Saturday, March 12, 2011

chapter 7 (una)

Bab 7

Suasana Benteng Kuto Besak (BKB) malam ini tampak ramai. Yah… seperti biasa yang terjadi di malam minggu, kali ini pun tempat itu penuh dengan sejoli ABG yang asik pacaran. Di salah satu stand makanan ringan tampak Ranti dan Yayan. Keduanya sedang ngobrol seru sambil tertawa-tawa.

“Ampera kalo udah malem gini indah juga ya?” ujar Ranti sambil menatap jembatan yang menjadi ciri khas kota Palembang itu.

“Iya. Apalagi sungai musi-nya. Nggak keliatan kayak kolam susu,” tambah Yayan.

Ranti tertawa kecil. “Sayang Iluv nggak bisa ikut,” ucap Ranti sambil membuka cokelatnya.

“Sekali-kali duaan nggak salah kan?” balas Yayan.

Ranti menoleh. “Kalo ada yang bilang kita pacaran gimana? Enak aja. Kalo aja nggak bosen di rumah terus, aku males duaan sama kamu.”

“Gitu ya?” tanya Yayan.

Ranti menatap Yayan dengan bingung. Ada yang aneh pada Yayan malam ini. Cowok itu tampak agak kikuk dan tegang, tidak santai dan konyol sepeti biasa. Tidak ada banyolan atau lelucon garing yang meluncur dari mulutnya. Bahkan, untuk malam ini Yayan terkesan pendiam.

“Kamu sakit?” tanya Ranti. “Kalo nggak enak badan, kita pulang aja yuk. Aku nggak papa kok.”

Yayan langsung menggeleng cepat. “Bukan…” ucapnya. Kegugupannya makin kentara.

“Yan?” alis Ranti menyatu bingung. “Kamu kenapa sih?”

“Aku mau ngomong sama kamu.”

Kalau saja cowok yang ada di depannya ini bukan Yayan, Ranti pasti mengira akan ada pernyataan cinta untuk dirinya. Tapi, karena ini Yayan, Ranti bingung apa yang akan dikatakan cowok itu.

“Ngomong aja. Nggak ada yang larang kok. Kenapa?”

“Ng… sebenernya aku lagi naksir sama cewek.”

“Terus?”

“Aku bingung gimana cara ngomongnya.”

Ranti diam. Entah kenapa, dia sedikit kesal mendengar Yayan naksir cewek lain. Ini berarti akan ada orang lain yang berkumpul dengan mereka setelah lima belas tahun bersahabat. Apa kata Iluv kalau dia mendengar ini? Yang pasti, Iluv akan meledek Yayan habis-habisan.

“Ran…”

Ranti menoleh. “Yah… sebagai cowok kamu harus ngomong sama dia.”

“Harus ngomong ya?” tanya Yayan. “Nggak bisa lewat tindakan aja gitu?”

“Tindakan?” Ranti makin bingung.

Yayan menjawab kebingungan Ranti itu dengan mengecup kening gadis itu sekilas. Ranti terperanjat.

“Kayak gitu…” ucap Yayan dengan wajah merah.

“Maksudnya…? Kamu…”

Yayan mengangguk. Tidak berani menatap Ranti.

“Tap… tapi… kita kan sahabat?”

“Aku juga nggak tau sejak kapan. Yang jelas, di mata aku, kamu beda. Aku sayang sama Iluv, tapi sebatas adik-kakak. Tapi, buat kamu, aku ngerasa sayang yang beda.”

Wajah Ranti ikut memerah. Dia sangat tidak menyangka kalau Yayan, sahabat yang sudah dikenalnya seumur hidup, jatuh cinta padanya.

“Tapi, Yan, kita kan sahabat.”

“Emang ada larangan ya nggak boleh pacaran antar sahabat?”

“Bukan gitu,” ucap Ranti. “Aku udah anggep kamu kayak saudara sendiri. Aneh aja kalo tiba-tiba kita pacaran.”

“Kamu suka cowok lain?”

“Bukan gitu,” bantah Ranti. “Maksud aku, kita udah cocok sahabatan. Aku nggak mau hubungan kita rusak gara-gara hal lain.”

“Aku nggak bisa ngelarang hati aku buat cinta sama kamu, Ran. Kamu pikir kenapa aku nggak pernah ngelirik cewek-cewek? Nggak pernah coba deketin cewek lain? Karena aku sayang kamu.”

“Gimana sama Iluv?”

“Kenapa? Iluv tetap sahabat kita.”

Ranti menggeleng. “Aku nggak bisa,” ucapnya seraya berlari pelan meninggalkan Yayan.

Yayan terpaku di tempatnya.

^^.

Iluv mengamati Ranti dan Yayan dengan seksama. Ada yang aneh dengan dua sahabatnya itu. Minggu pagi ini mereka berkumpul di rumah Iluv untuk merayakan kebebasan Iluv atas Jessi.

“Kalian lagi berantem ya?” tanya Iluv.

“Nggak,” jawab Ranti dan Yayan kompak. Keduanya saling pandang sebentar, lalu saling membuang muka.

“Tuh kan. Aneh. Ada yang kalian sembunyiin dari aku ya?”

“Nggak ada!” ucap keduanya serempak.

“Oh ya?” selidik Iluv.

Tidak ada yang menjawab. Iluv tidak memaksa. Dia bangkit menuju dapur untuk mengambil minuman dan cemilan. Mama dan papanya sedang pergi untuk membantu Om Gerald menyiapkan fashion show malam ini. Sebenarnya hanya mamanya yang membantu. Papa hanya bertugas sebagai supir sekaligus pengawal Mama.

Tak lama kemudian Iluv kembali ke ruang tengah. Dilihatnya Ranti dan Yayan hanya saling diam. Ranti pura-pura membaca majalah, sementara Yayan membaca komik.

“Aku baru tau kalo kamu bisa baca komik terbalik,” ucap Iluv pada Yayan.

Yayan nyengir sambil membenarkan posisi komiknya.

“Dan aku juga baru tau kalo kamu suka baca majalah politik, Ran.”

“Hah?” Ranti melihat judul majalah yang dibacanya. Wajahnya bersemu merah.

“Sekarang jangan bohong lagi! Apa yang kalian sembunyiin dari aku?”

“Nggak ada,” jawab Ranti. “Iya kan, Yan?” sambungnya tanpa menatap Yayan.

“Iya,” balas Yayan. “Emang kenapa sih?”

“Nggak perlu orang pinter buat bilang kalo kalian hari ini ANEH!”

“Biasa aja kok,” ucap Ranti. “Udah deh. Daripada ngomongin aku sama Yayan yang emang nggak ada apa-apa,” dia melirik Yayan sekilas, lalu kembali menatap Iluv. “Mending kita ngomongin kamu sama Vedo. Gimana?”

