Ternyata, jatuh cinta itu ngangenin. Seenggaknya, aku ngerasa gitu. Berawal dari cerita seorang teman, tentang doanya ingin jatuh cinta, dan terkabul. Aku terdiam lama sebelum membalas pesannya.
Aku pernah memanjatkan doa yang sama. Ingin merasakan jatuh cinta lagi. Tapi, Semesta belum ngasih ijin. Mungkin aku masih disuruh menata hati. Mungkin aku belum dipercaya buat sembarang menjatuhkan cinta lagi. Mungkin seseorang itu belum datang.
Mungkin, aku masih disuruh menunggu giliran.
Giliran untuk merasa cinta lagi. Yang utuh. Tanpa cacat atau goresan apa pun.
Mungkin, ini teguran Semesta. Tentang sikap angkuhku pada kesendirian, seakan coba membantah kalau semua orang butuh berpasangan. Semesta yang kesal, membuatku merasa kangen seperti ini.
Oh, aku jatuh cinta setiap hari. Pada kehidupan yang kujalani sekarang. Jatuh cinta yang kurindukan merujuk pada rasa ke lawan jenis. Ngerti, kan? Begitulah.
Ini bukan keluhan. Aku percaya pada Semesta. Dia tidak akan membuatku jatuh pada sosok yang tidak akan menangkapku. Jadi, aku sama sekali tidak bermaksud protes.
Ini cuma cerita.
-ep-
tempat pelampiasan terbaik di kala kepala terlampau penuh, namun mulut terlalu malas/lelah untuk berucap.
Thursday, January 30, 2014
Wednesday, January 29, 2014
Tentang lelaki yang menari di bawah hujan
Bukan. Dia bukan menari. Hanya berputar, entah untuk apa. Semakin
deras rinai yang jatuh, semakin cepat dia berputar. Kepalanya menunduk,
menghindari tetes menyentuh wajah. Apa yang dicarinya? Apa yang dipikirkannya? Berbagai
pertanyaan lain bermunculan. Namun, yang paling ingin kutanyakan sebenarnya,
apa yang dilakukannya?
Itu bukan tarian. Tangannya memang terentang, membiarkan
telapaknya menampung air. Begitu saja. Putaran yang memelan, pertanda dia tahu
hujan segera reda. Benar saja. begitu titik air berhenti jatuh, putarannya
terhenti. Pakaiannya basah kuyup, menempel di badan tegapnya. Kepalanya tidak
lagi menunduk begitu dia berjalan pergi. Meninggalkan sisa hujan.
*
Cappuccino-ku mulai mendingin. Isinya masih sama seperti ketika waiter meletakkannya di depanku. Aku masih
belum mengalihkan pandangandari luar jendela, ke tempat lelaki itu tadi menari.
Atau berputar. Atau … entahlah, melakukan apa pun yang dilakukannya. Itu bukan
pemandangan pertama. Beberapa kali aku berteduh di sini, sambil menikmati
cappuccino panas ketika hujan, dia pasti melakukan ritual yang sama.
Aku melihat lelaki itu melangkah memasuki kafe melalui pintu
belakang. Kutunggu sosoknya muncul, namun, seperti biasa, dia seperti
menghilang. Aku menyesap cappuccino, dan langsung kehilangan minat begitu
mendapati minuman itu sudah terlalu dingin. Mengambil tas kanvas berisi perlengkapan
kerja yang kuletakkan di meja, aku meninggalkan kafe itu, setelah menyempatkan
diri melempar lirikan terakhir ke arah pintu ruang belakang kafe. Dia tetap
tidak muncul.
*
Dia bukan menari. Dia menyembunyikan sesuatu. Seperti menyembunyikan
daun di tengah hutan, dia menyembunyikan air bersama air. Aku tahu sekarang.
Aku berdiri di depannya, ketika dia baru akan berputar. Dia tidak memedulikan
kehadiranku. Tetap berfokus pada ritual hujannya.
Aku mengeluarkan payung lipat. Melindungi tubuhnya dari
serangan hujan. Dia berhenti bergerak, langsung menghadapku.
“Untuk apa?” akhirnya aku bertanya.
“Untuk jiwaku,” jawabnya, lirih. “Hujan mengambilnya. Aku ingin
memintanya kembali.”
Aku tidak mendorongnya lebih jauh untuk bercerita. Kami berdiam
di sana sampai hujan reda. Sampai dia kembali ke ruang belakang kafe, dan aku
kembali ke mejaku, di dekat jendela.
*
Tidak ada sosok yang berputar di bawah hujan kali ini. Itu pertemuan
pertama, sekaligus terakhir, dengannya. Dia tidak akan pernah muncul lagi.
