Saturday, May 31, 2014

If you come back ….

“Hoi! Aku pamit ya!”

Aku menatapnya, mengerjap sekali, sekadar memastikan kalau aku tidak salah mengenali orang. “Eh, kamu. Mau ke mana?”

Dia menyebut salah satu tempat, di luar kota, yang akan menjadi setting kehidupannya ke depan.

Aku mengangguk, begitu dia selesai berucap. “Jadi kamu ambil kerjaan di sana?”

“Yoi!” Dia masih berkata dengan nada riang seperti biasa. “Gajinya lumayan banget buat fresh graduate minim pengalaman kayak aku. Rugi kalau nggak diambil.”

“Ya deh, biar modal nikah cepet ngumpul ye,” aku menggodanya.

Dia tertawa. Keras dan renyah. Tawa yang selalu berhasil menular padaku. Begitu tawanya reda, senyum masih tersisa di sudut bibirnya. “Nggak pengin ngomong apa-apa sama aku? Ini bisa jadi pertemuan terakhir kita, lho. Abis ini, entah kita masih bisa ketemu apa nggak.”

Aku diam. Dia benar. Setelah ini, setelah aku lulus, aku juga akan pergi dari kota ini, entah ke kota lain, atau kembali ke kota asalku. Yang jelas, bukan kota yang sama seperti yang dia tinggali.

Apa ada yang ingin kusampaikan padanya? Tentu saja ada.

Apa aku akan menyampaikan langsung padanya? Yang benar saja.

“Hm … mau bilang … ati-ati aja di sana nanti. Terus, kalau jadi nikah, jangan lupa undang aku!” ucapku, setengah mengancam.

Dia menyeringai, membuat matanya yang sedikit sipit, langsung hilang ditelan kelopaknya. “Kamu juga. Buruan lulus! Busuk nanti kelamaan di sini.”

Aku hanya mencibir, namun tidak menanggapi ucapannya. Setelah basa-basi terakhir, kami berpisah jalan. Dia masih melambaikan tangan dengan wajah cerah sembari menjauh, yang kubalas dengan gerak tangan yang sama, namun jelas suasana hati yang berbeda.

Begitu sosoknya menghilang di tikungan, aku menurunkan tangan, seraya menghela napas.

*

“Jadi, kamu masih nggak bilang apa-apa ke dia?”

Aku menggeleng.

“Kenapa? Habis ini, kalian juga nggak bakal ketemu lagi. Kurang-kurangi deh tuh gengsi. Mati ketiban gengsi, nggak enak tahu.”

“Berisik!” Hanya itu tanggapanku.

“Emang kenapa sih kalau bilang?”

Aku menghela napas. “Dia udah punya pacar. Aku kenal sama pacarnya, walaupun nggak dekat. Bayangin deh, kalau tiba-tiba ada cewek yang nyatain cinta ke pacarmu, padahal selama ini kamu mikir cewek itu cuma temenan aja sama pacarmu itu, gimana perasaanmu?”

“Ya gampang. Jangan sampai ceweknya tahu.”

Aku menatapnya sebal. “Bukan masalah ceweknya tahu apa nggak. Aku nggak mau ada di tengah hubungan orang.”

“Belum tentu diterima juga, kan? Lagian, kamu juga nggak nembak. Cuma bilang, ‘eh, aku suka lho sama kamu,’ terus pergi. Udah.”

Seandainya segampang itu, gumamku dalam hati. “Nggak deh, makasih.”

“Terserah deh.”

*

Aku mengenalnya hampir lima tahun lalu. Saat masa OSPEK, dan aku satu kelompok dengannya. Lalu kami sering satu kelas, dia sering duduk di sampingku, begitulah semuanya bermula.

Jangan bayangkan cinta pada pandangan pertama. Ini jauh dari itu. Aku sudah punya pacar saat kami pertama dekat. Begitu aku putus, dia yang punya pacar. Selalu seperti itu. Namun, hubungan pertemanan kami tidak berubah. Aku tahu bagaimana dia dan pacar-pacarnya, dia pun tahu bagaimana aku dan pacar-pacarku.

Sejujurnya, aku tidak pernah membayangkan akan jatuh cinta padanya. Aku tidak percaya dengan statement yang menyatakan kalau laki-laki dan perempuan tidak bisa menjadi sekadar sahabat. Selama bertahun-tahun, aku dan dia bisa bersikap layaknya teman, tidak pernah lebih.