“Gimana apanya? Mulai aja belum. Aku udah nyia-nyiain waktu dua minggu! Pokoknya, sekarang aku harus bener-bener beraksi!”

Ranti menghela nafas lega karena Iluv termakan pancingannya. Yayan juga merasa lega karena Iluv sudah membahas hal lain. Namun, ternyata dugaan mereka meleset.

“Jangan bilang kalo kalian sekarang pacaran!” semprot Iluv membuat Ranti dan Yayan kompak ternganga.

^^.

Suasana atrium Hotel Aston tampak gemerlap. Fashion show dari Evlyn Agency yang bertema ‘Gaun Musim Semi’ akan diadakan di sini. Acaranya dimulai jam tujuh. Iluv mengajak Ranti dan Yayan jalan-jalan di Palembang Square (PS) karena baru jam lima. Khusus untuk acara ini dan untuk menghormati Om Gerald, Iluv bersedia tampil sedikit berbada. Tidak sampai memakai gaun. Dia hanya memakai tube dress selutut dan high heels setinggi tujuh senti.

“Mau makan, Luv?” tanya Yayan.

“Nggak. Mau beli sandal lepek. Kaki aku udah sakit,” jawab Iluv sambil berjalan cepat menuju salah satu toko sepatu dan sandal.

“Udah lancar pake hak-nya,” goda Ranti yang berjalan di samping Yayan.

“Diem deh,” omel Iluv. “Kalian jangan duaan gitu dong! Aku nggak mau jadi obat nyamuk!”

Yayan nyengir. Dia langsung merangkul Ranti, membuat Iluv makin kesal. Ranti melepas rangkulan Yayan dan berjalan di samping Iluv.

“Berkat aku juga kalian tuh bisa jadian! Kalo nggak, kamu bakal nangis darah karena Ranti lebih milih aku!” semprot Iluv pada Yayan.

“Iya…” ucap Yayan. “Makasih, Princess.”

Iluv berbalik geram. “Kamu tau kan aku paling nggak suka dipanggil itu?”

Yayan nyengir lagi. Dia makin semangat menggoda Iluv.

“Udah deh, Yan. Nggak lucu,” omel Ranti.

Yayan berhenti. Iluv tersenyum kecil. Dari dulu memang hanya Ranti yang bisa mengatur tingkah laku Yayan dan Yayan sendiri memang hanya mau nurut dengan ucapan Ranti.

Setelah mendapatkan sandal, Iluv mengajak Yayan dan Ranti makan di Bakso Lapangan Tembak.

“Katanya cuma mau beli sandal…” ledek Yayan.

“Kamu bayar sendiri!” semprot Iluv seraya menarik Ranti.

“Lho? Kok? Luv!” Yayan menyusul dua cewek itu yang sudah lebih dulu naik.

“Gila! Rame amat…” komentar Yayan.

“Kamu nggak bisa ya kalo nggak ngoceh? Diem aja kenapa sih?” serang Iluv.

Yayan langsung diam. Untunglah mereka segera menemukan meja kosong. Setelah duduk, mereka memanggil salah satu pramusaji untuk memesan makanan. Setelah menyebutkan pesanan masing-masing, pramusaji itu menjauh untuk menyiapkannya.

“Ran, kamu duduk di samping aku aja,” ucap Iluv.

Ranti menurut. Yayan melempar pandangan murka pada Iluv. Iluv hanya mencibir.

“Enak ya kalo aku sama Vedo kayak kalian,” gumam Iluv.

“Masih jauh kaleee…” ledek Ranti dan Yayan serempak.

“Yah, nggak jauh-jauh amat,” ralat Ranti. “Kamu harus benar-benar beraksi biar nggak kalah sama si Jessi.”

Iluv mengangguk semangat.

“Ngomong-ngomong, dia ikut show kali ini?” tanya Yayan.

Iluv kembali mengangguk. Kali ini dengan malas. “Gara-gara berhasil ngajarin gue, dia jadi kesayangannya Om Gerald. Dia ditawarin jadi pengajar di Evlyn Agency. Om Gerald juga ada rencana ngajak dia ke Jakarta buat jadi seleb. Ihh… nggak bisa aku bayangin gimana gedenya kepala tuh cewek.”

“Kenapa kamu nggak ikut? Siapa tau kamu bisa jadi seleb juga,” ujar Yayan. “Dan jangan ngeluarin kata ‘bebas KKN’. Kalian sendiri bilang kalo menyangkut Jessi masalahnya beda kan?”

Iluv dan Ranti saling melempar senyum.

“Aku nggak ada bakat jadi bintang. Kalo Jessi kan ada bakat. Dia pinter akting. Yah, daripada kepake buat fitnah orang, mending dikembangin jadi pemain sinetron. Jadi nenek sihir atau ibu tiri kayaknya cocok,” ucap Iluv.

Ranti dan Yayan tertawa kecil. Obrolan mereka sempat terhenti ketika pesanan datang. Baru akan menikmati makanannya, ponsel Iluv berbunyi. Dari mamanya. Dia mengangkatnya.

“Kenapa, Ma?”

“Kamu di mana? Buruan ke sini sekarang. Keadaannya gawat!”

“Gawat kenapa?” tanya Iluv, disambut tatapan heran dari Ranti dan Yayan.

“Salah satu model tiba-tiba pingsan. Sampe sekarang belum sadar. Makanya dia dibawa ke rumah sakit. Om Gerald minta kamu yang gantiin. Sekarang kamu ke sini buat siap-siap. Show mulai satu jam lagi!”

“Hah?” Iluv melongo lebar dengan sukses.

^^.

Iluv sudah memakai gaun sutra warna pink cerah dengan motif bunga-bunga di bagian pinggangnya. Sesuai dengan tema yang dipakai, gaun yang akan diperagaan malam ini memang bernuansa bunga. Sementara para pendamping cowok memakai stelan kemeja dengan jas berwarna cerah. Iluv hanya pasrah saat penata rias mulai mendandaninya.

“Nih…” Mama menyerahkan high heels pada Iluv. “Sebelas senti, sesuai permintaan kamu.”

“Kenapa nggak Ranti aja sih, Ma?” protes Iluv.

“Kamu mau ngecewain Om Gerald?”

Iluv kembali hanya bisa pasrah.

“Siap?” Mama bertanya pada penata rias Iluv.

Iluv mendengus. Seharusnya dia yang ditanya siap atau tidak. Yang akan tampil kan dia, bukan si penata rias yang rada kemayu itu. Iluv melihat si Kemayu mengangguk semangat.

Madame punya anak cantik, boo… kenapa nggak jadi model beneran?”

Mama hanya tersenyum, yang menurut Iluv sangat dibuat-buat, dengan anggun. “Anaknya nggak mau. Ini aja kalo bukan Gerald langsung yang minta, dia pasti nolak.”