Kenyataan itu sepertinya berpengaruh pada suasana kafe. Cappuccino
kesukaanku terasa hambar. Tidak ada pahit-manis khas cappuccino yang biasa. Aura
kelam memenuhi tempat itu, membuatku tidak betah dan akhirnya memutuskan
keluar.
Saat melewati salah satu jendela di dekat pintu, aku baru
memperhatikan sesuatu. Sebuah potongan koran, tentang kecelakaan tunggal sebuah
motor yang rodanya selip karena jalanan licin saat hujan, hingga terjun ke dasar jurang. Berita itu dilengkapi dengan foto sebuah motor yang sudah tak berbentuk. Di samping
potongan koran, tertempel ungkapan belasungkawa dari pihak kafe, atas
meninggalnya salah satu barista mereka, seorang pembuat cappuccino terenak di
sana. Foto si Lelaki Hujan tertempel di sana. Wajahnya tampak cerah. Dia tersenyum
lebar.
Sekarang aku tahu asal rasa hambar itu. Tuannya sudah pergi.
Segelas cappuccino pun tahu. Tetapi, aku juga tahu sang Tuan tidak bersedih. Doanya
terjawab. Hujan tidak mengembalikan apa yang dipinta, melainkan langsung membuatnya
kembali bertemu jiwanya. Di sana.
*
Malang, 29 Januari 2014
EP
Friday, January 10, 2014
Postingan Absurd Menuju Tengah Malam...
11.09 p.m
(backsound: Wrecking Ball - Miley Cyrus)
Scrolling-scrolling twitter. buka-buka TL sana sini. nothing special. bocen, mak.
blogwalking:
udah lama gak ngebaca blog-blog orang. pas liat @radityadika di TL, langsung meluncur ke TL dia dan iseng buka blognya lagi.
blog Dika sebenernya salah satu blog favoritku. dulu. aku bukan tipe orang yang doyan blogwalking. tapi, beberapa kali ngeklik link web yang muncul di TL.
balik ke blog Dika...
udah berubah. sejujurnya, kangen sama postingan absurd berisi cerita kehidupan sehari-hari dia. sekarang, tetap kehidupan sehari-hari, tapi lebih banyak tentang perkembangan proyek, bukan lagi dalam bentuk "cerita" yang dulu sempat jadi favoritku. sekarang jadi agak ngeboseni, menurutku. untunglah isi TL-nya masih asyik, jadi masih enak di follow...
bener-bener harus beli bukunya kalau mau dapet cerita lagi dari dia.
*waiting....*
11.14 p.m
(backsound: Need You Know - Lady Antebellum)
Sekarang, sebenernya aku lagi di tengah-tengah bikin naskah. proyek baru dan beda dari proyek sebelum-sebelumnya. tetap romance, cuma sasaran pasarnya beda. baru masuk pertengahan bab 3. masih ada banyak bab yang harus ditulis.
semoga sukses!!!
11.18 p.m
(Backsound: Titanium - David Gueta feat. Sia)
bengong.....
Scrolling-scrolling TL lagi....
btw, tadi aku baru kelar nonton ulang Harry Potter and The Half-Blood Prince. tetep aja bikin sedih bagian Dumbledore tewas. inget banget waktu awal baca bukunya sampe nangis dan ngerasa benci banget sama Snape.
11.21 p.m
(Backsound: Tear Drops on My Guitar - Taylor Swift)
Jadi inget....
dari SMP punya obsesi belajar gitar. sempet lancar main kunci, gegara jarang dilatih, lupa lagi. terakhir nyoba mainin gitar adek, jarinya gak nyampe (._. )
komentar kampretnya : "Main ukulele aja udah!"
sialan ...
11.24 p.m
(backsound: Time for Miracle - Adam Lambert)
Nyoba lanjut baca The Darkest Secret-nya Gena Showalter. kenapa harus sepanjang itu sih narasinya? lagi gak mood baca narasi panjang. pengin langsung lompat ke bagian Paris-William-Strider. tapi dosa baca lompat-lompat gitu. mending gak usah baca dari awal .... *iya. cuma omonganku*
oh, lihat sisi positifnya. abis ini giliran ceritanya Strider and then.......finally...... my PARISSSSS :*
*ps: Paris di situ nama orang ya, Ksatria kuno ganteng. bukan nama kota*
11.29 p.m
(backsound: Daylight - Maroon 5)
Tadi sore, menjelang malam gitu, di TL @bentangpustaka bahas tentang senja...
aku pribadi lebih tertarik sama sunrise daripada sunset. ntah kenapa. mungkin karena lebih jarang liat sunrise daripada sunset *kebiasaan abis subuhan lanjut tidur*
tapi sih, kalau bisa aku pengin dapet dua-duanya. awal hari yang indah, ditutup sesuatu yang indah pula.
sekancut apa pun hari, pasti bisa dilewati....
