Saturday, March 12, 2011

chapter 2 (una)

Bab 2

Mata Iluv melotot dan mulutnya menganga lebar melihat daftar yang dibuat Ranti.

Kiat Sukses memenangkan taruhan Princess Luvita vs Jessica Alverita:

A. Langkah Awal: PERUBAHAN

B. Langkah Selanjutnya: PENDEKATAN

C. Langkah Akhir: PENYELESAIAN

A. Perubahan:

Hal-hal yang harus dilakukan:

a) Permak fisik: ke salon, manicure, pedicure, luluran, facial, dll. Singkatnya, melakukan perawatan seluruh tubuh.

b) Permak sifat: perbaiki cara ngomong, tingkah laku, cara jalan, gaya berpakaian, dsb. Tampil semaksimal mungkin agar terlihat sejajar dengan target.

B. Pendekatan:

Hal yang harus dilakukan: mengetahui secara menyeluruh, dari hal besar sampai yang mendetail tentang target. Ini memudahkan kita untuk menarik perhatian target dan mendekatkan diri dengannya.

Langkah awal: buat agar target menyadari keberadaan kita. Dengan begitu kita bisa memulai aksi pendekatan.

Langkah kedua: jika sudah mulai sering ngobrol, mulai ajak target jalan. Bisa dimulai dengan pura-pura minta temani ke toko buku, atau ke tempat yang disukai target.

PS: Jangan terlalu agresif. Kalo target sudah menolak ajakan awal, pakai strategi lain yang lebih memungkinkan untuk nggak ditolak.

C. Penyelesian:

Kemungkinan besar lawan mengincar malam pensi yang jatuh ± 30hari lagi. Saat itu merupakan perjuangan terakhir kita. Kita harus benar-benar tampil maksimal dan tunjukan pada lawan kalo kita nggak serendah yang dia pikir selama ini. Biarkan target yang memutuskan hasil akhir.

GANNBATE!!!

(by: Feranti Claudia [Ranti] & Driyan Anggara [Yayan])

“Yayan beneran ikut nyusun?” tanya Iluv tidak percaya, mengingat waktu kemarin mereka kumpul di rumahnya, Yayan hanya ngemil, nonton TV, main PS, dan chatting. Iluv juga masih ingat Yayan sempat ketiduran saat dia dan Ranti sedang sedang seru-serunya berdiskusi.

“Iya. Dia bantuin aku ngabisin makanan. Sama kayak yang dilakuin di rumah kamu. Dia cuma ngabisin stok cemilan aku, ngacak-ngacak rak kaset PS aku, yah… hal-hal yang biasa dilakukan seorang Yayan,” semprot Ranti.

“Trus? Kok nama dia ditulis juga?”

“Yah… sebenernya aku nggak minta ditulis. Aku cuma ngomong, kalo nama aku nggak ditulis, berarti aku nggak diajak dalam misi kalian ini. Itu tandanya aku nggak usah repot-repot nganter kalian ke mana-mana,” jelas Yayan sambil nyengir.

Ranti tidak menanggapi Yayan. Dia mengambil kertas dari tangan Iluv dan kembali mengamatinya.

“Hari ini kita mulai ngapain?” tanya Iluv.

“Tunggu dulu…” ucap Ranti. Matanya masih fokus pada kertas. “Kayaknya, lebih enak kalo ngelatih kepribadian dulu, baru ngurusin fisik. Betul nggak, Yan?”

Yayan ikut mengamati kertas tersebut. “Iya. Mending kepribadian dulu. Fisik dia kita ubah waktu mau masuk ke langkah kedua, pendekatan.”

Ranti mengeluarkan binder-nya. “Nih, gue udah susun jadwal. Tapi, kayaknya harus diubah dikit,” ucapnya seraya mulai sibuk menulis.

Mereka bertiga sedang duduk di kelas Ranti, X.1. Kelas itu berhadapan dengan kelas XII IPA 3. Saat Ranti masih sibuk menulis, iseng Iluv menoleh ke luar kelas, tepatnya ke arah kelas XII IPA 3. Senyumnya langsung tersungging saat melihat sosok Vedo keluar dari kelas itu bersama beberapa temannya. Dari arah mereka berjalan, Iluv tau mereka menuju kantin.

“Ran, lanjutin di kantin yuk. Laper nih…” ajak Iluv.

Ranti menatap Iluv, kemudian ganti menatap Yayan. Lalu dia menutup binder-nya.

“Yuk, deh. Aku juga laper,” jawabnya.

Iluv lebih dulu keluar kelas, disusul Ranti dan Yayan.

“Kamu tau kan alasan dia tiba-tiba pengen ke kantin? Kok nurut?” tanya Yayan pada Ranti.

“Biarin aja dia cuci mata. Kalo udah bener-bener ngejalanin langkah pertama, dia nggak akan bisa lagi kayak gini. Aku bakal bener-bener kurung dia biar siap ngadepin Vedo.”

“Maksudnya?”

Ranti mengibaskan tangannya. “Liat aja nanti. Kamu pasti…”

PRANG!

Ranti dan Yayan kompak menoleh ke depan. Celaka seratus tiga belas! Di hadapan mereka, Iluv baru saja bertabrakan dengan Vedo yang sedang membawa makanannya untuk mencari bangku. Parahnya lagi, piring berisi nasi goreng yang dibawa cowok itu terjatuh dan pecah. Bukan hanya itu. Setengah dari es jeruk yang dibawa Vedo juga membasahi kemaja putihnya.

“M… m… ma… maaf…” pinta Iluv terbata-bata.

Dan… seakan belum lengkap, sosok Jessi dengan kroninya bergabung di area pertempuran. Wajahnya terlihat puas saat melihat kesalahan fatal yang sudah dibuat Iluv terhadap Vedo. Dia tersenyum meledek ke arah Iluv yang nyaris menangis, lalu dengan raut kaget yang sangat dibuat-buat, dia ganti menatap Vedo.

“Ya ampun! Baju kamu jadi kotor gini!” ujarnya seraya mengelap baju Vedo dengan tisu. “HEH!” Jessi melabrak Iluv. “Kalo jalan tuh liat-liat dong! Jangan asal tubruk sana-sini! Nggak liat baju Vedo jadi kotor gini?”

“Sori…” Yayan maju. Dia tidak tega juga melihat mata Iluv berkaca-kaca karena bentakan Jessi dan tatapan maut Vedo. “Iluv emang salah. Tapi nggak harus main bentak kan? Dan juga, yang berhak ngomel tuh Kak Vedo, bukan kamu.”

“Karena Vedo cuma diem, makanya gue yang gantiin dia nyemprot temen lo yang nggak punya otak itu!”

