Saturday, August 23, 2014

Cooking + Eating = HAPPINESS!!!

Haloo!! Aku kembali ~
Sekian lama gak nge-blog karena gak tahu apa yang mau ditulis. Ehm… ada sih, tapi ntaran aja :p
Kali ini aku mau cerita tentang hobi baruku. Yah, nggak baru-baru banget sih, cuma lagi sering dikerjain lagi. yaitu…. MASAK!

“Yaela, cewek masak kok jadi hobi. Kewajiban kalik!”

Bagi yang berpikiran seperti itu, ya terserah. Yang penting saya hepi ~

Jadi … aku mau bikin pengakuan dulu sebelumnya. Sampai usia 18 tahun, aku gak bisa masak. Gak bisa di sini bener-bener gak bisa, selain mie instan, telur goreng/rebus, dan masak air. Masak nasi pun bisa berkat bantuan benda ajaib bernama magicom *bener gak tulisannya, bodo*. Potong bawang pun aku tak mampu, apalagi bikin opor. Sayur bening pun gak tahu bahannya apa aja, apalagi rendang. Iya, aku sehina itu ….

Tapi…. Hal itu perlahan berubah.
Semua dimulai di akhir tahun 2010, setelah aku ngalamin patah hati parah *eaaaa*
Saking lamanya gak patah hati *karena lama gak pacaran juga sebelumnya*, patah hati kali itu bikin aku sempet jadi bloon. Tiap pagi, bengong dulu setengah jam, menghela napas berat berkali-kali seakan seluruh beban manusia di dunia harus aku pikul sendiri. Pas malem dengerin musik kenangan, galau lagi, trus mewek gak jelas sambil bilang, “KENAPA INI TERJADI PADAKU, YA TUHAN! KENAPAAAA!!!”
Drama abis pokoknya…

Kejadian bloon itu berlangsung berbulan-bulan. Berat badan turun, rambut jadi cepak, seakan pusat hidupku hilang entah kemana. *keterusan curhatnya*
Patah hati itu KEJAM, Jendral! KEJAAAMM!!

Capek jadi bloon, dan temenku di kost juga kayaknya mulai males bin kasihan ngeliat aku hidup tanpa arah *sumpah, ini gak lebay*, akhirnya salah satu dari mereka, Mufa, mengeluarkan ide jenius. “Coba masak gih, Sa.”

Kenapa aku bilang jenius? Karena saran dari temenku yang lain terlalu mainstream. Dari mulai cuma nyuruh cari pacar baru, sampai yang langsung nyomblangin sama temennya. Pesen aja sih buat kalian, nyomblangin temen yang masih dalam masa galau patah hati itu kayak berusaha nguras laut. SIA-SIA. Jangankan ngeklop, inget namanya aja gak –“

Balik ke ide jenius Mufa. Awalnya, aku gak tergerak. Tapi, sering ngelihatin Mufa yang emang rajin masak di kost. Lama-lama, aku coba. Dari awalnya dibantuin, sampai akhirnya bisa masak sendiri. Aku inget banget bangganya pas kali pertama berhasil bikin sayur sop dan nasi goreng :)))))

Itu seakan jadi turning point. Bisa dibilang, langkah awal buat move on. Yang sebelumnya pagi-pagi galau, berubah jadi pagi-pagi mikir, “enaknya masak apa hari ini?”
Believe it or not, itu bikin hasrat ‘hidup’ku kembali.
Oh, gak. Patah hati itu gak bikin pengin bunuh diri kok. Aku terlalu mencintai diriku sendiri. Hasrat hidup yang kumaksud itu semacam … semangat, gitulah. Dunia yang tadinya berubah gelap, perlahan terang. Warna yang tadinya muram, perlahan cerah. Dan perlahan tapi pasti, cowok-cowok di kampus yang sebelumnya invisible di mataku jadi mulai keliatan dan beberapa di antara mereka ternyata lumayan bening. *kelamaan bloon, jadi gitudeh*