11.33 p.m
(backsound: Never Knew I Needed - Ne Yo)
Baca-baca goodreads. serem juga ya kalau dapet kritik pedas di tempat umum gitu. aku terbuka sama kritikan buat karya yang aku tulis. tapi, semua diomongin secara pribadi. ntah lewat email, SMS, DM twitter, atau BBM. jadi pecutan juga sih biar terus berusaha ngasih karya terbaik...
tapi, sebenernya, semua penulis pasti udah ngusahain yang terbaik selama proses bikin karyanya. ada baiknya dihargai dengan kritik pake cara yang baik. menurutku sih....
11.37 p.m
(backsound: Dangerous and Sweet - Lenka)
*bengong lagi*
*nyoba lanjutin naskah*
11.40 p.m
(backsound: Only Hope - Mandy Moore)
*masih lanjutin naskah*
11.44 p.m
(backsound: Make You Feel My Love - Adele)
Adegannya lagi pas!
*tetep lanjut*
ehm, lagi ngumpulin daftar pertanyaan...
kalau pasangan tanya, "kenapa kamu masih mau jalin hubungan sama aku", harus jawab apa?
apa arti komitmen?
mana yang lebih penting. cinta atau komitmen?
'perkembangan' yang biasanya ada dalam hubungan itu yang gimana aja?
de el el.....
*mikir sampe besok*
11.48 p.m
(backsound: Try - P!nk)
Iseng buka Twitter lagi. ada yang ngepost gambar horor.
damn you, Sir!
yeah.
damn you!!!
jadi pengin bahas fobia.
katanya, gak sembarang ketakutan itu bisa disebut fobia. aku sih belum pernah periksa, tapi cukup yakin kalau aku punya ketakutan berlebihan akan sesuatu.
....
....
....
kehilangan kamu, misalnya. *digampar* *garing lu, nyet!* *mati caja cana!!!*
11.52 p.m
(backsound: Nobody's Perfect - Jessie J)
Mau di bawa ke manaaaa si naskah iniiiiii.......
yang lucu dari proses nulis, kadang tokoh seolah punya keinginan sendiri. gak jarang cerita yang aku rencanain di awal, berubah pas proses nulis. kadang, apa yang dipengin si tokoh, lebih enak daripada rencanaku.
jadi, waktu stuck, biarin tokoh yang beraksi.
lemahnya, kadang mereka gak terkontrol dan tiba-tiba ceritanya udah melalang buana ke mana-mana ._.
11.56 p.m
(backsound: Before The Worst - The Script)
Global TV pilem apa sih ini?
btw, TVku masih pake antena dalam. kemaren siarannya lumayan. walaupun ada semut-semut di tipi, gak parah-parah banget.
pas Tante mau main ke kos, otomatis beres-beres kamar. termasuk antena yang debunya bisa masuk pabrik bedak, dibersihin semua.
yang terjadi selanjutnya......begitu debu pergi, antena cling, semua gambar tipi rusak parah! semutnya bukan cuma muncul dikit, tapi menuhin tipi sampe gambarnya nyaris gak keliatan lagi.
dosa apa.....
11.59 p.m
(backsound: Mr. Know It All - Kelly Clarkson)
*countdown.....*
12.00 a.m
(backsound: idem)
Selamat ulang bulan ketujuh, Bjorn Arjun.
kucing paling ganteng sejagat raya! :*
12.05 a.m
(backsound: If Life is So Short - The Moffatts)
Kelar milih-milih foto + upload foto Oyon...
Markiduuuurrrrr..... :*
(backsound: Wrecking Ball - Miley Cyrus)
Scrolling-scrolling twitter. buka-buka TL sana sini. nothing special. bocen, mak.
blogwalking:
udah lama gak ngebaca blog-blog orang. pas liat @radityadika di TL, langsung meluncur ke TL dia dan iseng buka blognya lagi.
blog Dika sebenernya salah satu blog favoritku. dulu. aku bukan tipe orang yang doyan blogwalking. tapi, beberapa kali ngeklik link web yang muncul di TL.
balik ke blog Dika...
udah berubah. sejujurnya, kangen sama postingan absurd berisi cerita kehidupan sehari-hari dia. sekarang, tetap kehidupan sehari-hari, tapi lebih banyak tentang perkembangan proyek, bukan lagi dalam bentuk "cerita" yang dulu sempat jadi favoritku. sekarang jadi agak ngeboseni, menurutku. untunglah isi TL-nya masih asyik, jadi masih enak di follow...
bener-bener harus beli bukunya kalau mau dapet cerita lagi dari dia.
*waiting....*
11.14 p.m
(backsound: Need You Know - Lady Antebellum)
Sekarang, sebenernya aku lagi di tengah-tengah bikin naskah. proyek baru dan beda dari proyek sebelum-sebelumnya. tetap romance, cuma sasaran pasarnya beda. baru masuk pertengahan bab 3. masih ada banyak bab yang harus ditulis.
semoga sukses!!!