Sampai di hari ketika dia mengatakan mendapat panggilan kerja di luar kota. Aku ikut senang mendengarnya. Sungguh. Malam itu kami merayakannya. Aku benar-benar merasa gembira untuknya. Tahu bagaimana perjuangannya sampai akhirnya mendapatkan panggilan itu.

Setelah malam itu, aku baru menyadari ada yang berubah. Perasaanku tidak lagi sama. Saat menyadari kalau kami akan segera berpisah, benar-benar berpisah tanpa tahu masih ada kesempatan untuk bertemu lagi atau tidak, aku menangis. Selain dia, aku juga berteman dekat dengan yang lain. mereka juga sudah pergi satu-persatu, namun tidak ada yang membuatku menangis. Sedih karena perpisahan, iya. Menangisi kepergian mereka, tidak. Aku tahu perpisahan selalu hadir bersama pertemuan. Karena itu, tidak pernah ada perpisahan yang membuatku menangis.

Tangisan untuknya itu yang membuatku sadar kalau aku mungkin punya suatu perasaan lebih untuknya. Entah apa lebihnya. Dan entah kapan perubahan itu terjadi. Aku tidak pernah mau memikirkannya.

Sebagian hatiku merasa lega saat dia menjauh. Maksudku, pergi. Itu akan membuatku lebih mudah melupakannya, kan? Tapi, sebagian lagi yang murni menganggapnya teman dekat, merasa sedih membayangkan tidak akan bertemu dengannya lagi. Sisi mana yang lebih besar, aku tidak tahu.

*

“Seandainya ya, kamu sama dia ketemu lagi, apa yang mau kamu omongin?”

“Yang aku omongin? ‘Hai, apa kabar! Lama nggak ketemu!’, gitu,” jawabku, tak acuh.

“Serius, ish!”

“Ya, serius. Emang aku harus ngomong apa?”

“Kamu beneran nggak pengin ngasih tahu perasaan kamu ke dia?”

Aku menggeleng, yakin. “Selama statusnya punya pacar, nggak akan pernah. Sebesar apa pun rasaku ke dia, nggak akan. Lagian, aku juga nggak yakin apa yang sebenernya aku rasain. Mungkin cuma sekadar nyaman karena udah lama bareng.”

“Yakin?”

Aku mengangguk. “Kecuali … kalau nanti dia balik, terus aku yang bakal pergi dan nggak ke sini lagi, mungkin aku baru mau bilang.”

“Yah, gitu mah beneran mustahil.”

“That’s my point,” ucapku.

Tidak sepenuhnya bohong. Kalau memang nanti, entah apa yang terjadi di sana hingga dia memutuskan pulang sebelum aku yang pergi, dan kami bertemu kembali, aku akan melakukannya. Meskipun seperti yang dikatakan teman serumahku, itu mustahil.

But, we never know what will happen, don’t we?

*

“Hoi!”

Aku reflek menoleh. Hanya satu orang yang biasa menyapaku dengan kata “hoi” bernada seperti itu. Dengan tidak percaya, aku mengerjapkan mata. Seketika, aku melongo. “Kamu … ngapain di sini?”

“Pulang,” jawabnya, dengan nada ringan tanpa beban. “Kamu ngapain masih di sini? Nggak pulang kampung?”

“Minggu depan ….”

“Nggak balik ke sini lagi?” tanyanya.

Percakapan dengan teman serumahku berbulan-bulan lalu kembali terputar di kepala. Aku menggigit bibir, menatapnya bingung, bercampur tidak percaya. “Nggak,” aku menjawab lemah.

Ya Tuhan ….



***

Tuesday, February 18, 2014

Wajah tidurmu, dan aku kembali jatuh cinta …

Di salah satu ritual “pillow talk” kita, kamu sempat bertanya kenapa aku menerima lamaran dan mau menikah denganmu. Jujur, kalau kamu menanyakan hal yang sama lagi, aku masih belum bisa memberikan jawaban pasti, selain senyum simpul seolah bermisteri. Nyatanya, aku tidak punya jawaban pasti itu.

Waktu aku balas menanyakan hal yang sama, jawabanmu membuatku terpana. Apa yang membuatmu mau menikahiku?

“Pas istikharah, pertanda Allah bilang kalau kamu emang yang tepat.”

Kamu menyeringai. Aku melongo, kemudian tertawa. Istikharah juga kulakukan sebelum memberi jawaban “iya” padamu. Tapi, aku tidak pernah berpikir menjadikannya jawaban dari pertanyaan “kenapa aku mau nikah sama kamu”.

