Judul : The Chocolate Thief
Penulis : Laura Florand
Penerjemah : Veronica Sri Utami
Penerbit : Bentang Pustaka
Tahun Terbit : 2013
Halaman : 410
Harga : Rp 64.000,-
Konflik utamanya diawali dari niat Cade mengajak Sylvain kerja sama dengan perusahaannya buat buka pasar cokelat premium di Eropa. Cade berniat 'menempelkan' nama Sylvain Marquis di bungkus cokelat yang dibikin oleh perusahaannya.
Tentu saja dengan ego besar dan merasa cokelatnya terlalu berharga, gak level kalau harus disandingkan sama cokelat yang diproduksi massal milik Corey Inc, Sylvain menolak mentah-mentah tawaran kerja sama si Cade.
Dari sanalah Cade dan Sylvain jadi banyak interaksi. *lengkapnya, baca sendiri ye B-)
Secara keseluruhan, efek yang dikasih selama baca novel ini adalah....laper! Dan pengin cokelat! Deskripsinya ngalir, bikin gak pengin nutup bukunya sebelum kelar, tapi juga gak kuat ngadepin berbagai penjelasan tentang cokelat yang bikin air liur netes. *Mon Dieu! Je t'aime, M. Marquis!*
Percakapan bahasa Perancisnya lumayan buat belajar-belajar. Seenggaknya sekarang aku gak cuma tau 'je t'aime' saja, tapi bisa bales pake 'moi aussi' *info penting*.
Balik ke alur cerita. Cerita cintanya simpel. Dibungkus dengan cerita tentang cokelat yang berhasil bikin aku meleleh dan ngences. Oh, Mbak Laura ini kalo buka toko cokelat pasti bakal laris! Gimana gak? Deskripsinya tentang cokelat yang dibuat Sylvain bikin gigit-gigit apa pun yang ada di sekitar kita sambil ngebayangin cokelatnya. Dan ini novel pertama yang bikin aku tertarik pengen nyoba cokelat pahit karena deskripsinya itu bener-bener gugah rasa cintaku akan cokelat sampe ke akarnya! *eaaa*
Sebagus apa pun karya, masih ada kurangnya dikit. Dikit banget kok tapi, gak kerasa sebenernya. Ada salah satu adegan yang menurutku pemotongannya entah kebanyakan atau gimana, yang jelas bikin sempet berkerut pas baca adegan selanjutnya. Itu gak kerasa-kerasa banget sih, cuma yah gitu. Aku nangkep sedikit kejanggalan. Cuma di satu bagian itu. Adegan-adegan selanjutnya, pemotongan atau sensornya lebih halus dan ngalir, jadi gak bikin berkerut lagi.
Salah satu hal berkesan dari novel ini, selain cokelat, adalah tentang 'kesensian' orang Perancis sama orang Amerika. Banyak kejadian yang bikin ngakak heboh dan pengin ngasih pukpuk ke Cade. Selain itu, poin plus lain yang bisa dipetik dari novel ini adalah duit gak selamanya bisa menari dan bernyanyi *pinjem istilah Vane Kattalaktis, tokoh were-hunter punya Sherrilyn Kenyon*. Nggak selamanya hidup seorang pewaris perusahaan besar bisa lancar di mana pun dia berada cuma karena punya duit yang seakan gak habis-habis.
4 of 5 stars aku kasih buat novel ini. Buat Paris, kisah cinta, cokelat, dan deskripsi kerennya. Oh! Dan buat Sylvain Marquis! Beau-chocolatier!
Buat kamu pecinta Paris dan cokelat, JANGAN PERNAH NGELEWATIN BACA BUKU INI. Nggak akan nyesel!
Ini salah satu kisah cinta paling manis yang pernah aku baca :)
Gak sabar nunggu serial yang lainnya muncul!
*FYI, bakal ada 3 seri lagi tentang cokelat dari Mbak Laura*
-ep-
(sumber gambar: Web Bentang Pustaka)
tempat pelampiasan terbaik di kala kepala terlampau penuh, namun mulut terlalu malas/lelah untuk berucap.
Wednesday, July 3, 2013
Tuesday, April 30, 2013
You’re Mine (or not) (#8)
Semesta selalu menyimpan kejutan pada semua peristiwa
yang telah diaturNya. Hal itu juga berlaku untukku. Di balik semua kejadian
buruk yang terjadi kemarin, ada hadiah hadiah yang telah dipersiapkan.
Hasil mid semester genap kali ini menyatakan aku kembali
ke Kelas Central. Aku tidak bisa menahan diri untuk ikut bersorak bersama Sara
dan Anita. Akhirnya, aku keluar dari kelas terkutuk itu.
Well, kelas itu
tidak sepenuhnya buruk. Menurutku, mereka bertingkah demikian karena para guru
juga sudah memilih mengabaikan mereka. Itu juga yang dikatakan Saka. Padahal, jika
saja para guru bisa dan tau cara mendekati mereka, suasana tidak akan sekacau
itu. Memang butuh usaha lebih keras dibanding menghadapi siswa Kelas Plus dan
Central, tetapi tidak terlalu sulit juga. Buktinya, Saka bisa membuat
murid-murid di sana mau diajak belajar.
Saka. Senyumku selalu melebar tiap mengingat sosok itu.
Entah bagaimana semuanya berawal, yang kutau sudah ada semacam hubungan yang
terjalin di antara kami. Pacarankah? Entahlah. Tidak pernah ada pernyataan
khusus darinya atau dariku. Tanpa pernyataan, aku seperti sudah merasakannya.