11.18 p.m
(Backsound: Titanium - David Gueta feat. Sia)
bengong.....
Scrolling-scrolling TL lagi....
btw, tadi aku baru kelar nonton ulang Harry Potter and The Half-Blood Prince. tetep aja bikin sedih bagian Dumbledore tewas. inget banget waktu awal baca bukunya sampe nangis dan ngerasa benci banget sama Snape.
11.21 p.m
(Backsound: Tear Drops on My Guitar - Taylor Swift)
Jadi inget....
dari SMP punya obsesi belajar gitar. sempet lancar main kunci, gegara jarang dilatih, lupa lagi. terakhir nyoba mainin gitar adek, jarinya gak nyampe (._. )
komentar kampretnya : "Main ukulele aja udah!"
sialan ...
11.24 p.m
(backsound: Time for Miracle - Adam Lambert)
Nyoba lanjut baca The Darkest Secret-nya Gena Showalter. kenapa harus sepanjang itu sih narasinya? lagi gak mood baca narasi panjang. pengin langsung lompat ke bagian Paris-William-Strider. tapi dosa baca lompat-lompat gitu. mending gak usah baca dari awal .... *iya. cuma omonganku*
oh, lihat sisi positifnya. abis ini giliran ceritanya Strider and then.......finally...... my PARISSSSS :*
*ps: Paris di situ nama orang ya, Ksatria kuno ganteng. bukan nama kota*
11.29 p.m
(backsound: Daylight - Maroon 5)
Tadi sore, menjelang malam gitu, di TL @bentangpustaka bahas tentang senja...
aku pribadi lebih tertarik sama sunrise daripada sunset. ntah kenapa. mungkin karena lebih jarang liat sunrise daripada sunset *kebiasaan abis subuhan lanjut tidur*
tapi sih, kalau bisa aku pengin dapet dua-duanya. awal hari yang indah, ditutup sesuatu yang indah pula.
sekancut apa pun hari, pasti bisa dilewati....
11.33 p.m
(backsound: Never Knew I Needed - Ne Yo)
Baca-baca goodreads. serem juga ya kalau dapet kritik pedas di tempat umum gitu. aku terbuka sama kritikan buat karya yang aku tulis. tapi, semua diomongin secara pribadi. ntah lewat email, SMS, DM twitter, atau BBM. jadi pecutan juga sih biar terus berusaha ngasih karya terbaik...
tapi, sebenernya, semua penulis pasti udah ngusahain yang terbaik selama proses bikin karyanya. ada baiknya dihargai dengan kritik pake cara yang baik. menurutku sih....
11.37 p.m
(backsound: Dangerous and Sweet - Lenka)
*bengong lagi*
*nyoba lanjutin naskah*
11.40 p.m
(backsound: Only Hope - Mandy Moore)
*masih lanjutin naskah*
11.44 p.m
(backsound: Make You Feel My Love - Adele)
Adegannya lagi pas!
*tetep lanjut*
ehm, lagi ngumpulin daftar pertanyaan...
kalau pasangan tanya, "kenapa kamu masih mau jalin hubungan sama aku", harus jawab apa?
apa arti komitmen?
mana yang lebih penting. cinta atau komitmen?
'perkembangan' yang biasanya ada dalam hubungan itu yang gimana aja?
de el el.....
*mikir sampe besok*
11.48 p.m
(backsound: Try - P!nk)
Iseng buka Twitter lagi. ada yang ngepost gambar horor.
damn you, Sir!
yeah.
damn you!!!
jadi pengin bahas fobia.
katanya, gak sembarang ketakutan itu bisa disebut fobia. aku sih belum pernah periksa, tapi cukup yakin kalau aku punya ketakutan berlebihan akan sesuatu.
....
....
....
kehilangan kamu, misalnya. *digampar* *garing lu, nyet!* *mati caja cana!!!*
11.52 p.m
(backsound: Nobody's Perfect - Jessie J)
Mau di bawa ke manaaaa si naskah iniiiiii.......
yang lucu dari proses nulis, kadang tokoh seolah punya keinginan sendiri. gak jarang cerita yang aku rencanain di awal, berubah pas proses nulis. kadang, apa yang dipengin si tokoh, lebih enak daripada rencanaku.
jadi, waktu stuck, biarin tokoh yang beraksi.
lemahnya, kadang mereka gak terkontrol dan tiba-tiba ceritanya udah melalang buana ke mana-mana ._.