Ritual “pillow talk” kita selalu menyenangkan, seburuk apa pun hari yang kita lalui sebelum beranjak tidur. Memastikan kamu yang terakhir kulihat sebelum memejamkan mata, dan aku yang kamu lihat sebelum terlelap, tidak ada yang lebih indah dari itu.

Sampai ketika perang besar terjadi di antara kita. Aku tidak perlu mengingatkan apa pemicunya. Kamu tentu masih ingat, kan? Yang jelas, saat itu kita mengeluarkan sisi terburuk masing-masing. Ketika berakhir, tidak satu pun dari kita mau melihat wajah yang lain. Untuk malam itu, tidak ada ritual “pillow talk” karena kita pun menolak tidur di tempat yang sama.

Aku belum melupakan kejadian itu ketika beranjak tidur. Namun, ketika membuka mata di pagi harinya dan melihat wajah tidurmu, aku bahkan tidak bisa ingat apa yang kita ributkan semalam.

Aku malah mendapatkan jawaban dari pertanyaan “kenapa aku mau nikah sama kamu”.
Kenyataan kalau kamu menggendongku masuk kembali ke kamar kita saat aku terlelap, yang berarti di saat terburuk pun kamu masih menginginkanku ada di sampingmu, dan kamu di sebelahku …
Kenyataan kalau wajah tidurmu yang tetap menghadapku ketika aku bangun, bukan malah memberiku pemandangan punggung, yang berarti semarah apa pun, kamu tidak benar-benar memalingkan muka dariku, masih mau menatapku …

Saat itu, sekali lagi, kamu membuatku jatuh cinta untuk kesekian kalinya. Aku lupa, untuk sejenak, kenapa kita bertengkar. Tapi aku yakin, untuk waktu yang lebih lama, kamu akan selalu membuatku jatuh cinta. Berkali-kali, di situasi apa pun.

Dan kalau kamu memang perlu jawaban, kurasa itu jawaban yang cukup. Wajah tidurmu membuatku jatuh cinta berkali-kali. Selama itu yang pertama kulihat saat bangun, selama itu juga aku merasa menikahi orang yang tepat.



***

Si jelek nan berharga :)

Sebenernya aku lagi di tengah ngejar deadline. Tapi tiba-tiba pengin nulis blog gara-gara liat si Item.

Jadi, aku punya dua hape. Blackberry sama Nokia tipe lama yang layarnya kalah lebar dibanding salonpas yang udah dipotong setengah dan masih item-putih. Namanya si Item. *pengin masukin fotonya, tapi internet lemot. Ntaran aja ya, kalau inget*

Yang jelas, hapenya udah jelek banget. Layarnya pun udah retak. Kenapa bisa retak gitu sebenarnya buatku sendiri masih berupa misteri. Yang aku inget, pas aku keluarin dari ransel udah retak aja tuh benda. Tapi, walaupun buluk, aku masih gak mau genti. Bahkan, pas adekku minta pun gak kukasih. Bentuknya emang jelek, kuno, dan biasa banget. Sejarah di baliknya yang bikin si jelek itu berharga banget buatku.

Aku bukan tipe orang yang doyan ngikut tren dalam bentuk apa pun*syukurlah*. Apalagi hape. Aku gaptek masalah itu. Yang penting buatku, hape yang bisa mencakup semua yang aku butuh dan masih layak pake, yowes. Aku pake sampe rusak, baru ganti. Waktu nada polyphonic lagi ngetren jaman SMP kemaren, hapeku masih Samsung jadul yang ada antena luar, sampe ada temen sekelas yang nanya, “Itu hape beneran?”.
Lulus SMP, sementara hape kamera mulai menjamur, aku masih setia pake Siemens lama yang juga pake antena luar, sampe batrenya soak dan gak bisa dilepas dari charger kalau gak mau hapenya mati. *gak usah tanya tipe berapa, aku gak paham*

Semua hape itu lungsuran Ayah, yang emang doyan gonta-ganti hape. Sebagai anak baik, ya terima aja dikasih bekasan. Hape bagus pertama yang aku punya dan bener-bener dibeliin buatku Nokia 6600 *iya! Yang gendut banget itu*. Kata Emak, buat kado ulang tahun ke-15 *tanggal belinya pas 30 Desember 2006*
Fix, itu pertama dan terakhir kalinya aku dibeliin hape. Hape-hape berikutnya lagi-lagi lungsuran Ayah. Aku juga pernah pake Sony Ericson, LG, sampe hape Flexi.