Iluv kembali mendengus. Tepat saat itu terdengar suara MC yang merupakan tanda kalau acara sudah dimulai. Seorang pria berumur sekitar tiga puluh tahun, namun tetap tampak muda dengan penampilan yang sangat sporty, mendekati Iluv.

“Om, beneran nih nyuruh Iluv?” tanya Iluv pada pria yang ternyata Om Gerald itu.

“Kamu pasti bisa. Om percaya sama kamu. Kamu nggak pernah ngecewain Om. Jessi juga udah cerita banyak perkembangan kamu. Kamu nggak harus tampil sempurna malam ini. Tapi, usahakan tampil sebaik mungkin. Oke, Luv?”

Iluv mengangguk pasrah.

“Yak! Inilah dia para model cantik kita yang akan membawakan gaun musim semi hasil rancangan Givan Anwar. Para model dari Evlyn Agency ini akan memvawakannya dengan cantik, membuat gaun yang memang sudah cantik itu makin memukau. Ini dia, pertama. Gaun berwarna merah cerah dengan motif anggrek di bagian pinggir. Payet-payet cantik yang membentuk untaian bunga di bagian ujung gaun menambah manis gaun ini. Tatanan rambut yang anggun menambah kesan glamour yang memang merupakan ciri khas Givan. Dan kedua…”

Iluv benar-benar gugup menunggu gilirannya. Setiap model berjalan di panggung bergantian dengan pasangan masing-masing. Iluv mendapat giliran terakhir agar bisa melihat aksi model-model lain untuk dijadikan contoh.

“Gaun kesembilan, drees cantik berwarna putih anggun dengan untaian mawar di bagian dada,” MC itu mengomentari Jessi.

Iluv mengatur nafasnya dengan gugup. Setelah ini giliran dia. Dia melirik pasangannya. Seorang cowok lumayan cute memakai kemeja putih dengan jas biru gelap dan sepatu sport. Cowok itu tersenyum kecil saat melihat Iluv sedang memperhatikannya. Iluv balas tersenyum.

“Princess, giliran kamu,” tegur Mama membuat rasa nervous Iluv kembali muncul.

“Dan inilah gaun terakhir, dengan warna pink cerah dan motif bunga-bunga di bagian pinggang…”

Iluv melangkah perlahan. Bibirnya terasa kaku hingga senyumnya tampak janggal. Namun dia tidak perduli. Yang penting sekarang adalah menyelesaikan show sialan ini. Karena terlalu gugup dan terburu-buru, Iluv tidak memperdulikan langkahnya. Tidak sengaja dia tersandung kabel, entah kabel apa, hingga keseimbangannya hilang. Dia berputar sebentar di panggung sebelum akhirnya…

Seorang cowok berparas cute menahan tubuhnya hingga tidak terjatuh. Posisi mereka seperti sepasang kekasih yang sedang berdansa mesra. Iluv merasakan wajahnya memerah. Apalagi saat si Cute itu tersenyum yang ternyata sangat manis.

“Hati-hati,” bisiknya seraya membantu Iluv kembali berdiri.

Keduanya memberi penghormatan terakhir untuk para pengunjung sebelum kembali ke balik panggung. Tepuk tangan meriah menutup penampilan mereka.

“Yup! Itulah tadi penampilan dari sepuluh model cantik yang sukses membawakan gaun anggun rancangan disainer berbakat, Givan Anwar. Dan… inilah mereka…”

Satu-persatu para model keluar sesuai urutan sambil menggandeng pasangan masing-masing. Kali ini Iluv tersenyum lebar. Apalagi saat dia merasakan si cowok cute menggandengnya dengan lembut. Iluv dapat menghirup aroma parfum Casablanca dari tubuh pasangannya.

Ke-20 model membungkuk hormat sebelum kembali ke balik panggung diiringi tepuk tangan penonton.

“Princess! Mama bangga sama kamu!” ucap Mama semangat sambil mengecup kedua pipi Iluv.

“Ihhh…” Iluv mengelap pipinya.

“Iluv, kamu menyelamatkan show Om kali ini,” ucap Gerald seraya memeluk Iluv.

“Gerald, please, jangan panggil Iluv. Her name is Princess Luvita,” ucap Mama tajam.

“Mbak, kayak yang pernah dibilang Shakespeare, apalah arti sebuah nama? Aku lebih suka manggil dia Iluv. Lebih lucu.”

Iluv mengangguk setuju. “Cuma Mama dan orang-orang yang takut sama Mama manggil aku Princess. Papa tuh sebenernya manggil aku Iluv di belakang Mama. Tapi, di depan Mama pura-pura panggil Luvita.”

Papa melotot ke arah Iluv. Sementara Mama melotot pada Papa.

“Udah lah, Mbak. Santai dong. Luv, kamu ganti baju ya. Udah itu kita makan. Urusan di sini udah Om serahin sama Laura. Jadi, kita bisa cari makan di luar.”

Iluv dengan senang hati menghilang dari hadapan mamanya yang sudah siap mengomeli Papa. Di ruang ganti, dia bertemu Jessi. Dia pura-pura tidak melihat. Namun, ternyata Jessi juga melihat kehadirannya dan punya pemikiran yang berbeda.

“Kalo aja lo nggak dipasangin sama Gilbert, ancur lo. Dari semua cowok yang tampil malam ini, cuma dia yang punya gerakan gesit dan cepet nangkep hal-hal janggal. Makanya lo selamat. Nyokap sama Om Gerald lo itu sampe nahan nafas waktu liat lo ampir jatoh.”

Iluv tidak membalas ucapan Jessi itu. Dia ingin cepat-cepat ganti pakaian karena sudah gerah memakai gaun. Satu hal positif yang diambilnya dari ucapan Jessi barusan. Dia jadi tau nama cowok cute yang tadi jadi pasangannya. Gilbert. Nama yang sesuai dengan tampangnya yang keren.

Begitu keluar dari ruang ganti, entah karena memang takdir atau apalah, Iluv nyaris bertabrakan dengan Gilbert. Iluv tersenyum kecil yang langsung dibalas dengan memukau oleh cowok itu.

“Makasih ya, tadi udah nyelametin aku.”

“Sama-sama,” Gilbert mengeluarkan suara serak-serak basahnya. Iluv baru mendengar jelas sekarang. Di panggung tadi Gilbert berbisik, jadi dia tidak begitu jelas mendengar suara cowok itu.

“Sampai nanti…” pamit Iluv.

“Tunggu,” Gilbert menahannya. “Boleh tau nama kamu?”

Pipi Iluv bersemu. “Il…”

“Luv! Ngapain aja sih?” semprot Yayan. “Yang lain udah nungguin kamu.”

Gilbert menatap Yayan dengan bingung. Lalu dia kembali menatap Iluv.