11.56 p.m
(backsound: Before The Worst - The Script)
Global TV pilem apa sih ini?
btw, TVku masih pake antena dalam. kemaren siarannya lumayan. walaupun ada semut-semut di tipi, gak parah-parah banget.
pas Tante mau main ke kos, otomatis beres-beres kamar. termasuk antena yang debunya bisa masuk pabrik bedak, dibersihin semua.
yang terjadi selanjutnya......begitu debu pergi, antena cling, semua gambar tipi rusak parah! semutnya bukan cuma muncul dikit, tapi menuhin tipi sampe gambarnya nyaris gak keliatan lagi.
dosa apa.....
11.59 p.m
(backsound: Mr. Know It All - Kelly Clarkson)
*countdown.....*
12.00 a.m
(backsound: idem)
Selamat ulang bulan ketujuh, Bjorn Arjun.
kucing paling ganteng sejagat raya! :*
12.05 a.m
(backsound: If Life is So Short - The Moffatts)
Kelar milih-milih foto + upload foto Oyon...
Markiduuuurrrrr..... :*
Tuesday, January 7, 2014
I'm just a little bit afraid (#9)
Saka menahan tanganku. Aku sudah melihatnya mendekat
tadi. Seperti yang biasa terjadi belakangan ini, semenjak kejadian konyol dan
menyebalkan beberapa hari lalu, aku tidak berani berhadapan dengannya. Terang saja aku
menjauhinya. Mumpung harga diriku masih bisa diselamatkan.
“Kamu kenapa sih?”
Nada yang tidak pernah kudengar sebelumnya, kali ini
keluar. Dia marah. Kenapa harus marah coba? Seharusnya aku yang marah dan
mengutuknya sekarang. Bukan dia yang sudah mempermalukan diri dengan begitu
bodohnya tempo hari.
“Aku nggak pengin main drama-dramaan sama kamu, Fik.
Kalau aku ada salah, bilang sekarang. Jelasin. Jangan main kabur-kabur,
lari-larian, kayak anak kecil gitu.”
“Kenapa kamu peduli?”
Dahi Saka berkerut. “Peduli apa? Peduli kamu ngejauhin
aku?” tanyanya. “Ya jelas lah! Kamu tiba-tiba menghindar, aku nggak tau udah
bikin salah apa. Gimana aku bisa nggak peduli?”
“Temen kamu banyak, kan? Aku jauh nggak ngaruh apa-apa
seharusnya,” balasku, masih menghindari tatapannya. Aku berusaha melepaskan
pegangan tangan Saka, tapi sia-sia. Dia masih menahan tanganku dengan erat.
“Anita sama Sara udah nunggu. Lepasin,” pintaku.
"Nggak, sebelum kamu berenti bertingkah kekanakan
gini!"
"Kekanakan?" Aku menatapnya, mulai kesal.
"Oke. Kamu mau tau kenapa aku ngejauh? Karena aku malu!"
Kerutan di dahi Saka makin dalam. "Kenapa kamu harus
malu?"
Aku menatapnya tidak percaya. Lelaki ini memang tidak
tahu, atau pura-pura bodoh untuk memancing kekonyolanku selanjutnya?
Dengan tergagap, masih menahan kesal, aku mengulang
kejadian telepon malam itu. Mataku panas, namun aku tidak mengijinkan setitik
air pun jatuh. Tidak akan pernah di depannya.
"Nah! Udah! Puas sekarang?" Aku menatap
langsung matanya sekilas, sebelum menghentakkan tanganku dari genggamannya.
Begitu terbebas, aku langsung berlari menjauhinya.
Saka tidak menyusul. Aku tidak berani menoleh. Dia akan
tau aku berharap dikejar lagi kalau sampai menoleh. Iya, kalau dia berniat
mengejar. Kalau tidak? Aku hanya semakin mempermalukan diri.
Kuurungkan niat ke kantin begitu melewati perpus, dan
berbelok ke sana. Suasana perpustakaan yang sepi lebih kubutuhkan daripada
keramaian kantin. Aku mengisi buku tamu, sebelum mendekati rak sastra dan
mengambil satu buku secara acak. Aku tidak benar-benar ingin membaca
sebenarnya.
Ponselku bergetar, begitu aku baru membolak-balik buku
yang kuambil. Mengira pesan dari Sara atau Anita, aku mengeluarkan benda mungil
itu dari saku rok. Memang ada pesan singkat. Namun, bukan dari Sara atau Anita.
From: Saka
Kita perlu ngomong.
Please? Di mana kamu?
Aku menghela napas pelan. Apalagi yang harus dibicarakan
coba? Apa dia kurang puas melihatku mempermalukan diri di depannya?
Tanpa membalas SMS itu, aku mengembalikan ponsel ke dalam
saku. Tentu saja setelah itu ponselku terus bergetar, menandakan ada panggilan
masuk. Aku mengabaikan semuanya. Hingga bel istirahat selesai berbunyi, aku
kembali ke kelas tanpa berniat mengecek ponsel.