“HEH!” Yayan mendorong bahu Jessi cukup keras. “Jangan mentang-mentang anak kelas tiga dan kami anak kelas satu, kamu pikir aku takut ngelawan kamu!”

“Lo berani?” tantang Jessi naik pitam.

“Norak amat sih?” serang Vedo dingin sebelum Yayan kembali bersuara. Suaranya amaat dingin, sedingin kutub utara. “Masalah sepele aja mau dibesarin,” sambungnya seraya melepas kemejanya hingga sekarang dia hanya memakai kaos oblong warna putih. Dia menatap Iluv. “Lain kali jangan asal sradak-sruduk. Beruntung lo nabrak gue. Kalo nenek sihir ini yang lo tabrak, bisa sampe presiden urusannya.”

Wajah Jessi memerah, semerah tomat yang kelewat matang. Bukan hanya malu, dia juga marah karena Vedo terkesan memihak Iluv.

“Nafsu makan gue ilang. Gue cabut,” pamit Vedo pada teman-temannya seraya berjalan meninggalkan kantin.

Sepeninggal Vedo, Jessi berdiri tepat di depan Iluv. Di belakang Iluv, Yayan dengan sigap melindunginya, jaga-jaga kalau Jessi melakukan kekerasan.

“Liat aja lo ntar! Kalo kalah, bukan cuma nggak bisa dapetin Vedo. Gue juga bakal bikin lo nyesel pernah cari masalah sama gue. Juga lo berdua!” tunjuknya pada Ranti dan Yayan.

Ranti melotot. “Takut deh aku…” ledeknya. Jelas saja Ranti tidak takut. Sama seperti Jessi yang ayahnya donatur tetap SMA ini, ayah Ranti juga donatur utama. Bahkan, pendiri SMA Ganesha ini adalah kakek Ranti dari pihak ibunya, Yang sekarang menjadi ketua yayasan adalah om-nya. Memang tidak ada yang tau hal itu, termasuk para guru dan staf TU, bahkan Kepala Sekolah. Ranti hanya memberitahu hal itu pada Iluv dan Yayan yang merupakan sahabatnya dari kecil. Sangat bertolak belakang dengan Jessi yang memang menginginkan satu sekolah tau kalau ayahnya berperan penting dalam kemajuan sekolah dengan tujuan menjadi penguasa.

“Lo juga nantangin gue?” bentak Jessi.

Ranti tidak menjawab. Dia melengos, lalu menarik Iluv meninggalkan kantin. Yayan menyusul mereka.

“Ati-ati, Jess. Kalo cewek yang nantang lo sama yang cowok emang nggak ada apa-apanya. Tapi, nggak sama cewek yang satunya. Gue denger, bokap dia pengusaha besar. Gue juga denger kalo bokapnya tinggal di luar negeri,” jelas Agne.

Jessi menatap punggung Ranti yang menjauh. “Pantes dia berani nantang gue. Ternyata dia nggak cuma modal nyali.”

Sementara itu, Vedo yang sebenarnya masih berdiri di dekat kantin, menatap sosok Iluv, Ranti, dan Yayan yang berjalan menjauh. Senyum kecil tersungging di bibirnya. Hatinya tiba-tiba diliputi suatu kesenangan. Sesuatu yang selama tiga tahun terakhir tidak dimilikinya. Vedo merasa debar aneh di dadanya.

“Apa gue mulai bisa jatuh cinta lagi?” batinnya sambil terus menatap tiga sosok yang makin menjauh itu.

^^.

“Kita bener-bener nggak bisa santai!” ucap Ranti semangat. “Sekarang bukan cuma kamu yang terlibat, Luv. Aku sama Yayan juga udah jadi inceran dia. Hari ini kita mulai Pelatihan Kepribadian kamu.”

Ranti, Iluv, dan Yayan sedang berkumpul di rumah Iluv, tepatnya di ruang TV. Yayan asik tidur-tiduran sambil nonton DVD film Pirates of The Caribbean, The Curse of The Black Pearl. Ranti dan Iluv tidak memperdulikannya. Iluv sebenarnya ingin ikut nonton. Apalagi Orlando Bloom sudah menjadi idolanya sejak dia masuk SMA, tepatnya sejak dia naksir berat sama Orlando Vedora alias Vedo. Tapi, kalau dia melaksanakan keinginannya, Ranti pasti tidak segan-segan mencincangnya dan memecatnya sebagai sahabat saat ini juga. Ya iyalah! Gadis emosional plus darah tinggi seperti Ranti, tidak mungkin memaafkan kalau Iluv asik-asik nonton sementara dia sibuk memikirkan strategi menjatuhkan Jessi sekaligus mendapatkan Vedo. Padahal, jelas-jelas ini adalah kepentingan Iluv. Kalau saja dia mengambil tindakan pintar dengan menolak tantangan Jessi, walaupun dengan resiko dicap pengecut, setidaknya hidup mereka akan tetap aman, damai, sentosa, dan terkendali.

“Yan! Nyalain musik aja! Nggak asik banget sih kamu? Kalo musik kan kita bisa denger semua,” protes Iluv. Wajahnya benar-benar mupeng melihat sosok William Turner yang diperankan oleh bintang pujaannya.

“Bilang aja lo pengen ikut nonton,” ledek Yayan tepat sasaran.

Iluv cemberut. Dia kembali berusaha fokus pada semua omongan Ranti. Sesekali dia juga curi pandang ke layar TV, dan tidak berhasil menyembunyikan raut irinya saat melihat wajah cantik Keira Knightley, si pemeran Elizabeth Swann.

“Coba aku cantik kayak Keira.”

“ILUV!” teriak Ranti histeris. Gimana nggak histeris kalau dia sudah menerangkan panjang lebar sampai mulutnya berbusa lebih heboh daripada deterjen manapun, sementara Iluv, yang diberi pengarahan, malah menatap layar TV dengan mupeng. Ranti sangat yakin kalau Iluv tidak menangkap apapun yang dikatakannya. “Yayan! Matiin TV-nya. Kalo pun mau nonton, jangan film yang ada bau si Orlando bloon itu! Kamu nonton berita aja biar Iluv nggak ikut nonton.”

“Lho? Kok gue yang dihukum sih, Ran,” protes Yayan

“Orlando Bloom, Ranti! Bukan bloon!” protes Iluv.

“Pokoknya matiin TV-nya, dan kamu, Iluv, kalo nggak mau dibantu bilang aja. Aku pulang sekarang!”

“Iya… iya… maaf…” pinta Iluv.

“Emosian banget sih?” sambung Yayan sambil mematikan TV dan DVD player. Kemudian dia berdiri. “Pulang ah. Kalian lagi nggak asik diajak main.”

“Selangkah kamu ninggalin tempat ini, jangan harap aku mau temenan sama kamu!” ancam Ranti.

