Saturday, March 12, 2011

chapter 6 (una)

Bab 6

Laura mengajak Iluv memasuki salah satu ruang yang dipakai sebagai tempat Jessi melatih Iluv. Ternyata, Jessi sudah siap di ruangan itu. dia memakai you can see ketat dengan hot pant yang sangat pendek. Lekuk tubuhnya terpeta jelas. Diam-diam, Iluv iri juga melihat badan Jessi yang proposional. Rambut panjang Jessi diikat satu.

“Oke, kalian Mbak tinggal ya. Kalo ada apa-apa, Mbak ada di ruang pertemuan,” ucap Laura.

“Mbak, nggak bisa nemenin ya?” Iluv mencoba perjuangan terakhir.

“Maaf ya, Princess. Mbak masih harus ngawasin model-model latihan buat fashion show hari minggu nanti. Tenang aja, Jessi pasti berhasil ngajarin kamu. Iya kan, Jess?”

Jessi tersenyum sopan. Iluv mencibir melihat topeng Jessi. Setelah Laura keluar, Jessi mengunci pintunya.

“Duduk,” perintahnya.

Iluv duduk di lantai sambil memperhatikan ruangan tersebut. Tidak terlalu luas, namun juga tidak kecil. Tampaknya ini ruang latihan koreografi. Soalnya, ada cermin raksasa di dindingnya. Seluruh permukaan dinding itu tertutup dengan cermin.

Jessi duduk di depan Iluv. “Lo nggak usah takut gue apa-apain. Gue juga nggak bakal berani macem-macem sama keponakan tersayang Om Gerald.”

“Kenapa nggak? Bisa aja kan kamu nyiksa aku di ruangan ini dan nggak ada yang bakal tau karena kamu pinter mutar-balik fakta.”

“Bocah tolol!” umpat Jessi. “Liat sudut di belakang kamu.”

Iluv menoleh. Ada sebuah kamera pengawas di sana.

“Ngerti sekarang? Tapi, walaupun nggak bisa kasar sama lo secara fisik, gue nggak perlu ngomong lembut sama lo. Karena, untungnya nggak ada alat penyadap di sini dan kamera itu cuma ngerekam gerak-gerik kita. Nggak bisa ngerekam suara. Oke, daripada buang-buang waktu nggak penting, kita mulai,” Jessi mengeluarkan beberapa majalah fashion pada Iluv. “Mbak Laura nyuruh gue pertama kali ngajarin lo dandan. Lo punya alat make up?”

“Di rumah,” jawab Iluv.

“Huh,” Jessi mendengus seraya mengeluarkan perlengkapan make up-nya. “Gue bakal ngajarin lo make up sederhana yang biasa dipake buat sehari-hari. Tugas pertama lo adalah ambil alat make up yang gue sebutin. Eyeliner,” ucapnya cepat.

Iluv mengeluarkan alat make up Jessi satu-persatu. Dia menyerahkan eyeliner pada Jessi.

Not bad buat permulaan. Pondation?”

Iluv menyerahkan pondation pada Jessi.

“Oke. Gue akuin lo nggak buta masalah make up. Sekarang teori. Pertama kali yang harus lo lakuin sebelum make up, lo harus bersihin muka lo. Jangan sampe ada debu atau kotoran yang nempel. Terus lo harus bla… bla… bla…”

Iluv mendengar penjelasan Jessi dengan raut bosan. Dia juga hanya bisa pasrah saat tangan-tangan kejam Jessi mulai menari-nari di wajahnya untuk mempraktekan alat make up-nya. Dalam hati dia terus berdoa agar jam cepat menunjukan pukul delapan.

^^.

“Hai, Princess. How are you today?” tanya Mama semangat saat melihat Iluv pulang.

“Menyeramkan! Muka aku diubek-ubek oleh si Jessi. Dia nempelin segala macem benda yang… ugh! Nggak tau apa namanya. Sekarang kulit aku gatel semua!”

Honey, ini baru awal. Kamu belum terbiasa dengan alat make up. Nanti juga nggak gatel lagi. Mama udah liat alat-alat make up punya Jessi. Semuanya barang berkualitas. Nggak bakal bikin iritasi. Cocok buat anak seusia kamu. By the way, mana Papa?”

Tepat saat itu, Papa masuk sambil menenteng banyak tas belanja. Mama terbalak.

What is that?” tanya Mama tajam.

“Ini upah karena aku mau diubek-ubek Jessi.”

Mama mengamati satu-persatu barang belanjaan Iluv. “Dan Papa mau nemenin Princess belanja? Kenapa giliran Mama yang minta temenin nggak mau?”

“Mama kan tau gimana sifat Luvita kalo mau sesuatu. Nggak beda jauh sama Mama, malah dia yang lebih parah. Daripada ngamuk nggak mau pulang, mending Papa turutin. Salah Mama juga nyuruh Papa yang jemput dia. Papa kan nggak bisa keras sama dia.”

“Kenapa jadi Papa yang nyalahin Mama? Mama yang mau marah sama Papa!” serang Mama. “Apa yang kalian beli? Komik, komik, komik…” Mama menatap Papa tajam. “Nggak ada yang lain?”

Iluv mengambil kantong belanja berisi komik-komik itu dan berjalan pelan ke kamarnya.

“Papaaaa… Mama nih lagi jalanin proses perubahan Princess! Seharusnya Papa beliin dia baju-baju girly, aksesoris cantik, make up, bukannya malah komik! Papa gimana sih?”

“Maa… Papa nih baru pulang kerja, trus nemenin Luvita keliling-keliling beli komik, belum makan. Capek…”

I don’t care!” serang Mama. Dengan langkah gusar, beliau berjalan meninggalkan Papa yang menghela nafas berat.

“Tuhan, apa salahku sampai Engkau menganugrahi langsung dua wanita yang paling susah dihadapi dalam hidupku?” keluh Papa seraya berjalan ke kamarnya.

^^.

Ranti dan Yayan langsung mengerubungi Iluv dengan wajah cemas, khususnya Ranti, saat Iluv baru meletakan tasnya di meja. Didon yang tadinya berniat keluar kelas, langsung mengurungkan niatnya saat melihat Ranti duduk di bangku sebelah Iluv.

“Pagi, Ranti…” sapa Didon.

“Pagi,” balas Ranti asal. “Gimana, Luv? Parah?” tanyanya.

“Sangat! Liat muka aku!”

Ranti, Yayan, dan Didon menatap wajah Iluv dengan seksama. Iluv mendorong wajah Didon menjauh.

“Pergi sana!” usirnya.

Didon nyengir. “Bye, Ranti…” pamitnya.

Ranti tidak menanggapi. Dia masih menatap wajah Iluv.

“Nggak ada bekas tamparan,” ucap Ranti.

“Bekas dicakar juga nggak ada,” sambung Yayan.

“Ditonjok apalagi.”

“Dicubit ya?”

“Ihhh… liat yang bener!” omel Iluv.