“Dah…” ucap Iluv seraya berlari kecil untuk bergabung dengan orangtuanya, Om Gerald, Ranti, serta Yayan, yang sudah menunggunya.

“Dah…” balas Gilbert pelan.

^^.

Iluv melangkah pelan menelusuri koridor menuju kelasnya. Dia merasakan banyak mata menatapnya kaget. Walaupun heran, Iluv tidak ambil pusing. Dia terus berjalan memasuki kelasnya.

Reaksi teman-teman sekelasnya lebih mengejutkan. Semuanya, bahkan Made, menatap Iluv dengan terpesona dan setengah tidak percaya. Iluv berjalan menuju bangkunya, di belakang Didon. Yayan sudah datang, tapi dia tidak melihatnya di kelas.

“Pasti sama Ranti,” batin Iluv kesal.

Iluv menatap Didon yang juga sedang menatapnya sambil tersenyum jahil. “Kenapa sih?” semprot Iluv.

Disa menatap surat kabar di tangannya, lalu ganti menatap Iluv. Kepalanya menggeleng tidak percaya. Iluv merampas surat kabar itu dari Disa dan membacanya.

KERJA SAMA GERALD EVLYN & GIVAN ANWAR

FASHION SHOW “GAUN MUSIM SEMI”

Iluv terperangah melihat foto besar yang menghiasi nyaris setengah halaman tersebut. Itu foto dirinya dan Gilbert dengan pose ‘nyaris jatuh’ semalam. Namun, di sana tidak tampak kalau itu kecelakaan. Malah, terlihat sangat mesra layaknya pasangan yang sedang berdansa.

“Ini beneran kamu, Luv?” tanya Didon, menunjuk foto tersebut. Di bawah foto itu terdapat nama Gilbert Alfonso dan Princess Luvita.

Iluv merasakan wajahnya menghangat. Tanpa menjawab pertanyaan Didon, dia berlari keluar, menuju kelas Ranti.

“Hei, buru-buru amat?” tegur seseorang.

Langkah Iluv terhenti. Dia amat mengenal suara itu. Vedo sudah berdiri di sampingnya.

“Mau ke mana?” tanya Vedo.

“Ke X.1. Nemuin Ranti,” jawab Iluv. Wajahnya makin hangat.

“Ooo… padahal aku mau ngajak kamu ke kantin. Tapi, kalo nggak bisa ya udah.”

“Hah?” Iluv amat berharap telinganya tidak salah dengar.

“Kenapa? Heran ya aku ajak ke kantin pagi-pagi? Aku cuma pengen ngobrol sama kamu.”

“Bu… bukan…” Iluv langsung speechless. “Ng… maksud aku…”

“Kamu mau?” tebak Vedo, bibirnya membentuk senyum kecil.

Iluv mengangguk semangat. Vedo tertawa. Lalu mereka berjalan beriringan menuju kantin.

Berpasang-pasang mata di kantin itu terbalak tidak percaya melihat sosok Vedo berjalan berdampingan dengan Iluv. Iluv melihat Jessi juga ada di kantin dan sedang menatapnya dengan amat murka. Iluv mengulum senyum. Dia melirik Vedo. Cowok itu tampaknya tidak terpengaruh dengan suasana di sekitarnya. Mungkin, karena terbiasa mendapat perlakuan seperti itu, Vedo jadi mati rasa.

Setelah mempersilakan Iluv duduk, Vedo berjalan menuju counter minuman. Lalu dia ikut duduk di depan Iluv setelah membeli dua botol softdrink. Iluv menatap kakak kelasnya itu dengan amat terpesona.

“Ng… Kak Vedo mau ngomong apa?”

“Apa ya?” Vedo pura-pura berfikir, namun matanya menatap Iluv jahil.

Wajah Iluv makin merah.

“Kamu maunya ngobrolin apa?” pancing Iluv.

Iluv merasa mendapat peluang. Dia tdak akan menyia-nyiakannnya. “Pulang sekolah nanti Kakak ada kerjaan?”

“Hari ini…” kali ini Vedo benar-benar berfikir. “Nggak ada. Kenapa?”

“Temenin aku ke Gramedia, mau?”

“Cari buku apa?”

Iluv tersenyum malu. “Komik,” jawabnya.

“Kamu suka komik ya? Sama dong! Sekarang lagi koleksi apa?”

Mendengar respon Vedo, Iluv makin semangat. Dia menyebutkan komik-komik yang dikoleksinya. Begitu juga Vedo. Sesekali mereka tertawa. Sungguh pemandangan yang membakar hati bagi para penggemar Vedo, terutama Jessi. Botol air mineral di tangannya sudah remuk. Matanya menatap luv seolah berniat menginjak-injak gadis mungil itu.

“Lo kalah jauh, Jess,” Agne memanas-manasi Jessi.

“Bener banget. Si cupu itu aja berhasil bikin Vedo ngakak. Nah, elo? Bikin dia senyum aja nggak pernah,” sambung Friska.

Jessi menatap Agne dan Friska bergantian dengan pandangan membawa. “Sial lo berdua!” semprotnya seraya berjalan cepat meninggalkan kantin.

Agne dan Friska mengikuti jejak kepala suku mereka. Iluv melihat kejadian itu dengan senyum bangga. Kemudian, dia kembali asik ngobrol dengan Vedo.

chapter 6 (una)

Bab 6

Laura mengajak Iluv memasuki salah satu ruang yang dipakai sebagai tempat Jessi melatih Iluv. Ternyata, Jessi sudah siap di ruangan itu. dia memakai you can see ketat dengan hot pant yang sangat pendek. Lekuk tubuhnya terpeta jelas. Diam-diam, Iluv iri juga melihat badan Jessi yang proposional. Rambut panjang Jessi diikat satu.

“Oke, kalian Mbak tinggal ya. Kalo ada apa-apa, Mbak ada di ruang pertemuan,” ucap Laura.

“Mbak, nggak bisa nemenin ya?” Iluv mencoba perjuangan terakhir.

“Maaf ya, Princess. Mbak masih harus ngawasin model-model latihan buat fashion show hari minggu nanti. Tenang aja, Jessi pasti berhasil ngajarin kamu. Iya kan, Jess?”

Jessi tersenyum sopan. Iluv mencibir melihat topeng Jessi. Setelah Laura keluar, Jessi mengunci pintunya.

“Duduk,” perintahnya.

Iluv duduk di lantai sambil memperhatikan ruangan tersebut. Tidak terlalu luas, namun juga tidak kecil. Tampaknya ini ruang latihan koreografi. Soalnya, ada cermin raksasa di dindingnya. Seluruh permukaan dinding itu tertutup dengan cermin.

Jessi duduk di depan Iluv. “Lo nggak usah takut gue apa-apain. Gue juga nggak bakal berani macem-macem sama keponakan tersayang Om Gerald.”

