Tuesday, January 7, 2014

I'm just a little bit afraid (#9)

Saka menahan tanganku. Aku sudah melihatnya mendekat tadi. Seperti yang biasa terjadi belakangan ini, semenjak kejadian konyol dan menyebalkan beberapa hari lalu, aku tidak berani  berhadapan dengannya. Terang saja aku menjauhinya. Mumpung harga diriku masih bisa diselamatkan.

“Kamu kenapa sih?”

Nada yang tidak pernah kudengar sebelumnya, kali ini keluar. Dia marah. Kenapa harus marah coba? Seharusnya aku yang marah dan mengutuknya sekarang. Bukan dia yang sudah mempermalukan diri dengan begitu bodohnya tempo hari.

“Aku nggak pengin main drama-dramaan sama kamu, Fik. Kalau aku ada salah, bilang sekarang. Jelasin. Jangan main kabur-kabur, lari-larian, kayak anak kecil gitu.”

“Kenapa kamu peduli?”

Dahi Saka berkerut. “Peduli apa? Peduli kamu ngejauhin aku?” tanyanya. “Ya jelas lah! Kamu tiba-tiba menghindar, aku nggak tau udah bikin salah apa. Gimana aku bisa nggak peduli?”

“Temen kamu banyak, kan? Aku jauh nggak ngaruh apa-apa seharusnya,” balasku, masih menghindari tatapannya. Aku berusaha melepaskan pegangan tangan Saka, tapi sia-sia. Dia masih menahan tanganku dengan erat. “Anita sama Sara udah nunggu. Lepasin,” pintaku.

"Nggak, sebelum kamu berenti bertingkah kekanakan gini!"

"Kekanakan?" Aku menatapnya, mulai kesal. "Oke. Kamu mau tau kenapa aku ngejauh? Karena aku malu!"

Kerutan di dahi Saka makin dalam. "Kenapa kamu harus malu?"

Aku menatapnya tidak percaya. Lelaki ini memang tidak tahu, atau pura-pura bodoh untuk memancing kekonyolanku selanjutnya?

Dengan tergagap, masih menahan kesal, aku mengulang kejadian telepon malam itu. Mataku panas, namun aku tidak mengijinkan setitik air pun jatuh. Tidak akan pernah di depannya.

"Nah! Udah! Puas sekarang?" Aku menatap langsung matanya sekilas, sebelum menghentakkan tanganku dari genggamannya. Begitu terbebas, aku langsung berlari menjauhinya.

Saka tidak menyusul. Aku tidak berani menoleh. Dia akan tau aku berharap dikejar lagi kalau sampai menoleh. Iya, kalau dia berniat mengejar. Kalau tidak? Aku hanya semakin mempermalukan diri.

Kuurungkan niat ke kantin begitu melewati perpus, dan berbelok ke sana. Suasana perpustakaan yang sepi lebih kubutuhkan daripada keramaian kantin. Aku mengisi buku tamu, sebelum mendekati rak sastra dan mengambil satu buku secara acak. Aku tidak benar-benar ingin membaca sebenarnya.

Ponselku bergetar, begitu aku baru membolak-balik buku yang kuambil. Mengira pesan dari Sara atau Anita, aku mengeluarkan benda mungil itu dari saku rok. Memang ada pesan singkat. Namun, bukan dari Sara atau Anita.

From: Saka
Kita perlu ngomong. Please? Di mana kamu?

Aku menghela napas pelan. Apalagi yang harus dibicarakan coba? Apa dia kurang puas melihatku mempermalukan diri di depannya?

Tanpa membalas SMS itu, aku mengembalikan ponsel ke dalam saku. Tentu saja setelah itu ponselku terus bergetar, menandakan ada panggilan masuk. Aku mengabaikan semuanya. Hingga bel istirahat selesai berbunyi, aku kembali ke kelas tanpa berniat mengecek ponsel.

Langkahku terhenti saat melihat Saka berdiri di dekat pintu kelasku. Dia masih menunduk, menghadapi ponsel. Aku baru akan kabur, begitu Anita dan Sara muncul dari belakang dan menyebut namaku cukup keras. Aku melihat Saka menoleh ke arah kami.

"Ke mana kamu? Ditungguin di kantin malah nggak muncul," ujar Anita.

