia binatang. Gak lama setelah Iin mati, Moge ikut sakit. Padahal anak-anaknya masih kecil. Pas akhirnya Moge mati, aku sedih sekaligus bingung. Gimana nasib anak-anaknya? Mereka semua masih kecil banget, belum bisa makan atau minum sendiri. Selama ini masih makan ASI dari Moge. Yah, bisa ditebak apa yang terjadi selanjutnya. Satu-persatu anaknya Moge mati. Sampe akhirnya tersisa satu.
Yang satu ini bener-bener aku jaga. Setiap waktu makan, aku suapin langsung, karena dia belum bisa makan sendiri. Dia juga minum dari air yang ditetesi di tanganku, karena belum bisa pake botol minumnya. Dan dia bertahan. Survive. Itu namanya. Panggilannya, Ipeh.
Ipeh persis sama wujudnya kayak Moge. Aku berhasil rawat Ipeh sampe dia berhasil lahiran 2x. Yang pertama mati semua, yang kedua bertahan dua.
Ipeh dan anak-anaknya :)
Sampe pada waktunya buat pulang ke Palembang, mereka aku titipin di kosan temen, karena anak-anak rumah pada pulang juga. Beberapa minggu kemudian, aku dapet kabar Ipeh mati karena gak dikasih makan. NYESEK, Jendral!!
Rasa sayangku ke Moge sama ke Ipeh sangat beda porsinya. Jauh lebih besar ke Ipeh. Soalnya, aku bener-bener ngerawat dia dari kecil sampe dia punya anak. Sampe sekarang, aku belum pelihara hamster lagi. Males, ntar udah dirawat baik, terlanjur sayang, mati juga. Padahal, kejadian itu udah hampir 2 tahun yang lalu.
Ngeliat dua hamster barunya Dila, aku jadi pengen pelihara hamster lagi. Yah, mungkin sekarang udah saatnya move on dari Ipeh. Bukan buat menemukan penggantinya. Ipeh gak akan terganti. Tapi buat belajar menerima yang baru.
Bukan buat melupakan. Hanya menerima.
-EP-
Sunday, January 13, 2013
Never be Normal (#5)
Aku tidak akan pernah kembali normal. Sejak insiden
minuman kaleng itu, dia menjaga jarak dariku. Tidak ada lagi sapaan ramah,
tawaran bergabung, atau apa pun darinya. Bahkan, senyum manis yang diam-diam
kusukai tidak pernah lagi diperlihatkannya untukku. Setiap hari kami duduk
bersebelahan, tetapi dia menganggapku tidak ada. Begitu istirahat, dia langsung
bangkit, bergabung dengan Tasya dan yang lain, entah untuk berdiskusi atau
sekedar membicarakan hal-hal yang sepertinya seru.
Sementara aku semakin berantakan, Saka tampak baik-baik
saja. Dia masih sosok menyenangkan dan baik pada semua orang. Kecuali padaku.
Oke, kuakui. Memang aku yang memintanya untuk berhenti bersikap baik. Aku hanya
tidak menyangka kalau itu akan semakin memengaruhiku.
Sampai saat ujian semester ganjil, hubunganku dan Saka
tidak juga membaik. Aku menjalani ujian dengan lebih hati-hati. Keinginanku
untuk keluar dari kelas itu benar-benar besar hingga aku sampai sengaja
menuliskan beberapa jawaban yang salah agar nilaiku tidak terlalu tinggi. Aku
takut kejadian saat ujian tengah semester kemarin terulang. Aku benar-benar
tidak ingin berada di kelas ini lagi.
Tidak seperti saat tengah semester di mana pembagian
kelas dilakukan beberapa hari setelah ujian, pembagian kelas setelah ujian
akhir semester dilakukan berbarengan dengan pembagian raport. Aku berdiri di
depan papan pengumuman bersama Sara dan Anita sambil terus berdoa. Yang kali
pertama kulihat adalah daftar kelas XII IPS Plus. Aku tersenyum masam saat
melihat nama ‘Saka Abdirga’ berada di urutan pertama. Hal itu sama sekali tidak
mengejutkanku. Di urutan kedua ada ‘Tasya Wihelmina’. Mereka benar-benar
pasangan serasi. Hingga ke nama terakhir, aku tidak menemukan namaku. Aku
mendesah lega, seharusnya. Tetapi, ada sedikit rasa sesak saat menyadari aku
tidak akan pernah lagi duduk di sebelahnya. Sudahlah. Yang penting, aku akan
kembali ke kelas Central bersama Sara dan Anita. Itu jauh lebih baik.
Setidaknya, aku berpikir sudah kembali ke kelas Central,
sampai mendengar kata-kata Sara.
“Yah, Fik. Kamu di plus
lagi ya? Katanya mau balik ke central.”
Dia menatapku sedikit sedih. “Bosen cuma sama Anita di kelas.”
“Ya udah, sih, Sar. Berarti otaknya si Fika emang beneran
berkembang,” timpal Anita.