“Kenapa nggak? Bisa aja kan kamu nyiksa aku di ruangan ini dan nggak ada yang bakal tau karena kamu pinter mutar-balik fakta.”

“Bocah tolol!” umpat Jessi. “Liat sudut di belakang kamu.”

Iluv menoleh. Ada sebuah kamera pengawas di sana.

“Ngerti sekarang? Tapi, walaupun nggak bisa kasar sama lo secara fisik, gue nggak perlu ngomong lembut sama lo. Karena, untungnya nggak ada alat penyadap di sini dan kamera itu cuma ngerekam gerak-gerik kita. Nggak bisa ngerekam suara. Oke, daripada buang-buang waktu nggak penting, kita mulai,” Jessi mengeluarkan beberapa majalah fashion pada Iluv. “Mbak Laura nyuruh gue pertama kali ngajarin lo dandan. Lo punya alat make up?”

“Di rumah,” jawab Iluv.

“Huh,” Jessi mendengus seraya mengeluarkan perlengkapan make up-nya. “Gue bakal ngajarin lo make up sederhana yang biasa dipake buat sehari-hari. Tugas pertama lo adalah ambil alat make up yang gue sebutin. Eyeliner,” ucapnya cepat.

Iluv mengeluarkan alat make up Jessi satu-persatu. Dia menyerahkan eyeliner pada Jessi.

Not bad buat permulaan. Pondation?”

Iluv menyerahkan pondation pada Jessi.

“Oke. Gue akuin lo nggak buta masalah make up. Sekarang teori. Pertama kali yang harus lo lakuin sebelum make up, lo harus bersihin muka lo. Jangan sampe ada debu atau kotoran yang nempel. Terus lo harus bla… bla… bla…”

Iluv mendengar penjelasan Jessi dengan raut bosan. Dia juga hanya bisa pasrah saat tangan-tangan kejam Jessi mulai menari-nari di wajahnya untuk mempraktekan alat make up-nya. Dalam hati dia terus berdoa agar jam cepat menunjukan pukul delapan.

^^.

“Hai, Princess. How are you today?” tanya Mama semangat saat melihat Iluv pulang.

“Menyeramkan! Muka aku diubek-ubek oleh si Jessi. Dia nempelin segala macem benda yang… ugh! Nggak tau apa namanya. Sekarang kulit aku gatel semua!”

Honey, ini baru awal. Kamu belum terbiasa dengan alat make up. Nanti juga nggak gatel lagi. Mama udah liat alat-alat make up punya Jessi. Semuanya barang berkualitas. Nggak bakal bikin iritasi. Cocok buat anak seusia kamu. By the way, mana Papa?”

Tepat saat itu, Papa masuk sambil menenteng banyak tas belanja. Mama terbalak.

What is that?” tanya Mama tajam.

“Ini upah karena aku mau diubek-ubek Jessi.”

Mama mengamati satu-persatu barang belanjaan Iluv. “Dan Papa mau nemenin Princess belanja? Kenapa giliran Mama yang minta temenin nggak mau?”

“Mama kan tau gimana sifat Luvita kalo mau sesuatu. Nggak beda jauh sama Mama, malah dia yang lebih parah. Daripada ngamuk nggak mau pulang, mending Papa turutin. Salah Mama juga nyuruh Papa yang jemput dia. Papa kan nggak bisa keras sama dia.”

“Kenapa jadi Papa yang nyalahin Mama? Mama yang mau marah sama Papa!” serang Mama. “Apa yang kalian beli? Komik, komik, komik…” Mama menatap Papa tajam. “Nggak ada yang lain?”

Iluv mengambil kantong belanja berisi komik-komik itu dan berjalan pelan ke kamarnya.

“Papaaaa… Mama nih lagi jalanin proses perubahan Princess! Seharusnya Papa beliin dia baju-baju girly, aksesoris cantik, make up, bukannya malah komik! Papa gimana sih?”

“Maa… Papa nih baru pulang kerja, trus nemenin Luvita keliling-keliling beli komik, belum makan. Capek…”

I don’t care!” serang Mama. Dengan langkah gusar, beliau berjalan meninggalkan Papa yang menghela nafas berat.

“Tuhan, apa salahku sampai Engkau menganugrahi langsung dua wanita yang paling susah dihadapi dalam hidupku?” keluh Papa seraya berjalan ke kamarnya.

^^.

Ranti dan Yayan langsung mengerubungi Iluv dengan wajah cemas, khususnya Ranti, saat Iluv baru meletakan tasnya di meja. Didon yang tadinya berniat keluar kelas, langsung mengurungkan niatnya saat melihat Ranti duduk di bangku sebelah Iluv.

“Pagi, Ranti…” sapa Didon.

“Pagi,” balas Ranti asal. “Gimana, Luv? Parah?” tanyanya.

“Sangat! Liat muka aku!”

Ranti, Yayan, dan Didon menatap wajah Iluv dengan seksama. Iluv mendorong wajah Didon menjauh.

“Pergi sana!” usirnya.

Didon nyengir. “Bye, Ranti…” pamitnya.

Ranti tidak menanggapi. Dia masih menatap wajah Iluv.

“Nggak ada bekas tamparan,” ucap Ranti.

“Bekas dicakar juga nggak ada,” sambung Yayan.

“Ditonjok apalagi.”

“Dicubit ya?”

“Ihhh… liat yang bener!” omel Iluv.

Ranti memegang pipi kanan Iluv sementara Yayan memegang pipi kirinya. Mata keduanya menatap wajah Iluv dengan lebih seksama.

“Pipi kamu makin halus,” ucap Yayan.

“Keliatan seger,” tambah Ranti.

“Kamu pake make up lagi ya?”

“Nggak mungkin, Yan. Kalo make up pasti keliatan. Muka kayak gini tandanya abis maskeran. Kamu semalem pake masker ya?”

“Iya. Si Ratu Buaya itu yang nyuruh!”

Senyum Ranti mengembang. “Luv, kayaknya dia bener-bener bantuin kamu deh. Dia nggak niat bikin kamu celaka. Liat muka kamu! Kalo emang dia mau bikin kamu celaka, dia pasti nyari masker yang nggak cocok sama kulit muka kamu.”

Iluv dan Yayan menatap Ranti dengan kaget. “Are you serious?”

Yes, I am,” jawab Ranti. “Jessi nggak mungkin berani macem-macem sama kamu. Apalagi kamu kemaren udah ngancem dia bawa nama Om Gerald.”

“Jadi, aku harus tetep jalanin program latihan ini selama seminggu?”

Yup!” ucap Ranti. “Aku yakin. Minggu depan kamu udah bukan lagi baby Luvita, tapi bener-bener jadi princess Luvita.”