Semuanya karena hobi baruku itu. Masak. Dan karena aku doyan eksperimen, segala jenis makanan aku coba bikin. Tapi masih yang simpel. Awal-awal aku kenalan sama dapur, masakanku selalu berkisar antara sayur bening, sop, tumisan, sampai sambel kering tempe/tahu/telor. Dan goreng-gorengan. Mufa awalnya ngajarin bikin perkedel jagung (di sini disebutnya ‘dadar jagung’ bisa juga ‘bakwan jagung’), aku terus coba bikin perkedel tahu, sampai perkedel tempe. Dan semuanya bisa dimakan tanpa bikin mules-mules!!! *\o/*

                “Bahan dasar masak itu mayoritas bawang merah-bawang putih. Sama garam-gula.”

Itu petuah pertama tentang masak yang aku tahu.  Dan emang sih, makanya walaupun setiap berurusan sama bawang merah aku pasti nangis, tapi aku bertahan! *Backsound: Rio Febrian – Aku bertahan*

Kegiatan masak-memasak itu sempat terhenti lama karena habis liburan, mulai males ngumpulin bahan-bahan lagi. Jadilah kembali ke selera asal, beli di warung makan.

**

Tahun ini, tepatnya sejak Ramadan kemarin, aku balik rajin lagi masak. Kali ini bareng Mufa sama Iin, sebelum Mufa pindah kost, sekarang tinggal aku sama Iin. Mufa ini selalu jadi semacam head chef. Sebelum Ramadan, kami bertiga emang udah sering masak, tapi masih sebatas jajanan. Bubur sumsum, jenang grendul, klepon, sampai bakpao cokelat. Minat masak lauk-sayur belom ada, kecuali Mufa yang emang dari dulu lebih sering masak sendiri daripada beli. Pas Ramadan, karena males keluar dini hari buat cari sahur, jadilah aku sama Iin ngikut Mufa masak sayur-lauk. Awalnya cuma buat buka sama sahur, tapi keterusan sampai sekarang.

Alasan lain aku jadi makin suka masak itu karena nafsu makanku juga makin berkembang. Kalau diikutin, perutku gak akan pernah puas dan pasti akan bikin dompetku menangis sedih. Aku gak akan bisa beli novel dan nonton lagi tiap bulan karena sibuk ngenyangin perut, semua duit buat perut. APA-APAAN COBA KAANN???

Dengan masak, semua senang. Ya perut, ya dompet. Karena perbandingan pengeluaran pas masak dan beli di luar bisa sampai 1:3. Dan kalau dipikir, sayang banget. mendingan buat beli novel, kan, yee …. *teteup*

Sekarang … aku belom jago-jago banget di dapur. Masih sering nangis kalau kebanyakan ngurus bawang merah, dan masih sebel sama bau bawang yang nempel lama di tangan habis masak. Tapi, semua itu terbayar lunas begitu hasil ‘kerja keras’ itu masuk perut. Gak semua karyaku dan Iin berhasil sih. Kemarin pas kami coba bikin macaroni schotel kukus, hasilnya gagal karena kurang telur dan kurang bumbu. Untung masih bisa diperbaiki dan digoreng. Jadinya enak :9
Selain itu, nyaris semua resep yang kami coba berhasil baik. Yeyyy! (^o^)9

Semua itu bikin aku mikir, buat cewek manis dan anggun yang makannya banyak kayak aku, bisa masak itu kayaknya jadi kewajiban. Seenggaknya, bisa bikin gorengan. Jadi, begitu laper, tinggal ambil tepung, telor, air, campur irisan worterl + kubis, tambahin garam secukupnya, terus goreng. Jadilah bakwan. Perut senang, dompet tetap riang ~




Ps: aku bangga karena alasanku belajar masak kali pertama bukan buat orang lain, tapi buat diriku sendiri.  Dari sekadar ‘terapi’, jadi kegiatan yang bikin ‘hepi’ ~

Ps 2: aku jadi makin yakin suatu saat nanti mau buka usaha di bidang kuliner. *aamiin*




Salam dari dapur,


Elsa Puspita

Saturday, May 31, 2014

If you come back ….