Tidak ada yang tau tentang hal itu. Bukan karena ingin
bersembunyi, tetapi karena aku juga tidak ingin mengumbar semuanya. Tidak ada
yang bisa diumbar, mengingat bentuk hubungan seperti apa yang terjadi pun aku
belum tau. Beberapa teman Saka
sepertinya sudah menebak ada sesuatu, mengingat kami nyaris selalu
menghabiskan waktu berdua saat istirahat. Tidak setiap istirahat, memang. Saka
masih berkumpul dan makan di kantin dengan teman-temannya. Tetapi, dia selalu
menyempatkan waktu untuk menemuiku, sekadar ngobrol lima sampai sepuluh menit,
dari dua puluh menit waktu istirahat.
Sara dan Anita juga mulai mencurigaiku. Aku memang belum
cerita apa-apa dengan mereka. Beberapa waktu lalu, Sara cerita tentang hubungan
Saka dan Tasya yang ternyata sudah selesai sejak awal kelas tiga kemarin,
persis seperti yang dikatakan Saka. Darimana Sara tau, aku tidak bertanya.
“Kamu sama Saka pacaran, Fik?” tanya Sara akhirnya,
setelah beberapa minggu berlalu tanpa ada laporan sedikit pun dariku. Saat itu,
kami sedang berkumpul di kamarku untuk mengerjakan pe-er Ekonomi.
Aku hanya mengangkat bahu. Bukan sok misterius, tapi
karena aku benar-benar tidak tau harus menjawab apa. Seperti yang kukatakan
sebelumnya, tidak ada pernyataan yang menegaskan kalau hubungan kami adalah
pacaran.
“Nggak usah sok misterius ah,” sungut Anita. “Aku sama
Sara tau kok. Kamu akhir-akhir ini sering banget ngabisin waktu sama dia.”
“Kamu juga nggak keliatan kaget waktu aku cerita masalah
dia sama Tasya,” sambung Sara. “Jadi?”
“Nggak tau,” jawabku tanpa berpaling dari bukuku.
Sara menarik bukuku dengan kesal. “Serius, Fikaa!”
omelnya.
“Lah, aku juga serius, Sar,” kataku, mencoba mengambil
kembali buku di tangan Sara. “Nggak ada pernyataan apa-apa. Dia nggak nembak,
aku juga nggak. Yah udah, aku jawab apa?”
“Kamu suka sama dia?” tembak Sara.
Wajahku bersemu. Dengan canggung, aku mengambil bukuku
kembali dan langsung sibuk pada pe-erku. “Iya,” jawabku, tanpa menatapnya.
“Dan dia juga kayaknya suka sama kamu,” tambah Anita,
bukan dalam bentuk pertanyaan. “Kenapa nggak jadian aja?”
Pertanyaan itu membuatku diam untuk beberapa saat.
Benarkah harus ada pernyataan hingga sebuah hubungan bisa disebut ‘jadian’?
Berdasarkan pengalaman pacaranku sebelumnya, memang selalu ada adegan
tembak-menembak. Tapi dengan Saka, aku merasa hal itu tidak perlu.
“Tentu aja perlu!” sosor Sara, saat aku mengungkapkan
pikiranku. “Cewek itu butuh penegasan, Fik. Bisa aja sekarang kamu bilang
kalian sama-sama jalanin hubungan. Tapi, kan, tetep nggak jelas. Ntar, dia bisa
lho ninggalin kamu gitu aja. Ngelesnya ya bilang, ‘Kan, kita nggak pernah bikin
kesepakatan apa-apa’. Patah hati deh kamu. Gawat, kan?”
Anita mengangguk setuju. “Bener tuh Sara. Saranku sih,
mending kamu ngomong sama Saka. Tegasin semuanya. Kalau emang pacaran, ya
pacaran, kalau nggak, ya nggak. Jangan mau diajak jalin hubungan tanpa status.
Ntar stres kayak Sara kemarin lho. Udah ngarep, ternyata cuma jadi korban PHP!”
Sebuah bantal dari Sara mendarat mulus di kepala Anita,
membuatku dan Anita terbahak. “Inget aja terus!” omel Sara. Kemudian dia
kembali padaku. “Tapi, dia bener, Fik. Jaman sekarang, pelaku PHP makin banyak.
Jangan mau jadi korban!”
Aku menghela napas pelan. “Udah ah, kerjain aja pe-ernya
dulu. Ntar aja ngurusin itu.”
Kedua temanku menurut.
Saat mereka pulang, aku memikirkan percakapan kami.
Semakin kupikirkan, aku semakin gelisah. Tadinya, aku yakin adegan
tembak-menembak dan pernyataan cinta tidak diperlukan untuk memastikan
hubunganku dan Saka. Sekarang, aku ragu. Bagaimana kalau ucapan Sara dan Anita
benar? Saka tidak pernah secara gamblang menyatakan kalau dia menyukaiku.
Semuanya jadi terasa samar. Sepertinya, aku benar-benar butuh kepastian.
Kuputuskan untuk menghubunginya malam ini juga. Daripada
aku tidak bisa tidur karena otakku penuh, lebih baik diselesaikan secepatnya.
Karena tidak berani menelepon dan mendengar suaranya langsung, aku memilih
mengirim pesan singkat.
“Kita sekarang
gimana sih?”
Message Send to
Saka.
Setelah muncul tulisan Delivered di layar ponselku, aku meremas benda itu dengan gugup,
memikirkan apa jawaban Saka.
Dering ponsel yang tiba-tiba mengangetkanku, membuatnya nyaris
terlepas dari genggaman. Telepon, dari Saka. Jantungku makin berdetak tidak
karuan. Aku menarik napas beberapa kali sebelum menjawab panggilannya.
“Gimana apanya?” tanya Saka, setelah aku menyapanya.
“Yah, gimana,” jawabku, sambil menggaruk leher.
“Emang kita kenapa?”
DEG! Kata-kata itu membuatku terdiam. Apa aku salah
menangkap sinyal? Apa aku hanya kege-eran menanggapi sifat baiknya? Bagaimana
kalau ‘jalinan’ itu hanya imajinasiku? Sialan! Tiba-tiba, aku ingin segera
menutup telepon ini.