Iluv menatap Yayan, meminta bantuan. Yayan hanya mengangkat bahu. Dengan gusar Iluv keluar kelas, meninggalkan Yayan dan Ranti.

“Eh… Luv! Tunggu dong!” teriak Ranti sambil menyusul Iluv.

Bruk!

“Aww…” Ranti mengelus bahunya yang baru saja bertabrakan dengan sesuatu.

“Sori. Sakit?”

Ranti menoleh dan melihat Vedo berdiri di hadapannya. “Sakit. Dikit. Tapi nggak papa kok. Sori,” Ranti kembali berlari mengejar Iluv.

Vedo menatap sekilas ke arah Ranti dan Iluv. Bibirnya membentuk senyum kecil. Lalu dia kembali berjalan. Yayan tampak bingung melihat reaksi Vedo barusan. Namun dia tidak ambil pusing dan berlari kecil menyusul Iluv dan Ranti.

“Luv… tungguin dong!” pinta Ranti, melihat Iluv terus berjalan dengan cuek. Karena ada kejadian tabrakan dengan Vedo, jarak antara Ranti dan Iluv makin jauh.

Iluv pura-pura tidak mendengar. Dia terus berjalan. Tiba-tiba…

BRAK!

“Aww…” Iluv mengelus pantatnya yang mencium lantai.

“Ngapain lo? Nangkep kodok? Lepas tuh…” ledek Jessi yang entah darimana, tiba-tiba sudah berada di hadapan Iluv.

Iluv berdiri, mencari biang keladi yang membuatnya terjatuh. Matanya menangkap kulit pisang yang berada tak jauh dari kakinya. Dia mengambil kulit pisang itu dan melemparnya ke arah Jessi. Jessi tampak kaget.

“Apa-apaan sih lo?” serang Jessi marah.

“Aku liat kok kamu tadi yang buang kulit pisang itu ke depan aku. Jangan bohong!”

Jessi mendorong bahu Iluv dengan marah. “Jangan asal tuduh lo!”

“Aku nggak asal tuduh! Aku liat pake mata aku sendiri kamu yang buang kulit pisang itu.”

“Hei…”

Jessi dan Iluv menatap ke sumber suara. Vedo mendekati kancah pertengkaran mereka.

“Lo berdua nggak bisa ya kalo nggak ribut? Ini sekolah, bukan pasar,” ucapnya. “Dan lo,” tunjuknya pada Jessi. “Buang sampah di tempatnya. Untung bukan kepalanya yang kebentur lantai. Kalo nggak, bisa jadi masalah,” sambungnya.

Iluv menatap Vedo dengan terpesona. Saat tidak sengaja matanya bertatapan dengan mata Vedo, Iluv melihat bibir cowok itu membentuk senyum kecil. Iluv balas tersenyum lebar. Kemudian, tanpa memandang Jessi, Vedo berjalan melewatinya.

Jessi menatap Iluv dengan amat murka, seakan siap memanggang gadis itu hidup-hidup.

“Lo tunggu balesan gue!” ancamnya.

Iluv hanya mencibir. Kemudian dia berbalik menuju kelasnya, diikuti Ranti dan Yayan.

“Tau nggak?” tanya Iluv.

“Nggak,” jawab Ranti dan Yayan kompak.

“Tadi…” Iluv menarik nafas dalam. “Vedo senyum sama aku! Ihh… manis banget!!”

“Ooo…”

“Kok cuma ‘Ooo’?” protes Iluv pada dua sahabatnya itu.

“Waaah…”

“Huh!!” Iluv mempercepat langkahnya menuju kelas.

Ranti dan Yayan saling pandang, lalu terkikik sendiri seraya menusul langkah Iluv.

^^.

Wajah Jessi kali ini benar-benar menyeramkan. Iluv menelan ludah, pasrah atas apa yang akan menimpanya.

“Lo jangan ngerasa menang dulu,” Jessi mengeluarkan kata sambutannya dengan sangat dingin. “Mentang-mentang Vedo bersikap baik sama lo tadi, jangan kira lo udah ngalahin gue. Belum! Butuh waktu beratus-ratus abad buat ngalahin gue.”

Iluv tidak menanggapi. Takut Jessi makin meledak.

“Kita mulai pelajaran kedua. Cara jalan. Lo bisa pake high heels?” tanyanya dengan nada sedikit menghina.

Iluv menggeleng jujur. Seumur-umur dia belum pernah memakai high heels. Paksaan mamanya tidak pernah berhasil membuatnya menurut. Dia lebih memilih memakai sepatu model balet atau sandal yang tidak ada hak.

“Udah gue duga,” dengus Jessi. Dia mengeluarkan sepasang high heels dari dalam kotak yang daritadi berada di sampingnya. “Pake,” perintahnya.

Iluv ternganga. Sepatu yang diberikan Jessi ini benar-benar menyaramkan. Haknya sekitar sebelas senti dan amat tipis. Nyaris seperti tusuk gigi.

“Kalo patah gimana?” tanya Iluv, berharap Jessi menggantinya dengan hak yang lebih rendah.

No problem,” jawab Jessi membuat Iluv kaget. “Bukan sepatu gue kok. Itu punya lo. Nyokap lo sendiri yang ngasih ke Mbak Laura pas tau kalo gue mau ngajarin lo cara jalan. Jadi, mau patah, rusak, apalah, terserah. Gue nggak peduli.”

Iluv menatap Jessi dengan amat benci. Jessi tersenyum meledek.

“Kenapa? Takut? Nggak mampu?”

Iluv langsung memakai sepatu itu.

“Oke, berdiri,” ucap Jessi. Dia sendiri juga sudah memakai high heels yang tinggi haknya sama dengan milik Iluv. Dia berdiri dengan mantap, seakan-akan high heels adalah benda yang dipakainya sehari-hari.

Iluv berdiri perlahan dengan takut-takut. Lututnya bergetar saat dia mencoba menyeimbangkan tubuh. Jessi melipat kedua tangannya tanpa berniat membantu Iluv. Setelah Iluv berhasi berdiri, Jessi mengajaknya ke pinggir ruangan. Iluv mengikutinya perlahan.

“Ihh… lambat amat sih! Buruan dong!” omel Jessi melihat Iluv masih tertatih perlahan.

Setelah Iluv berdiri di sampingnya, Jessi menyerahkan setumpuk majalah pada Iluv.

“Buat apa nih? Kamu mau nyuruh aku jalan sambil baca?” tanya Iluv.

“Lo nih bego banget ya? Nggak mungkin lah gue langsung nyuruh lo gitu. Gue nggak pengen bermasalah sama keluarga lo kalo sampe kaki lo patah. Itu ngancurin karir gue.”

“Trus?”

Jessi menggertakan giginya dengan geram menghadapi kelemotan Iluv. “Taruh majalah-majalah itu di kepala lo!”