"Ada pemandangan lucu lho tadi," Sara menambahkan. "Tau Dika, kan? Anak kelas sebelas yang imut banget itu? Dia ditembak Silvi!" Dia berkata dengan nada seolah itu berita penting yang wajib diketahui masyarakat sedunia. "Gila ya? Nekat juga si Silvi. Padahal dia cewek, kakak kelas pula."

"Gitu kalau udah cinta. Mana peduli batasan," komentar Anita.

Aku tidak terlalu mendengarkan mereka berdua begitu melihat Saka meninggalkan posisi bersandarnya, dan mulai berjalan ke arah kami.

Ocehan Anita dan Sara sontak berhenti ketika Saka sudah berdiri di depan kami. Tepat di depanku, sebenarnya. Tanpa aba-aba, kedua sahabatku itu menjauh, lebih dulu masuk kelas. Aku bergeser ke kiri, Saka ikut bergeser. Ketika aku ke kanan, Saka juga ke arah sana. Menghela napas, aku menatapnya.

"Apa lagi? Kan, udah aku jelasin tadi."

"Ya. Kamu yang belum ngasih kesempatan aku buat jelasin."

"Udah bel masuk. Nggak usah kayak anak kecil deh, bolos gara-gara masalah nggak jelas gini." Aku mendorong tubuhnya supaya memberiku jalan.

Saka membiarkanku melewatinya dan masuk ke kelas. Aku tahu, dia tidak melepaskanku sepenuhnya.

Benar saja. Saat bel pulang berbunyi, sebelum guru mempersilakan kami keluar, Saka sudah berderap masuk ke kelasku. Dia membungkuk sopan pada guru, sebelum menyambar tanganku dan menariknya keluar. Masih dalam posisi kaget, aku mengikutinya.

"Aku suka sama kamu," ucapnya, begitu kami berhenti di halaman parkir yang belum terlalu ramai. "Paham?"

"Nggak," jawabku, jujur. "Baru beberapa hari lalu kamu bilang kita nggak ada apa-apa. Kalo tujuan kamu bilang suka cuma karena nggak enak sama aku, nggak perlu. Aku nggak apa-apa."

"Siapa yang bilang kita nggak ada apa-apa?" Saka mulai mengomel. "Siapa yang bilang suka cuma karena nggak enak? Kamu salah paham dan ngambil kesimpulan seenaknya."

"Kepala kamu abis kejedot tembok apa gimana sih?" aku bertanya, sebal. "Pas aku tanya kita gimana, kamu sendiri yang jawab, 'kita kenapa', seolah emang nggak ada apa-apa. Yah, kita emang nggak ada apa-apa. Ya udah!"

"Aku beneran bingung waktu itu!" Saka berteriak, ikut kesal. "Kamu tiba-tiba nanya kita gimana, ya aku balik tanya kita kenapa. Terus tiba-tiba kamu mutusin teleponnya gitu aja, nggak bisa dihubungi lagi, ngejauh kayak aku sumber penyakit menjijikan ...."

Aku melongo, tidak tahu harus menjawab apa.

"Aku nggak ngerti bahasa cewek! Jangan pake kode-kodean gitu. Kalau emang mau tau perasaanku, ya tanya langsung!"

"Ya mana mungkin aku nanya gamblang gitu! Malu, tauk!"

Saka mendengus keras, membuatku yakin ada asap keluar dari lubang hidungnya. "Aku lupa cewek harus serba pasti," dumelnya. "Aku pikir kamu udah paham tanpa harus ngomong macam-macam. Aku pikir tanpa acara tembak-tembakan kayak anak SD, kita udah ...."

Aku melihat wajahnya memerah.

"Aku suka sama kamu, Fika," ujar Saka, pelan. "Maaf udah bikin kamu bingung."

Aku diam sejenak, menatap mata Saka, mencari kejujuran di sana. Wajah Saka masih kemerahan. Ekspresi kesalnya sedikit berkurang. "Aku juga suka sama kamu," balasku, pelan.

"Aku tau," gumam Saka. "Makanya kamu malu, nggak mau ketemu lagi pas ngira kalau aku nggak ada rasa apa-apa sama kamu. Iya, kan?"