Ranti memegang pipi kanan Iluv sementara Yayan memegang pipi kirinya. Mata keduanya menatap wajah Iluv dengan lebih seksama.

“Pipi kamu makin halus,” ucap Yayan.

“Keliatan seger,” tambah Ranti.

“Kamu pake make up lagi ya?”

“Nggak mungkin, Yan. Kalo make up pasti keliatan. Muka kayak gini tandanya abis maskeran. Kamu semalem pake masker ya?”

“Iya. Si Ratu Buaya itu yang nyuruh!”

Senyum Ranti mengembang. “Luv, kayaknya dia bener-bener bantuin kamu deh. Dia nggak niat bikin kamu celaka. Liat muka kamu! Kalo emang dia mau bikin kamu celaka, dia pasti nyari masker yang nggak cocok sama kulit muka kamu.”

Iluv dan Yayan menatap Ranti dengan kaget. “Are you serious?”

Yes, I am,” jawab Ranti. “Jessi nggak mungkin berani macem-macem sama kamu. Apalagi kamu kemaren udah ngancem dia bawa nama Om Gerald.”

“Jadi, aku harus tetep jalanin program latihan ini selama seminggu?”

Yup!” ucap Ranti. “Aku yakin. Minggu depan kamu udah bukan lagi baby Luvita, tapi bener-bener jadi princess Luvita.”

Iluv menatap Yayan, meminta bantuan. Yayan hanya mengangkat bahu. Dengan gusar Iluv keluar kelas, meninggalkan Yayan dan Ranti.

“Eh… Luv! Tunggu dong!” teriak Ranti sambil menyusul Iluv.

Bruk!

“Aww…” Ranti mengelus bahunya yang baru saja bertabrakan dengan sesuatu.

“Sori. Sakit?”

Ranti menoleh dan melihat Vedo berdiri di hadapannya. “Sakit. Dikit. Tapi nggak papa kok. Sori,” Ranti kembali berlari mengejar Iluv.

Vedo menatap sekilas ke arah Ranti dan Iluv. Bibirnya membentuk senyum kecil. Lalu dia kembali berjalan. Yayan tampak bingung melihat reaksi Vedo barusan. Namun dia tidak ambil pusing dan berlari kecil menyusul Iluv dan Ranti.

“Luv… tungguin dong!” pinta Ranti, melihat Iluv terus berjalan dengan cuek. Karena ada kejadian tabrakan dengan Vedo, jarak antara Ranti dan Iluv makin jauh.

Iluv pura-pura tidak mendengar. Dia terus berjalan. Tiba-tiba…

BRAK!

“Aww…” Iluv mengelus pantatnya yang mencium lantai.

“Ngapain lo? Nangkep kodok? Lepas tuh…” ledek Jessi yang entah darimana, tiba-tiba sudah berada di hadapan Iluv.

Iluv berdiri, mencari biang keladi yang membuatnya terjatuh. Matanya menangkap kulit pisang yang berada tak jauh dari kakinya. Dia mengambil kulit pisang itu dan melemparnya ke arah Jessi. Jessi tampak kaget.

“Apa-apaan sih lo?” serang Jessi marah.

“Aku liat kok kamu tadi yang buang kulit pisang itu ke depan aku. Jangan bohong!”

Jessi mendorong bahu Iluv dengan marah. “Jangan asal tuduh lo!”

“Aku nggak asal tuduh! Aku liat pake mata aku sendiri kamu yang buang kulit pisang itu.”

“Hei…”

Jessi dan Iluv menatap ke sumber suara. Vedo mendekati kancah pertengkaran mereka.

“Lo berdua nggak bisa ya kalo nggak ribut? Ini sekolah, bukan pasar,” ucapnya. “Dan lo,” tunjuknya pada Jessi. “Buang sampah di tempatnya. Untung bukan kepalanya yang kebentur lantai. Kalo nggak, bisa jadi masalah,” sambungnya.

Iluv menatap Vedo dengan terpesona. Saat tidak sengaja matanya bertatapan dengan mata Vedo, Iluv melihat bibir cowok itu membentuk senyum kecil. Iluv balas tersenyum lebar. Kemudian, tanpa memandang Jessi, Vedo berjalan melewatinya.

Jessi menatap Iluv dengan amat murka, seakan siap memanggang gadis itu hidup-hidup.

“Lo tunggu balesan gue!” ancamnya.

Iluv hanya mencibir. Kemudian dia berbalik menuju kelasnya, diikuti Ranti dan Yayan.

“Tau nggak?” tanya Iluv.

“Nggak,” jawab Ranti dan Yayan kompak.

“Tadi…” Iluv menarik nafas dalam. “Vedo senyum sama aku! Ihh… manis banget!!”

“Ooo…”

“Kok cuma ‘Ooo’?” protes Iluv pada dua sahabatnya itu.

“Waaah…”

“Huh!!” Iluv mempercepat langkahnya menuju kelas.

Ranti dan Yayan saling pandang, lalu terkikik sendiri seraya menusul langkah Iluv.

^^.

Wajah Jessi kali ini benar-benar menyeramkan. Iluv menelan ludah, pasrah atas apa yang akan menimpanya.

“Lo jangan ngerasa menang dulu,” Jessi mengeluarkan kata sambutannya dengan sangat dingin. “Mentang-mentang Vedo bersikap baik sama lo tadi, jangan kira lo udah ngalahin gue. Belum! Butuh waktu beratus-ratus abad buat ngalahin gue.”

Iluv tidak menanggapi. Takut Jessi makin meledak.

“Kita mulai pelajaran kedua. Cara jalan. Lo bisa pake high heels?” tanyanya dengan nada sedikit menghina.

Iluv menggeleng jujur. Seumur-umur dia belum pernah memakai high heels. Paksaan mamanya tidak pernah berhasil membuatnya menurut. Dia lebih memilih memakai sepatu model balet atau sandal yang tidak ada hak.

“Udah gue duga,” dengus Jessi. Dia mengeluarkan sepasang high heels dari dalam kotak yang daritadi berada di sampingnya. “Pake,” perintahnya.

Iluv ternganga. Sepatu yang diberikan Jessi ini benar-benar menyaramkan. Haknya sekitar sebelas senti dan amat tipis. Nyaris seperti tusuk gigi.

“Kalo patah gimana?” tanya Iluv, berharap Jessi menggantinya dengan hak yang lebih rendah.

No problem,” jawab Jessi membuat Iluv kaget. “Bukan sepatu gue kok. Itu punya lo. Nyokap lo sendiri yang ngasih ke Mbak Laura pas tau kalo gue mau ngajarin lo cara jalan. Jadi, mau patah, rusak, apalah, terserah. Gue nggak peduli.”

Iluv menatap Jessi dengan amat benci. Jessi tersenyum meledek.

“Kenapa? Takut? Nggak mampu?”

Iluv langsung memakai sepatu itu.

“Oke, berdiri,” ucap Jessi. Dia sendiri juga sudah memakai high heels yang tinggi haknya sama dengan milik Iluv. Dia berdiri dengan mantap, seakan-akan high heels adalah benda yang dipakainya sehari-hari.