“Hah?”

“Ihhh…” Jessi merampas majalah-majalah tersebut dari tangan Iluv dan meletakannya di kepala gadis itu. “Lo jalan sampe ke ujung sana,” ucapnya sambil menunjuk ujung ruangan. “Jangan sampe majalah-majalah di kepala lo itu jatoh.”

“Mana bisa!” protes Iluv. Disusul jatuhnya satu majalah.

Jessi memungut majalah yang terjatuh itu dan kembali meletakannya di kepala Iluv. “Harus bisa. Kalo sampe akhir pelajaran ini nggak berhasil, lo harus latihan di rumah. Besok lo tunjukin ke gue dan harus udah lancar. Liat gue,” Jessi berjalan anggun, layaknya model di atas catwalk, ke ujung ruangan. “See?” ucapnya.

Iluv menelan ludah. Perlahan, dia mulai berjalan sambil menahan agar majalah di kepalanya tidak jatuh. Baru dua langkah, seluruh majalah di kepalanya berjatuhan.

“Ambil!” perintah Jessi. “Ulang dari awal!”

Iluv menurut. Begitu terus menerus. Setiap ada majalah yang jatuh, walau hanya satu, Jessi dengan kejamnya menyuruh Iluv mengulang dari awal. Hingga akhirnya, tinggal beberapa langkah mencapai ujung, majalah-majalah itu jatuh karena Iluv bersin. Iluv menatap Jessi, berharap mendapat keringanan.

“Ulang dari awal,” desis Jessi kejam.

“Tapi…”

“Lo mau ngebantah gue? Gue berani ngelapor ke nyokap lo kalo lo balum ngalamin perubahan. Dan lo tau akibatnya kan? Nggak mustahil waktu belajar lo sama gue diperpanjang.”

“Hah? Ogah!” ucap Iluv langsung. “Seminggu aja udah merupakan musibah buat aku! Apalagi diperpanjang!”

“Kalo gitu nurut! Dan lo bakal dapetin kebebasan lo lagi.”

Dengan gusar, Iluv memungut majalah-majalah yang berjatuhan dan berjalan cepat ke tempat semula. Dia lupa kalau sedang memakai hak. Hingga…

Brak!

Jessi tersenyum sinis melihat Iluv meringis kesakitan. Dia berjalan mendekati Iluv dan membantunya berdiri.

“Kalo aja nggak ada kamera pengawas, nggak sudi gue bantuin lo,” ucapnya tajam.

Iluv harus menahan sabar untuk tidak menjitak kepala Jessi dengan sepatu haknya.

^^.

Iluv mengurut kakinya sambil menunggu jemputan di teras agency. Laura dan para pengajar beserta pegawai masih berada di dalam untuk beres-beres sebelum pulang. Kalau Jessi sudah pulang sejak setengah jam yang lalu. Pelajarannya kali ini benar-benar mengerikan. Tumitnya sampai lecet-lecet. High heels pembawa bencana di telantarkan di sampingnya.

“Princess.”

Iluv menoleh. Mamanya sudah datang. Dia berdiri dengan tampang cemberut.

“Gimana?”

“Mama nih kejam banget sih? Mama kan tau aku nggak bisa pake hak tinggi. Masa langsung beliin yang sebelas senti?” semprot Iluv langsung.

Mama tersenyum kecil. “Itu saran Jessi. Katanya, daripada yang rendah, mending langsung yang tinggi. Kalo kamu berhasil menguasai yang tinggi, nggak bakal ada masalah pake yang rendah. Gimana? Kamu udah bisa?”

“Kalo di dalem ruangan udah bisa. Aku kira dia udah puas. Ternyata belum! Dia mau siksa aku lebih kejam. Besok aku diajak latihan di atas rumput, di jalan aspal, di tempat berkerikil, sampe naik-turun tangga! Kalo kaki aku sampe patah gimana?”

Mama tersenyum seraya merangkul Iluv. “Tenang aja. Selama Mama suka pake high heels, nggak pernah tuh kaki Mama sampe patah. Ternyata, Jessi benar-benar berpengalaman ngajarin cewek polos. Kalo dia berhasil ngajarin kamu, Mama bakal saranin ke Gerald biar dia dijadiin pengajar di sini.”

“Aku nggak setuju! Dia bisa tambah semena-mena, Mama!”

“Keras itu dunia model, Honey. Mama nggak nyalahin Jessi kalo dia tegas sama kamu. Emang itu tujuan Mama minta dia ngelatih kamu. Biar kamu jadi cewek anggun yang disiplin. Kalo aja kamu nggak nolak Mama suruh jadi model, gabung sama agency Mama atau Gerald, kamu kan nggak perlu susah kayak gini.”

“Di upah ketemu sama Orlando Bloom juga aku belum tentu mau jadi model!” sungut Iluv.

“Kalo ketemu Mr. Bean?” goda Mama.

Iluv mendengus kesal, lalu berjalan menuju mobilnya. Mama tersenyum kecil. Beliau berjalan masuk agency untuk pamit dengan Laura dan yang lain. Setelah itu, Mama baru menyusul Iluv ke dalam mobil.

“Mau makan apa?” tanya Mama. “Hari ini kamu Mama kasih upah makan sepuasnya. Dan kamu bebas mau milih apa aja.”

“Beneran?” tanya Iluv sedkit tertarik. “Jappanese fast food,” ucapnya mantap.

Mama melongo. “Honey, bukankah kita udah sepakat kalo fast food nggak bagus buat kesehatan?”

“Katanya terserah aku!”

“Oke, ini yang terakhir,” ucap beliau tajam.

Iluv tersenyum cerah. Mobil pun berjalan pelan meninggalkan Evlyn Agency.

^^.

Jessi menunggu Iluv di halaman belakang Evlyn Agency. Tempatnya memang cocok untuk memperlancar cara berjalan Iluv dengan high heels. Bukan hanya karena penuh rumput, tapi juga karena ada banyak kerikil di sana. Begitu Iluv tiba, Jessi langsung menyuruhnya memakai high heels. Iluv hanya menurut.

“Kemaren, lo udah lumayan bagus. Cuma masih kurang gesit. Gerakan lo tuh kayak balita belajar jalan. Tapi, buat orang awam yang baru belajar pake high heels, lumayan lah. Sekarang, lo harus berhasil jalan di rumput dan kerikil ini. Nanti di sambung jalan di aspal. Kita pake jalan depan, keliling-keliling. Gue sengaja nunggu sore biar kulit gue nggak rusak kena sinar ultra violet.”

”Kan ada sun block,” ledek Iluv.