“Aku juga!” Iluv ikut-ikutan.

Yayan kembali duduk dengan wajah dongkol. “Dasar cewek-cewek egois! Aku ngapain di sini? Cuma jadi kambing congek sementara kalian nyusun strategi buat jatuhin si Ratu Buaya sama Mr. Perfect itu?”

“Pokoknya, selama misi ini dijalanin, kamu nggak bolah jauh dari aku sama Iluv.”

Yayan bangkit, lalu tidur-tiduran di sofa.

“Nah, pertama aku mau memperbaiki cara kamu senyum. Coba sekarang senyum,” perintah Ranti.

Iluv menarik bibirnya ke atas dengan paksa.

“Duuuhhh! Jangan kayak gitu. Senyum biasa aja. Jangan terpaksa.”

Iluv kembali tersenyum. Tapi, malah jadi seringaian yang sangat tidak enak dilihat. Yayan membekap wajahnya dengan bantal agar Ranti dan Iluv tidak melihatnya menahan tawa.

“Senyum, Iluv. Smile!” bentak Ranti. Lalu dia tersenyum kecil. “Gitu! Bukan menyeringai, tapi tersenyum.”

“Nggak bisa, Ranti!”

“Ihhh…” Ranti menarik kedua pipi Iluv ke atas dengan gemas. “Gini!”

“Aaaww! Sakit tauuu!!”

Tawa Yayan yang mati-matian ditahan pun akhirnya pecah. “GOKIL! Kalian tuh konyol banget tau nggak? Masa senyum aja pake dilatih segala? Kalo emang ada hal yang lucu, pasti bisa senyum sendiri kok!”

“Kamu baru berapa hari sih kenal Iluv? Kalo ada hal yang lucu dikiiiiiit aja, yang jayus bin garing sekalipun, nih anak pasti ngakak kayak orang sinting! Mana mungkin sekedar senyum. Aku malah nggak pernah liat senyum dia. Kalo nyengir nyebelin udah sering. Makanya perlu dilatih!”

“Hmmph…” Yayan kembali menahan tawa. “Yang perlu berlatih senyum tuh kamu, Ran. Jangan marah-marah terus. Cepet tua ntar.”

“Diem ah! Bantuin nggak, bikin kacau terus!”

“Yee… yang ngelarang aku pulang siapa?”

Ranti tidak menanggapi Yayan. Dia kembali fokus pada Iluv. “Selama dalam misi ini, kamu harus ngontrol ketawa. Bukan berarti nggak boleh ketawa. Ketawa, tapi yang anggun. Kalo ada hal-hal lucu, jangan ngakak apalagi sampe pegang-pegang perut. Cukup senyum kecil. Kalo berhasil, kamu udah selangkah lebih maju buat jadi cewek anggun.”

“Ran, nahan ketawa tuh lebih susah daripada nahan kentut!” protes Iluv.

“Aku nggak nyuruh kamu nahan ketawa, tapi MENGONTROL ketawa kamu biar nggak ngakak.”

“Gimana caranya?”

Ranti menghela nafas kesal. “Yan, kamu ada kaset film Mr. Bean nggak?” tanyanya.

“Kok nanya Yayan? Aku punya kok! Lengkap malah!” protes Iluv.

“Bukannya kamu pinjem punya Yayan?”

“Yayan kale yang minjem punya aku.”

Yayan cuma nyengir. “Otak kamu kayaknya capek deh, Ran. Makanya udah nggak bisa bekerja normal. Mending kamu nyegerin otak. Refreshing, gitu. Jadi nggak butek.”

“Makanya gue minta film Mr. Bean. Ada nggak?” semprot Ranti.

“Ambil, Yan,” perintah Iluv.

Walau dongkol mendengar nada perintah Iluv, Yayan tetap berdiri dan melangkah menuju kamar Iluv. Tak lama kemudian, dia kembali ke ruang TV dengan tumpukan kaset.

“Mau nonton yang mana, Ran?” tanya Yayan.

“Tentang tahun baru aja!” usul Iluv.

“Terserah. Yang penting puter kasetnya sekarang.”

Yayan memasukan kaset itu ke dalam DVD player. “Kamu aneh banget sih? Tadi larang aku nonton. Sekarang malah nyuruh nonton. Si Iluv kan fans setia Mr. Bean. Kalo si Orlando Bloom yang baru jadi idola aja dia nggak bisa nahan, apalagi Mr. Bean?”

“Diem deh. Nonton aja,” perintah Ranti.

Baik Yayan maupun Iluv tidak ada lagi yang berkomentar. Dalam sekejap, mereka sudah asik nonton dan terbahak heboh. Terutama Yayan dan Iluv. Sementara Ranti menatap TV dan Iluv bergantian. Tiba-tiba, saat Yayan dan Iluv masih tertawa dengan semangat, (heran deh! Padahal Mr. Bean tuh sudah di putar berjuta-juta kali, bahkan sampai kasetnya lecet-lecet. Tapi, maniak seperti Iluv dan Yayan masih tetap tertawa, yang menurut Ranti, sangat berlebih.) Ranti menekan tombol pause hingga film berhenti sejenak.

“Lho? Ranti! Kok di-pause-in sih? Kan lagi seruuu!!” protes Iluv seraya mencoba mengambil remote dari tangan Ranti.

“Ini yang harus diubah!” serang Ranti galak.

“Apaan?” tanya Iluv, masih berusaha mengambil remote.

“KETAWA KAMUUUU!!!”

Yayan berdecak kesal. “Masih ngomongin masalah cengiran? Emang kenapa sih? Kayaknya nggak ada yang salah deh dari Iluv. Lebih enak ngeliat orang yang ketawanya lepas kan daripada yang sok-sok nahan ketawa cuma biar dibilang anggun?”

Ranti berdiri. “Kalo kalian berdua ngerasa lebih tau, ya udah. TERSERAH!” ucapnya seraya berjalan keluar.

Baik Iluv maupun Yayan tidak ada yang menahannya. Iluv mengambil remote dan menekan tombol play. Dalam sekejap, keduanya kembali larut dalam kehebohan tawa. Tiba-tiba…

“Ihhhh!! Kalian berdua tuh nyebelin banget!!!”

Yayan dan Iluv kompak menoleh.

“Kenapa nggak nahan aku biar nggak pulang?” protes Ranti.

“Biar nggak ada yang ganggu,” jawab mereka.

“HUH!” Ranti berbalik pergi.

Yayan dan Iluv saling pandang. “Satu…” ucap mereka pelan. “Dua…” mereka tersenyum licik. “Tiga!”

“ILUV!! YAYAN!! TAHAN AKU DOOOONG!!!” teriak Ranti kesal.

^^.