Iluv berdiri perlahan dengan takut-takut. Lututnya bergetar saat dia mencoba menyeimbangkan tubuh. Jessi melipat kedua tangannya tanpa berniat membantu Iluv. Setelah Iluv berhasi berdiri, Jessi mengajaknya ke pinggir ruangan. Iluv mengikutinya perlahan.

“Ihh… lambat amat sih! Buruan dong!” omel Jessi melihat Iluv masih tertatih perlahan.

Setelah Iluv berdiri di sampingnya, Jessi menyerahkan setumpuk majalah pada Iluv.

“Buat apa nih? Kamu mau nyuruh aku jalan sambil baca?” tanya Iluv.

“Lo nih bego banget ya? Nggak mungkin lah gue langsung nyuruh lo gitu. Gue nggak pengen bermasalah sama keluarga lo kalo sampe kaki lo patah. Itu ngancurin karir gue.”

“Trus?”

Jessi menggertakan giginya dengan geram menghadapi kelemotan Iluv. “Taruh majalah-majalah itu di kepala lo!”

“Hah?”

“Ihhh…” Jessi merampas majalah-majalah tersebut dari tangan Iluv dan meletakannya di kepala gadis itu. “Lo jalan sampe ke ujung sana,” ucapnya sambil menunjuk ujung ruangan. “Jangan sampe majalah-majalah di kepala lo itu jatoh.”

“Mana bisa!” protes Iluv. Disusul jatuhnya satu majalah.

Jessi memungut majalah yang terjatuh itu dan kembali meletakannya di kepala Iluv. “Harus bisa. Kalo sampe akhir pelajaran ini nggak berhasil, lo harus latihan di rumah. Besok lo tunjukin ke gue dan harus udah lancar. Liat gue,” Jessi berjalan anggun, layaknya model di atas catwalk, ke ujung ruangan. “See?” ucapnya.

Iluv menelan ludah. Perlahan, dia mulai berjalan sambil menahan agar majalah di kepalanya tidak jatuh. Baru dua langkah, seluruh majalah di kepalanya berjatuhan.

“Ambil!” perintah Jessi. “Ulang dari awal!”

Iluv menurut. Begitu terus menerus. Setiap ada majalah yang jatuh, walau hanya satu, Jessi dengan kejamnya menyuruh Iluv mengulang dari awal. Hingga akhirnya, tinggal beberapa langkah mencapai ujung, majalah-majalah itu jatuh karena Iluv bersin. Iluv menatap Jessi, berharap mendapat keringanan.

“Ulang dari awal,” desis Jessi kejam.

“Tapi…”

“Lo mau ngebantah gue? Gue berani ngelapor ke nyokap lo kalo lo balum ngalamin perubahan. Dan lo tau akibatnya kan? Nggak mustahil waktu belajar lo sama gue diperpanjang.”

“Hah? Ogah!” ucap Iluv langsung. “Seminggu aja udah merupakan musibah buat aku! Apalagi diperpanjang!”

“Kalo gitu nurut! Dan lo bakal dapetin kebebasan lo lagi.”

Dengan gusar, Iluv memungut majalah-majalah yang berjatuhan dan berjalan cepat ke tempat semula. Dia lupa kalau sedang memakai hak. Hingga…

Brak!

Jessi tersenyum sinis melihat Iluv meringis kesakitan. Dia berjalan mendekati Iluv dan membantunya berdiri.

“Kalo aja nggak ada kamera pengawas, nggak sudi gue bantuin lo,” ucapnya tajam.

Iluv harus menahan sabar untuk tidak menjitak kepala Jessi dengan sepatu haknya.

^^.

Iluv mengurut kakinya sambil menunggu jemputan di teras agency. Laura dan para pengajar beserta pegawai masih berada di dalam untuk beres-beres sebelum pulang. Kalau Jessi sudah pulang sejak setengah jam yang lalu. Pelajarannya kali ini benar-benar mengerikan. Tumitnya sampai lecet-lecet. High heels pembawa bencana di telantarkan di sampingnya.

“Princess.”

Iluv menoleh. Mamanya sudah datang. Dia berdiri dengan tampang cemberut.

“Gimana?”

“Mama nih kejam banget sih? Mama kan tau aku nggak bisa pake hak tinggi. Masa langsung beliin yang sebelas senti?” semprot Iluv langsung.

Mama tersenyum kecil. “Itu saran Jessi. Katanya, daripada yang rendah, mending langsung yang tinggi. Kalo kamu berhasil menguasai yang tinggi, nggak bakal ada masalah pake yang rendah. Gimana? Kamu udah bisa?”

“Kalo di dalem ruangan udah bisa. Aku kira dia udah puas. Ternyata belum! Dia mau siksa aku lebih kejam. Besok aku diajak latihan di atas rumput, di jalan aspal, di tempat berkerikil, sampe naik-turun tangga! Kalo kaki aku sampe patah gimana?”

Mama tersenyum seraya merangkul Iluv. “Tenang aja. Selama Mama suka pake high heels, nggak pernah tuh kaki Mama sampe patah. Ternyata, Jessi benar-benar berpengalaman ngajarin cewek polos. Kalo dia berhasil ngajarin kamu, Mama bakal saranin ke Gerald biar dia dijadiin pengajar di sini.”

“Aku nggak setuju! Dia bisa tambah semena-mena, Mama!”

“Keras itu dunia model, Honey. Mama nggak nyalahin Jessi kalo dia tegas sama kamu. Emang itu tujuan Mama minta dia ngelatih kamu. Biar kamu jadi cewek anggun yang disiplin. Kalo aja kamu nggak nolak Mama suruh jadi model, gabung sama agency Mama atau Gerald, kamu kan nggak perlu susah kayak gini.”

“Di upah ketemu sama Orlando Bloom juga aku belum tentu mau jadi model!” sungut Iluv.

“Kalo ketemu Mr. Bean?” goda Mama.

Iluv mendengus kesal, lalu berjalan menuju mobilnya. Mama tersenyum kecil. Beliau berjalan masuk agency untuk pamit dengan Laura dan yang lain. Setelah itu, Mama baru menyusul Iluv ke dalam mobil.

“Mau makan apa?” tanya Mama. “Hari ini kamu Mama kasih upah makan sepuasnya. Dan kamu bebas mau milih apa aja.”

“Beneran?” tanya Iluv sedkit tertarik. “Jappanese fast food,” ucapnya mantap.

Mama melongo. “Honey, bukankah kita udah sepakat kalo fast food nggak bagus buat kesehatan?”

“Katanya terserah aku!”

“Oke, ini yang terakhir,” ucap beliau tajam.

Iluv tersenyum cerah. Mobil pun berjalan pelan meninggalkan Evlyn Agency.

^^.

Jessi menunggu Iluv di halaman belakang Evlyn Agency. Tempatnya memang cocok untuk memperlancar cara berjalan Iluv dengan high heels. Bukan hanya karena penuh rumput, tapi juga karena ada banyak kerikil di sana. Begitu Iluv tiba, Jessi langsung menyuruhnya memakai high heels. Iluv hanya menurut.