“Fika?” panggilnya.
Aku tidak tau harus menjawab apa. Jadi aku hanya diam. Ya
ampun! Kalau memang semua itu hanya perasaanku, aku tidak tau harus bersikap
bagaimana di depannya nanti. Ini benar-benar memalukan! Seharusnya aku tidak
perlu mengirim SMS konyol itu! seharusnya aku tidak usah mengikuti omongan Sara
dan Anita! Seharusnya kubiarkan saja semuanya mengalir, bagaimana pun jadinya.
Semua itu jauh lebih baik daripada harus mempermalukan diri seperti ini.
“Hei? Rafika? Kamu masih di sana?” Suaranya terdengar
cemas. Hanya perasaanku?
“I… iya,” jawabku, tergagap. Tiba-tiba aku ingin
menangis.
Saka diam. Aku juga diam. Sambungan telepon masih
terhubung. Setelah menunggu beberapa saat dan tidak juga ada suara darinya,
jemariku refleks menekan tombol ‘end’.
Mataku panas. Perasaanku kacau. Semuanya berantakan, justru saat kukira akan
baik-baik saja.
Aku melemparkan ponsel ke kasur, lalu menarik kaki dan
memeluk kedua lututku. Aku merasa sangat bodoh. Bagaimana mungkin aku bisa
salah menangkap sinyal darinya? Seharusnya aku tau. Hanya karena dia pernah
mengatakan pesan samar tentang takdir itu, bukan berarti itu merupakan
pernyataan cinta.
Aku butuh menenangkan diri dari mimpi buruk ini. Setelah
mematikan ponsel, aku mengubur diri di bawah selimut. Dalam hati, aku sudah
bertekad tidak akan mau menemuinya lagi.
to be continued…
Friday, April 5, 2013
Antara Wonderfully Stupid & Lovhobia
*ngetik postingan ini dengan mata segaris. maap buat segala kekurangan. nanti kalau ada waktu dan mata lebih seger, yang kurang bakal dibenahi*
Mari kita mulai.
Beberapa waktu yang lalu, sepupu yang ada di Jambi ngirim BBM, bilang kalau dia udah baca Lovhobia dan ceritanya bikin dia nangis. Beberapa hari sebelumnya, ada juga temen yang cerita lewat DM bilang hal yang sama, ceritanya bikin nangis. Setelah itu, ada lagi yang mention di twitter dan ngasih tanggapan sama.
Reaksiku atas semua tanggapan itu rata-rata sama. Nanya, bagian mana yang bikin nangis? Dan jawaban mereka pun rata-rata sama (gak mau spoiler. Baca sendiri ya :p)
Sebelum mulai ngoceh panjang lebar, aku mau ngucapin makasih banget banget buat Mbak Ikhdah sama Mbak Dila, editor kece, yang ikut mengurusi anak keduaku itu. Tanpa campur tangan mereka, khususnya Mbak Ikhdah, mungkin air mata yang baca gak sampe keluar. Ya, editor itu pahlawan tanpa tanda jasa buat penulis :')
Lanjut.
Karena cerita Wonderfully Stupid dan Lovhobia ini, bisa dibilang, berhubungan, banding-membandingkan pun gak luput. Dari hasil laporan dan kepo dikit-dikit, ada yang lebih suka Wonderfully Stupid, ada juga yang lebih suka cerita Lovhobia. Karena itu, aku mau coba mengupas sedikit tentang dua novel unyu-ku itu dan apa perbedaan serta kelebihan masing-masing dari mereka. Cekidot!
1. Wonderfully Stupid
Naskah awal novel ini, kayak yang udah pernah aku bilang, kali pertama aku tulis waktu masih kelas 2 SMA. Atau kelas XI. Terserahlah, samimawon. Kala itu, pikiranku masih dipenuhi berbagai hal indah seputar cinta masa remaja, dengan iming-iming masa SMA sebagai masa paling indah, dan semacamnya. Masa SMAku pas kelas itu, biasa aja. Gak kayak cerita di pilem-pilem yang kayaknya huwaw banget.
Flat. Datar. Karena gak bisa dapet kehidupan seru yang nyata, aku milih buat kabur ke dunia lain. Dunia tulis. Saat itulah Wonderfully Stupid lahir.
Konflik yang aku angkat di sini, konflik yang kemungkinan besar pernah di alami abege mana pun. Seorang cewek yang naksir sahabatnya, tapi bertepuk sebelah tangan, sementara ada cowok lain yang naksir dia, tapi diabaikan. Simpel. Terus, apa bedanya sama cerita sejenis yang lain?
Sadar dengan temaku yang biasa, aku harus cari cara biar novel ini menarik dan beda dari cerita yang udah ada. Buat yang baca, pasti kenal dengan sosok Arsen, karakter utama yang, bisa aku bilang, berperan penting di novel ini. Bukan cuma di cerita, tapi juga 'lihai' merebut hati pembaca. Kalian tau, gak ada yang lebih membahagiakan bagi penulis dibanding saat dia tau kalau karyanya dihargai dan disukai. Di sini kayaknya aku wajib, kudu, mesti, berterima kasih sama semua temen-temen pembaca, yang rela meluangkan waktunya buat baca tulisanku. Aku selalu senyum sendiri tiap ada temen-temen yang mention, bilang dia udah baca novelnya dan suka sama Arsen. Banyak juga yang nanya, Arsen itu beneran ada atau gak. Bahkan, pernah ada yang laporan kalau ada yang bikin akun twitter si Arsen itu (lupa akunnya apa. Cari ajalah "Andersen Jade Calvin", kalo berminat :p). Dan itu, bener-bener bikin seneng *selain pas royalti cair* hahaha.