“Hoi! Aku pamit ya!”

Aku menatapnya, mengerjap sekali, sekadar memastikan kalau aku tidak salah mengenali orang. “Eh, kamu. Mau ke mana?”

Dia menyebut salah satu tempat, di luar kota, yang akan menjadi setting kehidupannya ke depan.

Aku mengangguk, begitu dia selesai berucap. “Jadi kamu ambil kerjaan di sana?”

“Yoi!” Dia masih berkata dengan nada riang seperti biasa. “Gajinya lumayan banget buat fresh graduate minim pengalaman kayak aku. Rugi kalau nggak diambil.”

“Ya deh, biar modal nikah cepet ngumpul ye,” aku menggodanya.

Dia tertawa. Keras dan renyah. Tawa yang selalu berhasil menular padaku. Begitu tawanya reda, senyum masih tersisa di sudut bibirnya. “Nggak pengin ngomong apa-apa sama aku? Ini bisa jadi pertemuan terakhir kita, lho. Abis ini, entah kita masih bisa ketemu apa nggak.”

Aku diam. Dia benar. Setelah ini, setelah aku lulus, aku juga akan pergi dari kota ini, entah ke kota lain, atau kembali ke kota asalku. Yang jelas, bukan kota yang sama seperti yang dia tinggali.

Apa ada yang ingin kusampaikan padanya? Tentu saja ada.

Apa aku akan menyampaikan langsung padanya? Yang benar saja.

“Hm … mau bilang … ati-ati aja di sana nanti. Terus, kalau jadi nikah, jangan lupa undang aku!” ucapku, setengah mengancam.

Dia menyeringai, membuat matanya yang sedikit sipit, langsung hilang ditelan kelopaknya. “Kamu juga. Buruan lulus! Busuk nanti kelamaan di sini.”

Aku hanya mencibir, namun tidak menanggapi ucapannya. Setelah basa-basi terakhir, kami berpisah jalan. Dia masih melambaikan tangan dengan wajah cerah sembari menjauh, yang kubalas dengan gerak tangan yang sama, namun jelas suasana hati yang berbeda.

Begitu sosoknya menghilang di tikungan, aku menurunkan tangan, seraya menghela napas.

*

“Jadi, kamu masih nggak bilang apa-apa ke dia?”

Aku menggeleng.

“Kenapa? Habis ini, kalian juga nggak bakal ketemu lagi. Kurang-kurangi deh tuh gengsi. Mati ketiban gengsi, nggak enak tahu.”

“Berisik!” Hanya itu tanggapanku.

“Emang kenapa sih kalau bilang?”

Aku menghela napas. “Dia udah punya pacar. Aku kenal sama pacarnya, walaupun nggak dekat. Bayangin deh, kalau tiba-tiba ada cewek yang nyatain cinta ke pacarmu, padahal selama ini kamu mikir cewek itu cuma temenan aja sama pacarmu itu, gimana perasaanmu?”

“Ya gampang. Jangan sampai ceweknya tahu.”

Aku menatapnya sebal. “Bukan masalah ceweknya tahu apa nggak. Aku nggak mau ada di tengah hubungan orang.”

“Belum tentu diterima juga, kan? Lagian, kamu juga nggak nembak. Cuma bilang, ‘eh, aku suka lho sama kamu,’ terus pergi. Udah.”

Seandainya segampang itu, gumamku dalam hati. “Nggak deh, makasih.”

“Terserah deh.”

*

Aku mengenalnya hampir lima tahun lalu. Saat masa OSPEK, dan aku satu kelompok dengannya. Lalu kami sering satu kelas, dia sering duduk di sampingku, begitulah semuanya bermula.