“Kemaren, lo udah lumayan bagus. Cuma masih kurang gesit. Gerakan lo tuh kayak balita belajar jalan. Tapi, buat orang awam yang baru belajar pake high heels, lumayan lah. Sekarang, lo harus berhasil jalan di rumput dan kerikil ini. Nanti di sambung jalan di aspal. Kita pake jalan depan, keliling-keliling. Gue sengaja nunggu sore biar kulit gue nggak rusak kena sinar ultra violet.”

”Kan ada sun block,” ledek Iluv.

Sun block yang gue punya itu barang impor! Mahal. Gue nggak sudi ngebuangnya cuma buat nemenin lo latihan jalan keliling-keliling. Lagian, body lotion yang gue pake udah mengandung unsur sun block. Jadi, lumayan buat cuaca yang nggak panas-panas amat,” jelas Jessi. “Sekarang lo jalan. Kayak kemaren,” ucapnya seraya menyerahkan beberapa majalah pada Iluv. “Kalo lumayan lancar, lo harus jalan sambil baca. Ini berguna biar lo bisa membagi pikiran antara jalan dengan hal lain. Nggak lucu kan kalo lo jalan sama cowok, entah siapa, yang jelas nggak mungkin Vedo, trus lo nggak denger ucapan dia karena terlalu fokus sama langkah lo.”

“Kayaknya bakal lancar nih,” dengus Iluv. “Yah… paling nggak kalo kaki aku patah pelajaran ini berakhir.”

Bukannya takut atau cemas, Jessi malah tersenyum penuh kemenangan. “Gue udah minta ijin sama nyokap lo. Lo nggak tau ya? Setiap nyusun jadwal latihan, gue kompromi dulu sama nyokap lo dan Mbak Laura. Dan kalo gue ngejalaninnya, berarti program latihan itu udah disetujui oleh mereka, apapun akibatnya. Jadi, lo nggak bisa lagi ngancem gue.”

Iluv melongo dengan sukses. Jadi, penderitaan yang akan dijalaninya suda diketahui sang mama. Pantas tiap kali dia protes atau mengeluh, Mama hanya tersenyum sambil mengucapkan kata-kata untuk menenangkannya.

“Ngerti sekarang, Princess?” ledek Jessi.

Iluv meletakan majalah-majalah itu di atas kepalanya, dan mulai berjalan perlahan. Jalan di atas rumput dengan bonus kerikil-kerikil kecil, jauh lebih susah dibanding jalan di lantai marmer yang mulus. Apalagi kali ini Jessi bukan menyuruhnya jalan dari ujung ke ujung seperti kemarin, melainkan menuruhnya mengelilingi halaman itu. Iluv hanya pasrah sambil mengulang berkali-kali karena majalah di kepalanya terus berjatuhan.

“Oke, istirahat lima menit. Lo boleh minum,” ujar jessi.

Iluv melepas high heels-nya dengan kesal. Kemudian dia menghabiskan sebotol air mineral yang sudah di siapkan oleh office boy.

“Mengenai taruhan kita,” Jessi tau-tau sudah duduk di samping Iluv. Namun, dia tidak melepas high heels-nya. “Waktu lo tinggal dua minggu lebih. Panitia pensi udah bergerak. Semuanya nyaris selesai. Lo masih punya waktu buat ngundurin diri.”

Only in your dream,” balas Iluv.

Jessi tersenyum menghina. “Lo tuh cewek paling keras kepala yang gue kenal. Dan tolol,” dia berdiri. “Mulai lagi. Waktu istirahat udah abis. Sekarang lo sambil baca. Harus bener-bener baca.”

Iluv ikut berdiri setelah memakai high heels-nya. Dia mengambil salah satu majalah. Dia bukan pecinta majalah fashion. Jadi, dia bisa pura-pura membaca, padahal masih fokus dengan jalannya agar tidak jatuh. Namun, Jessi menahan gerakan tangan Iluv yang sudah menyentuh majalah.

“Gue nggak bego. Lo lupa kalo gue selalu kompromi sama nyokap lo? Majalah kayak gini nggak bakal bikin lo tertarik. Lo pasti nanti pura-pura baca, padahal lo masih fokus sama jalan lo.”

“Trus? Gue baca apa?”

Jessi menyerahkan sebuah komik pada Iluv. Komik seri terbaru dari salah satu koleksi Iluv yang belum sempat dibelinya.

“Mama kan?”

Jessi hanya tersenyum licik. “Mulai sekarang,” perintahnya.

^^.

Begitu sampai di rumah, Iluv langsung menuju kamarnya untuk tidur. Tapi, Mama menahannya.

“Kamu harus mandi dulu. Badan kamu penuh keringat. Trus, pake masker. Jessi udah bilang kan kalo maskernya harus dipake dua hari sekali? Udah itu baru tidur.”

“Ma, aku udah capek banget!”

“Mandi bikin capek kamu hilang. Trus, kalo udah mandi kamu turun lagi. Makan dulu. Bentar lagi Papa pulang. Kita makan sama-sama.”

Dengan pasrah Iluv berjalan menuju kamarnya untuk mengambil baju ganti. Hanya sepuluh menit dia di dalam kamar mandi. Mama tidak bohong. Mandi membuat rasa capeknya sedikit berkurang.

Saat Iluv tiba di meja makan, papanya ternyata sudah pulang. Kedua orangtuanya sudah mulai menikmati makan malam mereka. Iluv bergabung.

“Jessi bilang kamu udah bisa jalan pake high heels sambil baca. Berarti kamu udah berhasil membagi fikiran kamu.”

“Iya. Akibatnya lutut aku lecet gara-gara keseringan jatoh,” omel Iluv.

“Itu cuma awal, Honey. Nanti pasti nggak jatuh lagi. Katanya, kamu juga udah bisa jalan di aspal ya?”

Iluv mengangguk. Untuk bagian di aspal, bukan hanya lututnya yang jadi sasaran. Siku di kedua tangannya juga sudah lecet.

“Ma,” Iluv teringat sesuatu hal yang sangat penting. “Besok dia mau ngajarin aku naik-turun tangga. Kalo aku jatoh gimana?”

Honey, Jessi sudah memperhitungkan segalanya. Latihan di tangga nanti, dia jalan di depan kamu. Jadi, kalo kamu mau jatuh, dia yang nahan. Kamu tenang aja.”

“Penting ya belajar kayak gini?” tanya Papa.

“Sangat! Papa nggak mau kan Princess terus-terusan jadi anak kecil?”

“Luvita memang masih kecil, Ma. Umurnya kan baru lima belas tahun. Biarin dia ngelewati masa remajanya dengan wajar. Nanti juga bisa sendiri segala macam hal wanita.”

“Tanggung. Udah jalan. Tinggal lima hari lagi,” jawab Mama. “Eh, Pa, Gerald besok ke sini. Soalnya hari minggu nanti agency-nya yang di sini mau fashion show. Dia ngajak kita makan malam di restoran tempat dia nginep. Papa nggak lembur kan?”

