Tuesday, October 30, 2012

Proyek Obsesi : LDR (Long Disaster Relationsh*t)

Entah sejak kapan, aku jadi semacam terobsesi pingin bikin cerita dengan tema LDR. Sekitar tiga tahun yang lalu aku sempet coba bikin. Dan... GAGAL. Makin lama ditulis, ceritanya makin keluar jalur. Udah biasa sih, bikin cerita yang keluar dari rencana awal. Tapi, proyek yang itu bener-bener keluar dan jadinya aneh. Ditambah bencana alam yang nimpa Rinrin *laptopku*, yang bikin semua data lenyap, termasuk proyek itu, akhirnya proyek itu bener-bener hilang. Mau mulai awal, belom dapet feel yang pas. Aku belum nemu alur yang pas, konfliknya apa aja, dan ending yang enak. Tapi aku bener-bener pingin bikin cerita dengan tema ini. Sangat pingin, sampe jadi obsesi.

Kenapa bisa segitunya coba? Aku nggak tau.

Mungkin, cuma mungkin ya, karena aku juga salah satu korban LDR yang gagal.. (bekson : Bruno Mars - Long Distance). Aku sering bertanya-tanya sendiri, kenapa sih LDR banyak yang gagal? Okelah, masalah jarak bisa menimbulkan penyakit kronis berupa kangen stadium empat. Tapi, kan sekarang udah banyak hal-hal yang bisa jadi 'jembatan' (say hello to HP, Twitter, FB, YM, dsb, dll). Itu masih gak cukup, sodara-sodara! Sama sekali nggak cukup. Aku pernah bahas tentang LDR di sini.

Kemungkinan lain, mungkin karena aku ngarepin ending yang beda buat diriku sendiri (tetep ya, Non. 2taon gak ngaruh. MOVE ON woooyyy!!!) *abaikan saja tulisan dalam kurung. Itu jeritan gak penting dari sisi lain saya. trims*.

Lanjot!
Ini sama sekali gak ada hubungan sama move on ato belom (ngeles). Cuma pengen buktiin ke diri sendiri kalo gak ada yang salah sama hubungan kemaren itu. Itu gagal ya karena emang takdirnya gagal. Bukan salah aku, dia, atau jarak. Karena itu, aku sangat pengen bikin cerita tentang LDR yang BERHASIL!

Trus, mikir lagi. Konflik kalo orang lagi LDR itu apa sih? Kalo aku kemaren sih lebih banyak masalah di sinyal. Lagi enak-enak SMS, tiba-tiba sinyal jelek, jadinya males lanjut SMS, trus ngambek-ngambekan *saat itu aku masih muda*. Kalo gak itu, gara-gara selingkuh (boring). Iya, boring juga bisa jadi masalah. Tapi, apa sih sebenernya yang bisa bikin suatu hubungan itu bener-bener bertahan, meskipun jarak jauh terbentang? Cinta yang besar? Berdasarkan pengalaman pribadiku, volume cinta itu bisa berubah (yah, kalo itu beneran bisa disebut cinta. Kalo bukan?). Oke. Ganti kalimat. Perasaan manusia itu labil, bisa berubah. Yang tadinya perasaannya gede banget *apa pun sebutannya*, bisa berkurang, bahkan sampe ilang. Jadi, kayaknya bukan itu.

Terus apaaa???
Sampe sekarang aku masih gak tau karena, sekali lagi aku bilang, LDR-ku GAGAL!!! (HAHAHAHAHAHA Abis ngepost ini bakal langsung galau) *gue sambit pake golok juga lu, kampret*

Sudah. Cukup. Serius. *plester mulut sisi lain pake lem tikus*

Aku udah punya satu cara. Gak tau bakal berhasil atau gak. Aku lagi ngumpulin otak buat nyusun semuanya. Semoga, kali ini proyek obsesi ini bisa beneran dibikin. Bukan masalah bakal terbit atau gak (terbit juga bakal tetep girang sih), tapi lebih ke kepuasan buat aku sendiri. Begitu dapet bukti kalo gak ada yang salah sama aku, mungkin saat itu aku baru bener-bener bisa move on (daleeemmm...)

Oke! Semangat! Ngat! Ngat! Ngat!!!


