Monday, October 1, 2012

#FF2in1 Tetap Terindah

Mataku menatap nanar pada barisan kata di layar ponsel. Sebuah pesan baru yang sebenernya sedang kuusahakan agar tidak kuharapkan lagi. Kenapa sekarang? Pertanyaan itu muncul begitu saja, seiring dengan usaha otakku yang tengah mencoba menangkap isi pesan tersebut.

Bukan. Isi pesan itu bukan teka-teki rumit, seperti kode NASA atau semacamnya. Sebenarnya cukup sederhana. Hanya undangan untuk bertemu. Kalau saja pesan itu datang dari teman lama yang menghilang bertahun-tahun lalu mengajak bertemu, aku tidak akan sebingung ini. Juga kalau ternyata si pengirim pesan adalah penipu amatir yang berusaha memikatku dengan kata-kata menang undian puluhan juta dan mengajak bertemu, aku juga tidak selinglung ini.

Masalahnya, yang mengirim pesan itu adalah seorang yang telah memaksa dirinya menghilang dari hidupku selama bertahun-tahun, memaksaku untuk tidak mengingat-ngingat lagi apa pun yang pernah ada di antara kami. Dan sekarang dia tiba-tiba datang, mengajakku bertemu, untuk... apa tadi bunyi pesannya? Mengenang yang pernah ada?

Ya ampun! Aku benar-benar tidak tau harus melakukan apa sekarang. Sungguh! Beberapa tahun belakangan ini aku berusaha keras untuk mengenyahkannya. Aku tidak akan mengelak jika ada yang menuduhku masih mencintainya. Namun, jika aku menerima undangan itu, sama saja aku mengantar diri ke tiang gantung.

Sebut aku bodoh. Akhirnya aku memenuhi undangan kematian darinya. Dia sama sekali tidak berubah. Tetap menawan seperti yang kuingat. Ya Tuhan... lelaki ini benar-benar sudah mengacaukan otakku. Selama satu jam berikutnya, kami membicarakan banyak hal. Nyaris semuanya berubah selama perpisahan kami.

"Seandainya kita bisa berada di tempat yang sama, apa kita bisa mengulang semuanya lagi?" tanyanya.

Aku terdiam, menatap serbet kotak-kotak di depanku. Apa kami bisa? Tanyaku dalam hati. Yah, aku memang masih mencintainya, meskipun dia sudah menghancurkan hatiku dengan brutal waktu itu. Mungkin, kalau dia menyanyakan hal itu beberapa bulan setelah kejadian brutal itu, aku akan langsung menerimanya. Tapi, sekarang?

Menghela napas, aku menatapnya. Dia balas menatapku. Aku tersenyum sedih, tanpa melepaskan pandangan darinya, menunjukan sebuah cincin emas putih yang melingkar di jari manisku. Kemudian dia yang menghela napas.

Ya. Tanpa perlu mengatakan apa-apa, sepertinya dia sudah tau. Sesungguhnya, kami dipertemukan tidak untuk bersatu. Meskipun begitu, dia pernah menjadi sosok terindah dalam hidupku. Dan itu tidak akan pernah berubah.

Thursday, September 20, 2012

just let and go...

Tanganku meremas pulpen yang sudah kupegang sejak beberapa jam yang lalu. Mood menulisku sedang sangat baik tadi, sampai sepasang manusia yang sebenarnya tidak ingin kulihat memilih duduk di bangku yang tertangkap mataku. Si lelaki menyempatkan diri tersenyum padaku, sebelum menghadap wanitanya. Aku hanya bisa menatap mereka sambil menahan geram sekaligus rasa sedih. Saat tangan lelaki itu menggenggam tangan si wanita, mataku memanas. Aku masih sangat ingat bagaimana rasanya ketika tangan itu menggenggam tanganku. Menjanjikan sebuah perlindungan yang pasti tanpa rasa sakit. Seharusnya. Semua keindahan itu buyar ketika dia, lelaki itu, memilih memutuskan hubungan hanya karena orangtuaku tidak menyukainya. Seharusnya dia berjuang, kan? Aku menunduk ketika merasakan pelupuk mataku mulai dipenuhi air mata. Aku tidak mau dia melihatku masih menangisi perpisahan kami yang sudah berjalan hampir satu tahun. Seharusnya aku bisa lupa, kalau saja kami tidak terjebak dalam satu kantor. Setelah perpisahan terjadi, aku sering memikirkan apa makna pertemuan dan kebersamaan kami sebelumnya. Hanya untuk menggores kenangan indah yang kemudian berubah jadi pahit? Menggelikan. Dia lelaki terbaik yang pernah ada di sampingku sebelum ini. Mengapa dia memutuskan pergi? Sebelum air mataku benar-benar jatuh, aku memutuskan untuk pergi. Aku melihatnya sempat menatapku beberapa saat ketika aku berdiri, namun tidak menahan atau bertanya apa pun. Baiklah. Keputusan yang tepat. Karena, kalau dia bertanya, aku pasti sudah menangis dan itu adalah hal terakhir yang kubutuhkan.

take a chance!