Selain itu, Wonderfully Stupid juga menyuguhkan ending yang mengejutkan dan manis. Apakah itu? Baca dong makanya :D
Beda sama Wonderfully Stupid yang aku tulis waktu, yah anggap saja, masih abege, Lovhobia kali pertama aku tulis di tahun kedua kuliah, sekitar semester 4 atau 5. Di sini, pola pikirnya sudah lebih beda. Aku gak cuma mikirin tentang cinta anak muda *eaaa, bahasamu*, tapi juga tertantang buat mengusung konflik yang sedikit lebih serius.
Yang pertama, cari tema besar. Apa masalah yang mau diambil? Tentang cowok yang takut jatuh cinta. Kenapa dia bisa takut jatuh cinta? Kalau dibikin karena dia pernah patah hati, menurutku jatuhnya gak beda dengan konflik di Wonderfully Stupid, berkisar antara kisah cinta sejoli yang masih muda. Supaya lebih cetar menggelegar badai, aku coba usung masalah yang lebih serius. Apa itu? Masalah keluarga. Gak ada hal traumatis yang lebih ditakutin anak-anak dibanding lihat hubungan orangtuanya yang gak harmonis. Dan inilah yang dialami sosok Gefan, tokoh utama di novel ini.
Terus? Gak ada cinta-cintaannya dong? Tentu ada. Aku spesialis cerita romance (ngasih julukan buat diri sendiri, biarin aje), jadi bakal ngerasa ada yang kurang kalau gak ada cinta-cintanya. Cuma, kisah cintanya gak seunyu Arsen-Lanna. Tapi, maknanya lebih dalam. Tentang gimana caranya seorang cewek meluluhkan hati seorang cowok yang udah terlanjur gak percaya dan takut sama cinta.
Berarti, cerita cinta di Wonderfully Stupid gak bermakna dong? Lovhobia yang lebih bermakna gitu?
Kata siapa? Semuanya bermakna, cuma dengan cara yang beda. Semuanya tentang perjuangan cinta, tapi dengan penyajian yang gak sama.
Di Wonderfully Stupid, aku menyajikan cerita cinta sederhana lewat kegigihan Arsen memperjuangkan apa yang menurutnya layak diperjuangkan. Gak peduli itu bikin dia jadi bodoh, gak peduli apa aja yang harus dia lakuin, yang ada di kepalanya, terus berjuang buat dapetin Lanna. Juga kegigihan Lanna buat setia sama kebodohannya buat nunggu Ega, padahal cowok itu sudah ngasih pertanda jelas kalau dia gak ada rasa apa-apa. Tentang gimana akhirnya mereka luluh dan ngalah sama ego masing-masing, terus bisa jalan di satu jalur, beriringan. Happy Ending....
Di Lovhobia, aku menyajikan cerita cinta sederhana lewat kegigihan Aura narik Gefan supaya keluar dari dunia suramnya, supaya bisa percaya kalau semua manusia berhak jatuh cinta, berhak dicintai, gak peduli apa pun yang terjadi nanti, yang penting apa yang bisa mereka jalani sekarang. Tentang Gefan yang gigih sama prinsip dan pikirannya tentang cinta yang kejam. Tentang gimana akhirnya kekeras-kepalaan mereka mencair dan mau coba buat jalan bergandengan, bersisian. Happy Ending....
Ada satu saran dari aku buat temen-temen pembaca. Sebelum mulai baca Lovhobia, tutup Wonderfully Stupid. Buat sejenak, fokus ke Lovhobia. Karena kedua buku ini punya alur cerita yang cukup kontras. Meskipun berhubungan, mereka beda. Layaknya dua saudara yang punya kelebihan dan ciri khas masing-masing, gak peduli meskipun mereka dikandung oleh orang yang sama. Simpelnya, sebelum mulai baca Lovhobia, move on lah dari Wonderfully Stupid :))
Ps: Kalau ada yang nanya apa Lovhobia lanjutan Wonderfully Stupid, jawabannya iya dan gak. Cerita di Lovhobia emang lanjutan kehidupan para tokoh Wonderfully Stupid, tapi kalian gak harus baca berurutan karena gak bener-bener nyambung. Bukan model sekuel kayak Harry Potter atau Twilight Saga yang mesti dibaca urutan. Kalian bisa baca dari Lovhobia dulu, tapi akan lebih baik kalau baca Wonderfully Stupid yang pertama *teteup promosi*
Selamat Membaca :))
-Elsa Puspita-
Mari kita mulai.
Beberapa waktu yang lalu, sepupu yang ada di Jambi ngirim BBM, bilang kalau dia udah baca Lovhobia dan ceritanya bikin dia nangis. Beberapa hari sebelumnya, ada juga temen yang cerita lewat DM bilang hal yang sama, ceritanya bikin nangis. Setelah itu, ada lagi yang mention di twitter dan ngasih tanggapan sama.
Reaksiku atas semua tanggapan itu rata-rata sama. Nanya, bagian mana yang bikin nangis? Dan jawaban mereka pun rata-rata sama (gak mau spoiler. Baca sendiri ya :p)
Sebelum mulai ngoceh panjang lebar, aku mau ngucapin makasih banget banget buat Mbak Ikhdah sama Mbak Dila, editor kece, yang ikut mengurusi anak keduaku itu. Tanpa campur tangan mereka, khususnya Mbak Ikhdah, mungkin air mata yang baca gak sampe keluar. Ya, editor itu pahlawan tanpa tanda jasa buat penulis :')
Lanjut.
Karena cerita Wonderfully Stupid dan Lovhobia ini, bisa dibilang, berhubungan, banding-membandingkan pun gak luput. Dari hasil laporan dan kepo dikit-dikit, ada yang lebih suka Wonderfully Stupid, ada juga yang lebih suka cerita Lovhobia. Karena itu, aku mau coba mengupas sedikit tentang dua novel unyu-ku itu dan apa perbedaan serta kelebihan masing-masing dari mereka. Cekidot!