Salam

Elsa (sisi waras dan sisi sintingnya)

Will you... #FF2in1 Marry Me - Train

"Maaf, hari ini kita gak bisa ketemu dulu ya. Lagi ada kerjaan. Besok malam jg aku gak bisa jemput. Langsung ktmu disana aja ya. Love - P"

Elena membaca pesan yang baru masuk itu dengan geram. Terjadi lagi. Akhir-akhir ini Peter, pacarnya, selalu melakukan hal itu. Seenaknya membatalkan kencan mereka. Apakah lelaki itu lupa besok hari apa? Peter sudah berjanji akan menemaninya di malam ulangtahunya. Menemani semalaman, begitu katanya. Bagaimana mungkin mereka datang sendiri-sendiri? Dengan dongkol Elena memasukan ponselnya ke dalam tas. Baiklah. Kita lihat saja besok apa yang terjadi. Kalau Peter membatalkannya lagi, lelaki itu benar-benar sudah bosan hidup.

Elena menemukan Peter sudah duduk di meja yang dipesannya, keesokan harinya. Seperti janji sebelumnya, malam ini mereka akan merayakan ulang tahun Elena yang ke-27 tahun. Elena menghela napas lega saat melihat Peter benar-benar datang dan tidak membatalkan janjinya lagi.

"Jadi," Elena memulai, sementara menunggu pesanan mereka.

"Happy Birthday," ucap Peter, lalu mengecup pipi Elena lembut. "Waw. Kamu udah 27 tahun."

"Ya, aku tau," ujar Elena. "Bukan itu yang mau aku bahas." Dia menatap Peter dengan mata disipitkan. "Kamu ke mana seminggu ini? Setiap dihubungi sok sibuk, seenaknya mutusin telepon, bales SMS singkat-singkat, dan batalin semua kencan kita."

"Kan, aku udah bilang lagi ada kerjaan," ucap Peter membela diri.

"Kamu udah jadi orang sibuk sejak kita awal pacaran, tapi belum pernah sekali pun kamu batalin kencan kita tanpa alasan jelas. Inget kejadian tahun lalu, waktu kamu harus rapat pas acara anniversary kita? Kamu juga ajak aku ke restoran itu. Yah, walaupun pisah meja, seenggaknya kamu nggak nyuekin aku gitu aja dan langsung gabung ke mejaku begitu rapatnya selesai. Sekarang?" serang Elena bertubi-tubi.

"Kamu nggak percaya sama aku?"

"Bukan nggak percaya," geram Elena. "Aku cuma nggak suka cara kamu. Seharusnya kalo emang nggak bisa dari awal, ya bilang. Jangan ngasih harapan palsu gitu. Capek tau, bolak-balik ngapus dandanan tiap kamu batalin janji. Nggak enak juga jadi nomor dua."

"Kamu nggak pernah jadi nomor dua," kata Peter menenangkan.

"Dulu iya. Seminggu ini nggak."

"Seminggu ini juga," ralat Peter. "Aku nggak akan nyuekin kamu gitu aja, Sayang. Aku pasi selalu punya alasan."

"Dan alasan kali ini?"

Peter tersenyum kecil, lalu mengangkat gelas wine-nya. Tiba-tiba lampu ruangan itu padam. Suasana menjadi gelap total. Elena menjerit kecil.

"Peter?" tegurnya dengan suara gemetar.

Kemudian, satu persatu cahaya bermunculan. Mulai dari sudut restoran, menyambung ke meja sebelahnya. Cahaya itu berasal dari senter mungil di tangan para pengunjung.

"Apa ini?" tanya Elena setelah cahaya berhenti bermunculan. Dia menatap Peter bingung.

Peter menyuruh Elena berdiri di atas meja, kemudian menatap ke arah titik-titik cahaya itu. Elena membekap mulutnya saat melihat cahaya itu membentuk sebuah kata 'Marry Me'. Elena menatap Peter tidak percaya.

"Kamu dua puluh tujuh, aku tiga puluh satu. Kayaknya udah bukan waktunya pacaran lagi." Dia menyeringai usil. "So, Miss Elena, will you marry me?"

Elena benar-benar kaget. Kemudian, Peter menyerahkan sebuah cincin padanya. "Will you...?" tanya Peter lagi.

"Mau!" ucap Elena. Satu persatu air matanya turun. "Mau banget!"