“INGET!” pesan Ranti, entah untuk yang keberapa kali. “Kontrol ketawa kamu.”

Iluv pura-pura tidak mendengarkan. Dia malah asik membaca komik sambil terkikik geli. Ranti melihat komik yang dibaca Iluv.

“Shinchan?” desis Ranti bagai ratu ular.

Iluv melepaskan matanya dari komik dan menatap Ranti. Kalau mereka menjadi tokoh komik, Iluv yakin tubuhnya pasti digambar mengecil, sementara Ranti, tubuhnya tetap kecil, hanya kepalanya yang membesar dengan dua tanduk, gigi bertaring, dan lidah ular. Siap membasmi Iluv.

“Kamu niat berubah nggak sih?” bentak Ranti.

“Niat! Tapi jangan spontan kayak gini dong! pelan-pelan. Pake proses.”

“Iluv sayang…” suara Ranti benar-benar menyeramkan. Iluv sampai merinding mendengarnya. “Aku nih udah pake cara yang paling pelan.”

“Yah… nggak usah pake acara ngubah cara ketawa. Ketawa aku ya gini. Nggak bisa berubah.”

Ranti menarik nafas putus asa. “Oke. Kalo kamu emang nggak mau. Jadi, kamu mau belajar apa?”

“Yang lain. Asal jangan ketawa.”

Belum sempat Ranti menjawab, sosok Vedo muncul di hadapan mereka. Langkah Ranti dan Iluv terhenti.

“Hai, Vedo!” sapa Iluv semangat.

Vedo berhenti di depan mereka dan tersenyum kecil. Iluv terpaku. Ranti menyenggol lengannya. Begitu tersadar, Iluv balas tersenyum kecil dengan sangat… manis. Ranti melotot sebal. Kemarin, seharian dia narik urat untuk membuat Iluv bisa tersenyum manis. Sampai beberapa saat yang lalu usahanya gagal. Iluv masih terkikik menyebalkan. Sekarang, saat sosok Vedo berdiri di hadapannya, tanpa kesulitan sedikitpun bibir mungil Iluv berhasil menyunggingkan senyum.

“Dari mana?”

Ranti melongo. Sejak kapan nada bicara Iluv berubah lembut? Mereka bahkan belum menyinggung soal “Perubahan Cara Bicara”.

“Kelas. Mau ke perpus. Kalian?” Vedo balik nanya.

Iluv tetap tersenyum kecil. “Keliling-keliling aja. Nih mau balik ke kelas. Bentar lagi kan mau bel.”

“Ooo… ya udah. Bye…” Vedo kembali berjalan setelah melambai kecil pada Ranti dan Iluv.

Bye…” balas Iluv.

Hening…

Mata Iluv masih mengikuti sosok Vedo. Ranti menghitung dalam hati. “Satu… dua… ti…”

“RANTIIIII!!!” Iluv berteriak histeris.

Yup! Bahkan belum sampai hitungan ketiga Iluv sudah kembali seperti semula. Pesona sihir Vedo sudah musnah. Iluv yang hobi ngakak dan selalu bicara dengan suara heboh plus cempreng telah kembali.

“Ran… mimpi apa aku semalam? Vedo, Ran! Vedo! Dia senyum! Nyapa aku! Ya ampuuuun…!! Aku nggak lagi mimpi kan?”

“Biasa aja kali, Luv. Baru juga disapa gitu. Perjalanan kita masih panjang. Ini baru masuk hari kedua taruhan kamu sama Jessi. Masih ada dua puluh delapan hari lagi.”

“Lupakan taruhan buat sekarang! Aku lagi mau ngerekam kejadian barusan!”

“Emang muat? Kamu harus hapus beberapa data dulu di otak kamu kalo nggak mau kepenuhan. Kayaknya, memori barusan lumayan besar,” ledek Ranti.

“OKE! Aku bakal ngapus tentang ulangan Sejarah!”

Ranti hanya menggeleng pelan. Mereka kembali berjalan menuju kelas masing-masing.

“Ngomong-ngomong, Yayan mana sih?” tanya Iluv. Komik Shinchan-nya terlupakan. Malah, dia lupa kalau komik itu sudah berada di tangan Ranti.

“Kan kamu yang sekelas sama dia? Kok nggak tau?”

Iluv mencoba mengingat-ingat. “Ng… Ooo… dia tadi bilang ada urusan di sekretariat PA. Katanya, liburan nanti mau naik gunung.”

Langkah Ranti berhenti. “PA? Kapan dia gabung Pecinta Alam? Kok nggak bilang?”

Iluv membekap mulutnya. Alamat malapetaka! Yayan memang sudah, bahkan sering, memperingatkan Iluv untuk tidak memberitau ekskul yang diikutinya pada Ranti. Saat Yayan cerita ingin masuk PA, Ranti menentangnya habis-habisan. PA adalah satu-satunya organisasi yang selalu bermasalah dengan sekolah. Saat itu, Yayan menurut untuk tidak jadi masuk organisasi itu. Tapi, impiannya sejak SMP adalah mendaki gunung. Karena di SMP-nya tidak ada klub pecinta alam, dia tidak bisa menyalurkan impiannya itu. Ikut Pramuka SMP juga tidak membuat impiannya terwujud. Maklum, karena anak SMP belum bisa dianggap dewasa, kemah yang dilakukan saat Pramuka hanya di halaman sekolah. Tidak sampai menjelajah hutan, apalagi naik gunung.

Makanya, saat mengetahui ada ekstrakulikuler Pecinta Alam (PA) di sekolahnya, Yayan langsung mendaftar ikut. Walaupun Ranti sudah melarangnya, dia tidak perduli. Yayan hanya pura-pura mengikuti larangan Ranti untuk mendiamkan mulut gadis itu.

“Di mana dia biasa kumpul?” tanya Ranti dengan suara yang lebih menyeramkan lagi.

“Ng… nggak tau…” jawab Iluv, berusaha tampak polos.

Mata Ranti berkilat-kilat, membuat bulu kuduk Iluv kembali merinding. Untunglah, sebelum Iluv sempat ngompol karena ketakutan, objek yang dibicarakan muncul. Yayan berjalan ke arah mereka sambil tersenyum girang. Wajahnya benar-benar kebalikan seratus delapan puluh derajat dari wajah Ranti yang seakan siap menelan cowok itu hidup-hidup. Alis Yayan menyatu bingung. Namun, saat melihat tampang Iluv, Yayan seakan mendapat jawaban. Serta-merta dia mengutuk Iluv dalam hati agar sahabatnya satu itu berubah menjadi tikus kecil.