Langkahku terhenti saat melihat Saka berdiri di dekat
pintu kelasku. Dia masih menunduk, menghadapi ponsel. Aku baru akan kabur,
begitu Anita dan Sara muncul dari belakang dan menyebut namaku cukup keras. Aku
melihat Saka menoleh ke arah kami.
"Ke mana kamu? Ditungguin di kantin malah nggak
muncul," ujar Anita.
"Ada pemandangan lucu lho tadi," Sara
menambahkan. "Tau Dika, kan? Anak kelas sebelas yang imut banget itu? Dia
ditembak Silvi!" Dia berkata dengan nada seolah itu berita penting yang
wajib diketahui masyarakat sedunia. "Gila ya? Nekat juga si Silvi. Padahal
dia cewek, kakak kelas pula."
"Gitu kalau udah cinta. Mana peduli batasan,"
komentar Anita.
Aku tidak terlalu mendengarkan mereka berdua begitu
melihat Saka meninggalkan posisi bersandarnya, dan mulai berjalan ke arah kami.
Ocehan Anita dan Sara sontak berhenti ketika Saka sudah
berdiri di depan kami. Tepat di depanku, sebenarnya. Tanpa aba-aba, kedua
sahabatku itu menjauh, lebih dulu masuk kelas. Aku bergeser ke kiri, Saka ikut
bergeser. Ketika aku ke kanan, Saka juga ke arah sana. Menghela napas, aku
menatapnya.
"Apa lagi? Kan, udah aku jelasin tadi."
"Ya. Kamu yang belum ngasih kesempatan aku buat
jelasin."
"Udah bel masuk. Nggak usah kayak anak kecil deh,
bolos gara-gara masalah nggak jelas gini." Aku mendorong tubuhnya supaya
memberiku jalan.
Saka membiarkanku melewatinya dan masuk ke kelas. Aku
tahu, dia tidak melepaskanku sepenuhnya.
Benar saja. Saat bel pulang berbunyi, sebelum guru
mempersilakan kami keluar, Saka sudah berderap masuk ke kelasku. Dia membungkuk
sopan pada guru, sebelum menyambar tanganku dan menariknya keluar. Masih dalam
posisi kaget, aku mengikutinya.
"Aku suka sama kamu," ucapnya, begitu kami berhenti
di halaman parkir yang belum terlalu ramai. "Paham?"
"Nggak," jawabku, jujur. "Baru beberapa
hari lalu kamu bilang kita nggak ada apa-apa. Kalo tujuan kamu bilang suka cuma
karena nggak enak sama aku, nggak perlu. Aku nggak apa-apa."
"Siapa yang bilang kita nggak ada apa-apa?"
Saka mulai mengomel. "Siapa yang bilang suka cuma karena nggak enak? Kamu
salah paham dan ngambil kesimpulan seenaknya."
"Kepala kamu abis kejedot tembok apa gimana
sih?" aku bertanya, sebal. "Pas aku tanya kita gimana, kamu sendiri
yang jawab, 'kita kenapa', seolah emang nggak ada apa-apa. Yah, kita emang
nggak ada apa-apa. Ya udah!"
"Aku beneran bingung waktu itu!" Saka
berteriak, ikut kesal. "Kamu tiba-tiba nanya kita gimana, ya aku balik
tanya kita kenapa. Terus tiba-tiba kamu mutusin teleponnya gitu aja, nggak bisa
dihubungi lagi, ngejauh kayak aku sumber penyakit menjijikan ...."
Aku melongo, tidak tahu harus menjawab apa.
"Aku nggak ngerti bahasa cewek! Jangan pake
kode-kodean gitu. Kalau emang mau tau perasaanku, ya tanya langsung!"
"Ya mana mungkin aku nanya gamblang gitu! Malu,
tauk!"
Saka mendengus keras, membuatku yakin ada asap keluar
dari lubang hidungnya. "Aku lupa cewek harus serba pasti," dumelnya.
"Aku pikir kamu udah paham tanpa harus ngomong macam-macam. Aku pikir
tanpa acara tembak-tembakan kayak anak SD, kita udah ...."
Aku melihat wajahnya memerah.
"Aku suka sama kamu, Fika," ujar Saka, pelan.
"Maaf udah bikin kamu bingung."
Aku diam sejenak, menatap mata Saka, mencari kejujuran di
sana. Wajah Saka masih kemerahan. Ekspresi kesalnya sedikit berkurang.
"Aku juga suka sama kamu," balasku, pelan.
"Aku tau," gumam Saka. "Makanya kamu malu,
nggak mau ketemu lagi pas ngira kalau aku nggak ada rasa apa-apa sama kamu.
Iya, kan?"