1. Wonderfully Stupid
Naskah awal novel ini, kayak yang udah pernah aku bilang, kali pertama aku tulis waktu masih kelas 2 SMA. Atau kelas XI. Terserahlah, samimawon. Kala itu, pikiranku masih dipenuhi berbagai hal indah seputar cinta masa remaja, dengan iming-iming masa SMA sebagai masa paling indah, dan semacamnya. Masa SMAku pas kelas itu, biasa aja. Gak kayak cerita di pilem-pilem yang kayaknya huwaw banget.
Flat. Datar. Karena gak bisa dapet kehidupan seru yang nyata, aku milih buat kabur ke dunia lain. Dunia tulis. Saat itulah Wonderfully Stupid lahir.
Konflik yang aku angkat di sini, konflik yang kemungkinan besar pernah di alami abege mana pun. Seorang cewek yang naksir sahabatnya, tapi bertepuk sebelah tangan, sementara ada cowok lain yang naksir dia, tapi diabaikan. Simpel. Terus, apa bedanya sama cerita sejenis yang lain?
Sadar dengan temaku yang biasa, aku harus cari cara biar novel ini menarik dan beda dari cerita yang udah ada. Buat yang baca, pasti kenal dengan sosok Arsen, karakter utama yang, bisa aku bilang, berperan penting di novel ini. Bukan cuma di cerita, tapi juga 'lihai' merebut hati pembaca. Kalian tau, gak ada yang lebih membahagiakan bagi penulis dibanding saat dia tau kalau karyanya dihargai dan disukai. Di sini kayaknya aku wajib, kudu, mesti, berterima kasih sama semua temen-temen pembaca, yang rela meluangkan waktunya buat baca tulisanku. Aku selalu senyum sendiri tiap ada temen-temen yang mention, bilang dia udah baca novelnya dan suka sama Arsen. Banyak juga yang nanya, Arsen itu beneran ada atau gak. Bahkan, pernah ada yang laporan kalau ada yang bikin akun twitter si Arsen itu (lupa akunnya apa. Cari ajalah "Andersen Jade Calvin", kalo berminat :p). Dan itu, bener-bener bikin seneng *selain pas royalti cair* hahaha.
Selain itu, Wonderfully Stupid juga menyuguhkan ending yang mengejutkan dan manis. Apakah itu? Baca dong makanya :D
2. Lovhobia
Beda sama Wonderfully Stupid yang aku tulis waktu, yah anggap saja, masih abege, Lovhobia kali pertama aku tulis di tahun kedua kuliah, sekitar semester 4 atau 5. Di sini, pola pikirnya sudah lebih beda. Aku gak cuma mikirin tentang cinta anak muda *eaaa, bahasamu*, tapi juga tertantang buat mengusung konflik yang sedikit lebih serius.
Yang pertama, cari tema besar. Apa masalah yang mau diambil? Tentang cowok yang takut jatuh cinta. Kenapa dia bisa takut jatuh cinta? Kalau dibikin karena dia pernah patah hati, menurutku jatuhnya gak beda dengan konflik di Wonderfully Stupid, berkisar antara kisah cinta sejoli yang masih muda. Supaya lebih cetar menggelegar badai, aku coba usung masalah yang lebih serius. Apa itu? Masalah keluarga. Gak ada hal traumatis yang lebih ditakutin anak-anak dibanding lihat hubungan orangtuanya yang gak harmonis. Dan inilah yang dialami sosok Gefan, tokoh utama di novel ini.
Terus? Gak ada cinta-cintaannya dong? Tentu ada. Aku spesialis cerita romance (ngasih julukan buat diri sendiri, biarin aje), jadi bakal ngerasa ada yang kurang kalau gak ada cinta-cintanya. Cuma, kisah cintanya gak seunyu Arsen-Lanna. Tapi, maknanya lebih dalam. Tentang gimana caranya seorang cewek meluluhkan hati seorang cowok yang udah terlanjur gak percaya dan takut sama cinta.
Berarti, cerita cinta di Wonderfully Stupid gak bermakna dong? Lovhobia yang lebih bermakna gitu?
Kata siapa? Semuanya bermakna, cuma dengan cara yang beda. Semuanya tentang perjuangan cinta, tapi dengan penyajian yang gak sama.
Di Wonderfully Stupid, aku menyajikan cerita cinta sederhana lewat kegigihan Arsen memperjuangkan apa yang menurutnya layak diperjuangkan. Gak peduli itu bikin dia jadi bodoh, gak peduli apa aja yang harus dia lakuin, yang ada di kepalanya, terus berjuang buat dapetin Lanna. Juga kegigihan Lanna buat setia sama kebodohannya buat nunggu Ega, padahal cowok itu sudah ngasih pertanda jelas kalau dia gak ada rasa apa-apa. Tentang gimana akhirnya mereka luluh dan ngalah sama ego masing-masing, terus bisa jalan di satu jalur, beriringan. Happy Ending....
Di Lovhobia, aku menyajikan cerita cinta sederhana lewat kegigihan Aura narik Gefan supaya keluar dari dunia suramnya, supaya bisa percaya kalau semua manusia berhak jatuh cinta, berhak dicintai, gak peduli apa pun yang terjadi nanti, yang penting apa yang bisa mereka jalani sekarang. Tentang Gefan yang gigih sama prinsip dan pikirannya tentang cinta yang kejam. Tentang gimana akhirnya kekeras-kepalaan mereka mencair dan mau coba buat jalan bergandengan, bersisian. Happy Ending....