Sun block yang gue punya itu barang impor! Mahal. Gue nggak sudi ngebuangnya cuma buat nemenin lo latihan jalan keliling-keliling. Lagian, body lotion yang gue pake udah mengandung unsur sun block. Jadi, lumayan buat cuaca yang nggak panas-panas amat,” jelas Jessi. “Sekarang lo jalan. Kayak kemaren,” ucapnya seraya menyerahkan beberapa majalah pada Iluv. “Kalo lumayan lancar, lo harus jalan sambil baca. Ini berguna biar lo bisa membagi pikiran antara jalan dengan hal lain. Nggak lucu kan kalo lo jalan sama cowok, entah siapa, yang jelas nggak mungkin Vedo, trus lo nggak denger ucapan dia karena terlalu fokus sama langkah lo.”

“Kayaknya bakal lancar nih,” dengus Iluv. “Yah… paling nggak kalo kaki aku patah pelajaran ini berakhir.”

Bukannya takut atau cemas, Jessi malah tersenyum penuh kemenangan. “Gue udah minta ijin sama nyokap lo. Lo nggak tau ya? Setiap nyusun jadwal latihan, gue kompromi dulu sama nyokap lo dan Mbak Laura. Dan kalo gue ngejalaninnya, berarti program latihan itu udah disetujui oleh mereka, apapun akibatnya. Jadi, lo nggak bisa lagi ngancem gue.”

Iluv melongo dengan sukses. Jadi, penderitaan yang akan dijalaninya suda diketahui sang mama. Pantas tiap kali dia protes atau mengeluh, Mama hanya tersenyum sambil mengucapkan kata-kata untuk menenangkannya.

“Ngerti sekarang, Princess?” ledek Jessi.

Iluv meletakan majalah-majalah itu di atas kepalanya, dan mulai berjalan perlahan. Jalan di atas rumput dengan bonus kerikil-kerikil kecil, jauh lebih susah dibanding jalan di lantai marmer yang mulus. Apalagi kali ini Jessi bukan menyuruhnya jalan dari ujung ke ujung seperti kemarin, melainkan menuruhnya mengelilingi halaman itu. Iluv hanya pasrah sambil mengulang berkali-kali karena majalah di kepalanya terus berjatuhan.

“Oke, istirahat lima menit. Lo boleh minum,” ujar jessi.

Iluv melepas high heels-nya dengan kesal. Kemudian dia menghabiskan sebotol air mineral yang sudah di siapkan oleh office boy.

“Mengenai taruhan kita,” Jessi tau-tau sudah duduk di samping Iluv. Namun, dia tidak melepas high heels-nya. “Waktu lo tinggal dua minggu lebih. Panitia pensi udah bergerak. Semuanya nyaris selesai. Lo masih punya waktu buat ngundurin diri.”

Only in your dream,” balas Iluv.

Jessi tersenyum menghina. “Lo tuh cewek paling keras kepala yang gue kenal. Dan tolol,” dia berdiri. “Mulai lagi. Waktu istirahat udah abis. Sekarang lo sambil baca. Harus bener-bener baca.”

Iluv ikut berdiri setelah memakai high heels-nya. Dia mengambil salah satu majalah. Dia bukan pecinta majalah fashion. Jadi, dia bisa pura-pura membaca, padahal masih fokus dengan jalannya agar tidak jatuh. Namun, Jessi menahan gerakan tangan Iluv yang sudah menyentuh majalah.

“Gue nggak bego. Lo lupa kalo gue selalu kompromi sama nyokap lo? Majalah kayak gini nggak bakal bikin lo tertarik. Lo pasti nanti pura-pura baca, padahal lo masih fokus sama jalan lo.”

“Trus? Gue baca apa?”

Jessi menyerahkan sebuah komik pada Iluv. Komik seri terbaru dari salah satu koleksi Iluv yang belum sempat dibelinya.

“Mama kan?”

Jessi hanya tersenyum licik. “Mulai sekarang,” perintahnya.

^^.

Begitu sampai di rumah, Iluv langsung menuju kamarnya untuk tidur. Tapi, Mama menahannya.

“Kamu harus mandi dulu. Badan kamu penuh keringat. Trus, pake masker. Jessi udah bilang kan kalo maskernya harus dipake dua hari sekali? Udah itu baru tidur.”

“Ma, aku udah capek banget!”

“Mandi bikin capek kamu hilang. Trus, kalo udah mandi kamu turun lagi. Makan dulu. Bentar lagi Papa pulang. Kita makan sama-sama.”

Dengan pasrah Iluv berjalan menuju kamarnya untuk mengambil baju ganti. Hanya sepuluh menit dia di dalam kamar mandi. Mama tidak bohong. Mandi membuat rasa capeknya sedikit berkurang.

Saat Iluv tiba di meja makan, papanya ternyata sudah pulang. Kedua orangtuanya sudah mulai menikmati makan malam mereka. Iluv bergabung.

“Jessi bilang kamu udah bisa jalan pake high heels sambil baca. Berarti kamu udah berhasil membagi fikiran kamu.”

“Iya. Akibatnya lutut aku lecet gara-gara keseringan jatoh,” omel Iluv.

“Itu cuma awal, Honey. Nanti pasti nggak jatuh lagi. Katanya, kamu juga udah bisa jalan di aspal ya?”

Iluv mengangguk. Untuk bagian di aspal, bukan hanya lututnya yang jadi sasaran. Siku di kedua tangannya juga sudah lecet.

“Ma,” Iluv teringat sesuatu hal yang sangat penting. “Besok dia mau ngajarin aku naik-turun tangga. Kalo aku jatoh gimana?”

Honey, Jessi sudah memperhitungkan segalanya. Latihan di tangga nanti, dia jalan di depan kamu. Jadi, kalo kamu mau jatuh, dia yang nahan. Kamu tenang aja.”

“Penting ya belajar kayak gini?” tanya Papa.

“Sangat! Papa nggak mau kan Princess terus-terusan jadi anak kecil?”

“Luvita memang masih kecil, Ma. Umurnya kan baru lima belas tahun. Biarin dia ngelewati masa remajanya dengan wajar. Nanti juga bisa sendiri segala macam hal wanita.”

“Tanggung. Udah jalan. Tinggal lima hari lagi,” jawab Mama. “Eh, Pa, Gerald besok ke sini. Soalnya hari minggu nanti agency-nya yang di sini mau fashion show. Dia ngajak kita makan malam di restoran tempat dia nginep. Papa nggak lembur kan?”

Papa mengangguk. Iluv berseri-seri.

“Jadi, besok aku nggak latihan sama Jessi?”

“Kata siapa?” tanya Mama. “Kamu besok masih latihan di rumah. Soalnya kan mau turun-naik tangga. Kalo di agency, bahaya. Tangganya kan sering di pake orang lewat. Jadi, Mama nawarin di rumah kita. Jessi setuju. Cuma, besok latihannya selesai lebih cepat.”

Iluv kembali manyun.