Dia datang lagi. Mataku terpaku padanya, melupakan segelas vanilla-latte hangat yang sudah kuangkat dan siap kutempelkan di bibir. Tiap gerakanya tertangkap dengan jelas dalam pandanganku. Dia berjalan menuju meja barista dengan kepala menunduk, menatap sebuah buku kumal yang terbuka di tangannya. Saat tiba di meja bar, dia mengangkat kepala, menyunggingkan senyum kecil sopan pada si barista seraya menyebutkan pesanannya yang biasa, black coffee tanpa gula. Aku sama sekali tidak memiliki kuasa atas diriku sekarang. Mataku terus saja menatapnya dengan lapar, tidak peduli meskipun hal itu memalukan. Setelah membayar pesanannya, lelaki itu bersiap meninggalkan tempat itu. Kepanikanku, seperti yang biasa terjadi dalam seminggu ini sejak pertemuan dengan lelaki misterius itu, langsung terasa. Kali ini, aku tidak akan membiarkannya pergi begitu saja. Pintu mengayun terbuka. Aku meletakkan cangkir dengan sedikit buru-buru dan bergegas menyusulnya keluar. Sebuah kata sapaan meluncur dari mulutku. Dia berbalik, menatapku  dengan pandangan bertanya. Menelan ludah, aku mendekatinya. "Keberatan kalau aku mentraktirmu minum?" tanyaku. Lelaki itu hanya menatapku beberapa saat, kemudian dia merogoh saku mantelnya dan mengeluarkan pulpen. Dia menuliskan sesuatu di lembar kosong buku kumalnya, menyobek kertas itu, dan menyerahkannya padaku. "Mungkin lain kali. Hari ini aku sibuk," balasnya, kemudian dia berbalik pergi. Aku menatap punggungnya yang menjauh, lalu menunduk menatap robekan kertas di tanganku. Senyum kecilku tersungging melihat untaian angka yang tertulis di sana. "Aku pasti menghubungimu, Charlie," bisikku pelan.

Thursday, September 13, 2012

KumCer Fiksi Fantasi 2012

Akhirnyaa... setelah menanti sekian bulan, dia muncul juga :D
Buku ini berisi 15 cerita fantasi pendek dari 15 penulis yang terpilih dari lomba Cerpen Fiksi Fantasi 2012 yang diadain Ninelights awal tahun kemarin. Judulnya Kumpulan Cerpen Fiksi Fantasi Ninlights 2012: Sayap Ungu Tua di Jonggring Saloko.

Ini dia penampakannya :)


Cerpenku sendiri judulnya Bodies in The Glass. ini cerita fantasei pertama yang aku tulis. sekedar pengakuan, aku gak pinter bikin cerpen. jaraaaaangg banget suksesnya. setiap niat bikin cerpen 7 halaman, tau-tau udah jadi 70 halaman. nggak tau gimana ceritanya bisa sampe gitu. makanya, waktu baca info tentang lomba ini kemaren, aku agak gak yakin pengen ikut. jumlah karakternya pake dibatasin, cyin. makin keder lah saya :')

Trus, gimana cerpen ini akhirnya lahir? rada-rada genit juga sih sejarahnya :p
Jadi gini....

selayaknya cewek lain, aku paling demen liat cowok cakep seliweran. baik di tipi, majalah, atau depan muka langsung. tiap ngeliat cowok-cowok cakep itu, suka muncul pikiran, "Seandainya nih cowok-cowok bisa aku awetin, trus masukin lemari kaca buat jadi pajangan kamar. bakal betah deh aku." ganjen kan? hehehe
trus aku juga suka mikir gila, "sayang banget ya ketampanan mereka ntar luntur oleh waktu."

nahhh.... dari kekonyolan bin keganjenan itulah tiba-tiba aku kepikiran buat bikin cerita tentang kejadian gitu. dengan tokoh utama Earlene, sesosok Evangeline (keturunan penyihir dan malaikat), yang terobsesi sama cowok-cowok cakep dan gak rela ngeliat mereka jadi tua (kayak aku :p). dengan kekuatan yang dia punya, Earlene ngumpulin cowok-cowok itu buat jadi koleksi dia...


Penasaran gimana cerita lengkapnya?? bisa langsung diorder di sini lho :D

Selamat menikmati para pecinta fantasi :))


salam,

Elsa Puspita

Tuesday, July 17, 2012

My First: Wonderfully Stupid

Judul : Wonderfully Stupid
Penulis : Elsa Puspita
Penerbit : Bentang Belia
Tanggal Terbit : 9 Juli 2012
Harga : Rp 37.000,-






Sinopsis:
Hidup Lanna nggak tenang sejak naik ke kelas tiga. Bukan karena tuntutan belajar yang makin mencekik, melainkan karena ulah Arsen. Cowok ganteng satu itu supersinting mengejar-ngejar Lanna. Nggak hanya penampilannya yang nyentrik, cara PDKTnya pun tergolong aneh. Sampai-sampai Lanna harus menanggung malu atas kelakuan Arsen.

Meski Arsen ganteng dan jadi salah satu idola sekolah, Lanna tak lantas mau menerima cintanya. Arsen itu adik kelas Lanna, lagipula Lanna masih mengharapkan cowok lain, Aga. Seorang sahabat yang tiba-tiba menjauhinya dua tahun silam, tanpa Lanna tahu alasannya.

Arsen dan Lanna sama-sama gigih di jalannya. Arsen memperjuangkan cintanya untuk Lanna. Sedangkan Lanna tetap  dengan kebodohannya, menunggu Ega kembali, bukan lagi sebagai sahabat, melainkan cintanya.