Jangan pergi lagi #FF2in1 Adera -Lebih Indah

Aku pernah merasakan gelap yang pekat. Tanpa ada setitik cahaya pun di dalamnya. Tidak ada satu pun benda yang bisa dilihat, termasuk tanganku sendiri. Mengerikan. Sangat. Aku tidak pernah berharap akan ada cahaya yang datang. Aku sudah lelah berharap. Setiap kali berharap, hanya kekecewaan yang datang. Ya sudah. Kalau Tuhan memang menggariskan kegelapan untukku, aku akan menerimanya.

Lalu, kemudian kau datang. Menawarkan setitik cahaya untukku. Aku tidak ingin harapan itu kembali muncul. Tetapi, kau berhasil membuatku berani meraihnya. Aku tidak tau apakah itu merupakan keputusan yang tepat, atau bukan. Lagi-lagi, aku hanya bisa berharap.

Dan kini, aku sudah menggenggam cahaya itu. Masih cahaya redup. Namun, sebuah keyakinan bercampur harapan muncul di hatiku, suatu saat cahaya itu akan menjadi lebih terang.

Kepadamu yang sudah memberiku cahaya, aku mengucapkan terima kasih. Semoga kau betah berada di tempatmu, di sisiku, dan berbagi cahaya denganku. Jangan pergi lagi...

Saturday, October 27, 2012

I miss you #FF2in1 When You're Gone - Avril Lavigne

Taman itu tampak lenggang. Hanya beberapa pasang sejoli yang terlihat menduduki bangku-bangku kayu yang ada di sana. Alya menduduki salah satunya. Bangku yang selalu didudukinya tiap mendatangi tempat ini. Dia mengenal taman ini dengan baik dan hapal letak tiap bunga yang ada di sana. Bukan berarti dia menyukai tempat ini sejak awal. Malahan, kalau boleh jujur, Alya tidak pernah benar-benar menikmati setiap Aldo, pacaranya, mengajaknya di sini. Aldo si culun, kere, norak, menyebalkan, sama sekali tidak bisa dibanggakan. Bukannya mengajaknya berbelanja di mall, makan di restoran mahal, atau menonton film bagus di bioskop, Aldo malah selalu mengajaknya ke taman ini setiap mereka berkencan. Dengan bekal yang dibuat lelaki itu sendiri, mereka piknik di taman itu. Dia terpaksa mendengar semua celoteh Aldo tentang berbagai hal mengenai taman itu. Mulai dari tahun taman itu dibuat, tanaman apa saja yang ada di sana, bahkan Aldo juga mengajarinya cara mengira-ngira umur sebatang pohon! Benar-benar tidak romantis. Ketika mereka duduk di sana pada malam hari, Aldo berceloteh panjang lebar tentang bintang. Alya menyukai bintang. Apalagi yang terlihat membanjiri langit. Namun, jika Aldo mengubahnya menjadi pelajaran astrologi, dia sangat membencinya. Tidak bisakah Aldo hanya duduk diam sambil mengamati langit malam, bukannya malah berceloteh tentang orion, rasi bintang utara, timur, selatan, dan sebagainya itu? Sangat menganggu.

Namun, sekarang Alya duduk sendirian di taman itu. Tidak ada Aldo yang menceramahinya tentang umur sebatang pohon atau rasi-rasi bintang. Beberapa minggu yang lalu, Aldo harus pergi karena mendapat beasiswa di Inggris. Hampir enam bulan mereka tidak bertemu. Seharusnya Alya senang terbebas dari lelaki aneh itu. Seharusnya dia bersorak. Tetapi, tidak.

Ketika Aldo berkata kalau dia akan pergi, tanpa pikir panjang Alya memutuskan hubungan mereka karena tidak mau menjalani LDR. Aldo berusaha meyakinkannya kalau mereka masih bisa menjalin hubungan. Tetapi, Alya tidak mau. Dia sudah malas berhubungan dengan Aldo dan ingin menjalin hubungan lain yang romantis dengan lelaki normal. Dia mendapatkan lelaki normal itu hanya dua minggu setelah kepergian Aldo. Dia mendapatkan hubungan impiannya. Jalan ke mall, makan di restoran, nonton bioskop berdua.

Sayang, semuanya terasa hambar. Meskipun dia dan Aldo hanya menghabiskan waktu di taman ini selama setahun pacaran, tetapi Aldo selalu membawa cerita baru untuknya. Aldo tidak pernah mengulang cerita yang sama. Setelah menjalani hubungan baru ini, Alya baru sadar kalau dia lebih menikmati ceramah berat Aldo tentang pengetahuan alam daripada ocehan pacar barunya yang terus menceritakan tentang kehebatan mobilnya atau teman-temannya. Alya menginginkan Aldo.