“Mampus…” batin Yayan sambil menelan ludah.

chapter 1 (una)


Bab 1
Gaharnya terik matahari yang menyerang permukaan bumi tidak menyurutkan teriakan heboh dari penonton pertandingan sepakbola antar SMA se-Sumatera yang berlangsung di Palembang. Stadion Gelora Sriwijaya penuh sesak oleh pendukung masing-masing tim. Hari ini adalah final antara SMA Gelora Medan versus SMA Ganesha Palembang. Stadion sepakbola yang biasanya didominasi oleh para kaum Adam, kali ini malah penuh sesak oleh kaum Ibu Kartini. Cewek-cewek yang sedang berteriak penuh semangat itu benar-benar menunjukan kalau laki-laki dan perempuan sudah sejajar dalam segala hal, termasuk hobi.
Sebenarnya, alasan utama para cewek-cewek yang mayoritas anak mall itu bersedia datang berpanas-panas ria ke stadion bola karena kehadiran Orlando Vedora, atau yang lebih akrab disapa Vedo. Nyaris seluruh siswi perempuan di SMA se-Palembang kenal siapa Vedo. Bintang lapangan sejak menduduki bangku kelas 1 SMP. Dari kabar yang dibawa oleh para burung, Vedo ditarik untuk masuk tim profesional. Namun dia menolak dengan pernyataan sepakbola hanya merupakan hobi, bukan pekerjaan. Banyak pihak yang menyayangkan keputusan Vedo tersebut. Namun Vedo tetap santai, bahkan terkesan tidak perduli.
Alasan lain cewek-cewek semangat menonton pertandingan kali ini karena ini merupakan pertandingan terakhir yang akan diikuti Vedo. Setelah pertandingan ini, Vedo akan menarik diri dari dunia sepakbola untuk memfokuskan diri di pelajaran. Sesuai impiannya, begitu lulus SMA dia akan melanjutkan ke luar negeri untuk mempelajari lebih dalam tentang perhotelan. Kemungkinan besar dia akan melanjutkan ke Singapura. Makanya, para klub pecinta Vedo tidak akan menyia-nyiakan kesempatan terakhir ini. Puluhan handycam, kamera digital, sampai teropong memenuhi barisan penonton.
“Yan! Ran! Tuh Vedo! Vedo liat sini! Yeeee!!! VEDO!!! I LOVE YOU!!!” teriak seorang gadis.
Yayan hanya tersenyum kecil melihat tingkah sahabatnya itu. Sementara Ranti, gadis di sebelahnya geleng-geleng kepala.
“Jangan norak deh, Luv,” semprot Ranti.
“Nggak norak, nggak idup, tauuk…” balas Iluv. “VEDOOO!!! LIAT SINI LAGI DOOONG!!!”
“Ampun deh punya sahabat kayak kamu nih…” gumam Ranti.
Iluv pura-pura tidak mendengar. Dia masih berteriak dengan semangat sambil melemparkan yel-yel yang baru diciptakannya secara spontan.
“HIDUP VEDO KEREN! HIDUP VEDO CAKEP! VEDO! VEDO! VEDO! YEEEII!!!”
“Duuhh!! Norak banget sih!?”
Kali ini bukan Ranti yang menegur Iluv. Yayan, Ranti, dan Iluv sendiri, kompak menoleh ke belakang. Jessica Alverita, kakak kelas mereka sekaligus cewek tercantik, terpopuler, dan ter-ter yang lain di SMA Ganesha. Bukan rahasia umum lagi kalau Jessi, panggilan akrabnya, mengincar Vedo sejak masuk SMA. Tapi, Vedo tidak pernah memberikan reaksi positif. Hal itu membuat seluruh cowok-cowok SMA Ganesha melongo kaget dan cewek-cewek menghela nafas lega. Bagi para cowok, Vedo bukan cowok normal. Bagaimana bisa dibilang normal kalau menolak sosok sempurna sekaligus menggiurkan seperti Jessi sementara mereka mati-matian banting tulang, memutuskan urat malu, dan berbagai kehebohan lain untuk menarik perhatian gadis itu, sementara Vedo yang sudah ketiban cinta Jessi malah menolak mentah-mentah.
Para cewek menghela nafas lega karena lega Vedo tidak menjadi milik si Ratu Buaya alias Queen of Drama Jessi. Segala macam akal bulus bin licik bin picik bin curang bin keji bintitan (uups…) dikerahkan untuk memikat Vedo, tetap sia-sia. Jangankan digubris, sekedar melirikpun tidak. Itulah yang membuat Jessi penasaran setengah mati dengan sosok cool Vedo.
“Biasa aja dong! Nggak pernah nonton pertandingan bola ya? Tinggal di hutan mana?” sambung Agne, salah satu kroni Jessi.
“Jangan diladeni,” bisik Ranti seraya kembali menatap lapangan.
Yayan dan Iluv menurut. Mereka juga kembali menatap lapangan. Tiba-tiba sorak penonton meneriakan ‘GOOOOLLL’ memenuhi stadion. Seluruh penonton berdiri di atas bangku masing-masing. Iluv ikut berdiri sambil meneriakan nama Vedo.
“YEEE!! VEDO HEBAT! GOOOOOOLLL!!” teriaknya sambil loncat-loncat di atas bangku.
“Luv, ntar kamu jat…”
Belum selesai kalimat Yayan. Terdengar bunyi ‘gubrak’ cukup keras. Tabrakan beruntun! Iluv terjatuh dan tidak sengaja mendorong orang di depannya. Orang itu ikut jatuh hingga menabrak orang di depannya lagi. Terus menyambung hingga ke bangku paling bawah. Iluv memegang kepalanya yang terbentur bangku.
“Vedo, yeeee…” gumamnya tidak jelas. Tak lama kemudian gadis itu pingsan.
^^.
Princess Luvita, alias Iluv, melangkahkan kakinya menuju kelas. Sebuah plester menempel di keningnya akibat kejadian kemarin. Dia memegang kepalanya yang masih nyut-nyutan.
“Masih sakit, Luv?” tanya Ranti sambil menaikan kacamatanya yang sedikit melorot.
“Gitu deh…” jawab Iluv.
“Kamu juga sih heboh bener. Si Ratu Buaya sampe ngompol waktu liat kamu jatoh,” sambung Yayan.
“Buaya ngompol?” tanya Iluv bingung. “Emang kemaren buaya masuk stadion ya? Kok aku nggak liat sih?”
Ranti menempeleng kepala Iluv dengan geram. Sahabatnya ini selain konyol, norak, ajaib, tulalit pula. Kalau saja tidak ingat mereka sudah bersahabat sejak bayi, amit-amit Ranti mau dekat dengan Iluv. Takut ketularan tulalit.
“Jessi, Princess!” geram Ranti.
Iluv melongo sebentar. Kemudian mengangguk-angguk sok ngerti. “Oh… Ratu Buaya. Trus, kok bisa ngompol?”
“Ampun deh!! Kamu aja deh yang jelasin,” ujar Ranti pada Yayan dengan nada putus asa.
“Princess Luvita, maksud aku si Jessi tuh nyaris ngompol karena nafsu banget ketawa waktu kamu jatoh.”
Wajah Iluv memerah. “Jadi tuh nenek sihir ngetawain aku? Dasar rese! Harus dibasmi tuh! Udah seenaknya mau deketin Orlando Vedora-ku, ngetawain aku pula. Bener-bener nggak bisa dimaafin!” ujarnya seraya berjalan cepat menuju kelas Jessi.
“Ihh! Udah norak, tulalit, emosian lagi. Kacau bener sih Iluv! Ibunya ngidam apa sih waktu hamil dia?” semprot Ranti sambil mengejar Iluv. “Mana kalo ngomel suka nggak mikir. Nggak tau siapa Jessi ya?”
“Tenang dulu…” ucap Yayan.
“Gimana bisa tenang, tuh anak…”
“HEH! ROTI BUAYA!” teriak Iluv pada Jessi, memotong ucapan Ranti.
Ranti dan Yayan melongo kaget. Ranti menepuk jidatnya sendiri. Sudah suara cempreng, volume maksimum, parahnya… salah ngomong! Lengkap sudah.
Jessi menoleh ke arah Iluv dengan pandangan sinis. “Ngapain nyari roti buaya di sini? Otak lo konslet gara-gara jatoh kemaren?”