Aku meninju bahunya sebagai balasan. Tepat setelah itu, sorak tepuk tangan bercampur ledekan 'ciyeee' meledak di sekitar kami. Entah sejak kapan, perang adu mulutku dan Saka jadi tontonan di tempat parkir. Wajahku otomatis memerah dan bersiap pergi dari sana.

Saka menahan tanganku. "Mau ke mana lagi sih?" omelnya. Wajahnya juga tampak merah, namun dia hanya mengusir orang-orang itu dengan lagak tidak peduli.

"Ya pulang. Ke mana emangnya?" balasku, dongkol.

"Tunggu di sini. Aku ambil motor dulu. Nggak usah ke mana-mana!"

Aku memutar bola mata. "Iyaa ...."

Motornya terparkir tidak jauh dari tempat kami adu mulut tadi. Begitu aku sudah berada di boncengannya, dia menjalankan motornya perlahan.

"Besok-besok, kalo ada apa-apa, tanya langsung. Nggak usah kasih-kasih kode." Aku mendengar Saka bersuara cukup keras, mengalahkan bunyi mesin kendaraan di sekitar kami.

Aku hanya tersenyum kecil, seraya melingkarkan tanganku di pinggangnya, dan membenamkan kepala di punggungnya.





to be continued…


Tuesday, December 31, 2013

NewBorn: #CrazyLove: LDR (kejadian di balik layar)

Setelah kelahiran Lovhobia Maret kemarin, akhirnya di penghujung tahun ini aku melahirkan satu tulisan lagi. Kali ini ada yang istimewa. Bukan proyek solo kayak dua anak sebelumnya, tapi proyek bareng. Kumpulan novela dari 5 penulis Bentang Belia dengan tema besar LDR. Ini dia penampakannya :


unyu ye?


Sebelum mulai cerita di balik proses pembuatannya, mari dibaca dulu sinopsisnya :

Bagaimana pun ditiadakan, jarak akan tetap ada.

Apa yang terjadi bila kesetiaan dan pengkhianatan berjalan tak seimbang dalam satu hubungan?
Bisakah menjaga hati hanya dengan saling percaya dan bisa dipercaya?
Dan, akankah jarak mampu menjawab semua keraguan yang ada?

Temukan 5 perjuangan hubungan jarak jauh yang akan membawamu pada pergolakan hati akan keputusasaan hubungan, perdebatan, pengkhianatan, dan percaya-tidak percaya yang berjalan seiringan dengan keteguhan, kemantapan, serta rasa tak ingin kehilangan dalam jarak yang terbentang.


Hmmm…
LDR alias Long Distance Relationship selalu punya makna sendiri buatku. Itu yang bikin aku terobsesi banget pengin nulis dengan tema ini. Sebelumnya, selalu gagal. Entah udah berapa draft calon novel yang aku tulis, nggak ada yang sukses. Ada yang stuck di tengah, ada yang file-nya ilang gara-gara laptop rusak, dan sebagainya. Semesta kayak nggak ngasih izin aku buat ngubek-ngubek hal itu lagi.

Nyerah? Yup! Capek juga akhirnya. Kalau emang bakal jadi, suatu saat aku bakal bisa nulis dengan tema ini.

Semesta akhirnya ngasih restu lewat Mbak Dila, editorku. Berawal dari surel Mbak Dil, segala doaku kayak terjawab *lebay ye. Bodo*

Jadi gini …
Di suatu sore, waktu aku lagi duduk-duduk santai sambil karaokean nggak jelas di kamar, bebe-ku bunyi. Notif email baru. Alamat pengirimnya dari Bentang Belia. Penasaran, aku bacalah itu email. Isinya kurang lebih tawaran buat nulis novela bareng penulis Bentang Belia lain dengan tema yang sudah ditentukan.

And, you know, dua tema yang ditawari Mbak Dil bikin aku galau setengah mampus!
Tema pertama : LDR
Tema kedua : Move On

How kampret it is, right? Dua-duanya bisa dibilang sebagai tema sakral buatku. Mbak Dil minta kami-kami milih satu tema dan tulis cerita maksimal 40 halaman. FYI, aku sedikit bermasalah sama tulisan yang jumlah halamannya terbatas. Itu yang jadi alasanku sering gagal bikin cerpen *nangis*
Yahh… karena aku perempuan yang cukup keras kepala dan nekat, mengabaikan jumlah halaman biar nggak jadi penghalang, aku mau gabung ke proyek itu.