Aku meninju bahunya sebagai balasan. Tepat setelah itu,
sorak tepuk tangan bercampur ledekan 'ciyeee' meledak di sekitar kami. Entah
sejak kapan, perang adu mulutku dan Saka jadi tontonan di tempat parkir.
Wajahku otomatis memerah dan bersiap pergi dari sana.
Saka menahan tanganku. "Mau ke mana lagi sih?"
omelnya. Wajahnya juga tampak merah, namun dia hanya mengusir orang-orang itu
dengan lagak tidak peduli.
"Ya pulang. Ke mana emangnya?" balasku,
dongkol.
"Tunggu di sini. Aku ambil motor dulu. Nggak usah ke
mana-mana!"
Aku memutar bola mata. "Iyaa ...."
Motornya terparkir tidak jauh dari tempat kami adu mulut
tadi. Begitu aku sudah berada di boncengannya, dia menjalankan motornya
perlahan.
"Besok-besok, kalo ada apa-apa, tanya langsung.
Nggak usah kasih-kasih kode." Aku mendengar Saka bersuara cukup keras,
mengalahkan bunyi mesin kendaraan di sekitar kami.
Aku hanya tersenyum kecil, seraya melingkarkan tanganku
di pinggangnya, dan membenamkan kepala di punggungnya.
to be continued…
Tuesday, December 31, 2013
NewBorn: #CrazyLove: LDR (kejadian di balik layar)
Setelah kelahiran Lovhobia Maret kemarin, akhirnya di
penghujung tahun ini aku melahirkan satu tulisan lagi. Kali ini ada yang
istimewa. Bukan proyek solo kayak dua anak sebelumnya, tapi proyek bareng.
Kumpulan novela dari 5 penulis Bentang Belia dengan tema besar LDR. Ini dia
penampakannya :
unyu ye?
Sebelum mulai cerita di balik proses pembuatannya, mari
dibaca dulu sinopsisnya :
Bagaimana pun
ditiadakan, jarak akan tetap ada.
Apa yang terjadi
bila kesetiaan dan pengkhianatan berjalan tak seimbang dalam satu hubungan?
Bisakah menjaga
hati hanya dengan saling percaya dan bisa dipercaya?
Dan, akankah jarak
mampu menjawab semua keraguan yang ada?
Temukan 5
perjuangan hubungan jarak jauh yang akan membawamu pada pergolakan hati akan
keputusasaan hubungan, perdebatan, pengkhianatan, dan percaya-tidak percaya
yang berjalan seiringan dengan keteguhan, kemantapan, serta rasa tak ingin
kehilangan dalam jarak yang terbentang.
Hmmm…
LDR alias Long
Distance Relationship selalu punya makna sendiri buatku. Itu yang bikin aku
terobsesi banget pengin nulis dengan tema ini. Sebelumnya, selalu gagal. Entah
udah berapa draft calon novel yang
aku tulis, nggak ada yang sukses. Ada yang stuck
di tengah, ada yang file-nya ilang
gara-gara laptop rusak, dan sebagainya. Semesta kayak nggak ngasih izin aku
buat ngubek-ngubek hal itu lagi.
Nyerah? Yup! Capek juga akhirnya. Kalau emang bakal jadi,
suatu saat aku bakal bisa nulis dengan tema ini.
Semesta akhirnya ngasih restu lewat Mbak Dila, editorku.
Berawal dari surel Mbak Dil, segala doaku kayak terjawab *lebay ye. Bodo*
Jadi gini …
Di suatu sore, waktu aku lagi duduk-duduk santai sambil
karaokean nggak jelas di kamar, bebe-ku bunyi. Notif email baru. Alamat pengirimnya dari Bentang Belia. Penasaran, aku
bacalah itu email. Isinya kurang lebih
tawaran buat nulis novela bareng penulis Bentang Belia lain dengan tema yang
sudah ditentukan.
And, you know, dua tema yang ditawari Mbak
Dil bikin aku galau setengah mampus!
Tema pertama : LDR
Tema kedua : Move On
How kampret it is,
right? Dua-duanya bisa dibilang
sebagai tema sakral buatku. Mbak Dil minta kami-kami milih satu tema dan tulis
cerita maksimal 40 halaman. FYI, aku sedikit bermasalah sama tulisan yang
jumlah halamannya terbatas. Itu yang jadi alasanku sering gagal bikin cerpen
*nangis*
Yahh… karena aku perempuan yang cukup keras kepala dan
nekat, mengabaikan jumlah halaman biar nggak jadi penghalang, aku mau gabung ke
proyek itu.
Pertanyaan kedua … tema mana yang harus kupilih?
Kayak yang aku bilang sebelumnya, kedua tema itu sakral.
Aku MAU BANGET nulis dua-duanya. Tapi, karena nggak boleh maruk, jadi pilih
satu. Pilihan dari awal condong ke LDR. Tapi, aku ragu. Gile ya, bok!