Jangan bayangkan cinta pada pandangan pertama. Ini jauh dari itu. Aku sudah punya pacar saat kami pertama dekat. Begitu aku putus, dia yang punya pacar. Selalu seperti itu. Namun, hubungan pertemanan kami tidak berubah. Aku tahu bagaimana dia dan pacar-pacarnya, dia pun tahu bagaimana aku dan pacar-pacarku.

Sejujurnya, aku tidak pernah membayangkan akan jatuh cinta padanya. Aku tidak percaya dengan statement yang menyatakan kalau laki-laki dan perempuan tidak bisa menjadi sekadar sahabat. Selama bertahun-tahun, aku dan dia bisa bersikap layaknya teman, tidak pernah lebih.

Sampai di hari ketika dia mengatakan mendapat panggilan kerja di luar kota. Aku ikut senang mendengarnya. Sungguh. Malam itu kami merayakannya. Aku benar-benar merasa gembira untuknya. Tahu bagaimana perjuangannya sampai akhirnya mendapatkan panggilan itu.

Setelah malam itu, aku baru menyadari ada yang berubah. Perasaanku tidak lagi sama. Saat menyadari kalau kami akan segera berpisah, benar-benar berpisah tanpa tahu masih ada kesempatan untuk bertemu lagi atau tidak, aku menangis. Selain dia, aku juga berteman dekat dengan yang lain. mereka juga sudah pergi satu-persatu, namun tidak ada yang membuatku menangis. Sedih karena perpisahan, iya. Menangisi kepergian mereka, tidak. Aku tahu perpisahan selalu hadir bersama pertemuan. Karena itu, tidak pernah ada perpisahan yang membuatku menangis.

Tangisan untuknya itu yang membuatku sadar kalau aku mungkin punya suatu perasaan lebih untuknya. Entah apa lebihnya. Dan entah kapan perubahan itu terjadi. Aku tidak pernah mau memikirkannya.

Sebagian hatiku merasa lega saat dia menjauh. Maksudku, pergi. Itu akan membuatku lebih mudah melupakannya, kan? Tapi, sebagian lagi yang murni menganggapnya teman dekat, merasa sedih membayangkan tidak akan bertemu dengannya lagi. Sisi mana yang lebih besar, aku tidak tahu.

*

“Seandainya ya, kamu sama dia ketemu lagi, apa yang mau kamu omongin?”

“Yang aku omongin? ‘Hai, apa kabar! Lama nggak ketemu!’, gitu,” jawabku, tak acuh.

“Serius, ish!”

“Ya, serius. Emang aku harus ngomong apa?”

“Kamu beneran nggak pengin ngasih tahu perasaan kamu ke dia?”

Aku menggeleng, yakin. “Selama statusnya punya pacar, nggak akan pernah. Sebesar apa pun rasaku ke dia, nggak akan. Lagian, aku juga nggak yakin apa yang sebenernya aku rasain. Mungkin cuma sekadar nyaman karena udah lama bareng.”

“Yakin?”

Aku mengangguk. “Kecuali … kalau nanti dia balik, terus aku yang bakal pergi dan nggak ke sini lagi, mungkin aku baru mau bilang.”

“Yah, gitu mah beneran mustahil.”

“That’s my point,” ucapku.

Tidak sepenuhnya bohong. Kalau memang nanti, entah apa yang terjadi di sana hingga dia memutuskan pulang sebelum aku yang pergi, dan kami bertemu kembali, aku akan melakukannya. Meskipun seperti yang dikatakan teman serumahku, itu mustahil.

But, we never know what will happen, don’t we?

*

“Hoi!”

Aku reflek menoleh. Hanya satu orang yang biasa menyapaku dengan kata “hoi” bernada seperti itu. Dengan tidak percaya, aku mengerjapkan mata. Seketika, aku melongo. “Kamu … ngapain di sini?”

“Pulang,” jawabnya, dengan nada ringan tanpa beban. “Kamu ngapain masih di sini? Nggak pulang kampung?”

“Minggu depan ….”

“Nggak balik ke sini lagi?” tanyanya.