Ada satu saran dari aku buat temen-temen pembaca. Sebelum mulai baca Lovhobia, tutup Wonderfully Stupid. Buat sejenak, fokus ke Lovhobia. Karena kedua buku ini punya alur cerita yang cukup kontras. Meskipun berhubungan, mereka beda. Layaknya dua saudara yang punya kelebihan dan ciri khas masing-masing, gak peduli meskipun mereka dikandung oleh orang yang sama. Simpelnya, sebelum mulai baca Lovhobia, move on lah dari Wonderfully Stupid :))
Ps: Kalau ada yang nanya apa Lovhobia lanjutan Wonderfully Stupid, jawabannya iya dan gak. Cerita di Lovhobia emang lanjutan kehidupan para tokoh Wonderfully Stupid, tapi kalian gak harus baca berurutan karena gak bener-bener nyambung. Bukan model sekuel kayak Harry Potter atau Twilight Saga yang mesti dibaca urutan. Kalian bisa baca dari Lovhobia dulu, tapi akan lebih baik kalau baca Wonderfully Stupid yang pertama *teteup promosi*
Selamat Membaca :))
-Elsa Puspita-
Monday, March 25, 2013
My newborn : Lovhobia :)
Please welcome to my second baby "LOVHOBIA" :D
Sebelum mulai panjang lebar cerita tentang novel kedua ini, aku mau kasih lihat penampakannya dulu. Ini dia....
Aku benar-benar nggak ngerti ada orang yang menolak kenyataan. Fakta kalau memang sedang dilanda cinta. Sebegitu takutnya jatuh cinta? Atau mungkin aku yang ge-er, ya? Tapi, aku yakin kok, Gefan, cowok kaku-dingin-serem itu sebenarnya juga ada rasa sama aku.
Jadi muncul banyak pertanyaan di benakku. Mungkin masa lalunya yang kelam membuatnya selalu menolak hangatnya persahabatan, menghindari perasaan yang muncul setelah itu? Cinta mungkin? Eh, lama-lama aku ngelantur.
Jadi, aku harus gimana, nih? Tetap memperjuangkan dia? Atau menunggunya tanpa kepastian?
Lagi dan lagi, pertanyaan tanpa jawaban ….
Sebelum mulai panjang lebar cerita tentang novel kedua ini, aku mau kasih lihat penampakannya dulu. Ini dia....
cantik ya? :')
Nah, mari mulai cerita sekarang. Mulai dari mana? Judul? Oke.
Judulnya Lovhobia. Pasti udah ada yang bisa nebak darimana judul itu. Love dan Phobia. Ketakutan cinta. Atau lebih tepatnya takut jatuh cinta.
Kenapa bisa dikasih judul itu? Mari kita lihat sinopsisnya. cekidot!
Jadi muncul banyak pertanyaan di benakku. Mungkin masa lalunya yang kelam membuatnya selalu menolak hangatnya persahabatan, menghindari perasaan yang muncul setelah itu? Cinta mungkin? Eh, lama-lama aku ngelantur.
Jadi, aku harus gimana, nih? Tetap memperjuangkan dia? Atau menunggunya tanpa kepastian?
Lagi dan lagi, pertanyaan tanpa jawaban ….
Udah bisa nangkep ceritanya? Bisalah ya. Tapi belom tertarik juga? Hmm.... minta dikasih bocoran ya? Oke, aku cerita dikit yaaa....
Tokoh utama di sini seorang cowok bernama Geofan Asklav Pandagri, alias Gefan. Penderita Lovhobia di sini ya si Gefan ini. Kenapa dia bisa takut jatuh cinta? Bukan! Bukan karena dia pernah cinta setengah mati sama seorang cewek trus cewek itu ninggalin dia dan kawin lari sama cowok lain sampe dia patah hati dan nyaris bunuh diri. Bukan sama sekali. Lovhobia-nya lebih karena hasil pengamatan dia ke rumah tangga orangtuanya yang berantakan. Di mata Gefan, ayahnya adalah sosok lelaki kejam, nggak punya perasaan, yang tega menelantarkan mamanya sampe mamanya tertekan dan jiwanya terganggu. Melihat itu, Gefan jadi gak percaya kalau cinta sejati, belahan jiwa, dan bahagia selamanya itu eksis di dunia ini. Itu cuma bagian dari dongeng. Cuma orang bodoh yang mau percaya sama hal semacam itu buat dia. Hal itu juga yang akhirnya bikin Gefan narik diri dari kehidupan sosial dan nyaris gak mau bergaul sama siapa pun. Dia takut, begitu dia buka hati, dia bakal ngalamin nasib sama kayak mamanya. Satu-satunya cewek yang bisa deket sama Gefan cuma Lanna, temennya yang sama-sama kuliah Jurusan Penyutradaraan di Sekolah Tinggi Kesenian.
Ada yang familiar sama nama Lanna? Cieee... udah baca Wonderfully Stupid yaa? :D
Iya, tokoh Lanna di sini sama kayak Lanna di Wonderfully Stupid, Alanza Quianna. Tapi, bukan. Lanna bukan cewek yang bakal jadian sama Gefan. Lanna juga bukan malaikat penyelamat yang bikin Gefan mau percaya sama cinta. Tapi, Lanna adalah perantara yang bikin Gefan ketemu sama pembawa cahayanya *eaaa*
Siapa si Penyelamat itu? Baca dong bukunya!
Di sana terjawab tuntas gimana perjuangan si Penyelamat supaya Gefan gak terus ngebiarin perasaannya mati. Gimana akhirnya si Gefan lepas dari Lovhobia-nya. Beneran lepas, atau gak, semuanya ada di novel keduaku ini.
Pesan yang aku coba sampein di novel ini sih gak ribet kok. Simpel banget malah.