Pertanyaan kedua … tema mana yang harus kupilih?
Kayak yang aku bilang sebelumnya, kedua tema itu sakral. Aku MAU BANGET nulis dua-duanya. Tapi, karena nggak boleh maruk, jadi pilih satu. Pilihan dari awal condong ke LDR. Tapi, aku ragu. Gile ya, bok! Bolak-balik nyoba bikin tema itu, SELALU GAGAL! Apa ada jaminan kali ini bakal berhasil? Pake batasan halaman seiprit pula. Dan juga, ini bukan proyek iseng yang aku bikin bolak-balik kemarin. Tapi proyek beneran. Sempet pertimbangin Move On, kali aja bakal lebih asoy. Tapi sama aja. Hati ujung-ujungnya balik ke LDR. Akhirnya, mengikuti kata hati, aku pilih LDR.

Selesai? Oh… belum. Jangan buru-buru gitu lah.
Sinopsis pertama yang aku bikin, ditolak Mbak Dil. Nggak ditolak mentah-mentah sih. Tapi banyak catatan di sana-sini, yang diakhiri dengan, “ada ide lain?”
Aku anggap itu berarti ide awal ceritaku emang nggak layak-layak banget.

Galau part sekian kembali. Keteguhan hati yang tadinya emang belom banyak-banyak banget buat nulis tema itu, makin merosot. Keyakinan di kepala kalau aku emang NGGAK BISA nulis tema itu makin meningkat. Saya FRUSTRASIIIII!!!

Nih tema bener-bener bikin aku ngerasa terintimidasi. Sempet kepikiran buat mundur aja, atau pindah ke Move On, tapi akal sehat nggak ngijinin. Segitu doang udah nyerah, berhenti aja jadi penulis. *akal sehatku emang suka kejam* *sigh*

Sempet bengong lama buat mikirin ide cerita apa yang mau aku bikin. Pake mikir juga, apa yang bikin aku susah banget buat ‘akrab’ sama tema ini. Karena masa lalu kah? Pleaaasseeee!!! Penting amat tuh masa lalu sampe bisa ngehalangin niat muliaku! Cih! *dikeplak tiket pesawat*

Dan, you know, aku akhirnya tahu apa yang bikin susah.
Karena aku terlalu terobsesi. Aku terlalu ambisius buat sukses bikin tema itu. Punya ambisi nggak salah. Terlalu ambisius yang bisa jadi masalah.

Dengan menurunkan ego, aku coba lagi semuanya dari awal. Kali ini, aku ngelakuin semuanya murni dengan senang hati, nggak cuma melibatkan ambisi. Aku coba berenti buat terobsesi sama tema itu. Pelan-pelan, pendekatan.

Yah, samalah kayak kalo lagi pedekate sama lawan jenis, pas kamu terlalu bernapsu, dia bakal kabur. Tapi, kalau kamu pelan-pelan dan pedekate dari hati, bisa lebih enak.

Itu juga yang aku alami sama tema ini. Dia nolak aku deketin dengan obsesi, ambisi, dan ego tinggi yang bercampur. Dia mau pelan-pelan dateng begitu aku nurunin tameng ego, ganti obsesi liar dengan niat hati, dan nahan ambisi.

Nggak perlu aku jelasin gimana bahagia, seneng, gembira, dan bangganya aku waktu berhasil nyelesain cerita ini. Aku cuma butuh melibatkan hati.

Nulis, mungkin emang pekerjaan otak, tapi hati yang jadi bos. Kalau hati nggak terlibat, apa pun yang kamu bikin terasa salah.

Akhirnya satu keinginan besarku terlaksana.
Mungkin, apa yang aku tulis ini bukan tulisan sempurna. Tapi, percaya deh, aku udah ngeluarin semua yang terbaik buat cerita ini.