Bolak-balik nyoba bikin tema itu, SELALU GAGAL! Apa ada jaminan kali ini bakal
berhasil? Pake batasan halaman seiprit pula. Dan juga, ini bukan proyek iseng
yang aku bikin bolak-balik kemarin. Tapi proyek beneran. Sempet pertimbangin
Move On, kali aja bakal lebih asoy. Tapi sama aja. Hati ujung-ujungnya balik ke
LDR. Akhirnya, mengikuti kata hati, aku pilih LDR.
Selesai? Oh… belum. Jangan buru-buru gitu lah.
Sinopsis pertama yang aku bikin, ditolak Mbak Dil. Nggak
ditolak mentah-mentah sih. Tapi banyak catatan di sana-sini, yang diakhiri
dengan, “ada ide lain?”
Aku anggap itu berarti ide awal ceritaku emang nggak
layak-layak banget.
Galau part
sekian kembali. Keteguhan hati yang tadinya emang belom banyak-banyak banget
buat nulis tema itu, makin merosot. Keyakinan di kepala kalau aku emang NGGAK
BISA nulis tema itu makin meningkat. Saya FRUSTRASIIIII!!!
Nih tema bener-bener bikin aku ngerasa terintimidasi.
Sempet kepikiran buat mundur aja, atau pindah ke Move On, tapi akal sehat nggak
ngijinin. Segitu doang udah nyerah, berhenti aja jadi penulis. *akal sehatku
emang suka kejam* *sigh*
Sempet bengong lama buat mikirin ide cerita apa yang mau
aku bikin. Pake mikir juga, apa yang bikin aku susah banget buat ‘akrab’ sama
tema ini. Karena masa lalu kah? Pleaaasseeee!!!
Penting amat tuh masa lalu sampe bisa ngehalangin niat muliaku! Cih! *dikeplak
tiket pesawat*
Dan, you know,
aku akhirnya tahu apa yang bikin susah.
Karena aku terlalu terobsesi. Aku terlalu ambisius buat
sukses bikin tema itu. Punya ambisi nggak salah. Terlalu ambisius yang bisa
jadi masalah.
Dengan menurunkan ego, aku coba lagi semuanya dari awal.
Kali ini, aku ngelakuin semuanya murni dengan senang hati, nggak cuma
melibatkan ambisi. Aku coba berenti buat terobsesi sama tema itu. Pelan-pelan,
pendekatan.
Yah, samalah kayak kalo lagi pedekate sama lawan jenis,
pas kamu terlalu bernapsu, dia bakal kabur. Tapi, kalau kamu pelan-pelan dan
pedekate dari hati, bisa lebih enak.
Itu juga yang aku alami sama tema ini. Dia nolak aku
deketin dengan obsesi, ambisi, dan ego tinggi yang bercampur. Dia mau
pelan-pelan dateng begitu aku nurunin tameng ego, ganti obsesi liar dengan niat
hati, dan nahan ambisi.
Nggak perlu aku jelasin gimana bahagia, seneng, gembira,
dan bangganya aku waktu berhasil nyelesain cerita ini. Aku cuma butuh
melibatkan hati.
Nulis, mungkin emang pekerjaan otak, tapi hati yang jadi
bos. Kalau hati nggak terlibat, apa pun yang kamu bikin terasa salah.
Akhirnya satu keinginan besarku terlaksana.
Mungkin, apa yang aku tulis ini bukan tulisan sempurna.
Tapi, percaya deh, aku udah ngeluarin semua yang terbaik buat cerita ini.
Apa aku inget masa lalu pas nulis?
YA IYALAAAHH! MENURUT LO?
LDR = masa lalu, buatku. Bahas LDR, ya bahas masa lalu.
Dan aku bersyukur. Tanpa masa lalu itu, mungkin aku nggak akan ada ikatan batin
sama LDR. Kalo sampe gitu, mungkin aku nggak akan kepikiran bikin tema ini. Itu
berarti, cerita ini mungkin nggak akan pernah lahir.
Tapi jangan takut. Kalian nggak akan baca ‘diary Elsa’ dari ceritanya, karena
semua murni fiktif. Remember, aku
NGGAK AKAN PERNAH masukin adegan pribadi yang pernah aku alami sendiri ke
novel. Terinspirasi, yap. Masukin sama persis, nope. Terlalu … pribadi :p
Akhir kata … selamat menikmati "sMiles". Mari berkenalan dengan Zarina Aryesti
(Arine) dan Biru Adyaksa (Biru), dua pejuang LDR yang mewakili aku, isi hatiku,
dan pikiran liarku.
Semoga kalian terhibur :))
Salam sayang,
Elsa Puspita, M.P.L, C.D.L
Mantan Pejuang LDR, Calon Duta LDR B)
Subscribe to:
Posts (Atom)