Tunggu dulu. “Apa sih?” tanyaku. “Aku udah nggak di kelas
plus lagi, kok.”
Sara dan Anita saling pandang. Lalu, keduanya menatapku
dengan ngeri. “Serius?” tanya keduanya bersamaan.
Aku mengangguk. “Aku di kelas central, kan?”
Sara menelan ludah. “Fik….”
Aku menyuruhnya bergeser supaya bisa melihat deretan nama
di kelas XII IPS Central. Wajahku memucat. Namaku tidak ada di sana! Apa-apaan
ini? Kalau namaku tidak ada di urutan kelas plus dan kelas central, berarti aku
masuk ….
Oh Tuhan! Tidak! Ini tidak mungkin terjadi!
Aku menatap ngeri pada tulisan ‘Rafika Avariella’ yang
berada di deret ketiga pada daftar kelas XII IPS Minus. Aku masuk kelas minus! Bagaimana mungkin bisa seperti
ini?
Kepalaku tiba-tiba terasa pusing. Apa yang sudah
kulakukan dengan hidupku? Hanya untuk menghindari satu lelaki, aku sampai
merusaknya. Merusak nilai yang nantinya akan sangat berguna untukku. Aku memang
bukan salah satu siswa yang sangat pintar. Tapi, aku juga tidak sebodoh ini
sampai harus masuk ke kelas… kelas… buangan? Sepertinya itu kata yang pas.
Atau, sebenarnya aku memang sangat bodoh sampai harus
masuk ke sana. Orang yang punya otak, tidak akan membiarkan hal sepele seperti
lelaki tidak jelas menganggu hidupnya. Ini benar-benar hukuman atas
kebodohanku.
“Fika? Kamu nggak apa-apa, kan?”
Aku menatap Sara dengan linglung. Apa aku baik-baik saja?
Tentu tidak. Aku kacau balau. “Nggak apa-apa. Ya udah, Sar. Aku pulang ya.
Sampe ketemu lagi abis liburan,” ujarku. Aku melambai tidak jelas dan segera
meninggalkan sekolah.
Mimpi burukku yang sebenarnya akan segera dimulai.
#4 - #6
Sunday, December 30, 2012
It’s Just a Feeling (#4)
Ada yang salah dengan diriku. Belakangan ini, aku selalu
uring-uringan. Sara dan Anita sudah berkali-kali bertanya ada apa, tapi aku
tidak bisa menjelaskannya. Jadi kujawab saja kalau aku makin stres karena kelas
itu. Aku selalu meyakinkan diri ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan
Saka dan Tasya yang terlihat semakin mesra di mataku. Sama sekali tidak ada.
Mungkin, aku hanya mengalami pra-menstruasi sindrom atau semacamnya yang
menyebabkan semakin banyak hormon bergejolak di tubuhku dan membuatku selalu
ingin marah. PMS yang berlangsung sepanjang minggu.
Saka tampaknya juga mulai menyadari ada yang tidak beres denganku.
Sesekali aku menangkapnya tengah memandangku dengan alis bertaut. Dahinya
berkerut dengan sorot penasaran. Aku hanya mendelik galak padanya tanpa
mengucapkan apa-apa. Pernah dia mencoba bertanya dan aku membentaknya. Setelah
itu, dia tidak mencoba lagi. Mungkin, bentakkanku terlalu kasar, tapi aku tidak
peduli. Sudah seharusnya dia menjauh. Toh, dia juga sudah punya pacar yang
pintar dan cantik seperti Tasya.
Karena hubungan kami merenggang, suasana di kelas itu
menjadi jauh lebih buruk buatku. Aku benar-benar ingin segera pergi dari sana,
kembali ke kelasku yang normal. Meninggalkan segala tekanan menyebalkan ini.
Dan menjauh dari Saka.
“Fika?”
Aku mengangkat wajah dari novel yang kubaca. Saka tengah
menatapku dari bangkunya dengan tatapan ragu. “Apa?” balasku dengan nada datar.
“Aku bikin salah ya?”
Aku sedikit terkejut dengan pertanyaannya. Mengapa dia
berpikir seperti itu? “Nggak,” jawabku. “Kenapa emangnya?”
Saka mengangkat bahu, seraya menyandarkan punggungnya.
Jemarinya memutar-mutar pulpen sehingga menimbulkan bunyi ketukan dengan
meja. “Kamu aneh,” gumamnya. “Nggak cuma
pendiem, tapi jadi dingin.”
“Aku baik-baik aja,” jawabku tak acuh, kembali pada
novelku. Aku merasakan Saka masih menatapku dengan sorot penasaran dan
benar-benar berharap lelaki itu tidak mendengar degup jantungku yang
berantakan. Aku tidak tau apa yang terjadi. Mengapa tiba-tiba aku merasa gugup
berada di sebelah lelaki ini?
“Beneran?”