Di dunia ini, bahagia selamanya itu gak ada. Kamu cuma bakal kecewa kalau seumur hidup terus ngarepin happily ever after karena itu cuma ada di lembar terakhir dongeng. Kenapa happily ever after? Karena Pendongeng gak nyeritain gimana kehidupan pangeran dan putri setelah mereka bersatu. Kita gak tau setelah nikah mereka ribut masalah uang belanja, nama anak mereka, atau bahkan mungkin mereka malah pisah. Kita taunya cuma yah udah, mereka bahagia selamanya. Tapi, gak ada buktinya, kan?
Trus, kenapa aku berani bilang kalau bahagia selamanya itu gak ada di dunia? Karena kita sendiri pun gak akan hidup selamanya, kan? Mungkin kita akan ngalamin fase happily ever after di lembar kehidupan lain, tapi gak di dunia yang kita tinggali sekarang.
Terus?
Kita cukup bahagia untuk saat ini. Gak perlu cari bahagia selamanya. Cukup mencintai untuk saat ini. Gak perlu menjanjikan cinta selamanya.
Karena, kamu gak akan tau seperti apa rasanya bahagia kalau gak pernah ngerasain sedih.
Hukum keseimbangan :)
Soooo..... Happy Reading, my beloved reader.
Semoga menyukai ceritanya sebagaimana rasa sukaku waktu menulisnya :)
-Elsa Puspita-
Judul buku : Lovhobia
Penerbit : Bentang Belia
Penulis : Elsa Puspita
ISBN : 9786029397932
Terbit : Maret, 2013
Harga : Rp 34.000
Bahasa : Indonesia
Judul buku : Lovhobia
Penerbit : Bentang Belia
Penulis : Elsa Puspita
ISBN : 9786029397932
Terbit : Maret, 2013
Harga : Rp 34.000
Bahasa : Indonesia
Thursday, March 7, 2013
Destiny, maybe (#7)
Aku melirik Saka yang tengah asik membaca buku di
sebelahku. Kami tengah duduk-duduk di depan kelasku, masih kelas terkutuk itu,
menunggu jam istirahat habis. Bukan hanya duduk-duduk sebenarnya. Saka tengah
membantuku mengerjakan tugas Geografi.
Sejak insiden dia mengajar di kelas waktu itu, hubungan
kami membaik. Saat istirahat, kami mengobrol banyak. Saka bertanya ada apa
denganku sampai bisa masuk ke kelas itu. Ternyata, yang membuatnya tidak kaget
melihatku berada di kelas itu bukan karena dia menganggapku bodoh hingga pantas
di sana, tetapi karena dia membaca namaku dalam daftar murid kelas ini saat
pembagian kelas kemarin. Tentu saja aku juga tidak mengatakan alasan
sebenarnya. Aku hanya berkata sedang banyak masalah pribadi. Dia menganggapnya
sebagai masalah keluarga dan memintaku bercerita kalau tidak keberatan, tetapi
dia tidak memaksa. Setelah itu, dia memberikan banyak motivasi agar aku
bertahan. Dia juga berjanji akan membantuku belajar supaya saat pembagian kelas
nanti, aku tidak di kelas sialan itu lagi. Sesudahnya, kami jadi sering
menghabiskan waktu bersama.
Saat aku bertanya bagaimana dia bisa mengajar, dia
berkata sering disuruh menggantikan guru yang tidak masuk untuk mengajar di
kelas minus. Awalnya, dia dijadikan
bahan ledekan oleh anak-anak di kelas itu. Tidak ada yang menghiraukannya. Aku
penasaran apa yang dilakukannya hingga akhirnya para berandal itu
menghargainya.
“Ikutin mau mereka,” jawab Saka. “Mereka lebih suka
ngobrol daripada dengerin penjelasan guru. Pas mereka ngobrol, aku ikut. Pas
mereka udah nerima aku di sana, baru aku selipin pelajaran-pelajaran di setiap
obrolan. Lama-lama, mereka mau merhatiin kalau aku jelasin. Kata mereka, cara
aku ngajar lebih asik daripada guru-guru itu.”
“Karena kamu bisa ikut ngobrol kalau mereka bosen,
sedangkan guru-guru nggak akan ngebolehin gitu.”
Dia menyeringai. “Bisa jadi,” ucapnya, sebelum kembali ke
tugas Geografiku.
Aku ikut tersenyum kecil. Benar-benar menikmati saat-saat
seperti ini. Hanya saja, berdekatan dengannya sekarang sedikit memberikan
semacam beban bagiku. Bukan tidak nyaman. Tetapi, setiap kali kami menghabiskan
waktu, seperti sekarang, aku terus teringat Tasya. Bagaimana perasaan Tasya
melihat kami? Apa dia tidak marah atau sekadar cemburu? Meskipun Saka memiliki
banyak teman perempuan, tetapi dia nyaris tidak pernah terlihat berduaan saja,
selain dengan Tasya. Dan sekarang denganku. Saka sendiri masih belum
menceritakan tentang hubungan mereka. Dia sepertinya menganggap aku tidak tau
apa-apa.
“Ngerti nggak, Fik?”
Aku mendongak, setengah linglung. Apa tadi yang
dikatakannya?
“Pasti nggak,” omelnya. “Ngelamunin apa sih?”
“Tasya apa kabar?” kata-kata itu meluncur sebelum bisa
kucegah.
Kulihat, Saka sedikit kaget. “Er, baik sih, kelihatannya.
Kenapa emang? Kok tiba-tiba nanyain dia?”
Aku mengambil buku Geografi dari tangannya, membuka-buka
halaman dengan asal, berusaha menyembunyikan salah tingkahku. “Yah, kamu, kan,
ehm… pacarnya. Trus, sering berdua sama aku. Apa dia nggak marah, atau… yah,
apa gitu?”