Lulus SMA, aku sempat LDR. Pejuang LDR tahu apa masalah terbesar kaum kami itu. KOMUNIKASI. Sebagai mahasiswi rantauan yang jatah duit jajan udah harus termasuk uang makan + bayar listrik, tentu harus super hemat. Aku sebelumnya pake kartu SIMpati sama IM3. SIMpati khusus buat keluarga, IM3 buat pacar karena banyak gratisannya. Ternyata, di Jawa gratisan itu gak berlaku! Jadilah pulsa jadi masalah tersendiri. Akhirnya aku gonta-ganti kartu, cari yang paling murah dan banyak gratisan. Ini bikin Emak ngomel, karena aku jadi susah dihubungi dan suka lupa ngasih tahu nomor baru. Akhirnya, capek bolak-balik pindahin kartu ke hape, duit hasil lebaran aku beliin satu hape lagi. khusus buat SIMpati supaya si Emak bisa nelepon kapan pun tanpa terganggu nomorku yang satu lagi *aku baru berhenti genti-genti kartu “khusus pacar” pas semester 2, kartu yang akhirnya jadi nomor utama dan masih tak pake sampe sekarang*.

Itulah sejarah si Item : Hape pertama yang aku beli pake uang sendiri :’)

Dia memang jelek. Layarnya udah retak, dan sering jadi bahan hina temen-temenku saking jadulnya dan suka lelet nerima SMS. Tapi aku sayang. Meskipun gak bisa dipake denger mp3, buka twitter, dan harus puas dengan nada telepon khas Nokia, dia punya kenangan tersendiri buatku.

JADIIII…. terserah ye kalian mau berapa kali nyuruh ganti hape, pokoknya aku sayang sama si Nokia item jelek berlayar retak ini, dan GAK AKAN GANTI DIA SEBELUM BENER-BENER RUSAK!!! (^o^)9

PS *buat suami masa depan* : sama hape butut aja aku setia banget lho. Apalagi sama kamu nanti :* :3

(~^o^)~ ~(^o^~)

-ep-

Wednesday, February 12, 2014

Love, just the way you are ~

Kalau ada yang nanya, "Bagian tubuh yang paling gak kamu suka?" gak pake mikir aku bakal jawab, "Kaki sama bibir."

Kakiku pendek. Tapi telapaknya lumayan gede buat ukuran badanku. Positifnya, aku gak gampang jatuh, negatifnya...aku pendek. Saking putus asanya sama panjang kaki, aku sempet pengin minta dibeliin alat tarik-tarik kaki yg sering muncul di iklan tipi itu. Setiap diledek masalah tinggi badan, well...it hurts, honestly. Apalagi kalau mereka ngeledek frontal pake kata 'pendek'. Tapi, aku tahu itu kenyataan. Mau sakit hati begimana pun ya gak bakal ngubah aku jadi tinggi. Caraku nyikapinya sekarang cuma bales, "Biarin. Aku kecil imut." Lumayan, penghiburan sendiri :')

Terus...bibir. Aku punya idung yang gak mancung-mancung amat buat ukuran orang yang ngaku ada darah Arab (cuma seperdelapan sih, mayan tapi). Semua bagian idung udah diambil keempat adik cowokku. Ya mancung. Ya gede. Tinggalah aku kebagian pesek dan kecilnya. Nasib yang bikin aku sering diledek sebagai 'anak percobaan'. But, I love my nose. Pesek lucu, menurutku. Justru bibir yang aku gak sukai banget. Kelewat tebel. Kalau bisa, aku pengin operasi potong daging di bibir, trus pindahin ke idung biar mancungan dikit. Gak perlu dibilang separah apa ledekan yang aku terima jaman dulu gara-gara masalah bibir ini. Nangis? Gak usah ditanya. Rasa sebelku sama bibir jauh lebih besar daripada sama panjang kaki. Setiap foto, fokus pertamaku lihat hasilnya pasti langsung ke bibir. Kalau ganggu, hapus. Yah, aku segitu gak suka banget emang.

Sampai satu hari aku iseng pake lipstik yang dikasih oleh Jidah *panggilanku buat Nenek dari pihak Ayah*. Warnanya pink lucu. FYI, aku gak pernah suka pake lipstik. Bikin bibirku kerasa makin tebal. Pas iseng foto, hasil bibir yang aku dapet jadi gini :

not bad lah... *HAHAHAHAHA*

Saking takjubnya, aku sampe bikin beginian :

Biarin norak. Yang penting aku bahagia :*

Untuk kali pertama seumur hidup, aku bisa bilang, "Aku suka bibirku". Percaya atau gak, kalimat itu nyaris gak pernah aku ucapin.