“Otak kamu tuh yang konslet! Dasar cewek nggak jelas! Udah kecentilan deketin Vedo-ku, pake ngetawain orang jatoh lagi. Bukannya nolongin. Dasar Buaya nggak punya hati!”
“HEH! Jaga tuh mulut!” bentak Jessi sambil mendorong bahu Iluv. “Wait… lo tadi ngomong apa? VEDO-KU? WHAT? Nggak salah? Ngaca dulu dong! Punya kaca kan di rumah?”
Iluv membuka tasnya dan mengeluarkan cermin kecil yang memang selalu dibawanya. “Nih kaca!” semprotnya. “Ngapain nyuruh ngaca?”
Jessi merampas cermin itu dari tangan Iluv. “Kalo udah punya ya dipake!” semprotnya judes seraya menyodorkan cermin itu di depan wajah Iluv. “Denger ya cewek aneh, Vedo tuh jelas-jelas punya gue. Jangan ngimpi deh makhluk nggak jelas kayak lo gini bakal dapetin Vedo.”
“Jelas-jelas Vedo tuh udah nolak kamu! Artinya dia nggak mau sama kamu!”
“Apaan nih?”
Entah sejak kapan, tiba-tiba Iluv dan Jessi sudah dikelilingi orang-orang yang asik menonton perdebatan mereka. Semua mata ganti menatap sumber suara dingin yang baru terdengar. Vedo, dengan langkah pelan dan penuh pesona, menerobos kerumunan untuk menuju bangkunya.
“Norak,” gumamnya.
“Vedo, nih cewek yang ngajak aku ribut duluan. Masa dia manggil aku Buaya?”
Vedo menatap Jessi dingin. “Hubungannya sama gue?” ucapnya seraya berlenggang keluar kelas, bergabung dengan teman-temannya yang sudah berkumpul di depan kelas.
Jessi menggertakan giginya dengan geram sambil terus menatap sosok Vedo yang menjauh.
“TUH KAN! Vedo tuh nggak suka sama kamu! Mending kamu nggak usah ganggu dia lagi,”
Jessi kembali menatap Iluv. “Heh, Freaky, lo ngerasa bisa ngalahin gue? Lo nggak nyadar juga ya? Gue aja belum berhasil narik perhatian dia, apalagi lo yang nggak jelas gini?”
Iluv berkacak pinggang gusar. “Aku buktiin kalo aku bisa dapetin Vedo dan bikin kamu gigit jari!”
“WAW!” sinis Jessi sambil bertepuk tangan. “Gede juga nyali lo. Oke. Kalo lo emang yakin banget, gue mau tantang lo. Kita taruhan. Kalo dalam waktu satu bulan lo berhasil bikin Vedo ngelirik dan nembak elo, gue bakal akui lo emang hebat dan gue nggak bakal ganggu Vedo lagi. Tapi, kalo kebalikannya, lo yang nggak boleh gangguin Vedo. Gimana?”
“Setuju!” ucap Iluv semangat.
Ranti melongo kaget. Yayan menghela nafas putus asa. Keduanya menarik Iluv menjauhi Jessi. Namun, Iluv berontak.
“Tunggu dulu!” ucapnya pada Ranti dan Yayan. Lalu dia kembali menatap Jessi. “Aku terima tantangan kamu.”
“Oke,” dengus Jessi. “Mulai besok lo bisa beraksi. Good luck deh. Moga Dewi Fortuna dan Dewi Amor lagi berpihak sama lo. Jangan aja Shinigami ikut berpihak,” ledeknya seraya mengajak para kroninya meninggalkan Iluv.
“Kamu tuh udah gila beneran ya?” semprot Ranti setelah Jessi and the geng sudah benar-benar menghilang.
“Luv, kamu nyadar nggak sih udah ngelakuin apa? Kita nih baru kelas satu. Sedangkan mereka kelas 3,” tambah Yayan.
Iluv berjalan meninggalkan kelas XII IPA 3, kelas Jessi sekaligus Vedo, diikuti oleh Yayan dan Ranti.
“ILUV…” geram Ranti.
“Apaan sih, Ran?”
“APAAN? Ini udah gawat, Luvita!” semprot Ranti judes. “Pake nalar aja deh, Luv. Cewek kayak Jessi aja nggak dilirik. CATET! NGGAK DILIRIK! Apalagi kamuuu!!”
“Kamu nggak percaya sama aku?” tanya Iluv sedikit tersinggung.
“Bukan gituuuuu…” mati-matian Ranti menahan emosi. “Bantuin dong, Yan!” serangnya pada Yayan.
Yayan menggaruk lehernya bingung. “Maksud Ranti tuh gini, Luv. Tipe cewek yang disukai Vedo tuh pasti tinggi banget. Gue sebagai cowok aja mengakui. Kalo Jessi yang cantik, seksi, lumayan pinter, yah… singkatnya nyaris perfect aja ditolak, apalagi kamu. Aku bukannya nggak percaya. Cuma…” Yayan menatap Ranti. “Gimana cara nyampeinnya?”
“Gampangnya, peluang kamu dapetin Vedo tuh sama kayak ngarepin kucing sama anjing jadi sahabat sejati. Dengan kata lain nggak mungkin.”
Iluv terdiam. Bukan karena memikirkan ucapan Ranti dan Yayan, tapi karena berusaha mencerna ucapan kedua sahabatnya itu. Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk kepalanya sendiri. Bola matanya berputar pelan.
“Batalin sekarang! Belum telat kok!” ujar Ranti.
Bola mata Iluv berhenti berputar. Dia menatap Ranti. “Nggak! Itu kesempatan aku buat buktiin sama si Ratu Buaya itu kalo aku bisa dapetin Vedo.”
“Iluv…” ucap Ranti dengan putus asa. “Kamu tuh cuma bakal dibuat malu oleh Jessi.”
Iluv memegang bahu Ranti dengan senyum menyebalkan tersungging di bibirnya. “Tenang… santai… aku pasti bisa…”
Ranti benar-benar putus asa. “Terserah kamu deh…” ucapnya.
Yayan hanya tersenyum lemah.
“Nah… kalo kalian berdua nggak bawel lagi, aku jadi lebih semangat. Kalian pasti mau bantu aku kan?”
Ranti dan Yayan saling pandang, lalu mengangguk pelan.
“Oke. Hari ini kita mulai susun strategi ‘Cara Menaklukan Vedo’ di rumah aku, oke.”
Ranti kembali mengangguk pasrah. Dia benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Iluv. Bagaimana mungkin gadis itu merasa bisa mendapatkan Vedo sementara sosok seperti Jessi saja ditolak. Oke, bukan hanya Jessi. Vedo menolak seluruh cewek yang mendekatinya. Mulai dari Chery, saingan Jessi dalam berbagai hal, Dina, gadis anggun nan pintar, Silva, fotomodel yang sedang naik daun, Devi, Kika, Lonni, and so much anymore. Semuanya sudah memiliki modal yang lebih dari cukup untuk menarik perhatian cowok manapun. Fisik mereka jelas menarik, beberapa di antara mereka juga punya otak yang bagus. Namun, tetap tidak dilirik oleh Vedo.
Dan sekarang, tiba-tiba muncul gadis dari dunia lain bernama Princess Luvita, mencoba meneruskan perjuangan gadis-gadis yang sudah gugur itu. Terlalu jahat jika dikatakan ‘dari dunia lain’. Iluv tidak seburuk itu. Ranti mengakui kalau Iluv tidak jelek. Bahkan masuk kategori lumayan.
Iluv memiliki wajah yang imut manis, persis anak kecil, dengan kedua bola mata bulat dan bening. Hidungnya mancung bangir dengan bibir mungil nan tipis. Rambutnya ikal, panjang sebahu, dan berwarna hitam berkilau. Secara fisik benar-benar not bad.
Sayangnya, kelakuan Iluv kadang amat norak. Tidak pernah berfikir, baik dalam bertindak maupun berucap. Semua tindakan dan ucapannya bisa dikatakan nyaris tidak ada yang diproses otak. Dan kalau tulalitnya lagi kumat, hanya Ranti, Yayan, dan orangtua serta keluarganya, yang bisa menahan emosi untuk tidak memukul kepalanya dengan palu agar otaknya kembali ke tempat semula. Sangat mustahil cowok seperti Vedo berminat pada Iluv.
“Ngomong-ngomong…” Iluv membuyarkan lamunan Ranti. “Shinigami tuh apaan sih?”
Ranti membuang muka putus asa sementara Yayan mengusap wajahnya, menahan tawa.
“Dewa kematian!” jawab keduanya kompak.