Saka terdiam lama. Sedikit terlalu lama, hingga aku harus
menatapnya langsung untuk melihat bagaimana reaksinya. Suatu kesalahan. Dia
juga sedang memandangiku. Bukan tatapan tajam menusuk. Tetapi, pandangan
penasaran dan meneliti, seakan sedang mencoba membaca isi otakku.
“Kamu tau kalau aku sama Tasya pernah pacaran?”
“Sara cerita,” jawabku jujur. “Kalau nggak gitu, sampe
sekarang mungkin aku nggak tau kalau kalian pacaran.” Dan mungkin aku juga
tidak akan terjebak di kelas ini, tambahku dalam hati.
“Pernah pacaran,” ralat Saka. “Kami putus awal kelas tiga
kemarin.”
Nah, ini berita baru yang benar-benar membuatku syok.
Sara tidak pernah cerita kalau Saka dan Tasya sudah putus! Kenapa Sara tidak
cerita?
“Sara nggak tau. Nggak ada yang tau,” jawab Saka, seakan
mendengar jeritan hatiku. “Aku sama Tasya nggak pernah ngumbar apa pun. Nggak
penting. Waktu jadian juga nggak bikin pengumuman. Cuma karena ada temen yang
mergokin kami jalan berdua, nanya punya hubungan apa, dijawab pacaran, trus
nyebar di antara anak-anak kelas.” Saka kembali mengambil buku Geografiku. “Pas
putus kemarin juga gitu. Kayaknya anak-anak nggak ada yang nyadar karena sikap
kami nggak berubah.”
“Kenapa putus?” tanyaku, penasaran. Kalau dia berkata
karena tidak ada lagi kecocokan, aku akan meninjunya. Itu kalimat yang
kugunakan saat mendepak pacar terakhirku di SMP kemarin. Kalimat klise yang
menggelikan.
Saka menarik napas panjang. “Apa sih yang ada di otak
anak kelas 1 SMA waktu pacaran? Cuma seneng-seneng, kan? Masih sekedar aku
naksir kamu, kamu naksir aku, yuk kita pacaran, selesai. Aku nggak kepikiran
mau ke mana hubungan itu nanti. Tasya juga gitu. Pokoknya, sekarang kita saling
suka, sama-sama, titik.” Dia diam sejenak, sebelum melanjutkan. “Satu-satunya
masa depan yang pernah kami bahas cuma mau kuliah di mana. Tasya ngincer
Psikologi UGM. Aku juga mau ke sana, UGM, tapi jurusan lain. Semuanya keliatan
bakal lancar. Sampe aku berubah pikiran.” Saka menyunggingkan senyum kecil.
“Aku pengin lanjut ke luar.”
“Luar? Luar negeri?”
Saka mengangguk.
Aku ingin bertanya di mana, tetapi sepertinya Saka tidak
mau membahas yang itu. Dia malah kembali pada cerita tentang hubungannya dan
Tasya.
“Tasya dukung rencana itu. Dia malah sering ikut bantu
nyari-nyari beasiswa di luar.”
“Dia nggak pengin ke luar juga?”
Saka menggeleng. “Dia bilang, di sini masih banyak
sekolah bagus. Dan juga, UGM udah jadi cita-cita dia dari SD.”
“Bukan cita-cita kamu juga?”
“Bukan,” jawabnya sambil menyeringai. “Awalnya, semua
damai, sampe obrolan tentang masa depan hubungan kami dibahas. Kalau aku ke luar,
Tasya tetep di UGM, berarti kami harus jalin hubungan jarak jauh. Tasya nggak
mau. Katanya, itu cuma hubungan yang dipaksa. Nggak akan berhasil. Daripada
maksa jalan ujung-ujungnya malah rusak, mending udahan aja sebelum kami jadi
saling benci. Jadi, ya udah. Selesai.”
Aku tidak pernah mengerti kenapa jarak bisa berdampak
sangat besar dalam suatu hubungan. Apalagi di masa teknologi seperti sekarang.
Kalau kita hidup di jaman di mana masih mengirim surat lewat burung merpati,
mungkin akan jadi bencana. Tapi sekarang? putus karena jarak sepertinya alasan
yang sangat bodoh, menurutku. Bukan berarti aku pernah menjalin hubungan jarak
jauh atau semacamnya. “Nggak pengin nyoba dulu?” tanyaku. “Kamu masih sayang
dia, kan?”
“Sayang itu… absurd,” jawabnya. “Aku nggak bisa jawab
nggak. Tapi, kalau aku jawab iya, ya nggak juga. Kalau ada yang nanya pengin
balik sama dia nggak, aku bakal jawab nggak. Bukan karena nggak sayang. Aku
sama dia udah sepakat kalau masa kami sama-sama sebagai pacar udah selesai.”
Dia mendesah. “Ribet ya?”
“Banget,” ujarku.
Dia tertawa kecil. Renyah. Tangannya memainkan buku
Geografiku. “Kamu percaya kebetulan?” tanyanya tiba-tiba.
“Nggak,” jawabku. “Aku percaya Tuhan. Nggak ada
kebetulan. Yang ada cuma takdir.”
“Bener juga,” cetusnya sepakat. “Jadi, anggep aja
semuanya itu takdir. Aku sama Tasya pisah, trus ketemu kamu.”
Aku menatapnya dengan alis menyatu. “Maksudnya?”
Senyum simpul tersungging di sudut bibirnya, tepat ketika
bel masuk terdengar. Dia mengembalikan bukuku, lalu berdiri. Tanpa menjawab
pertanyaanku, dia pamit untuk kembali ke kelasnya.
Aku masih diam di tempatku selama beberapa saat. Menatap
sosoknya yang menjauh. Mengingat senyum simpulnya yang barusan tersungging di
depanku. Dan aku merasakannya. Debar jantungku yang seakan bersiap melompat
keluar, ketika memahami maksud ucapan terakhirnya tadi.
To be continued…
Subscribe to:
Posts (Atom)