Percakapan dengan teman serumahku berbulan-bulan lalu kembali terputar di kepala. Aku menggigit bibir, menatapnya bingung, bercampur tidak percaya. “Nggak,” aku menjawab lemah.

Ya Tuhan ….



***

Tuesday, February 18, 2014

Wajah tidurmu, dan aku kembali jatuh cinta …

Di salah satu ritual “pillow talk” kita, kamu sempat bertanya kenapa aku menerima lamaran dan mau menikah denganmu. Jujur, kalau kamu menanyakan hal yang sama lagi, aku masih belum bisa memberikan jawaban pasti, selain senyum simpul seolah bermisteri. Nyatanya, aku tidak punya jawaban pasti itu.

Waktu aku balas menanyakan hal yang sama, jawabanmu membuatku terpana. Apa yang membuatmu mau menikahiku?

“Pas istikharah, pertanda Allah bilang kalau kamu emang yang tepat.”

Kamu menyeringai. Aku melongo, kemudian tertawa. Istikharah juga kulakukan sebelum memberi jawaban “iya” padamu. Tapi, aku tidak pernah berpikir menjadikannya jawaban dari pertanyaan “kenapa aku mau nikah sama kamu”.

Ritual “pillow talk” kita selalu menyenangkan, seburuk apa pun hari yang kita lalui sebelum beranjak tidur. Memastikan kamu yang terakhir kulihat sebelum memejamkan mata, dan aku yang kamu lihat sebelum terlelap, tidak ada yang lebih indah dari itu.

Sampai ketika perang besar terjadi di antara kita. Aku tidak perlu mengingatkan apa pemicunya. Kamu tentu masih ingat, kan? Yang jelas, saat itu kita mengeluarkan sisi terburuk masing-masing. Ketika berakhir, tidak satu pun dari kita mau melihat wajah yang lain. Untuk malam itu, tidak ada ritual “pillow talk” karena kita pun menolak tidur di tempat yang sama.

Aku belum melupakan kejadian itu ketika beranjak tidur. Namun, ketika membuka mata di pagi harinya dan melihat wajah tidurmu, aku bahkan tidak bisa ingat apa yang kita ributkan semalam.

Aku malah mendapatkan jawaban dari pertanyaan “kenapa aku mau nikah sama kamu”.
Kenyataan kalau kamu menggendongku masuk kembali ke kamar kita saat aku terlelap, yang berarti di saat terburuk pun kamu masih menginginkanku ada di sampingmu, dan kamu di sebelahku …
Kenyataan kalau wajah tidurmu yang tetap menghadapku ketika aku bangun, bukan malah memberiku pemandangan punggung, yang berarti semarah apa pun, kamu tidak benar-benar memalingkan muka dariku, masih mau menatapku …

Saat itu, sekali lagi, kamu membuatku jatuh cinta untuk kesekian kalinya. Aku lupa, untuk sejenak, kenapa kita bertengkar. Tapi aku yakin, untuk waktu yang lebih lama, kamu akan selalu membuatku jatuh cinta. Berkali-kali, di situasi apa pun.

Dan kalau kamu memang perlu jawaban, kurasa itu jawaban yang cukup. Wajah tidurmu membuatku jatuh cinta berkali-kali. Selama itu yang pertama kulihat saat bangun, selama itu juga aku merasa menikahi orang yang tepat.



***

Si jelek nan berharga :)

Sebenernya aku lagi di tengah ngejar deadline. Tapi tiba-tiba pengin nulis blog gara-gara liat si Item.

Jadi, aku punya dua hape. Blackberry sama Nokia tipe lama yang layarnya kalah lebar dibanding salonpas yang udah dipotong setengah dan masih item-putih. Namanya si Item. *pengin masukin fotonya, tapi internet lemot. Ntaran aja ya, kalau inget*

Yang jelas, hapenya udah jelek banget. Layarnya pun udah retak. Kenapa bisa retak gitu sebenarnya buatku sendiri masih berupa misteri. Yang aku inget, pas aku keluarin dari ransel udah retak aja tuh benda. Tapi, walaupun buluk, aku masih gak mau genti. Bahkan, pas adekku minta pun gak kukasih. Bentuknya emang jelek, kuno, dan biasa banget. Sejarah di baliknya yang bikin si jelek itu berharga banget buatku.