Karena itu dia sekarang duduk di sini. Aldo berkata dia akan pulang hari ini dan ingin bertemu dengannya, kalau dia tidak keberatan. Dan Alya sangat tidak keberatan. Dia merindukan Aldo. Bertemu dengan lelaki itu akan menjadi obat mujarab untuk mengatasi kerinduannya.

"Hai, Al," sapa sebuah suara.

Alya menoleh. Senyumnya langsung terkembang. "Hai, Al," balasnya.

Aldo tersenyum kecil. "Aku pikir, kamu nggak akan dateng."

Alya melangkah pelan ke hadapan Aldo. "I miss you," ucapnya pelan.

"So do I," balas Aldo lembut.

Please, Look at me #FF2in1 Rama-Bertahan


Irina memberikan lirikan tajam. Lasya berusaha semampu mungkin mengabaikannya. Dia tau apa yang akan dilakukan sahabatnya itu. Berceramah panjang lebar tentang kebodohannya. Sejujurnya, dia sedang tidak membutuhkan hal itu sekarang.
“Las…”
“Udah, Na. Aku nggak apa-apa. Nggak ada yang perlu di bahas. Oke?”
Lasya sudah siap jika Irina mengeluarkan segala komentar pedasnya. Namun, ternyata sahabatnya itu hanya menghela napas. “Sampe kapan, Las?” Dia menyentuh memar kebiruan di sudut bibir kiri Lasya. “Ini udah kelewatan. Sangat keterlaluan.”
“Dia nggak sengaja.”
“Apa yang nggak sengaja? Waktu dia nonjok kamu atau pas dia kepergok tidur sama pela…” Irina menghentikan ucapannya. “Maaf,” ucapnya, salah tingkah. “Aku cuma nggak mau kamu terus-terusan nyakitin diri. Kamu bisa dapet yang lebih baik dari dia, Las.”
Lasya menggeleng. “Erik udah ngakuin semua kesalahan dia, Na. Dia udah minta maaf dan janji nggak akan ngulangin semuanya.”
“Dan kamu percaya?”
Lasya mengangguk pelan. “Aku sayang dia, Na.”
“Sayang bukan berarti biarin dia bertindak semaunya, Las. Sayang itu berarti saling menghargai. Erik sama sekali nggak nunjukin sifat kalo dia menghargai kamu. Yang dia lakuin cuma terus-terusan nyakitin kamu. Itu bukan hubungan yang sehat.”
Lasya menepuk pelan bahu Irina seraya tersenyum kecil.  “Erik pasti berubah. Dia nggak akan…” Ucapan Lasya terhenti ketika mendengar pintu kafe tempatnya bekerja terbuka dan segerombolan pria berjas melangkah masuk.
“Erik,” bisik Irina pelan.
Lasya mengangguk. Ekspresi wajahnya tampak senang. Dia buru-buru menghampiri meja yang diduduki Erik dan teman-temannya sambil membawa nota pesanan. “Ada yang bisa saya bantu?” Dia melempar senyum manis pada Erik.
Erik hanya meliriknya sambil lalu ketika menyebutkan pesanan teman-temannya satu persatu. Setelah itu, dia benar-benar membuang muka dari Lasya dan mengobrol serius dengan orang-orang di mejanya.
Lasya masih berdiri di sana, menunggu Erik mengucapkan hal lain. Dia setengah berharap Erik akan memperkenalkannya dengan teman-teman lelaki itu.
“Nona?” tegur salah satu teman Erik. “Bukannya kamu seharusnya ke belakang buat mulai nyiapin pesanan kami?”
Lasya tergagap. Dia masih memandang Erik. Namun, Erik sama sekali tidak menatapnya. Lelaki itu hanya meliriknya dengan ekspresi datar, sebelum kembali berbicara dengan lagak penting. Dengan lunglai, Lasya melangkah pelan menuju konter untuk menyerahkan nota pesanan mereka pada Irina.
“Las…”
“Dia cuma lagi sibuk,” potong Lasya, kemudian melangkah ke dapur.
Irina menghela napas pelan. Dia tidak akan pernah mengerti bagaimana Lasya bisa memaklumi semua tingkah buruk Erik padanya. Dia hanya bisa berharap, temannya itu segera sadar dan berhenti mengharapkan Erik untuk benar-benar menoleh padanya.