“Ohh…” Iluv mengangguk-angguk. “Jessi tadi bilang jangan aja shinigami ikut berpihak sama aku. Berarti dia nggak mau aku mati dong! Dia perhatian juga ya…”
Ranti dan Yayan kembali saling pandang, menahan frustasi. “Whatever…” komentar mereka.
^^.
“Sebelum mulai, aku mau jelasin beberapa hal,” ucap Ranti. “Pertama, aku bantu kamu bukan karena aku dukung kamu dalam taruhan nggak jelas ini, tapi karena kita udah sahabatan seumur hidup. Kedua, kamu harus nurut sama semua perintah aku demi kelancaran misi kamu dapetin Vedo dan menang taruhan dari Jessi. Setuju?”
Iluv memeluk Teddy Bear-nya, lalu menatap Yayan. Yayan mengangkat bahu sambil menikmati keripik kentang milik Iluv. Kemudian Iluv kembali menatap Ranti.
“Setuju deh,” ucapnya.
“Oke,” Ranti mengeluarkan binder dari dalam tasnya dan mengambil posisi siap menulis. “Ada tiga langkah biar misi ini lancar. Pertama, perubahan. Kedua, pendekatan. Dan ketiga, penyelesian.”
“Maksudnya?” tanya Iluv bingung.
Ranti menatap Iluv tajam dari balik kacamatanya. “Jangan potong kalo aku lagi ngomong,” serangnya galak. Matanya kembali menatap binder sambil menulis. “Pertama, perubahan. Banyak yang harus diubah dari kamu. Kalo masalah fisik, nggak begitu berat. Tinggal dipoles dikit udah bisa bagus. Yang bener-bener perlu ditata dari kamu adalah KEPRIBADIAN.”
“Emang kepribadian aku kenapa? Ada yang salah?” tanya Iluv sambil cemberut.
Ranti kembali menatap Iluv. “Mau dibantuin nggak?”
Iluv mengangguk cepat.
“Diem dulu. Tunggu aku bilang, ‘ada pertanyaan’ baru kamu boleh nanya. Selama kalimat itu belum muncul dari mulut aku, kamu nggak boleh ngelemparin pertanyaan apapun. Ngerti?”
“Galak amat sih, Ran. Santai aja dong!” ucap Yayan sambil mengintip binder Ranti.
“Kalo udah berurusan sama Ratu Buaya Jessica itu, nggak bisa lagi pake kata santai. Kalo kalah, harga diri juga jadi taruhan. Dan bukan cuma Iluv yang kena. Kita berdua juga pasti ikut kena.”
Up to you, dah…” balas Yayan. Dia kembali asik makan keripik.
Ranti menaikan kacamatanya. “Nggak ada yang salah sama kepribadian kamu. Tapi, kalo nggak diubah kamu nggak mungkin bisa narik perhatian Vedo atau cowok manapun.”
“Termasuk aku dong?” sambung Yayan.
Ranti menatap Yayan jutek. “Nggak usah nyambung!” bentaknya galak.
“Sori…” ucap Yayan cuek. “Kalo menurut pendapat aku, buat apa sih berubah demi orang lain? Kan lebih enak jadi diri sendiri.”
“Betul! Aku setuju sama Yayan. Kalo Vedo suka aku, dia harus terima aku apa adanya dong!” sambung Iluv.
“Yang jadi the biggest problem sekarang adalah kenyataan kalo Vedo nggak suka sama kamu. Bahkan, mungkin dia malah nggak tau kalo makhluk kayak kita ada di sekolah yang sama dengan dia. Bagi orang-orang kayak Vedo, kita nih cuma pelengkap daftar absensi kelas. Kalo kamu bertekad nggak mau berubah, jangan harap Vedo bakal ngelirik kamu. Kalo mau jujur, aku juga lebih suka kamu kayak gini. Nggak pake acara berubah-berubah segala apalagi cuma buat taruhan. Sekarang, kamu mau lanjut aku bantuin apa cari jalan sendiri?”
“Ya deh. Bantuin…”
“Oke. Sekarang kamu diem dan simak apa yang bakal aku ucapin karena aku paling nggak suka ucapan aku dipotong apalagi ngulang ngomong dua kali. Kamu juga diem, Yan.”
“Iyee… aku nggak bakal ngomong…” ucap Yayan.
Mimik wajah Ranti benar-benar serius saat dia menatap Iluv. “Aku nggak akan ngubah semua kepribadian kamu. Tepatnya, aku bukan mau ngubah kepribadian kamu, tapi memperbaikinya. Sebelum masuk kepribadian, aku bakal permak fisik kamu sedikit. Kayak yang udah aku bilang, fisik kamu itu not bad. Nggak harus bener-bener dipermak, hanya sedikit diperbaiki. Permak fisik kamu cuma memakan waktu sehari dan kita mulai hari minggu nanti. Yayan, kamu jadi supir.”
“Apa untungnya?”
Ranti menatap Yayan tajam. “Mau pake perhitungan jasa?”
Yayan nyengir. “Nggak. Maaf deh… nggak nyambung lagi.”
“Oke,” Ranti kembali pada Iluv. “Kedua, pendekatan.”
“Lho? Udah masuk yang kedua. Yang pertama tadi udah selesai?”
“Iiihhhh…” Ranti benar-benar harus menahan diri untuk tidak menjitak kepala Iluv. “Makanya dengerin. Aku kan tadi udah bilang nggak akan ngulang ngomong! Sekarang dengerin! Kedua adalah pendekatan. Kalo aku udah berhasil pemak kamu, baik fisik maupun sikap, aku sama Yayan bakal bantu kamu buat deketin Vedo. Target pertama kita nggak langsung bikin Vedo naksir kamu. Itu masih bener-bener jauh. Yang pertama harus kita lakuin adalah, bikin Vedo nyadar kalo kamu itu ada. Aku sama Yayan bakal ngumpulin berbagai informasi tentang Vedo. Siapa tau ada yang bisa digunain biar kamu sama dia nyambung.”
“Kalo informasi tentang Vedo, aku tau!” ucap Iluv semangat. “Lahirnya di Sydney, 31 Januari. Makanya tampang dia agak-agak indo gitu. Zodiaknya Aquarius. Hobi dia sepakbola. Tapi cita-citanya bukan jadi pemain bola. Dia pengen jadi manager hotel, makanya dia mau ngelanjutin sekolah di Perhotelan. Musik favorit dia yang tenang, kayak jazz atau musik-musik klasik. Nggak suka sama musik yang berisik kayak rock, teruuus…” Iluv terdiam begitu melihat raut Ranti. Dia nyengir kuda. “Sori. Lanjutin deh…”
Ranti melanjutkan. “Ketiga, sekaligus klimaks dari taruhan ini, adalah proses penyelesaian. Ini merupakan penentuan. Hari terakhir dari waktu yang udah kamu sepakati sama Jessi. Di sini, aku sama Yayan nggak berperan banyak. Semua keputusan ada di tangan Vedo. Kalo nggak salah, sebulan lagi tuh tepat hari ultah sekolah kita. Jadi, kemungkinan besar Jessi ngincar malam Pensi sebagai hari terakhir. Dia pengen seluruh penghuni sekolah tau siapa pemenang taruhan kalian.”
Iluv terdiam. Yayan juga mulai memperhatikan ucapan Ranti.
“Sekarang, aku mau ngasih tau hal terpenting,” raut Ranti lebih serius lagi. “Jangan sampe Jessi atau Vedo sendiri nginjek harga diri kamu. Jessi udah merancang taruhan ini buat bikin malu kamu. Aku nggak mau itu terjadi, makanya aku mau bantu kamu. Jessi pasti yakin kalo kamu nggak bakal menang. Jujur, aku sepakat sama dia. Tapi, kalo pun nanti kamu kalah, jangan kalah secara memalukan. Tapi, kamu harus kalah dengan terhormat. Minimal, kamu dekat sama Vedo sebagai teman dan dia mengakui keberadaan kamu. Ada pertanyaan?”
Iluv menggeleng. “Eh, ada,” sambungnya buru-buru. “Kapan mulai beraksi?”
“Besok. Malam ini aku mau nyusun jadwal dulu. Besok kita mulai semuanya. Siap kan?”
Iluv mengangguk semangat. “VEDOO!! I’M COMING, BABE!!”
“TERAKHIR!” serang Ranti galak. “Jangan NORAK!”
Iluv nyengir lebar. Yayan hanya geleng-geleng kepala, lalu kembali mengunyah keripik.