Belum sempat aku menjawab, terdengar panggilan namanya
dari depan kelas. Kami menoleh, dan melihat Tasya melambai pada Saka.
“Ikut ke kantin nggak?” tanya gadis itu.
“Oh,” Saka bangkit dari bangkunya. “Iya,” jawabnya, lalu
berpaling padaku. “Kamu nggak pernah ikut kita makan di kantin,” ujarnya.
Aku tau itu bukan pertanyaan. Dia juga tidak mengajakku.
Jadi aku hanya berkata, “Terus?”
Sekali lagi, Saka memandangku dengan heran, lalu berjalan
menyusul Tasya. Kekasihnya. Aku berusaha memusatkan pikiran pada novel yang
tengah kubaca. Tetapi, kali ini kata-kata di sana hanya berlalu, tanpa ada yang
masuk ke otakku. Akhirnya aku menutup novel itu sambil mendesah.
Ada apa ini? Mengapa perasaanku jadi sangat kacau? Ada
semacam perasaan kehilangan. Aku baru menyadari kalau selama di kelas ini, aku
sangat bergantung pada Saka. Selain tingkah santainya yang kadang membuatku
makin tertekan, lelaki itu tidak pernah keberatan membantuku memahami pelajaran
yang sulit kumengerti. Dia mengajariku dengan sangat sabar. Memaklumi otakku
yang kadang sedikit susah menangkap penjelasan atau mengingat sesuatu. Tanpa
terasa, aku merasa dekat dengannya. Dan memang dia yang paling dekat denganku
di kelas ini.
Sampai aku mengetahui kalau ternyata dia berpacaran
dengan Tasya. Seharusnya hal itu sama sekali tidak menggangguku. Untuk apa aku
merasa terganggu? Saka memang sangat baik padaku, juga pada orang lain, dan
tidak ada apa-apa di antara kami. Awalnya, kupikir aku hanya kecewa karena
mendengar berita itu dari orang lain, bukan dari Saka langsung. Tapi, sekarang
alasan itu terasa tidak masuk akal. Saka tidak memiliki kewajiban untuk
memberitahuku. Mengapa aku harus seperti ini?
Menghela napas, aku membenamkan wajah di meja, bertumpu
pada lenganku yang terlipat. Beberapa saat kemudian, terdengar suara tawa-tawa
dan langkah-langkah kaki memasuki kelas. Aku tidak mengangkat kepala. Saat
menyadari ada yang duduk di sebelahku pun aku tetap bergeming. Aku tau itu
Saka. Entah sejak kapan, aku sudah mengenali aroma tubuhnya. Semakin membuatku
kacau balau.
Tiba-tiba, aku merasa sesuatu yang dingin menyentuh
lenganku. Aku mengangkat kepala dan melihat Saka menyodorkan sekaleng softdrink
padaku.
“Aku nggak tau apa yang salah, sebenernya juga aku nggak
ngerasa bikin salah apa-apa. Tapi, kayaknya kamu emang lagi marah atau kesel
sama aku. Aku pengen minta maaf, tapi nggak tau minta maaf buat apa. Jadi…” dia
meletakkan kaleng itu di mejaku. “Anggep aja itu sogokkan supaya kamu nggak
marah lagi.”
Aku menatap kaleng minuman di depanku dan sosok Saka
bergantian. Mataku tiba-tiba terasa panas. Oh, Tuhan. Ini benar-benar konyol.
Aku berdiri, mengembalikan minuman itu pada Saka. “Kamu mau tau apa yang
salah?” tanyaku dengan nada sedatar yang kumampu, sementara suaraku sedikit
bergetar. “Kamu selalu baik, dan aku nggak bisa nerima kebaikan itu. Jadi,
berhenti bersikap baik sama aku.” Lalu aku berjalan meninggalkan kelas, persis
adegan sinetron yang sering kutonton.
Ini terasa semakin menyebalkan. Aku membiarkan kakiku
melangkah ke mana saja, menjauh dari kelas sialan itu dan lelaki sialan di
dalamnya. Aku menoleh ke belakang, entah untuk apa. Mungkin berharap Saka
mengejarku dan meminta penjelasan atas sikap konyolku. Bukankah di sinetron
biasanya seperti itu?
Tunggu dulu…. Sejak kapan aku ingin hidupku seperti di
sinetron? Dan demi Tuhan! Mengapa aku harus sampai seperti ini hanya gara-gara
seorang lelaki? Selama ini, aku selalu bangga tidak pernah membiarkan otakku
rusak hanya karena memikirkan seorang laki-laki. Aku mengumpat dalam hati,
seraya berbalik kembali ke kelas. Aku akan menjalani sisa waktu sebulan ini
sebiasa mungkin. Mengontrol nilaiku hingga bisa kembali ke kelas Central. Dan
menjauhi Saka.
Ya. Tinggal satu bulan. Setelah itu, aku kembali ke
kehidupan normalku lagi.
#3 - #5
Subscribe to:
Posts (Atom)