Aku bukan tipe orang yang doyan ngikut tren dalam bentuk apa pun*syukurlah*. Apalagi hape. Aku gaptek masalah itu. Yang penting buatku, hape yang bisa mencakup semua yang aku butuh dan masih layak pake, yowes. Aku pake sampe rusak, baru ganti. Waktu nada polyphonic lagi ngetren jaman SMP kemaren, hapeku masih Samsung jadul yang ada antena luar, sampe ada temen sekelas yang nanya, “Itu hape beneran?”.
Lulus SMP, sementara hape kamera mulai menjamur, aku masih setia pake Siemens lama yang juga pake antena luar, sampe batrenya soak dan gak bisa dilepas dari charger kalau gak mau hapenya mati. *gak usah tanya tipe berapa, aku gak paham*

Semua hape itu lungsuran Ayah, yang emang doyan gonta-ganti hape. Sebagai anak baik, ya terima aja dikasih bekasan. Hape bagus pertama yang aku punya dan bener-bener dibeliin buatku Nokia 6600 *iya! Yang gendut banget itu*. Kata Emak, buat kado ulang tahun ke-15 *tanggal belinya pas 30 Desember 2006*
Fix, itu pertama dan terakhir kalinya aku dibeliin hape. Hape-hape berikutnya lagi-lagi lungsuran Ayah. Aku juga pernah pake Sony Ericson, LG, sampe hape Flexi.

Lulus SMA, aku sempat LDR. Pejuang LDR tahu apa masalah terbesar kaum kami itu. KOMUNIKASI. Sebagai mahasiswi rantauan yang jatah duit jajan udah harus termasuk uang makan + bayar listrik, tentu harus super hemat. Aku sebelumnya pake kartu SIMpati sama IM3. SIMpati khusus buat keluarga, IM3 buat pacar karena banyak gratisannya. Ternyata, di Jawa gratisan itu gak berlaku! Jadilah pulsa jadi masalah tersendiri. Akhirnya aku gonta-ganti kartu, cari yang paling murah dan banyak gratisan. Ini bikin Emak ngomel, karena aku jadi susah dihubungi dan suka lupa ngasih tahu nomor baru. Akhirnya, capek bolak-balik pindahin kartu ke hape, duit hasil lebaran aku beliin satu hape lagi. khusus buat SIMpati supaya si Emak bisa nelepon kapan pun tanpa terganggu nomorku yang satu lagi *aku baru berhenti genti-genti kartu “khusus pacar” pas semester 2, kartu yang akhirnya jadi nomor utama dan masih tak pake sampe sekarang*.

Itulah sejarah si Item : Hape pertama yang aku beli pake uang sendiri :’)

Dia memang jelek. Layarnya udah retak, dan sering jadi bahan hina temen-temenku saking jadulnya dan suka lelet nerima SMS. Tapi aku sayang. Meskipun gak bisa dipake denger mp3, buka twitter, dan harus puas dengan nada telepon khas Nokia, dia punya kenangan tersendiri buatku.

JADIIII…. terserah ye kalian mau berapa kali nyuruh ganti hape, pokoknya aku sayang sama si Nokia item jelek berlayar retak ini, dan GAK AKAN GANTI DIA SEBELUM BENER-BENER RUSAK!!! (^o^)9

PS *buat suami masa depan* : sama hape butut aja aku setia banget lho. Apalagi sama kamu nanti :* :3

(~^o^)~ ~(^o^~)

-ep-

Wednesday, February 12, 2014

Love, just the way you are ~

Kalau ada yang nanya, "Bagian tubuh yang paling gak kamu suka?" gak pake mikir aku bakal jawab, "Kaki sama bibir."