Apa aku inget masa lalu pas nulis?
YA IYALAAAHH! MENURUT LO?
LDR = masa lalu, buatku. Bahas LDR, ya bahas masa lalu. Dan aku bersyukur. Tanpa masa lalu itu, mungkin aku nggak akan ada ikatan batin sama LDR. Kalo sampe gitu, mungkin aku nggak akan kepikiran bikin tema ini. Itu berarti, cerita ini mungkin nggak akan pernah lahir.
Tapi jangan takut. Kalian nggak akan baca ‘diary Elsa’ dari ceritanya, karena semua murni fiktif. Remember, aku NGGAK AKAN PERNAH masukin adegan pribadi yang pernah aku alami sendiri ke novel. Terinspirasi, yap. Masukin sama persis, nope. Terlalu … pribadi :p

Akhir kata … selamat menikmati "sMiles". Mari berkenalan dengan Zarina Aryesti (Arine) dan Biru Adyaksa (Biru), dua pejuang LDR yang mewakili aku, isi hatiku, dan pikiran liarku.

Semoga kalian terhibur :))



Salam sayang,


Elsa Puspita, M.P.L, C.D.L

Mantan Pejuang LDR, Calon Duta LDR B)

Saturday, November 30, 2013

Review Buku : “Pssst…!” by Dy Lunaly

Judul Buku : Pssst…!
Penulis : Dy Lunaly
Penerbit : Bentang Belia
Terbit : Oktober 2013
Jumlah Halaman : 199






Novel keempat dari Mbak Dy Lunaly. Dan yang ketiga terbit tahun ini. *simpen irinya*

Novel ini menceritakan tentang perjalanan 5 sahabat keliling Eropa. Tujuannya 5 negara yang jadi impian mereka di Eropa. Dan ternyata, perjalanan itu membongkar satu-persatu rahasia yang mereka simpan dari yang lain.

Pertama, bahas bagian yang menarik dulu. Di novel ini penulis menggunakan sudut pandang orang pertama ganti-gantian. Ada 5 bagian dengan 5 sudut pandang orang pertama yang berbeda. Di bagian pertama, Wira yang jadi tokoh “aku” dengan negara pilihannya Belanda, tempat yang punya kenangan manis masa kecilnya, tapi malah berubah jadi musuhnya. Kenapa bisa begitu? Baca sendiri ye. Di bagian kedua, kita diajak Jiyad sebagai “aku” jalan-jalan ke Belgia, negerinya Tintin, dan dikira Jiyad merupakan tempat paling tepat buat jujur ke para sahabat tentang rahasia yang disimpannya. Bagian ketiga, si manis Noura yang gantian jadi “aku” dan ngajak kita keliling Luksemburg, negara kecil cantik tapi ternyata bikin dia ketiban masalah sama sahabat-sahabatnya. Perancis jadi negara pilihan Adhia, si tokoh “aku” di bagian keempat. Siapa yang gak pengin ke Paris sama orang tercinta? Kota paling romantis sejagat! Tapi, di kota paling romantis itu, hal gak enak pun tetep bisa terjadi. Daaannn … bagian kelima alias terakhir ada Kalyan, ngajak kita main-main air dan get lost di Venesia, salah satu kota yang wajib dikunjungi sebelum tenggelam *pikiran Kalyan sama kayak aku. Kami jodoh*

Hal menarik lainnya, kalau ada lima jempol, aku bakal kasih semuanya buat Mbak Dy atas penggambaran lokasinya. Kereeeennnnnnnn!!! Kita kayak diajak jalan-jalan ke lima negara sekaligus lewat satu buku. Setting tempat di sini bukan sekadar tempelan, tapi jadi bagian penting di cerita. Satu hal yang masih payah banget kalau aku yang ngerjain. Tapi emang, kalau masalah penggambaran lokasi, Mbak Dy top markotop. Dan itu jadi satu nilai plus buat novel ini.

Kedua, bagian yang bisa dibilang jadi kelemahan kecil di novel ini. Kayak yang aku bilang sebelumnya, tentang pov 1 yang ganti-gantian, kalau gagal itu bisa jadi bumerang. Di beberapa tokoh, Mbak Dy sukses bikin kesan si “aku” jadi beda, baik dari tingkah laku maupun pola pikir si tokoh. Tapi, di bagian Wira sama Jiyad, aku gak terlalu ngerasain kalau si “aku”-nya itu orang yang beda. Mungkin karena secara umum karakter kedua orang itu mirip, kecuali bagian Wira yang lebih ramah sama cewek, dibanding Jiyad. Cuma bagian mereka. Begitu masuk ke Noura, Adhia, sama Kalyan, bedanya lebih kerasa di banding pas dua orang pertama. Kekurangan lainnya, karena tiap bagian punya masalah dan klimaks sendiri, ada bagian yang klimaksnya dapet banget, ada juga yang seakan kelar gitu aja dan bikin jadi ngurangin greget.