Kejadian itu bikin aku mikir, kenapa aku bisa gak suka banget sama bibirku? Jawabannya : karena penilaian jelek orang. Ejekan fisik itu emang separah-parahnya ngejek. Sepanjang masa SD-SMP, entah berapa kali anak-anak berandal itu 'ngebully' gara-gara bibirku. Padahal kalau boleh jujur, mereka juga fisiknya gak bagus-bagus amat. Heran juga bisa segitu pedenya ngatain fisik orang. Jadi, ngapain aku harus ikut benci apa yang udah dikasih Tuhan buatku gara-gara mereka? Tuhan lebih tahu apa yang terbaik buatku, dibanding mereka yang pas kelas 4 SD ngerjain soal perkalian aja masih nyontek *iya, ini dendam*.

Sekarang, aku gak bilang "I love my lips very much". But, I can say loudly, "I LOVE ME, JUST THE WAY I AM."

Karena Tuhan, gak akan pernah salah cetak. Seburuk apa pun di mata manusia, di mata Tuhan itu hal paling baik yang bisa kamu terima. So, just take and love it :))

Seorang bijak pernah ngomong : "Cintai dirimu, maka orang akan mudah untuk ikut mencintaimu."

Dan dipikir-pikir, kalau aku sendiri aja terganggu sama kekuranganku, gimana orang bisa nerima?
Mereka yang terganggu? Itu mah urusan mereka. Ngapain sini ikut mikir. Iya to? ;)

Yeah. I love myself. Just the way I am :))



Sooo, how about you? ;)



-ep-

Wednesday, February 5, 2014

Nge-Pantai Goa Chin(t)a ~

Udah lama gak ngepost tentang liburan. Mari cerita tentang perjalanan ke Pantai Goa China kemarin. (telat ye? biarin lah. baru inget)

Tanggal 2 November 2013 kemarin, aku sama anak-anak kost akhirnya jadi juga jalan-jalan bareng lagi. Setelah beberapa kali bolak-balik bikin rencana dan batal, rencana kali ini bisa berjalan. Gak lupa juga Pasukan Berani Mati dari mantan tetangga kost-an, yang dihuni pejantan tanggu(ng)h, ikut. Ya iyalah mereka ikut. Yang punya kendaraan mereka-mereka sih. Bhahahahahahaha

Oh, aku punya cerita menarik tentang kost lamaku sama anggota kost cowok-cowok itu. Kisah cinta. Tapi entaran aja, di post yang lain :p

Lanjut lagi....

Kayak biasa, kalau bikin rencana rame-rame, kekancutan pasti terjadi. Apalagi yang melibatkan cowok-cewek. Pertama, aku bangun telat (HAHAHAHAHA), kedua, cowok-cowoknya pada ngaret. Niat awal berangkat jam 6, mundur jadi jam 7.

Berangkat dengan riang gembira, aku pribadi gak tahu bakal sejauh apa perjalanan kali ini. Ternyataaaa.....lumayan banget bikin bokong sakit. Kurang-lebih 3 jam di jok motor, pantat siapa yang bisa tahan????

Tapi, pemandangan yang dilihat pas nyampe, bikin pegel begimana pun hilaaaaanggg......

Cantik, kan?


Nih lagi potonya....


Begitu nyampe, kita langsung siap-siap main air. Air di mana-manaaaaa /o/~~~~~

Pengungsi? BUKAAAANNN!!!!


Oh, sebelum main air, kita makan dulu. Capek di jalan bikin laper. Dan kita bawa bekal!! \O/
Abis itu baru deh main-main air.

Pantainya masih bersiiiihhhh banget. Masih jarang yang datang ke sana karena kebanyakan tahunya Pantai Bale Kambang. Jadi puas deh main-mainnya.

Pantainya disebut Pantai Goa China karena di sana ada goa-nya. Di sana ada papan berisi penjelasan asal-usulnya. Aku sempet baca, tapi lupa --"
Aku sama anak-anak juga sempet masuk, tapi ke bagian mulut goa aja, gak sampe ke dalam. lubang jalannya kecil banget. Kalau nekat, harus jalan berlutut, sampe merayap sekalian. Daripada abis dari sana langsung kena klaustrophobia, mending cukup poto-poto di depannya aja....