Papa mengangguk. Iluv berseri-seri.

“Jadi, besok aku nggak latihan sama Jessi?”

“Kata siapa?” tanya Mama. “Kamu besok masih latihan di rumah. Soalnya kan mau turun-naik tangga. Kalo di agency, bahaya. Tangganya kan sering di pake orang lewat. Jadi, Mama nawarin di rumah kita. Jessi setuju. Cuma, besok latihannya selesai lebih cepat.”

Iluv kembali manyun.

chapter 5 (una)

Bab 5

“Serius?” mata indah Ranti mengerjap tidak percaya dari balik kacamatanya mendengar apa yang keluar dari mulut Iluv. Seperti biasa, selama menjalani masa taruhan, mereka berkumpul di rumah Iluv sepulang dari sekolah. “Kamu lagi nggak mimpi kan? Yah… siapa tau karena capek abis ngelilingi lapangan bola yang nyaris nyaingin stadion Kamboja gitu, kamu jadi kayak liat fatamorgana. Yakin tuh beneran Vedo?”

Iluv mengangguk, masih dengan raut mupeng. Botol minum yang tadi diberikan oleh Vedo, dipeluknya erat, seolah itu berlian yang paling berharga, lebih berharga dibandingkan Heart of Ocean di Titanic (haree… genee… masih ngomongin Titanic? Si Jack sama Rose-nya udah tua kaleee…). Tapi, kalaupun disuruh milih antara ‘botol minum from Vedo’ atau berlian-nya Titanic, otomatis Iluv lebih milih berlian. Botol minum dari Vedo kan bisa minta lagi kapan-kapan. Tinggal pura-pura capek di depan si cakep itu, dikasih minum deh.

Tapi… ngomong-ngomong soal Titanic, SUMPRIT! Tuh satu-satunya film yang nggak bosen-bosen buat ditonton. Bayangin! Kisah cinta antara Putri Bangsawan dengan cowok gembel nggak jelas (yang anehnya kok bisa cakep ya?). Walaupun si Kate nggak sadar ngalamin love at the first sight, tapi, dia pasti udah ngerasa ada getar-getar aneh waktu ditolong si Jack (nama asli Jack tuh bukan Jaka kan? Hehe… garing…). Lika-liku yang mereka hadapin, sampe akhirnya Jack harus menghembuskan nafas terakhir karena beku (hiks…), perjuangan Rose manggil-manggil sekoci yang lewat pake peluit yang nemu dari salah satu awak kapal (langsung niup lagi, nggak pake dilap dulu), bener-bener bikin nangis bombay walaupun udah nonton DVD dan VCD-nya berkali-kali (sekedar info neh, kasetnya sampe lecet-lecet lho!).

STOP! Hei! Kok malah ber-nostalgila dengan Titanic sih? Nggak penting bangeeeeeet!!!!

Lanjut lagi deh! Iluv masih menampakan raut mupengnya sambil terus memeluk erat botol minum yang seharga dengan berlian berharga.

“Luv!” tegur Ranti, takut sahabatnya itu kerasukan. Gimana nggak takut. Daritadi Ranti liat mata Iluv menerawang jauh.

“Vedo tuh kereeeeen banget! Beneran…” ucap Iluv, masih mupeng.

“Sadar woy!” tegur Yayan sambil mendorong bahu Iluv cukup kencang.

Raut mupeng Iluv langsung berubah dengan raut kesal. Yayan dengan sukses sudah mengusir sosok Vedo dalam pikirannya. Padahal, tadi tuh Iluv sedang membayangkan sedang menyusun potongan puzzle hingga membentuk wajah Vedo. Gara-gara Yayan, semuanya kacau. Iluv memandang sahabatnya itu dengan murka.

“Kamu tuh nggak bisa ya kalo nggak gangguin aku? Gangguin Ranti aja kenapa sih?”

“Yang aneh tuh kamu. Kalo si Ranti yang bersikap aneh kayak orang stress gitu, baru aku ganggu dia. Baru dikasih minum aja hebohnya udah kayak dilamar.”

Iluv berdiri sambil berkacak pinggang. Matanya melotot ke arah Yayan. “Itu tuh udah kemajuan bagus, tau! aku tadi udah putus asa banget karena rencana hari ini terancam gagal gara-gara make up aku berantakan. Nah, kalo tiba-tiba dalam keadaan hancur gitu Vedo masih mau deketin, itu nunjukin kalo aku tuh punya peluang dan Vedo nerima aku apa-adanya!”

“Dan itu berarti,” Ranti meneruskan, melihat Iluv yang sudah ngos-ngosan saking kesalnya. “Peluang Iluv buat menangin taruhan ini besar. Aku bener-bener pengen ngeliat wajah angkuh Jessi tuh malu karena kalah. Selama ini, dia kan selalu ngerasa diri paling hebat. Aku muak sama dia.”

“Kenapa kamu nggak minta dia di keluarin aja?” tanya Yayan.

Ranti dan Iluv menatap Yayan dan berkata kompak. “Kita kan penentang KKN, Driyan Anggara!”

“Ye… ye… ye…” jawab Yayan malas. “Emang kamu tau arti KKN, Luv?” tanyanya. Kalau Ranti, tidak perlu ditanya. Yayan yakin gadis itu bisa menerangkan seluruh isi buku Kewarganegaraan dengan baik. Mungkin lebih baik dari cara mengajar Pak Tagor, guru KWN mereka.

“Yah… peduli amat tau apa nggak. Kalo Ranti udah ngomong gitu juga, pasti aku nggak salah kan?” ucap Iluv.

Yayan mencibir.

“Udah. Sekarang kita pikirin rencana selanjutnya. Karena Vedo udah nunjukin reaksi positif ke kamu, kayaknya kamu nggak masalah deh kalo mulai bertindak juga. Jadi, nggak cuma nungguin dia. Asal, jangan agresif. Harus di bawah kontrol aku sama Yayan. Jangan sampe dia il feel sama kamu sebelum kita jatuhin si Ratu Buaya Jessi itu. Ngerti?”

Iluv mengangguk. Ranti baru akan kembali bersuara ketika pintu kamar Iluv lebih dulu dibuka. Mama melangkah masuk dengan senyum merekah.

Sorry, children,” ucap beliau. “Ranti, Yayan, Bunda bukannya mau ngerusak acara kalian. Sebenernya, siang ini Bunda punya acara sama Princess. Bukannya ngusir lho. Cuma, buat hari ini kalian nggak bisa kumpul-kumpul sampe sore kayak biasa. Nggak papa kan?”

Ranti dan Yayan menatap Iluv, sementara Iluv menatap mamanya.

“Acara apa? Mama nggak bilang mau ada acara. Tumben dadakan?”

“Princess, my honey, Mama baru kepikiran waktu kamu udah berangkat sekolah tadi. Mama nyusun program pembelajaran kepribadian buat kamu. Jadi, selama seminggu ke depan, kamu akan berlatih kepribadian buat jadiin kamu seorang princess.”