Wednesday, March 9, 2011

I Love You - Avril Lavigne :)

lala, lalalala, lala, lalala

I like your smile
I like your vibe
I like your style
But that's not why I love you
And I, I like the way, you're such a star
But that's not why I love you, hey

[bridge]

Do you feel, do you feel me, do you feel what I feel too
Do you need, do you need me, do you need me-e-e

[chorus]

You're so beautiful
But that's not why I love you
I'm not sure you know
That the reason I love you, is you
Being you, just you
Yea the reason I love you
Is all that we've been through
And that's why I love you

lala, lalalala, lala, lalala

I like the way you misbehave
When we get wasted
But that's not why I love you
And how you keep your cool when I am complicated
But that's not why I love you, hey

[bridge]

Do you feel, do you feel me, do you feel what I feel too
Do you need, do you need me, do you need me-e-e

[chorus]

You're so beautiful
But that's not why I love you
And I'm not sure you know
That the reason I love you, is you
Being you, just you
Yea the reason I love you
Is all that we've been through
And that's why I love you

Yeaaa

ohhhh, ohhhh

Even though we didn't make it through
I am always here for you
yea-a-a

[chorus]

You're so beautiful
But that's not why I love you
I'm not sure you know
That the reason I love you, is you
Being you, just you
Yea the reason I love you
Is all that we've been through
And that's why I love you

la la, la la la la (oh ohhh)
la la, la la la la (that's why I love you)
la la, la la la la (oh ohhh)
la la, la la la la (that's why I love you)