Iin - Beti - Me

Sebelum ke goa, aku sama Iin sempet ke bagian lain pantai yang lebih sepi. Dan di sana mulai sok-sok pemotretan gitu deh. Hehehe
Sayang, karena kakinya Iin sakit, jadi dia gak bisa banyak ikutan poto...

HAP HAP HAP!!!


Abis dari pantai itu, kita berniat lanjut ke Pantai Bajul Mati. Dan ..... di sanalah pertualangan sebenarnya dimulai...

Jadi.... karena niatnya cuma mampir bentar doang sebelum balik ke Malang, kita males mau masuk lewat pintu depan karena pasti bakal bayar. Jadilah nyari-nyari jalan di samping-sampingnya. Nemu satu pantai, tapi aku sendiri gak tahu itu pantai yang bener apa bukan. Karena bagus dan gak ada orang selain kita-kita, jadilah mampir. Toh udah lewat, gak rugi ini. Karena kita semua makhluk narsis dan sayang momen, tetep harus diabadikan dong.....

Kayak foto keluarga ya? ._.


Puas poto-poto, kita lanjut jalan lagi...

Di tengah perjalanan, ada yang nyeletukin ide buat mampir lagi ke Bale Kambang. Sebelum itu, mau cari masjid/musolah dulu buat sholat. Entah siapa yang mulai, niat awal nyari jalan pintas malah berakibat.....nyasar.

Tiba-tiba aja kita udah ada di jalan yang jueeeeleeeekkkk buanggeeeettt. Saking jeleknya, arena offroad pun kalah. Dari awal masuk ke jalan itu, aku udah firasat bakal ada yang gak beres. Bener aja. Kita murni nyasar, ntah di mana.

Dalam keadaan bokong udah makin nyut-nyutan, jalanan jelek bikin pantat lompat-lompat di jok dan makin sakit, akhirnya ada satu temen yang ngelihat masjid. Kita pun mampir demi keselamatan bokong masing-masing. Yang sholat, langsung sholat, yang gak sholat (termasuk aku) jadi penjaga barang.

Lucunya, meskipun gak tahu lagi di mana, kita masih bisa ketawa, becanda-becanda, sambil diskusi jalan mana lagi yang harus kita tempuh. Lanjut? Atau balik arah? Karena ngerasa udah jalan jauuuuuhhhh banget, dan yakin bagian depan gak mungkin lebih jauh lagi, kita pun nekat lanjut.

Sebelum ninggalin masjid itu, tetep eksis foto-foto donggsss....

Ini masjid ya.. apa musolah? Gitu deh....

Dari sana, kita beneran lanjut ngikutin jalur jalan jelek itu. Untunglahhhh.... gak lama setelah itu, kita nemu perumahan penduduk. Dila, salah satu temen kost-ku, turun buat nanya ke ibu-ibu yang duduk di depan rumahnya. Dari si Ibu, kita tahu kalau terus jalan lurus, bakal nyampe di Bale Kambang. Dan you knowwww.... kita nemu Bale Kambang dan jalanan beraspal!!!!!
Jadi, kalau tadi gak sotoy mau coba jalan baru, kita bisa nyampe ke Bale Kambang dalam hitungan menit!
Tapi, yasudahlah. Jalan-jalan kalau gak ada ginian itu gak seru. Seenggaknya, dengan gini kan jadi punya cerita :'))))

Niat ke Bale Kambang udah ilang, kita pun mutusin langsung pulang ke Malang. Sebelumnya, karena udah laper lagi, kita mampir ke bakso di daerah Pakis. Baksonya segede bola tenis dan harganya cuma 7ribu! Syurgaaaa, Jendral!

Begitu nyampe rumah, baru segala capek kerasa semua. Tapi, kita seneng. Satu sisi, kita juga nyadar kalau ini kemungkinan besar bakal jadi acara jalan-jalan terakhir dengan personil lengkap. Bener aja. Gak lama abis acara jalan itu, beberapa anak yang ada di foto udah pada merantau, melanjutkan hidup mereka :')

Ehm.... gak kerasa udah empat tahun lebih aku bergaul sama anak-anak ini. Mereka keluarga kecil yang aku temuin selama jadi pendatang di Malang. Aku bersyukur kenal mereka semua. Sampe sekarang, meskipun jarang ketemu, ikatan yang udah kita bangun dari awal masih kerasa.

Semoga... itu buat selamanya :)