“Seminggu?” ketiga bocah di hadapan Mama melongo dengan sukses.

Yup! Just one week. Setelah itu, kalian bisa main-main lagi.”

“Tapi, Ma… aku, Ranti, sama Yayan nih lagi ada proyek penting.”

“Mama cuma minta waktu seminggu. Pokoknya kamu harus ikut atau kalian Mama hukum nggak boleh ketemu selama sebulan!”

Iluv melongo. Mamanya ini memang sering bertindak tanpa berfikir. Tapi, walaupun konyol, ancaman yang keluar dari mulut beliau tidak pernah main-main dan benar-benar akan terjadi. Iluv hanya bisa pasrah saat Ranti dan Yayan pamit pulang.

“Oke. Show time!” ucap Mama semangat seraya menyuruh Iluv siap-siap.

^^.

Sedan merah milik Angel Ferice, mama Iluv, berhenti di depan sebuah bangunan lumayan besar bertuliskan ‘Evlyn Agency’. Mama turun dengan ceria sementara Iluv tampak bengong.

“Ngapain ke sini? Om Gerald pulang ya?” tanya Iluv seraya mengikuti langkah mamanya memasuki bangunan itu.

Keep silent and follow me,” ucap Mama.

Mereka menuju meja resepsionis. Seorang wanita muda, tampangnya sederhana namun tetap memukau dengan olesan make up. Nama Fitria Ningsih tertera di ID card resepsionis itu.

“Bu Angel,”

Madame Angel,” ralat Mama sambil tersenyum manis.

“Maaf,”

Forget it,” Mama mengibaskan tangannya. “Kamu yang menerima telpon saya tadi kan?”

Fitria mengangguk sopan. “Sekarang Mbak Laura lagi ada pertemuan dengan para model. Katanya mau membahas tentang fashion show minggu depan.”

“Oow… temanya?”

“Ng…” Fitria mencoba mengingat-ingat. “Oh… gaun musim semi. Perancang busananya Givan Anwar, desainer yang baru saja meampungkan karya-karya barunya.”

Did you tell Gerald about it?” tanya Mama.

“Sudah, Madame. Mbak Laura yang menghubungi Pak Gerald. Dua hari lagi beliau ke sini untuk mengecek persiapan acara tersebut.”

“Oh… sistem kerjanya benar-benar bagus. Saya nggak nyesel nyuruh Gerald yang ngelola agency ini. Oke, waktu saya sangat terbatas. Tolong panggil Laura sekarang.”

“Maaf, Bu, eh, Madame, Mbak Laura tadi pesen jangan ada yang ganggu selama dia masih di ruang pertemuan.”

Mama menyunggingkan senyum manisnya sambil menatap tajam pada Fitria. “You call her, orI will do it,”

Dengan gelagapan, Fitria mengangkat telpon untuk menghubungi Laura.

“Maaf, Mbak. Madame Angel dan putrinya, Princess sudah datang,” ucap Fitria gugup.

“Ta…” ucapan Fitria terpotong. Dia menatap gagang telpon di tangannya dengan nelangsa. Takut-takut, dia kembali menatap Mama. “Mbak Laura minta Madame menunggu sepuluh menit.”

“Oke. Came on, Princess,” Mama menarik Iluv memasuki sebuah pintu bertuliskan ‘Meeting Room’.

Fitria mencoba menahan, namun terlambat. Pintu itu sudah di tutup dengan debam pelan.

Ruangan pertemuan itu berukuran lebih besar daripada ruang depan. Sekitar dua puluh model laki-laki dan perempuan duduk mengelilingi seorang wanita muda berusia sekitar 25an. Tampaknya mereka sedang membicarakan hal serius, namun terpotong karena kedatangan Iluv dan mamanya.

Good afternoon, everybody,” sapa Mama riang.

Wanita yang duduk di tengah, Laura, bangkit berdiri sambil tersenyum hangat, dan berlari pelan mendekati Mama. Kemudian kedua wanita itu berpelukan sambil cipika-cipiki.

“Mbak Angel. Udah lama nunggu?” tanya Laura.

“Nggak. Baru nyampe, trus ngobrol-ngobrol sebentar sama Fitria. Nggak ganggu kan?”

“Nggak kok, Mbak,” jawab Laura riang. “Pertemuannya udah selesai. Cuma membahas sekilas acara minggu depan. Aku udah dapet orang yang sesuai sama permintaan Mbak.”

Are you really?” tanya Mama semangat. “Aku tau kamu bisa diandalkan. Yang mana?” sambung beliau sambil menoleh ke arah dua puluh model yang sekarang terdiam.

Laura menatap satu-persatu model asuhannya. “Jessi,” panggilnya.

Iluv yang masih belum mengerti rencana mamanya, makin bingung saat melihat sosok Jessi mendekati mereka.

“Jessica Alverita,” Laura mengenalkan Jessi pada Mama.

“Panggil Jessi aja, Tante,” ucap Jessi pelan sambil tersenyum kecil.

No… no… no… call me Bunda, like another Princess’s friend,” ucap Mama semangat. “Princess, what do you think?”

“Aku nggak ngerti, Ma,” Iluv berusaha besuara. Matanya terus menatap Jessi yang melempar senyum mengejek padanya. “Kenapa Mama bisa berurusan dengan Ratu Buaya ini?” tanyanya sambil menunjuk Jessi.

Mama, Laura, dan Jessi sendiri, menatap Iluv dengan kaget.

Shut up, Princess!” ucap Mama tegas. “Jessi yang akan mengajarkan kamu banyak hal tentang dunia perempuan. Mulai dari kepribadian, tata cara make up, dan fashion. Selama seminggu penuh kamu akan bergaul dengan dia dari pulang sekolah sampai jam delapan malam.”

“Hah?” Iluv melongo dengan sukses. Dia menatap Jessi, yang masih tersenyum mengejek, dengan pandangan tidak percaya. “Kenapa dia?”

“Jessi yang terbaik, Princess,” Laura yang menjawab. “Mbak nggak asal pilih kok. Di antara semua model di sini, cuma Jessi yang cocok buat ngajarin kamu. Selain karena dia menguasai bidang yang akan diajarkannya ke kamu, dia juga kenal sama kamu. Makanya Mbak pikir kalian akan lebih cocok dan nggak harus melakukan adaptasi dulu.”

“Tapi…”

“Kamu nggak boleh protes, Princess. Mama yakin Jessi benar-benar bisa merubah kamu dari gadis polos menjadi gadis anggun.”

“Jadi gadis anggun? Jadi bubur mungkin iya!” batin Iluv. Matanya masih menatap tidak suka pada Jessi.

“Oke, Princess?”

Iluv menatap Laura. “Nggak ada pilihan lain ya?”

“Princess Luvita, look at me!” perintah Mama.

“Iya… aku mau diajarin dia. Cuma seminggu kan?” ucap Iluv akhirnya, pasrah. Dia melihat kilat kemenangan di mata Jessi.

^^.