Kakiku pendek. Tapi telapaknya lumayan gede buat ukuran badanku. Positifnya, aku gak gampang jatuh, negatifnya...aku pendek. Saking putus asanya sama panjang kaki, aku sempet pengin minta dibeliin alat tarik-tarik kaki yg sering muncul di iklan tipi itu. Setiap diledek masalah tinggi badan, well...it hurts, honestly. Apalagi kalau mereka ngeledek frontal pake kata 'pendek'. Tapi, aku tahu itu kenyataan. Mau sakit hati begimana pun ya gak bakal ngubah aku jadi tinggi. Caraku nyikapinya sekarang cuma bales, "Biarin. Aku kecil imut." Lumayan, penghiburan sendiri :')

Terus...bibir. Aku punya idung yang gak mancung-mancung amat buat ukuran orang yang ngaku ada darah Arab (cuma seperdelapan sih, mayan tapi). Semua bagian idung udah diambil keempat adik cowokku. Ya mancung. Ya gede. Tinggalah aku kebagian pesek dan kecilnya. Nasib yang bikin aku sering diledek sebagai 'anak percobaan'. But, I love my nose. Pesek lucu, menurutku. Justru bibir yang aku gak sukai banget. Kelewat tebel. Kalau bisa, aku pengin operasi potong daging di bibir, trus pindahin ke idung biar mancungan dikit. Gak perlu dibilang separah apa ledekan yang aku terima jaman dulu gara-gara masalah bibir ini. Nangis? Gak usah ditanya. Rasa sebelku sama bibir jauh lebih besar daripada sama panjang kaki. Setiap foto, fokus pertamaku lihat hasilnya pasti langsung ke bibir. Kalau ganggu, hapus. Yah, aku segitu gak suka banget emang.

Sampai satu hari aku iseng pake lipstik yang dikasih oleh Jidah *panggilanku buat Nenek dari pihak Ayah*. Warnanya pink lucu. FYI, aku gak pernah suka pake lipstik. Bikin bibirku kerasa makin tebal. Pas iseng foto, hasil bibir yang aku dapet jadi gini :

not bad lah... *HAHAHAHAHA*

Saking takjubnya, aku sampe bikin beginian :

Biarin norak. Yang penting aku bahagia :*

Untuk kali pertama seumur hidup, aku bisa bilang, "Aku suka bibirku". Percaya atau gak, kalimat itu nyaris gak pernah aku ucapin.

Kejadian itu bikin aku mikir, kenapa aku bisa gak suka banget sama bibirku? Jawabannya : karena penilaian jelek orang. Ejekan fisik itu emang separah-parahnya ngejek. Sepanjang masa SD-SMP, entah berapa kali anak-anak berandal itu 'ngebully' gara-gara bibirku. Padahal kalau boleh jujur, mereka juga fisiknya gak bagus-bagus amat. Heran juga bisa segitu pedenya ngatain fisik orang. Jadi, ngapain aku harus ikut benci apa yang udah dikasih Tuhan buatku gara-gara mereka? Tuhan lebih tahu apa yang terbaik buatku, dibanding mereka yang pas kelas 4 SD ngerjain soal perkalian aja masih nyontek *iya, ini dendam*.

Sekarang, aku gak bilang "I love my lips very much". But, I can say loudly, "I LOVE ME, JUST THE WAY I AM."

Karena Tuhan, gak akan pernah salah cetak. Seburuk apa pun di mata manusia, di mata Tuhan itu hal paling baik yang bisa kamu terima. So, just take and love it :))

Seorang bijak pernah ngomong : "Cintai dirimu, maka orang akan mudah untuk ikut mencintaimu."

Dan dipikir-pikir, kalau aku sendiri aja terganggu sama kekuranganku, gimana orang bisa nerima?
Mereka yang terganggu? Itu mah urusan mereka. Ngapain sini ikut mikir. Iya to? ;)

Yeah. I love myself. Just the way I am :))



Sooo, how about you? ;)



-ep-