overall , terlepas dari kekurangannya, aku amat-sangat menikmati waktu baca novel ini. Kayak baca kumpulan cerita pendek, tapi dengan versi yang lebih panjang (cerita panjang ya namanya? Gitu deh), bikin gak kerasa pas udah sampe di halaman terakhir. Apalagi ada adegan yang aku suka-suka-suka banget, sampe bikin senyum lama dan ngerasa sendu di saat bersamaan *karena ngerasa senasib*. Rasa paling menyenangkan pas baca novel itu, begitu ditutup, masih bikin senyum manis. Dan novel ini berhasil bikin aku ngerasa gitu.

Great job, Mbak Dy! Ditunggu terjangan berikutnya!


Ps: I love Kalyan :*





-ep-

Sunday, October 27, 2013

Wajah di Celah Jendela

Tidak ada yang berbeda dengan malam Minggu kali ini. Memangnya, seistimewa apa malam Minggu yang bisa didapat seorang jomblo? Sebahagia apa pun sebagai jomblo, tetap saja malam Minggu sendirian. Yah, beberapa jomblo beruntung mungkin bisa menghabiskan waktu dengan teman-temannya. Tapi, aku tidak.

Balkon kosan tampak lebih menarik malam ini, dibanding duduk-duduk di café berjam-jam hanya dengan secangkir kopi yang harganya bisa untuk tiga kali makan. Aku menyulut rokok, berusaha mengusir semilir angin yang berembus. Tidak ada pemandangan istimewa dari balkon belakang kosanku ini. Hanya perkampungan dengan pohon-pohon besar, dan sungai. Saat-saat seperti ini, arus sungai sedang tidak terlalu deras hingga suaranya pun tidak kencang. Suara tokek dan jangkrik yang seolah saling bersahutan menjadi latar musik lamunanku.

Jangan bertanya apa yang kulamunkan. Aku membiarkan saja pikiranku melalang buana ke mana pun yang dia mau.

Sampai aku menyadari satu hal yang berbeda. Sebuah jendela yang berasal dari bangunan di sebelah kosanku terbuka. Aku baru kali ini melihatnya terbuka selama beberapa bulan tinggal di sini. Jendela itu tidak sendirian. Sesosok makhluk tampak termenung di tepinya.

Makhluk itu berwujud perempuan. Dengan rambut berpotongan layer pendek, memperlihatkan sedikit lehernya. Pandangan si wanita mengarah ke bawah jendela, tampak melamun. Mungkin sama sepertiku, dia tidak sedang memikirkan apa-apa, hanya sekadar membiarkan pikirannya berkeliaran sesuka hari.

Semilir angin kembali berembus pelan. Kali ini aku melihat rambutnya bertiup, menerpa wajahnya yang masih belum terlihat jelas. Jemarinya bergerak menepis rambut-rambut nakal itu. Tanpa sengaja, dia menoleh.

Sepersekian detik, kami bertatapan. Aku melempar senyum. Dia tampak kaget, lalu buru-buru masuk dan menutup jendela.

Aku mengisap rokok dalam-dalam, belum mengalihkan pandangan dari jendela itu. Hingga malam semakin larut dan aku memutuskan masuk.

***

Beginilah malam Mingguku berikutnya. Masih di balkon yang sama, pemandangan belakang yang sama, semilir angin yang sama. Sesosok wajah di celah jendela itu tidak kembali. Jendelanya tertutup rapat, tidak pernah dibuka lagi.

Pernah beberapa kali aku iseng melempar kerikil ke jendela itu, berharap sosok itu terganggu dan keluar. Semua kerikilku diabaikan, atau dia memang tidak mendengar.

Malam ini aku mencoba tidak berharap lagi. Kubiarkan jendela  itu tertutup semaunya. Ada satu kerikil lagi, namun kali ini hanya kulempar-tangkap di tanganku, tidak ke arah jendela itu. Aku menahan diri.

Di penghujung malam, sebelum memutuskan masuk, aku ingin mencoba peruntungan terakhir. Menatap jendela itu beberapa saat, kemudian, aku mengambil ancang-ancang melempar si kerikil. Kerikil sudah terlempar, jendela bergerak terbuka. Sosok yang kunanti melongokan kepala, membuat si kerikil kurang ajar itu mendarat di pelipisnya.