Ranti melongo tidak percaya. Gagang telpon di tangannya nyaris jatuh mendengar penuturan Iluv barusan.

“Ran? Kok diem sih?” terdengar suara Iluv.

Ranti tersadar. “Kok kamu nggak nolak sih? Itu pasti dijadiin Jessi sebagai ajang buat jatuhin kamu!”

“Kamu kayak nggak kenal Mama aja. Mana bisa aku bantah perintahnya. Aku harus gimana sekarang?” ujar Iluv histeris sambil mengunyah keripik kentang.

“Kamu ini lagi panik masih sempet-sempetnya ngunyah. Makan apaan?” tanya Ranti saat mendengar bunyi ‘kriuk-kriuk’ heboh yang ditimbulkan Iluv.

“Keripik kentang. Mau?” tawar Iluv.

“Bodoh,” dengus Ranti. “Secanggih-canggihnya zaman, nggak mungkin bisa ngasih makanan lewat telpon. Tulalit kamu tuh kurangin dikit dong. Vedo tuh kan pinter. Nggak cukup modal tampang deketin dia tuh. Otak juga harus jalan. Jessi yang sebenernya lumayan pinter aja masih nggak berhasil deketin dia. Kalo kamu nggak ngalamin kemajuan juga, aku bener-bener pesimis kamu bakal berhasil. Mulai sekarang kamu harus banyak baca. Main internet tuh jangan cuma buka twitter sama nulis blog nggak jelas. Buka juga website yang bikin pengetahuan kamu nambah. Biar pinteran dikit.”

“Ranti, tujuan aku nelpon kamu tuh buat bantuin aku bebas dari taring si Ratu Buaya Jessica Alverita itu. Bukan mau denger ceramah kamu yang entah kapan selesainya. Kalo bisa, aku maunya curhat sama Yayan. Tuh anak paling diem atau ngeluarin komentar nggak penting. Nggak sampe ceramah panjang lebar kayak kamu.”

“Ya udah! Telpon Yayan aja sana!” semprot Ranti.

“Tuh kan… gitu aja ngambek. Maaf…” pinta Iluv. “Jadi aku harus gimana? Nurut sama Jessi dan Mama seneng, atau ngelawan Jessi dan Mama ngamuk?”

Walaupun masih gondok dengan Iluv, Ranti ikut berfikir. Tidak ada pilihan yang bagus. Apapun yang dipilih Iluv mempunyai keuntungan dan kerugian masing-masing.

“Yang jelas menurut aku nggak ada hal yang lebih buruk dibanding dengan terkurung selama seminggu di kandang Buaya itu. Atau… gini aja! Kamu minta Mbak Laura buat nemenin selama Jessi ngelatih kamu. Jadi, si Ratu Buaya itu kan nggak bisa macem-macem. Atau, kamu minta Bunda yang nemenin.”

“Aku juga udah mikir gitu. Tapi nggak bisa. Aku sama Jessi bakal latihan di ruangan khusus. Mbak Laura sekarang lagi sibuk ngurusin fashion show buat minggu depan. Dan Mama… kamu tau kan? Arisan… arisan… dan arisan. Mana bisa nemenin aku. Dan aku yakin, kalo Mama ikut nemenin hari aku bakal jadi lebih buruk!”

“Seenggaknya kan Jessi nggak bisa semena-mena di depan Bunda.”

“Satu lagi yang bikin sebel!” sela Iluv. “Mama nyuruh dia manggil Bunda kayak temen aku yang lain. Heloooo!! Dia tuh musuh aku! Masa dianggep temen cuma gara-gara satu sekolah?”

“Sabar aja ya, Luv. Aku sama Yayan aja yang nemenin kamu. Bunda pasti nggak keberatan kan?”

Wajah Iluv berbinar senang. Dia berdiri dan membawa telpon wireless-nya ke kamar mandi. Ada panggilan alam. J

“Bener tuh! Mama pasti nggak keberatan. Lebih asik lagi kalo kita bertiga ikut belajar. Si Jessi nggak bakal bisa ngelawan kita kan?”

“Iya. Oke, kamu minta ijin Bunda, aku telpon Yayan sekarang.”

“Oke!” Iluv mematikan telpon. Setelah selesai dengan ‘panggilan alam’-nya, Iluv mencuci tangan dan berjalan keluar, menuju ruang tengah tempat orangtuanya sedang menonton TV.

“Ma…” panggil Iluv sok manja.

Mama yang sedang mengoleskan kuteks (karena lagi dapat tamu bulanan. Walaupun agak ajaib, masalah ibadah beliau nggak main-main. Sekedar info, waktu SMA, Mama masuk pesantren gara-gara tingkahnya makin ajaib. Untunglah, keluar dari pesantren sifat Mama lebih baik, walaupun belum dikatakan bener-bener bagus), menoleh sebentar, lalu kembali konsentrasi pada kuteksnya.

“Apa? Uang jajan?”

“Bukan…”

“Trus?”

“Ng… masalah pelajaran sama Jessi. Ranti sama Yayan…”

No,” jawab Mama, seakan sudah tau arah tujuan pembicaraan Iluv.

“Kenapa?” protes Iluv. “Paaa…” rengeknya, meminta bantuan Papa.

“Papa nggak tau apa-apa. Ngomong sama mama kamu langsung,” ucap Papa tanpa berpaling dari TV.

“Princess, kalo kamu belajar sama Ranti dan Yayan, Mama nggak yakin akan berhasil. Kalian pasti lebih banyak main-main. Kasian kalo Jessi sampe nggak bisa ngontrol kalian. Lagipula, yang butuh pelajaran ini cuma kamu. Yayan kan cowok, nggak mungkin mau ikut. Sementara Ranti, sebagai seorang remaja perempuan sifatnya benar-benar perfect. Nggak heran sih kalo liat siapa ibunya,” ucap Mama yang memang berteman baik dengan orangtua Ranti dan Yayan, khususnya ibu Ranti yang merupakan sahabat dekat Mama sejak SMP. “Kamu juga harus bisa jadi remaja anggun.”

“Mama nggak kenal sama Jessi. Gimana kalo dia ternyata jahat?”

“Mama kenal sama dia. Jessi itu udah gabung di agency Mama sejak pertama berdiri, sampe sekarang. Om Gerald juga udah Mama kasih tau masalah ini. Dan dia sepakat sama Mama dan Laura kalo Jessi is the best. Oke, honey?”

“Maa…”

“Udah ah. Mama mau konsen pake kuteks. Nggak lucu kalo nggak rata. Besok ada pertemuan ibu-ibu kompleks.”

“Paling arisan lagi. Pa… bantuin dong!”

“Kamu kan tau kalo Papa nggak pernah menang lawan Mama,” jawab Papa.

“Mama mau bikin acara amal buat anak-anak jalanan. Kamu ini mikir jelek terus,” omel Mama. “Darling, uang belanja Mama udah tipis nih…”

Papa menatap Mama. “Gimana sih, Ma? Kan baru Papa kasih minggu lalu?”