Aku mendengar suara mengaduh pelan. Bukannya berlari masuk, aku malah diam di sana, setengah tidak percaya kalau aku baru saja melempari gadis itu dengan kerikil. Dia menoleh, menatapku dengan raut kesal. Aku melempar senyum salah tingkah, sedikit merasa bersalah, namun terselip rasa senang.

Aku mengangkat tangan. “Hai,” sapaku.

Dia menatapku beberapa saat. Rautnya masih tampak kesal. Namun, kemudian dia membalas sapaanku.

Dari sana semuanya bermula. Aku pindah ke sudut balkon yang paling dekat dengan jendelanya. Seakan tidak peduli ada yang mendengar, kami berbincang banyak. Membicarakan apa pun.

Yah. Beginilah malam Minggu berlalu seharusnya …


***

Wednesday, October 9, 2013

Pintu kecil di antara “Hai” dan “Bye”

Aku pernah mendengar, “Kalau ada pertemuan, pasti ada perpisahan.”
Ada yang menyahut, “Apa guna pertemuan, kalau akhirnya harus pisah?”
Ada lagi, “Nggak usah ngomong ‘halo’, kalau buntutnya bakal ada ‘dadah’.”

Seperti hari yang memiliki sunrise, dan pada akhirnya akan ditutup dengan sunset.

Aku benci perpisahan. Dalam bentuk apa pun. Singkat atau panjang. Sementara atau selamanya. Pilihan atau takdir. Aku tidak ingin kata ‘hai’ yang diikuti dengan ‘bye’. Daripada harus memiliki akhir, lebih baik tidak pernah berawal, bukan?

Kamu tertawa mendengar gerutuanku itu. Tawamu menyebalkan. Apa kamu tidak menyadari getar takut dalam suaraku? Aku selalu menyukai  tawamu. Tapi tidak malam itu. Aku tau, kamu tau begitu tawamu berhenti. Lalu, kamu bertanya, apa aku menyesali pertemuan kita, dengan ancaman perpisahan di baliknya? Aku bungkam.

“Ada pintu kecil di antara dua hal yang berlawanan,” katamu, memulai. Aku diam, mendengarkan. “Termasuk ‘hai’, dan ‘bye’.”

Aku tidak perlu membuka pintu kecil itu kalau tidak ingin mempertemukan ‘hai’ dan ‘bye’, pikirku. Aku tinggal mengunci pintu itu, membuang kuncinya sejauh mungkin, berharap tidak pernah ditemukan. Sederhana.

Sayangnya, tidak sesederhana itu. Aku lupa, kunci serep selalu ada. Siapa pun bisa mendapatkannya. Ketika si kunci ternyata jatuh ke tangan semesta, aku bisa apa? Aku menutup rapat pintu kecil itu. Menguncinya. Kemudian, semesta mengambil alih, membuka pintu itu selebar mungkin. Membuat ‘bye’ bertemu ‘hai’, lalu bertukar tempat.

Sekarang katakan padaku, Sayang. Apa yang bisa kulakukan? ‘Hai’ kita sudah berubah menjadi ‘bye’. Pintu kecilnya sudah terbuka lebar. Aku takut.

Tidak ada tawa menyebalkanmu yang menjawab takutku. Hanya sunyi. Terlalu senyap. Semua yang berawal, memang memiliki akhir.

Aku benci pertemuan. Di baliknya ada perpisahan. Sesuatu yang sangat kubenci.

Seandainya malam ini kamu ada dan kembali bertanya apakah aku menyesali pertemuan kita, kali ini aku akan menjawab.

Iya. Aku menyesali ‘hai’ kita. ‘Bye’ yang hadir setelahnya mengacaukan hidupku. Aku lupa bagaimana aku sebelum kita bertemu. Aku lupa bagaimana berjalan kembali menjadi aku, tanpa ada kita. Aku terbiasa mengucap ‘hai’ dan mengakhirnya dengan ‘sampai nanti’, bukan ‘bye’.

Sayang, ijinkan aku bertanya sekali lagi. Mengapa harus ada ‘bye’ di balik ‘hai’?


***