“Princess minta ke salon. Nggak mungkin dong nggak Mama kasih. Trus buat beli baju, sepatu, alat make up, aksesoris. ATM Mama udah tipis.”

Papa menggeleng tidak percaya. “Pake credit card aja. Masih Papa juga yang bayar.”

“Mama maunya uang tunai! Liat tuh dompet Mama. Tinggal berapa ratus. Came on, Darling…”

“Ihh… Papa curang! Giliran Mama diturutin semua!” protes Iluv.

Mama melotot. “Makanya, nikah. Cari suami yang kerjanya bener. Jadi bisa minta uang terus kayak Mama.”

“Lama-lama Papa bisa bangkrut,” ucap Papa pelan.

“Jadi nggak ikhlas ngasih nafkah buat istri sendiri?” ancam Mama.

Papa nyengir. “Nggak kok, my angel. I love you, babe…”

Mama tersenyum menang sambil melirik Iluv yang wajahnya makin cemberut. Iluv berdiri dengan gusar dan berjalan kembali ke kamarnya.

“Luvita,” panggil Papa.

Langkah Iluv berhenti. Dia berbalik, masih cemberut. “Apa?”

“Telpon yang kamu pake tadi mana?”

Iluv menatap kedua tangannya yang kosong.

“Jangan bilang ketinggalan di kamar mandi,” ucap Mama.

Iluv mendengus sebal seraya menuju kamar mandi. Setelah mengambil telpon dan melemparkannya pada Papa, dia kembali berjalan menuju kamarnya. Papa meletakan telpon itu di tempatnya semula, sementara Mama kembali asik mengoles kuteks di kukunya.

“Cantik, kan, Darling?” tanya Mama seraya menunjukan kukunya.

Papa menoleh sekilas, lalu kembali menatap TV. “He-eh,” jawabnya singkat.

^^.

Iluv menyantap makan siangnya tanpa selera. Ranti dan Yayan yang ikut menemaninya ke kantin tidak bisa berbuat apa-apa.

“Ambil hikmahnya aja deh, Luv,” ujar Yayan.

“Hikmah apa yang bisa diambil dari kejadian terkurung selama seminggu di kandang Buaya itu?” serang Iluv.

Ranti ikut menatap Yayan dengan heran. Dia sepakat dengan luv. Tidak ada hikmah berharga yang bisa diambil dari kejadian seminggu bergaul dengan Jessi. Kalau ‘jadi makin membenci si Ratu Buaya itu’ bisa dianggap sebagai hikmah, yah… itulah hikmah yang paling berharga.

“Siapa tau dengan bergaul selama seminggu sama dia, kalian bisa akrab dan mutusin buat jadi temen dan membatalkan taruhan yang amat sangat nggak penting ini.”

“Kamu nggak serius kan, Yan?” tanya Iluv tidak percaya. “Yang ada, aku sama Jessi tuh makin saling benci. Kamu nih bener-bener nggak ngebantu deh…”

“Kan belom dicoba,” Yayan membela diri.

“Kamu mau jadiin aku kelinci percobaan yang pertama kali masuk ke singasana Ratu Buaya?”

Excuse me.”

Iluv, Ranti, dan Yayan kompak menoleh. Entah sejak kapan, Jessi, Agne, dan Friska sudah berdiri di belakang mereka.

“Gue cuma mau ngasih tau princess,” ucap Jessi dengan nada menghina. “Pulang sekolah nanti langsung ke Evlyn Agency. Jangan mampir ke mana-mana. Waktu yang lo punya buat belajar sama gue tuh cuma seminggu.”

Iluv berdehem mengiyakan, dengan harapan Jessi akan segera pergi. Namun, keinginannya tidak terkabul.

“Jujur ya, menurut gue ini nih pekerjaan yang sia-sia banget. Kalo aja bukan Mbak Laura atau Madame Angel langsung yang minta, gue nggak mau ngabisin waktu buat ngajarin lo. Seminggu lagi. Mustahil banget! Dikasih waktu setahun juga belum tentu lo bisa berubah. Tapi, buat menghargai dua orang yang berhasil bikin gue kayak gini, yah… terpaksa gue mau.”

“Kalo kamu pikir aku seneng diajarin kamu, ihh… maaf aja. Kamu salah! Aku juga terpaksa tau!” balas Iluv.

Whatever,” ucap Jessi. “Inget! On time! Gue nggak mau sampe ditegur Mbak Laura cuma gara-gara princess manja kayak lo ini telat. Ngerti lo?”

Iluv menggebrak meja dengan kesal. “HEH! Aku tuh nggak mau belajar sama kamu! Jangan mentang-mentang Mama yang minta kamu ngelatih aku, trus kamu ngerasa punya kekuasaan atas aku ya! Kalo kamu nanti berani macem-macem, aku nggak segan-segan ngelaporin kamu langsung ke Om Gerald!”

Wajah Jessi tampak kaget. Dia sedikit ketakutan juga mendengar ancaman Iluv. Namun, dia berusaha menutupinya. Dengan lagak angkuh, dia mengajak dua kroninya meninggalkan kantin. Iluv kembali duduk. Mukanya masih amat kesal.

“Sabar, Luv…” ucap Ranti menenangkan.

“Gimana aku bisa sabar ngadepin Ratu Buaya itu? Dia tuh selalu bikin aku kesel! Nggak punya hati banget sih? Awas aja. Aku bener-bener bakal ngelaporin dia ke Om Gerald kalo sampe dia berani macem-macem.”

“Katanya bebas KKN…” ledek Yayan.

“Pengecualian buat Jessi!”

“Udah deh, Yan,” potong Ranti melihat Yayan akan kembali membalas ucapan Iluv. “Buat sekarang aku setuju sama Iluv. Kalo si Jessi berani macem-macem, dia nggak ngasih kamu pilihan selain lapor langsung sama Om Gerald. Secara Om Gerald tuh kan sayang banget sama kamu karena dia sendiri juga nggak punya anak dan kamu tuh satu-satunya keponakan yang dia punya. Kita nggak jamin si Jessi dikeluarin dari agency itu, tapi seenggaknya dia dapet teguran dari Om Gerald yang kemungkinan bisa bikin dia di blacklist.”

“Bener tuh!” ucap Iluv semangat.

“Kalo perlu, kita bikin dia nightmare karena ngerasa bakal dikeluarin dari agency.”

“Kamu ternyata bisa kejam juga ya, Ran?” gumam Yayan.

“Ini penting buat ngadepin Jessi. Kalo nggak, dia yang ngancurin kita. Kamu mau?”

Yayan tidak menjawab. Tepat saat itu bel tanda pelajaran dimulai berbunyi. Ketiganya berjalan menuju kelas masing-masing. Ranti menuju kelasnya, X.1, sementara Yayan dan Iluv menuju kelas X.4.

Di sudut kantin, Vedo hanya tersenyum kecil mendengar pembicaraan tiga adik kelasnya itu. Dengan senyum mengembang, dia ikut keluar kantin menuju kelasnya, XII IPA 3.